
Keesokan harinya, saat jam makan siang Aran pun bergegas untuk memberikan bekal makan siang buatannya untuk Ruka. Dan saat perjalan menuju ruangan bosnya itu, tidak sengaja ia berpapasan dengan Rowen yang saat itu juga baru saja selesai menemui Ruka di ruangannya.
"Aran? Kenapa kau berada disini?"
Rowen sedikit heran, mengingat Aran tidak biasanya berada dilantai 77. Dan selain itu Rowen pun juga dibuat penasaran dengan isi tentengan yang dibawa Aran saat itu.
"Ngomong-ngomong, kau bawa apa ditanganmu?"
"Oh ini, ini... bekal buat tuan Ruka," jawab Aran dengan ekspresi sedikit canggung.
Bekal? Jadi Aran membuatkan bekal lagi buat tuan Ruka? Tapi kenapa?
"Ka- kau, jangan-jangan bermasalah lagi dengan tuan Ruka ya?"
"Eh- bu- bukan begitu." Aran langsung membantah dan menjelaskan kepada Rowen kalau bekal kali ini memang murni permintaan Ruka. "Jadi kau jangan salah sangka ya..."
"Oh jadi begitu. Tapi kenapa tiba-tiba tuan Ruka memintamu buatkan dia bekal?" Rowen terlihat begitu penasaran.
"Um... kalau itu aku sendiri juga tidak tahu alasan pastinya."
Aran yang kemudian sadar takut telat mengantar bekal Ruka pun pamit pergi dan meninggalkan Rowen.
"Sudah dulu ya Rowen, bye..."
"Bye..." Rowen memandangi kepergian Aran dengan isi kepala penuh tanya, kenapa bosnya tiba-tiba saja minta bekal pada Aran? Dan...
"Kenapa aku merasa tuan Ruka dan Aran jadi seperti makin akrab belakangan ini?"
...🌸🌸🌸...
Di ruangan Ruka, Aran yang sudah berada disana pun langsung menyiapkan bekal makan siang Ruka dan meletakannya diatas meja sang bos. Sayangnya, alih-alih minta izin pamit pergi, Ruka malah langsung menyuruh Aran untuk tetap tidak kemana-mana dan menemaninya menghabiskan makan siangnya dengan alasan, ia takut makanannya ada obatnya lagi.
"Tuan Ruka, kau sendiri kan tahu bukan aku yang memberikan obat dimakanan waktu itu. Kenapa sekarang kau malah seperti menuduhku melakukannya," pungkas Aran tak terima.
"Aku tahu, yasudah jangan cerewet! Lebih baik nona Arana duduk saja dan tunggu sampai aku selesai makan oke?"
Kedua bahu Aran turun saat menghela nafas tanda pasrah. Ia pun akhirnya duduk di sofa dan menunggu Ruka selesai makan. Namun sesaat kemudian, Ruka yang awalnya duduk di tempat ia biasanya bekerja, malah tiba-tiba saja pindah jadi duduk diatas sofa dan makan disebelah Aran.
"Tuan,, kenapa kau pindah kesini?"
"Memangnya kenapa? Inikan kantorku, aku mau duduk dimana saja ya terserah aku."
"Iya iya kau bosnya!" gerutu Aran lalu memalingkan wajahnya dari Ruka.
Mengetahui Ruka yang saat ini tengah menyantap bekal makan siang buatannya Aran pun jadi penasaran. Ia ingin tahu seperti apa repson Ruka saat makan masakannya saat ini. Alhasil, ia pun melirik Ruka yang ada disebelahnya. Tapi sayangnya ia tidak bisa membaca ekspresi Ruka yang terlalu datar saat makan.
Dan hal itu entah kenapa malah membuat Aran jadi kesal sendiri. Kenapa sih dia tidak menunjukan ekspresi yang lebih mencolok! Atau jangan-jangan, masakanku tidak enak? Tapi masa aku yang pernah selama dua tahun jadi juru masak di Kelavari masakannya tidak enak?
"Tidak usah menerka-nerka, masakanmu enak kok!"
"Eh ka- kau bagaimana bisa...?" Aran sampai dibuat syok mendengar ucapan Ruka barusan yang seolah bisa membaca pikirannya.
"I- itu ti- tidak kok." Aran jadi canggung dan agak malu sendiri rasanya.
"Sudah mengaku saja, lagipula masakanmu enak kok. Ini! Coba saja kalau tidak percaya." Ruka langsung menyodorkan sepotong karage ke mulut Aran dan ia pun tanpa ragu langsung memakan suapan dari sumpit yang disodorkan bosnya itu. Dan ya, rasanya enak seperti yang biasa Aran buat. Hanya saja... Aran tiba-tiba saja malah kaget dan malu sendiri ketidak sadar, kalau barusan itu ia disuapi oleh Ruka.
"Kau telat kagetnya nona Arana!" Sahut Ruka yang tanpa disangka-sangka sudah mau selesai menyantap makan siangnya.
Melihatnya makan dengan lahap membuat Aran senang, mengingat itu tandanya Ruka memang suka dengan makanan buatanya. Tadinya aku berpikir, setelah hilang ingatan selera makannya akan berubah, ternyata tidak! Ruka tetap sama, dia menyukai masakanku.
Setelah minum dan merasa kenyang. Ruka pun berterima kasih kepada Aran yang sudah membuatkannya bekal yang lezat.
"Sama-sama tuan, lagipula anda kan membayarku mahal, jadi akun pasti akan usahakan untuk membuat makanan terbaik yang kubisa."
Saat tengah berada di depannya merapikan tempat bekal. Ruka pun memandangi Aran dari samping yang baginya terlihat sangat cantik. Surai-surai anak rambutnya yang tidak ikut terikat pun seolah merambati lehernya yang putih dan jenjang. Dan seketika para iblis penggoda pun seperti tengah menari-nari di sekitar Ruka.
Ruka menggerakan tangannya dan mengarahkan jemari panjanganya itu membelai pipi Aran yang terasa begitu lembut.
Tentu saja Aran pun langsung terperangai kaget dibuatnya. "Tu- tuan kenapa kau?"
Aran sendiri tidak membenci sentuhan pria itu. Hanya saja merasa kaget karena terlalu mendadak.
"Maaf aku mengagetkanmu. Tapi—"
"Ah...! Apa yang kau lakukan tuan?"
Arana langsung terperanjat syok saat Ruka tiba-tiba saja menariknya duduk diatas pangkuannya. Adu pandang diantara mereka pun sudah tak bisa terelakan lagi. Keduanya kini saling menatap dengan penuh keheningan. Aran sendiri seolah merasakan kalau perlahan wajahnya seperti mendidih mengetahui wajahnya begitu dekat menatap mantan suaminya tersebut.
Ruka tiba-tiba saja melepas ikatan rambut Aran dan langsung membelai rambutnya yang panjang dan halus.
"Rambutmu indah," ucapnya yang kemudian mencium rambut Aran yang dipegangnya.
"Baunya juga sangat harum, padahal kau seorang pekerja bagian rumah tangga tapi kenapa bisa tetap harum baunya?" ungkap Ruka terheran-heran.
Sementara Aran sendiri, dirinya malah terasa seperti dibuat mendadak mati gaya karena tidak tahu harus bagaimana saat ini. Jauh dilubuk hatinya yang terdalam, ia sangat senang, namun logika kewarasannya seolah tengah memaksanya agar tetap rasional dan tidak terbawa perasaan terlalu jauh. Karena jika hal itu sampai terjadi, Aran pasti akan semakin sulit untuk membuang perasaan cintanya untuk Ruka.
"Tuan— bisakah anda melepaskanku? Aku rasa ini salah.. "
"Salah? Kenapa begitu? Bukankah kita..." Ruka mendekatkan wajahnya semakin dekat bahkan tidak sampai setengah jengkal.
"No! Tidak tuan—" Aran seketika langsung berontak dan melepaskan diri dari jeratan Ruka saat ia sadar pria itu mau menciumnya.
"A- aku rasa ini sudah waktunya aku kembali kerja, permisi..." Dengan tergesa-gesa Aran langsung membawa tempat bekalnya lalu pergi.
Saat itu Ruka pun hanya bisa menghela nafas panjang sambil menyisir meraup rambutnya dengan kasar.
"Kenapa semua yang ada padamu membuatku tertarik Arana? Sebenarnya kau itu siapa? Kenapa aku merasa ingin selalu dekat denganmu?"
...🌸🌸🌸...