
Malam harinya, Aran berserta kedua anaknya terlihat di meja makan menunggu makan malam dihidangkan. Tadinya Aran ingin sekali turun kedapur sendiri untuk memasak makan malam, namun karena bibi Maya sudah diperintahkan Ruka untuk tak membiarkan dirinya mengerjakan apapun seharian ini, Aran pun terpaksa menurut karena takut kalau ia melawan perintah Ruka, bibi Maya yang akan kena marah.
Dan tidak lama, makan malam pun siap dihidangkan. Kali ini Aran membantu membawakan makanan-makanan itu ke meja makan. Tadinya ia juga dilarang, namun kali ini Aran memaksa, mengingat ia tidak biasa jika hanya terus berdiam diri saja tanpa melakukan apapun.
Akhirnya menu makan malam pun sudah lengkap tersaji diatas meja. Mulai dari udang pedas manis, karage, dan capcay, semua tampak lezat dan menggugah selera. Aran lalu menyuruh kedua anaknya mencuci tangan mereka dan bersiap makan.
Saat baru saja mau mulai makan, tiba-tiba Ruka yang baru saja pulang pun muncul. Melihatnya Jia pun langsung sumringah menghampiri Ruka dan mengajaknya untuk makan malam bersama-sama. Tentu saja dengan senang hati Ruka langsung mengiyakan ajakan Jia tersebut, dan akhirnya mereka berempat pun makan malam bersama layaknya keluarga bahagia. Melihat pemandangan tersebut, bibi Maya dan pelayan lain pun ikut senang dibuatnya.
Tak terkecuali Aran, bagi Aran momen yang ia pikir hanya ada dibayangannya ternyata kini bisa terwujud. Makan malam dengan orang-orang yang paliang ia cintai, membuat perasaannya terasa dipenuhi kehangatan yang tak terkira.
Tuhan... terima kasih telah memberiku sepotong kebahagian yang luar biasa ini.
"Jia suka kan makan makanan disini?" Tanya sang mama melihat Jia begitu lahap memakan makan malamnya.
"Nona kecil, apa anda suka masakanku?" Tanya Maya sedang membawakan air putih ke meja makan.
"Iya Jia suka, masakan bibi Maya enak sekali. Tapi meski begitu, masakan mama tetap yang paling enak untuk Jia."
"Jia rindu mama buatkan makanan?"
"Iya, soalnya kari, dan karage buatan mama juara. Tapi karena takut mama kelelahan Jia tidak mau memaksa mama membuatnya."
"Kalau begitu lain kali mama akan masak untuk Jia okey?"
Jia mengangguk.
"Aku juga tidak sabar makan masakan buatanmu lagi," celetuk Ruka sambil melirik Aran dengan tatapan menggoda, hingga membuatnya salah tingkah.
Makan malam pun berlangsung disana Aran melihat Theo yang tengah menyingkirkan daun seledri dan brokoli, lantas ia pun langsung menegur putranya itu agar memakan sayuran itu dan bukan malah menyisihkannya.
"Tapi Ma, aku kan memang tidak suka daun seledri dan brokoli...!"
"Walau tidak suka kau harus tetap memakannya, kau masih masa pertumbuhan jadi butuh banyak asupan sayuran."
Theomerengut, ia lalu melihat ke arah piring Ruka dimana ia juga melihat pria itu tidak memakan, sayur yang sama. Lalu Theo pun protes.
"Paman Ruka juga tidak memakan daun seledri dan brokolinya. Kenapa aku harus makan?"
Ruka terperangai, dan Aran pun langsung menatap kearah pria itu seraya memberi kode agar Ruka segera memakan sayurnya juga supaya Theo mau makan sayur.
Sejak kecil Ruka memang tidak suka sayuran brokoli dan seledri, tapi demi anaknya ia pun pada akhirnya memaksakan diri untuk memakannya.
Sial! Kalau bukan karena ingin jadi contoh buat anakku, aku tidak sudi makan sayuran ini.
Ruka memakannya dengan wajah cukup tertekan. Saat melihat itu, Theo pun berpikir untuk membuat Ruka makan semua sayuran itu termasuk yang ada di mangkuk miliknya dengan cara memberikannya ke Ruka. Sayangnya hal itu tidak berhasil mengingat Ruka sudah tahu lebih dulu tabiat licik putranya tersebut.
"Theo, makan sayur yang banyak supaya kau pintar dan bisa mengelabuhiku," tandas Ruka sambil memindahkan sayur ke mangkuk Theo.
"Bagaimana kau tahu aku mau mencurangimu?"
"Hei aku lebih tua dan lebih pintar darimu, anak muda. Sudah cepat makan...!"
"Dasar orang tua menyebalkan." Theo pun akhirnya terpaksa memakan sayuran dimangkuknya.
Tiba-tiba saja Jia tertawa melihat ke arah Ruka dan Theo.
"Jia kenapa tertawa sayang?" Tanya Aran yang juga heran melihatnya.
"Jia tertawa soalnya, melihat paman Ruka dan kakak itu lucu. Mereka sama-sama tidak mau kalah, dan juga paman Ruka itu mirip sekali sama kakak hanya versi lebih besar saja."
Ruka dan Theo saling memandang beberapa saat, hingga akhirnya Theo malah tampak malu dan memalingkan wajahnya. Siapa juga yang mau dibilang mirip paman Ruka?
Sementara Ruka hanya bisa tersenyum kecil saat itu. Tentu saja kami mirip, dia kan putra kandungku.
Aran juga setuju dengan yang dibilang Jia, Ruka dan Theo memang mirip jika diperhatikan. Aku harap, suatu hari nanti Theo akan menerima Ruka sebagai ayah kandungnya.
Selesai makan malam, lalu belajar dan bermain sebentar, tiba waktunya Theo dan Jia untuk pergi tidur. Setelah berganti pakaian tidur dan menggosok gigi, kedua anak itu bersiap masuk ke kamar mereka. Saat itu Aran yang baru saja ingin membacakan dongeng untuk Jia pun seketika malah ditolak oleh putrinya.
"Jia, tidak mau mama bacakan dongeng?"
Gadis kecil itu menggeleng
"Kenapa, tumben sekali?"
Dengan raut wajah polosnya Jia berkata pada mamanya kalau hari ini ia mau yang membacakan dongengnya paman Ruka. Mendengar hal itu, Ruka pun menoleh menatap Jia dan mendekatinya.
"Kau mau aku membacakan dongeng untukmu?"
"Em," Jia mengangguk dengan wajah berharap.
"Oke, kalau begitu hari ini biar aku yang menjadi pendongeng tuan putri kecil cantik ini."
"Benar, paman mau membacakan dongeng untuk Jia?"
"Tentu saja."
"Asyik asyik! Ayo paman masuk!" Jia dengan riang langsung menarik tangan Ruka dan mengajaknya ke kamar tidurnya.
Sebelum masuk ke kamar Ruka yang melihat Aran agak tidak yakin dengannya pun langsung berkata, "Tenang saja aku bisa melakukannya."
Ruka lalu mengedipkan sebelah matanya seolah memberi isyarat kepadanya untuk jangan khawatir.
Aran pun tersenyum.
Ruka yang bersandar di ranjang Jia pun mulai bercerita. Kali ini Ruka mendongeng tanpa buku, Jia yang berbaring bersandar nyaman didekapan Ruka pun dengan seriua mendengarkan cerita tentang, seorang pengembara yang tersesat di dunia peri, dan khirnya malah jatuh cinta dengan peri cantik lalu mereka menikah dan hidup bahagia dengan kedua anak mereka.
"Tamat..."
"Ceritanya bagus, pasti peri itu sangat cantik dan baik hati makanya sampai si pengembara malah tidak mau pulang dan memilih menikahi peri itu."
"Tentu saja. Apa kau suka ceritanya?"
"Iya paman, Jia suka— hoamm..." Jia mulai mengantuk.
Ruka pun meminta Jia agar segera memejamkan mata dan tidur.
Jia memeluk lengan Ruka dan bergumam. "Selamat malam paman Ruka, Jia sayang sekali pada paman."
"Selamat malam juga putri kecilku, mimpi indah ya sayang," Ruka membelai lembut kening Jia dan menciumnya.
Dan karena Jia sudah tertidur, Ruka pun perlahan beranjak dari tempat tidurnya. Namun sebelum ia keluar dari kamar tersebut, Ruka menyempatkan untuk mendekati Theo yang sepertinya mungkin sudah tidur. Ruka lalu memandangi Theo dan mengusap rambut lembutnya sambil berkata, "Aku tidak akan bilang kalau aku pria yang baik dan sempurna, tapi aku pastikan suatu hari nanti kau akan lihat sendiri kalau aku memanglah yang paling pantas untuk Arana. Selamat malam Theo."
Ruka pun pergi. Disana Theo yang ternyata hanya pura-pura tidur pun membuka matanya.
"Aku menunggu hal itu terjadi paman Ruka..."
...🌸🌸🌸...
Di ruang kerjanya, Ruka yang baru saja selesai mandi dan hanya mengenaka kaos polos berwarna gelap terlihat sibuk di depan layar laptop. Dan tidak sengaja Aran yang hendak ingin ke dapur mengambil air minum melihat Ruka dari sela-sela pintu yang tidak tertutup rapat.
Melihat Ruka yang begitu bekerja keras, Aran jadi khawatir dirinya bisa stress. Ia pun akhirnya pergi ke dapur dan memutuskan untuk membuatkan teh herbal untuk Ruka.
Saat pergi ke dapur ternyata ada bibi Maya yang juga tengah berada di dapur. Bibi Maya lalu bertanya kepada Aran kenapa malam-malam ke dapur?
"Apa nyonya ingin makan sesuatu biar aku buatkan."
"Tidak kok bi, aku tidak ingin makan apapun. Aku kemari hanya ingin mengambil air minum sekaligus membuatkan teh herbal untuk Ruka."
"Ehem!" Bibi Maya seraya menggoda.
"Um— itu maksudku, Ru- Ruka sudah sangat baik padaku dan anak-anak. Jadi aku ingin berguna untuknya, aku rasa dia pasti agak stress jadi aku rasa teh herbal akan baik untuknya."
"Kalau begitu biar aku buatkan dulu nyonya—"
"Tidak Bi, biar aku sendiri saja yang buat. Bibi silakan istirahat saja karena ini sudah larut malam."
"Nyonya yakin?"
"Ya."
"Baiklah kalau begitu, lagipula teh buatan nyonya pasti akan lebih disukai tuan Ruka," goda bibi Maya lagi, hingga membuat Aran salah tingkah.
"Iya sudah bibi sana pergi..."
Bibi Maya pun pergi kembali ke kamarnya.
Setelah membuatkan teh herbal, Aran langsung membawa teh itu ke ruang kerja Ruka agar segera bisa diminum.
Melihat Aran masuk ke ruang kerjanya, Ruka langsung berhenti menatap laptopnya dan memilih menghiraukan wanita itu.
"Arana, kau belum tidur?"
"Belum, ini datang membawakan teh herbal untukmu. Aku pikir teh herbal bisa membantumu rileks setelah seharian penuh berkutat pada pekerjaan."
Aran pun memberikannya kepada Ruka dan langsung disesapnya dengan perlahan. Seketika tubuh Ruka pun perlahan menjadi lebih ringan setelah menyesap teh gingseng itu.
"Apa kau membuatnya sendiri?"
"Iya, bagaimana? Tidak pahitkan? Aku rasa tidak pahit mengingat kau pecinta kopi tanpa gula."
"Tidak sama sekali, ini sangat enak dan terasa manis karena melihatmu, kehadiranmu membuatku jauh lebih segar."
Aran tersipu malu mendengar ungkapan Ruka yang terdengar seperti gombalan receh, namun berhasil membuat kupu-kupu batinnya menari dengan riang.
"Um— kalau begitu aku mau kembali ke kamarku, du-lu... Eh!"
Ruka meraih lengan Aran dan menariknya duduk diatas pangkuannya.
"Kau mau kemana? Kita belum bahkan belum melakukan apapun," bisik Ruka ditelinga Aran yang kini tampak memerah.
"Kau sedang sibuk aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu."
"Bagiku Arana lebih penting dari pekerjaan." Ruka mencium tengkuk leher Aran hingga membuatnya menggeliat. Ia pun langsung membalik tubuh Aran yang masih dipangkunya menjadi tepat menghadap ke arahnya. Keduanya lalu berciuman dengan mesra hingga Aran baru sadar kalau semua kancing piyamanya sudah terbuka. Ruka pun langsung melepaskan piyama yang membungkus tubuh Aran. Seketika gunung kembar besar milik Aran itu langsung memenuhi pandangan Ruka. Ia tanpa berlama-lama langsung menyesapi tanpa ampun kedua buah ceri di ujung buah dada Aran yang seoleh menggantung.
Suara erangan dan ******* pun keluar dari mulut Aran. Ia lalu meminta Ruka berhenti mengingat ia takut ada yang mendengar mereka. Namun Ruka tak peduli ia jystru semakin rakus melahap tubuh Aran.
"Ru- ka..."
"Hem...?"
"Bisa kita hen-tikan?"
"Tidak, kita harus menyelesaikannya sampai akhir." Ruka terus menjilati tiap inci kulit tubuh Aran yang lembut dan harum.
"Tap- tapi... "
"Tenang saja, tidak akan ada yang berani mengganggu kita."
Hanya dengan tatapan dan ucapannya saja, Arna seolah bisa tersihir oleh Ruka. Entah kenapa ia pada akhirnya menuruti semua keinginan pria itu.
Dan mereka pun melakukannya diruang kerja milik Ruka sampai akhir. Tubuh Aran jadi terasa lengket dan berkeringat, padahal ruangan itu ber-AC.
"Rasanya jadi ingin mandi lagi, tapi aku lelah...," gumam Aran sambil memakai kembali piyamanya.
Ruka yang tak memakai pakaian sama sekali memeluk Aran dari belakang dan berbisik, "Aku tidak menyangka kau lumayan agresif juga."
"Ruka berhenti menggodaku!"
Ruka tertawa dan semakin erat memeluk sambil menciumi kepala Aran. "Aku senang kita bisa lebih terbuka sekarang, percintaan malam ini luar biasa. Aku bahagia sekali Arana..."
"Iya aku juga..." Aran sendiri tidak bisa bohong, baginya malam ini bersama Ruka rasanya luar biasa.
Mereka lalu saling berciuman. Sayangnya saat itu suara dering ponsel Ruka malah memaska Aran dan Ruka saling melepaskan pagutannya.
Wajah Ruka langsung berubah masam saat melihat nama kontak yang meneleponnya.
"Halo, ada apa kek?"
....
"Aku tidak mau, aku sibuk!"
...
Ruka tampak menahan emosinya dengan menghela nafas.
"Oke aku kesana sekarang."
"Apa kau akan pergi?" Tanya Aran yang sebenarnya tanpa bertanya pun ia sudah tahu.
Ruka lalu segera memakai pakaiannya dan meraih mantel kulitnya dan kunci mobil. Ia lalu menatap Aran dan menggenggam kedua tangannya lalu menciumnya.
"Ada yang harus aku selesaikan, kau tunggu aku disini."
Dari ekspresi wajahnya sepertinya ada hal yang serius.
"Ruka ada apa?"
"Nanti aku akan ceritaka, sekarang aku harus pergi dulu. Aku mencintaimu Arana."
Ruka mencium kening Aran lalu pergi dengan agak terburu-buru. Melihatnya begitu Aran jadi semakin yakin pasti ada hal yang serius yang sedang terjadi di keluarga Ruka.
...🌸🌸🌸...
Jangan lupa, vote, like, comment