
Saat sedang makan malam bersama kedua anaknya. Tiba-tiba saja Theo membicarakan soal Sean, ia bertanya banyak hal seolah menginterogasi Aran tentang sosok Sean dimata mamanya itu.
"Tuan Sean sangat baik, meskipun jabatannya tinggi tapi dia memperlakukan pegawai manapun sama. Dia juga dikenal sangat ramah di kantor."
"Um— mama, kakak, paman Sean itu siapa?" Tanya Jia yang dari tadi tidak tahu siapa orang yang sedang dibicarakan oleh mama dan kakaknya.
"Paman Sean itu temannya mama," jelas Theo pada sang adik.
"Teman, mama punya teman laki-laki?"
"Ia Jia, paman Sean adalah teman mama. Di sangat baik."
"Lalu, apa mama suka pada paman Sean itu?"
Kening Aran langsung mengkerut mendengar pertanyaan putrinya barusan. Ia pun segera menjelaskan kepada kedua anaknya kalau ia dan Sean itu hanyalah teman kerja saja tidak lebih.
"Jia kau harus ingat peraturan kita, kalau ada pria yang mau mendekati mama, harus lulus seleksi kita dulu, tidak boleh sembarangan memilih."
"Kakak benar! Mama kita adalah yang paling cantik dan baik hati, jadi yang mau jadi papa kami juga harus setara dengannya."
"Tepat sekali. Calon papa kita itu harus tampan, punya banyak uang, sayang pada mama, harus pemberani dan jagoan agar bisa melindungi kita, dan yang paling penting tidak boleh membuat mama sedih," imbuh Theo.
Aran sampai geleng-geleng sendiri dibuatnya mendengar kedua anaknya berceloteh seperti orang dewasa. Meskipun ia senang juga karena itu artinya kedua anaknya sangat menyayanginya dan tidak ingin mamanya disakiti siapapun.
"Terima kasih atas perhatian kalian, tapi anak-anak sudahlah jangan bahas lagi, lebih baik segera habiskan makan malam kalian," pinta Aran pada anak-anaknya. Sayangnya kedua anaknya malah mengabaikannya, alhasil Aran pun jadi kesal dan mengacam tidak akan memberikan makanan pencuci mulut selama seminggu pada mereka.
"Baik ma kami akan habiskan," ucap kedua anaknya serempak karena takut sang mama marah.
...🌸🌸🌸...
Besoknya di pantry, Aran terlihat baru saja selesai mencuci gelas dan sendok, setelahnya ia mau ke atas untuk membersihkan lantai 76. Tapi karena sepertinya liftnya sedang banyak dipakai karyawan lain, Aran pun memutuskan untuk naik ke atas dengan tangga saja. Hitung-hitung sekalian olahraga, kata Aran.
Namun karena Aran jarang sekali ke lantai atas naik tangga biasa, ia pun jadi lupa dan malah kelebihan naik tangga. Alhasil ia malah terdampar di lantai 77 lantai paling atas gedung tersebut.
"Aduh kenapa aku malah ke lantai ini?"
"Memang kenapa kalau ke lantai ini?" Ujar seseorang dari belakang Aran tiba-tiba.
Aran pun kaget dan langsung perlahan menoleh kebelakang untuk memastikan suara berat itu milik siapa. Dan jelas saja mata Aran langsung terbelalak lebar saat melihat ternyata pria pemilik suara itu adalah CEO Skyper, yang tidak lain adalah mantan suaminya yang kini sudah tak lagi mengingatnya.
"Yuka?" Ucap Aran pelan.
"Yuka? siapa Yuka?!" Ujar pria itu dengan tatapan matanya yang sangat mengintimidasi.
Aku harus lari! Aran pun bergegas untuk melarikan diri. Sayangnya kali ini tak berhasil karena pergelangan tangannya keburu dipengangi oleh Ruka.
"Mau kabur kemana?" Ucap Ruka menatap Aran sambil menyeringai, membuat Aran jadi memalingkan wajah karena tak berani menatap balik mata pria itu.
"Tu- tuan tolong lepasakan aku, maaf aku salah lantai jadi kumohon lepaskan aku ya," pinta Aran sambil tetap memalingkan wajahnya.
Ruka yang tidak senang Aran memalingkan wajahnya pun langsung mendorong gadis itu ke dinding dan memojokannya. Kedua telapak tangan Ruka menapak tembok seolah memagari kanan dan kiri Aran agar tak bisa kabur. Dalam situasi saat ini Aran benar-benar terperangkap. Dirinya merasa takut dan kebingungan mencari cara untuk kabur. Dan seketika ia medapat ide untuk meloloskan diri dengan cara menyelonong lewat bawah kaki Ruka yang panjang itu. Aran mulai menurunkan badannya kebawah.
"Kalau nona lebih kebawah lagi, jangan salahkan aku kalau tiba-tiba yang dibawah perutku itu terbangun lho," Goda Ruka. Paham maksud Ruka, Aran pun langsung tak jadi jongkok kebawah dan kembali berdiri lagi menghadap pria bertinggi badan 186 cm tersebut.
"Em- anu Tuan, aku tahu aku hanyalah kerak bumi rendahan dibanding anda yang seorang langit. Tapi tolong janganlah anda mempermainkanku begini," ucap Aran yang akhirnya memutuskan buka mulut.
Ruka mengerutkan alisnya. Ia lalu memegang dagu Aran dan menghadapkan wajahnya cantik itu agar menatapnya.
"Dengar, aku hanya ingin bertanya kenapa kau selalu ketakutan dan kabur saat melihatku? Dan kenapa tadi kau sempat menyebutku Yuka?"
Gawat! Aku harus bilang apa, aku tidak mungkin bilang yang sebenarnya. Karena kalau sampai nyonya Lusi tahu, ia pasti murka dan bisa-bisa akan melakukan hal buruk padaku dan anak-anakku.
"Itu—, itu karena anda itu menakutkan bagiku!"
Bagi Aran saat ini Ruka memang sangat mengerikan. Meskipun sangat tampan tapi sejak dulu tatapan pria ini sangat tajam dan mengintimidasi. Bedanya dulu terasa hangat kini sedingin es.
Ruka tiba-tiba saja dan langsung mundur melepaskan Aran.
"Begitu? Jadi kau takut padaku?"
Aran mengangguk.
Gadis ini, kupikir alasannya kabur itu spesial ternyata alasannya konyol!
"Yasudah pergilah," ucap Ruka tiba-tiba cuek dan seolah kecewa.
"Lho, anda tidak marah tuan?" Tanya Aran keheranan.
"Kau mau aku marah?"
"Ti- tidak! M- ma-maksudku ka- kalau begitu aku permisi dulu tuan." Aran menyelonong pergi.
"Tunggu dulu!"
Aduh! Apa lagi? "Iya Tuan?" Aran menoleh
"Yuka yang tadi kau sebut itu, siapa?"
"Em— Yuka itu." Aduh bagaimana ini? Aku tak mungkin bilang Yuka yang kumaksud adalah dia kan?
"Kenapa tidak bicara?"
"Itu karena..."
"Sudahlah kalau tidak mau jawab segera pergi...!"
Aran akhirnya bisa menghela nafas dan pergi dari hadapan Ruka.
"Apa benar alasannya hanya karena aku menakutkan?" Entah kenapa Ruka masih belum yakin dengan ucapan Aran tadi.
...🌸🌸🌸...
Kalau suka di LIKE, COMMENT, VOTE YA...