Remember Me Husband

Remember Me Husband
Ayah dan Putri kecilnya



Aran menoleh ke belakang dengan tatapan kaget melihat Ruka yang saat itu datang didampingi Rowen yang berdiri agak dibelakangnya.


""Tuan Ruka?""


Bahkan Risa pun ikut dibuat kaget melihat sosok Ruka.


Tanpa pikir panjang Ruka langsung menarik tangan Aran dan mengajaknya ikut dengannya untuk bicara empat mata.


"Tuan lepaskan, kenapa kau menarik tanganku?"


Ruka tak menjawab dan tetap menariknya untuk diajak bicara empat mata dengannya.


"Tuan Ruka kenapa anda— menarikku kesini?"


Pria itu menatap Aran yang terlihat habis menangis. Matanya yang biasanya bening tampak memerah, dan wajahnya pun terlihat sedih.


"Kau bilang tadi ingin menemuiku bukan?"


"Itu—"


Aran memang ingin menemui Ruka, tapi ia tidak menyangka kalau malah akan bertemu Ruka di rumah sakit ini. Tapi bagaimana pun Aran harus mengumpulkan keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Ruka.


"Ck! Kau ini buat aku kesal tahu!" Ruka kembali menarik tangan Aran lalu mengajaknya pergi.


"Tuan, kenapa kau menarikku lagi. Aku bahkan belum selesai bicara!"


Lagi-lagi Ruka tidak menggubris perkataan Aran dan malah terus menariknya pergi ke ruangan dokter yang menangani Theo.


"Tuan?!"


"Kau ini cerewet! Apa kau mau anakmu mati hanya karena kebodohan ibunya yang bahkan bicara jujur padaku saja tidak mampu!"


"Tunggu— apa maksudmu bicara begitu? Dan kenapa juga kau bisa tiba-tiba disini?"


"Kau tanya kenapa aku disini? Aku disini untuk anakku!"


Aran terperangai mendengar perkataan Ruka barusan. Ia menatap Ruka dengan wajah penuh rasa tidak percaya.


"Kau ini memang bodoh Arana!" Saking kesalnya Ruka langsung menarik masuk Aran untuk segera menemui dokter.


Disana tanpa pembicaraan apapun terlebih dahulu dengan Aran, Ruka langsung menemui dokter yang menangani Theo dan berkata kalau dirinyalah yang akan menjadi pendonor darah untuk Theo.


"Oh jadi tuan Ruka yang akan jadi pendonornya?" Kebetulan rumah sakit tempat Theo dirawat adalah milik yayasan ayah Ruka yang juga kepala dokter yakni Eric Arshavin, itu sebabnya dokter tidak heran dengan kehadiran Ruka.


"Benar dokter, golongan darahku sama dengan Theo."


"Baiklah kalau begitu sekarang juga mari kita lakukan transfusi darahnya. Karena semakin cepat akan semakin baik untuk pasien."


Aran disana tidak berkutik sama sekali. Yang ia rasakan hanya rasa senang karena Theo akan segera dapat pertolongan, meskipun setelahnya ia tidak tahu apa yang akan terjadi antara dirinya dan Ruka.


"Oh iya, maaf kalau aku lancang tapi tuan Ruka, apa anda ayahnya pasien?"


Ruka melirik kearah Aran dengan tatapan sinis.


"Soal itu dokter bisa tanyakan langsung pada nyonya Arana nanti."


Akhirnya Ruka pun pergi ikut sang dokter untuk melakukan transfusi darah. Sementara Aran yang tidak tahu harus bersikap bagaimana saat ini pun hanya bisa pasrah, dan berharap yang terbaik untuk dia dan anak-anaknya.


...🌸🌸🌸...


Di depan ruang tempat Theo berada saat ini, Aran menunggu dokter bersama dengan Risa dan putrinya yang masih tertidur dipangkuannya. Ia membelai rambut Jia dengan wajah gelisah dan penuh kegundahan hati.


"Aran, aku rasa kau tidak perlu memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Yang terpenting saat ini adalah kesembuhan putramu."


"Kau benar Risa, aku seharusnya fokus pada kesembuhan Theo. Tapi... dengan semua yang terjadi saat ini aku tidak bisa pura-pura semua baik-baik saja. Kau sudah lihat sendiri, Ruka sudah tahu tentangku dan anak-anak."


Sebagai teman baiknya, Risa hanya bisa memberikan dukungan semampu yang ia bisa.


Tiba-tiba Rowen datang menghampiri Aran, disana ia memberikan semangat kepada Aran dan berkata kalau semuanya akan baik-baik saja. Mendengar itu Aran juga baru sadar kalau selain Ruka, Rowen pasti juga sudah tahu soal dirinya dan Ruka di masa lalu. Alhsil ia pun meminta maaf kepada Rowen karena selama ini sudah menutup-nutupi semua hal tersebut darinya.


"Tidak apa-apa Aran, lagipula aku tahu kau pasti punya alasan kenapa sampai harus berbuat begitu bukan?"


"Terima kasih sudah mau memahami Rowen."


"Sama-sama."


Sejujurnya aku sedih Aran... Aku sedih karena pada akhirnya aku yang harus dipaksa sadar kalau, aku memang tidak ditakdirkan untuk mencintai dan dicintai olehmu. Hubungan antara kau dan Ruka— sepertinya memang sudah digariskan oleh semesta.


Beberapa saat kemudian, Sean tiba-tiba saja muncul dengan nafas terengah-engah menghampiri Aran yang sedang duduk bersama yang lainnya menunggu kabar Theo selanjutnya.


"Ara maaf aku terlambat, tapi aku sudah dapatkan donor darah untuk Theo."


Saking paniknya tadi, Aran sampai baru sadar dan lupa memberitahukan Sean kalau ia sudah mendapatkan donor darah. Tentu saja Aran jadi merasa sangat tidak enak hati dibuatnya.


"Tuan Sean, sebenarnya soal darahnya—'


"Tenang saja Aran, aku akan minta orangku membawanya segera!"


"Kau tidak perlu khawatir tuan Sean! Theo sudah mendapatkan pendonornya," ujar Ruka yang saat itu baru saja selesai melakukan transfusi darah.


Sean menoleh dan langsung kaget melihat kehadiran sosok Ruka disana. "Tuan Ruka, anda... Sedang apa disini?"


"Kenapa memangnya? Ini rumah sakit ayahku dan bukankah ini tempat umum?"


Sean sedikit jengkel dengan balasan Ruka. Tapi seketika ia langsung dibuat kembali terusik saat melihat bagian tangan Ruka yang diplester layaknya orang sehabis ditusuk jarum suntik. Tunggu, jangan-jangan pendonor yang dikatakan Ruka adalah dirinya sendiri?


"Tuan Sean tidak perlu khawatir. Aku sudah  memastikan putra nona Arana akan segera membaik setelah dapat donor darah segar dariku," ucap Ruka sambil menepuk pundak Sean dengan ekspresi jumawa.


"Tuan Ruka, apa kau orang yang telah mendonorkan darah pada Theo adalah dirimu sendiri?"


Ruka langsung tersenyum simpul. "Memangnya siapa lagi?"


Sial! Jadi benar dia yang jadi pendonornya. Sean tampaknya tidak senang mengetahui hal tersebut.


"Tuan Sean aku minta maaf tidak langsung memberitahumu soal ini. Tapi aku sungguh berterima kasih atas niat baikmu pada putraku."


Sean hanya bisa mengangguk dengan sedikit senyum kecewa.


Dan saat itu juga, tiba-tiba Jia yang tertidur dipangkuan Aran terbangun. Ia mengucek matanya dengan kedua tangan mungilnya. Seketika mata jernih Jia langsung membesar dan berbinar-binar tatkala ia melihat ada sosok Ruka disana.


"Tunggu, apa ini sungguhan?" Jia kembali mengucek kedua matanya lagi untuk memastikan yang dilihatnya bukan khayalan. Dan benar saja, itu adalah paman pahlawan yang ia ingin temui.


"Paman pahlawan!" Jia terlihat senang sekaligus tak menyangka bisa bertemu Ruka disini. Tak beda jauh dengan Jia, Ruka terlihat bahagia bisa melihat gadis kecil itu. Ia pun segera mendekati Jia dan bertanya kabar.


Dengan polosnya ia berkata kalau saat ini dirinya sedang sedih, karena kakaknya masuk rumah sakit akibat menolongnya. Tidak mau putrinya bersedih, Ruka langsung memberi pengertian kepadanya kalau semua yang terjadi bukanlah salahnya.


"Sama halnya pertemuan kita saat itu, kau pasti tidak menyangka akan bertemu lagi denganku disini bukan?"


Jia yang paham langsung mengangguk paham.


"Mama..."


"Iya Jia sayang ada apa?"


"Mama, paman inilah yang aku panggil paman pahlawan," ungkap Jia seraya memperkenalkan Ruka pada Aran. Tidak ingin terlihat ada kecanggungan dengan Ruka didepan Jia, Aran pun sebisa mungkin bersikap ramah di hadapan Ruka saat ini.


Ruka berpikir, Wanita ini mau sampai kapan akting pura-pura tidak ada apa-apa diantara kami?"


"Ah paman, tangannya kenapa?" Jia akhirnya menyadari kalau ada plester di tangan Ruka yang menutup bekas luka suntikan saat pengambilan darah tadi.


Tidak mau gadis kecilnya khawatir Ruka bilang hanya bekas luka suntikan kecil. "Kau tenang saja, aku ini pria yang kuat jadi tidak akan apa-apa, oke?"


Aran lalu berkata dengan wajah polosnya,"Aku tahu paman kuat, tapi jika memang sakit sini biar Jia yang mengusir sakitnya.


"Wah... jadi tuan putri Jia bisa mengusir sakit?"


Jia mengangguk yakin.


"Oh bagaimana caranya?" Ruka meminta Jia untuk mencontohkan cara mengusir sakitnya.


Jia lalu meniup-niup luka di tangan Ruka dan berkata, "Sakit, sakit pergilah jangan ganggu paman pahlawanku..."


Seketika Ruka dibuat tertawa, setelah itu ia mengusap lembut kepala Jia dan berterima kasih. "Terima kasih ya, sudah tidak sakit lagi tangannya."


"Mama selalu begitu kalau Jia terluka, dan simsalabim sakitnya hilang...!" Ungkap Jia dengan senang.


Sementara yang lainnya malah dibuat cukup terkejut, melihat Ruka yang tampak sangat akrab dengan Jia, padahal setahu Rowen dan Sean, Ruka tidak terlalu suka dengan anak kecil. Bahkan Aran sendiri sebagai mamanya Jia tak menyangka kalau gadis kecilnya itu bisa secepat itu akrab dengan mantan suaminya tersebut. Mungkin pepatah darah lebih kental daripada air' adalah benar. Karena meskipun Jia tidak pernah melihat ayahnya tapi kedekatan antara Jia dan Ruka saat ini pasti karena ikatan kuat antara ayah dan putrinya


Setelah beberapa saat cukup intens berinteraksi dengan Ruka, Jia baru sadar kalau ada yang lainnya juga datang seperti Sean dan Rowen.


"Um— paman Sean dan paman...?"


"Namaku Rowen nona kecil, kau masih ingat aku kan?"


Jia tersenyum dan mengangguk tanda bahwa ia masih ingat dengan Rowen.


"Tapi... Kenapa kalian semua kesini?" Jia cukup dibuat heran dengan kehadiran ketiga pria itu saat ini.


"Mereka kesini untuk menjenguk kakakmu," sahut Aran yang tidak mau membuat Jia bingung dengan kehadiran ketiga pria itu.


"Oh, kalau begitu terima kasih semuanya sudah mau peduli dengan kakakk," ungkap Jia berterima kasih dengan sopan.


Disaat bersamaan dokter pun akhirnya datang menemui Aran dan berkata kalau transfusi darahnya sudah selesai, dan Theo perlahan mulai melewati masa kritisnya. Hanya saja belum bisa dipastikan kapan akan sadar.


"Syukurlah..." Aran setidaknya agak merasa lega, begitupun dengan yang lainnya.


"Terima kasih dokter sudah berusaha terbaik untuk Theo."


"Nyonya Aran, kalau ada yang harus kau berikan ucapan terima kasih secara khusus itu seharusnya bukan aku, tapi tuan Ruka. Dia penyelamat putramu yang sesungguhnya."


Mendengar ucapan dokter itu, Jia jadi penasaran dan bertanya langsung kepada Ruka apa maksud yang dikatakan dokter barusan?


"Begini Jia, sebenarnya tuan Rukalah yang sudah mendonorkan darahnya untuk kakakmu," jelas Rowen.


"Benarkah?" Jia segera menatap Ruka dengan tatapan tak menyangka serta kagum. Ia lalu meminta Ruka agar berjongkok agar ia bisa memeluknya dan berterima kasih.


"Paman... Kau memang paman pahlawan. Terima kasih banyak sudah selalu menjadi penolong bagi Jia dan kakak... Jia sungguh senang sekali bisa bertemu paman..."


Seketika perasaan Ruka menjadi tak menentu. Seperti ada kebahagiaan yang tiba-tiba saja mengalir deras di sekujur tubuhnya mendengar Jia berkata begitu padanya.


"Sama-sama tuan putri kecilku, aku juga senang sekali akhirnya bisa bertemu denganmu." Ruka memeluk balik Jia dengan perasaan hangat gempita.


Bagi Ruka, ini pertama kalinya ia merasa seperti ini pada seorang anak kecil. Mungkin, ini yang dinamakan kebahagiaan seorang ayah terhadap anaknya sendiri.


Sebaliknya melihat kedekatan Ruka dan Jia, Aran jadi semakin was was dan takut jika Lusi sampai tahu. Tapi disisi lain ia juga merasa bahagia melihat sang putri akhirnya bisa dipeluk oleh ayah kandung yang ia cari selama ini.


Setelah Theo dikatakan sudah melewati masa kritis, Ruka bermaksud meninggalkan rumah sakit mengingat ia masih punya pekerjaan lain. Ia dan Rowen lalu berpamitan dengan Jia. Sebenarnya Jia masih ingin Ruka berada lebih lama di rumah sakit, untungnya sang mama segera memberi tahu kalau paman Ruka itu seorang bos yang sibuk, sehingga Jia jadi bisa segera paham dan merelakan Ruka pergi dengan Rowen.


"Bye bye tuan putri kecil...!" Seru Rowen pamit dengan gembira.


"Bye paman Rowen...!"


Begitu pun Ruka, ia dengan manis membelai pipi Jia dan pamit pergi.


"Tunggu, paman Ruka akan kemari lagi kan?" Jia menarik tangan Ruka, ia berharap pria itu akan datang lagi.


Ruka pun tersenyum lalu menyentuh hidung Jia dengan lembut dan berkata, kalau ia janji besok akan datang lagi.


"Janji?"


"Yes!"


Mereka berdua pun saling mengaitkan kelingking tanda janji.


Tidak mau dibilang tidak tahu terima kasih, sebelum Ruka pergi Aran kembali mengucapkan banyak terima kasih pada Ruka. Dan hal itu justru dibalas dengan sebuah bisikan kecil oleh Ruka ditelinga Aran.


"Aku melakukan ini demi putraku, dan... Setelah ini, kau masih berhutang penjelasan padaku Arana mantan istriku..."


Bak dibuat membisu Aran tak bisa membalas apapun bisikan Ruka barusan.


"Aku pergi dulu," tandas Ruka yang pada akhirnya meninggalkan rumah sakit bersama Rowen. Sementara Sean yang masih ada disana merasa senang akhirnya Ruka dan Rowen pergi juga. Terlebih ada banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada Aran tentang bagaimana bisa Ruka tiba-tiba jadi pendonor untuk Theo.


Sean mendekati Aran, ia lalu melirik Risa seolah memberi kode kalau ia butuh sedikit ruang dengan Aran untuk bicara berdua. Risa yang paham hal itu pun langsung mengajak Jia pergi membeli minuman agar Sean bisa bicara dengan Aran.


"Aran, aku turut senang Theo sudah membaik."


"...Terima kasih banyak Sean. Sekali lagi maaf sudah merepotkanmu."


"Tidak masalah." Tentu tidak masalah bagi pria melakukan apapun demi wanita yang ia cintai. Namun saat ini Sean sedikit kesal dan kecewa karena ternyata yang telah mendonorkan darah untuk Theo adalah Ruka.


"Aran— kalau boleh tahu... Bagaimana bisa tuan Ruka yang malah mendonorkan darah untuk Theo?"


Bagaimana ini? Aku harus jawab apa? Aran tidak bisa memberitahukan sebenarnya kepada Sean kalau kenyataannya Ruka adalah ayah kandung Theo.


"Sean, bisakah kita membahasnya lain kali? Sejujurnya aku ingin fokus pada kesembuhan Theo lebih dulu." Maaf Sean aku tidak ingin kau terlalu jauh tahu tentangku dan Ruka.


"Baiklah kalau begitu." Sean pasrah dan tak berani bertanya lebih jauh.


...🌸🌸🌸...



Ini aku kasih visual Ruka dan Aran versi aku, kalo yang punya bayangan sendiri silakan cari yang lain ok 😌.


BTW jgn lupa di rate pliss 🙏