
Happy Reading.
***
Rakha menarik gusar rambutnya pasalnya Alysa masih saja marah padanya bahkan kini wanita itu mengunci pintu kamar mereka tak membiarkan Rakha untuk masuk.
"Sayang bukain dong," bujuk Rakha dengan suara lirihnya sambil mengetuk pintu kamar mereka. Namun tak ada jawaban dari Alysa membuat Rakha mengembuskan nafasnya kasar.
"Aku tuh ngelarang karena aku gak mau ada yang deketin kamu nanti saat kamu kerja," lanjut Rakha yang sukses membuat Alysa di dalam sana menggerutu kesal mendengar sikap posesif suaminya yang bertambah setelah mereka menikah.
"Bukain dong Yang, atau aku dobrak nih," ancam Rakha yang berhasil membuat Alysa mengalah dan segera membukakan pintu untuk Rakha. Takut jika benar-benar Rakha mendobrak pintu kamar mereka mengingat bagaimana sikap laki-laki tersebut.
Alysa berjalan kearah balkon rumahnya yang di ikuti Rakha di belakangnya. Suasana langit malam yang sangat menenangkan membuat Alysa memejamkan matanya. Rakha yang berada di belakang Alysa langsung memeluk wanitanya itu dari belakang namun Alysa segera melepaskan pelukan Rakha Rakha membalikkan tubuh Alysa agar menatapnya namun gadis itu malah menatap tajam kearahnya.
"Kamu tau kan aku ngelakuin ini cuma takut kamu pergi dari aku," ucap Rakha sambil menggenggam tangan Alysa dengan erat. Alysa hanya mendengus selalu saja alasan itu yang Rakha gunakan laki-laki seperti tidak percaya pada Alysa harusnya Alysa yang melakukan itu mengingat yang pernah selingkkuh adalah Rakaha buakna Alysa.
"Kita udah nikah Rakha jadi gak mungkin aku ninggalin kamu, hubungan pernikahan itu sangat sakral dan bagi aku hanya sekali seumur hidup. Jadi gak usah berlebihan deh," ucap Alysa memutar malas matanya. Rakha menghembuskan nafasnya berpikir sejenak untuk mempertimbangkan permintaan Alysa.
"Ok kamu boleh kerja tapi setelah kita memiliki anak kamu harus berhenti dari pekerjaan kamu dan fokus mengurus anak kita, dan pasien yang kamu tangani hanya boleh perempuan bukan laki-laki, setuju atau engga sama sekali," putus Rakha akhirnya namun Alysa mengangguk walaupun dengan berat hati ia menerima keputusan Rakha.
"Ayo masuk udah malam, dingin," ujar Rakha lalu membawa Alysa untuk masuk kekamar mereka sambil merangkul pundak wanita itu.
Setelahnya mereka langsung merebahkan tubuh mereka di kasur king sizenya mereka tidur sambil berpelukan dengan kaki Rakha yang mengunci kaki Alysa.
****
Alysa kini tengah berkutat dengan peralatan dapurnya memasak makanan untuk sarapan Rakha bersama art yang bertugas memasak di ruma mereka. Di rumah mereka Rakha yang menyiapkan banyak art mengingat rumah mereka yang cukup besar.
"Sayang pakaikan," ucap Rakha yang baru saja turun dari kamarnya sambil membawa dasi dan menyodorkan dasinya pada Alysa. Alysa langsung menyambutnya dan memakaikan dasinya untuk pada suaminya itu.
"Sayang aku sarapan di kantor aja, aku buru-buru hari ini ada rapat," ujar Rakha sambil melihat jam yang melingkar di tangannya. Yang sudah menunjukkan pukul setengaj tujuh dan ia ada rapat saat jam tujuh dan jarak yang di tempuh dari rumah ke kantornya adalah sekitar dua puluh menit jika tidak ada kendala di jalan.
"Bi tolong siapin sarapan Rakha untuk di bawa ke kantor," ucap Alysa pada pembantunya.
Setelah selesai Alysa langsung memberikan sarapannya pada Rakha.
"Nanti kamu ke kampus sama supir dulu ya sayang, oh iya sekarang kamu sidang kan? Semangat sayang aku yakin kamu bisa," ucap Rakha sambil mengecup puncak kepala Alysa lalu segera menuju mobilnya setelah mendapat jawaban dari Alysa.
Alysa tersenyum melihat sikap Rakha yang sangat menyayanginya ia sangat beruntung bisa memiliki suami seperti Rakha walau sikap posesif Rakha sering kali membuatnya pusing.
*****
Alysa menghembuskan nafasnya berat setelah keluar dari ruang sidang ia sangat lelah jadi Alysa memutuskan untuk menuju kantin karena sahabatnya sudah menunggunya di sana.
Saat sampai di kantin Alysa sudah mendapati sahabatnya yang sedang bercanda bersama Klara di tengah kantin dan Alysa segera menghampiri mereka.
"Wah pengantin baru akhirnya nongol juga," goda Lia saat melihat Alysa di sampingnya yanag baru mendudukkan pantatnya.
"Pengantin baru apaan? Udah tiga bulan lebih kali gue nikah," ucap Alysa memutar malas matanya.
"Baru itu mah Sa, belum juga setahun," ucap Klara sambil terkekeh kecil.
"Eh btw gimana udah isi belum nih?" tanya Lia menaikkan sebelah alisnya.
"Isi apaan? Isi daging? Isi darah? Atau isi apa?" tanya Alysa yang sangat tidak jelas. Moodnya saat ini sedang tidak baik ia sangat lelah setelah sidang tadi dan entah kenapa beberapa hari belakangan ini moodnya sering berubah-ubah sangat labil.
"Perut lo?" tanya Lia yang juga ambigu. Sebenarnya tidak ambigu hanya Alysa saja yang malas membalasnya dengan serius.
"Belum, gue belum makan jadi belum ada isinya pesenin makanan sana," ucap Alysa sambil tertawa ia hanya pura-pura tidak tahu padahal ia mengerti apa yang di maksud Lia.
"Eh bego gue tanya lo udah hamil belum?" tanya Lia yang sudah tersulut emosi karena mendapatkan jawaban tidak jelas dari Alysa yang kini malah tertawa.
"Lo kalo nanya itu yang jelas mangkanya," ucap Alysa sambil tertawa sedangkan sahabatnya sudah menatap datar padanya.
"Belum," ucap Alysa akhirnya setelah menghentikan tawanya.
"Eh btw nanti jalan kuy udah lama kita gak jalan nih," ajak Lia yang mendapat anggukan setuju dari Klara sedangkan Alysa gadis itu masih terus berpikir.
"Lo gimana Sa?" tanya Lia karena tidak mendapat jawaban dari Alysa.
"Gue tanya Rakha dulu, lo tau sendiri gimana dia," ucap Alysa gusar mengingat betapa posesif suaminya itu.
"Ribet banget dah punya suami posesif, lo yang sabar ya Sa," ucap Klara merasa kasihan dengan nasib sahabatnya itu ia memang tidak mengenal Rakha mengingat ia baru saja berteman dengan Alysa saat mereka kuliah dan saat itu hubunga Alysa dan Rakha sedang tidak baik.
*****
Setelah permohonan dan perdebatan yang membutuhkan banyak waktu akhirnya Alysa di perbolehkan untuk pergi bersama sahabatnya dengan syarat Alysa harus menghubunginya 30 menit sekali jika Alysa tidak menghubunginya maka Rakha akan datang dan menjemputnya dan tak hanya itu Alysa juga wajib menyalakan GPS di ponselnya agar Rakha tau di mana keberadaan wanitanya itu. Sangat posesif bukan?.
"Guys gue pengen rujak, beli kuy," ajak Alysa yang malah mendapatkan pekikan dari Lia.
"Apaan dah? Gue cuma pengen aja kali," ucap Alysa sambil tertawa.
"Tapi gue do'ain semoga lo lagi hamil," ucap Klara yang mendapat anggukan dari sahabatnya.
"Eh besok abang gue tunangan jangan lupa dateng ya guys," undang Alysa yang langsung mendapat anggukan semangat dari sahabatnya.
"Wah siap itu mah, makanan gratis jadi Lia harus dateng," ucap Lia dengan semangat.
"Lo mah makan mulu, gemuk kagak. Gue takutnya elo cacingan Li," ucap Alysa yang membuat Klara tertawa mendengar ucapan Alysa.
“Eh Li jangan lupa undang Retta sama Adrin, mereka harus dateng pokoknya,” ucap Alysa final mengingat sahabatnya yang sedang menempuh pendidikan di daerah yang berbeda dengannya itu.
“Eh buset lo kira Amrik deket? Tinggal merem langsung nyampek? Ya si Adrin mending Cuma yogya lah si Retta?” ucap Lia mengingat Retta yang memang kuliah paling jauh di antara sahabat mereka yang lain.
“Alah pas gue nikah sama pas acara tahunan kampus aja dia dateng jadi bisa lah sekarang juga,” ucap Alysa menghiraukan ucapan Lia.
“bodo lah serah lo,” ucap Lia pasrah dan malas berdebat dengan Alysa.
Tak beberapa lama mereka sampai di tempat penjual rujak setelah memesannya Alysa dan sahabatnya menunggu di tempat yang sudah di siapkan.
"Neng ini rujaknya," ucap si penjual rujak dengan memberikan masing-masing pesanan keempat perempuan tersebut.
"Enak banget ya ampun mangganya asemnya pas, gue mau pesen lagi buat Rakha," ucap Alysa dan segera memesan rujak untuk suaminya itu. Sahabatnya menatap heran pada Alysa dan sekarang mereka satu pemikiran bahwa Alysa sedang mengidam.
****
Alysa kini tengah berjalan masuk kedalam rumahnya yang ternyata Rakha sudah menunggunya di ruang tamu sambil menonton TV.
"Sayang Aku pulang," teriak Alysa sambil memeluk Rakha dari belakang. Rakha tersenyum melihat tingkah istrinya itu tapi tak urung ia juga heran melihat Alysa yang sangat romantis biasanya Alysa sangat kasar bahkan gadis itu tidak mau memanggil Rakha dengan sebutan romantis.
"Sayang aku bawa rujak buat kamu," ucap Alysa sambil mengulurkan rujak yang di bawanya.
Rakha segera membukanya dan mencoba memakannya tapi baru satu buah yang ia makan telinganya sudah terasa panas.
"Air mana air," tanya Rakha sambil mengipasi wajahnya yang panas karena pedas. Alysa yang panik langsung mengambil air di nakas dekat sofa yang memang sengaja di siapkan, bahkan di rumah keluarga mereka juga ada kulkas mengingat dapur yang lumayan jauh dari ruang keluarga jadilah di ruang keluarga juga ada kulkas.
"Kamu kasih cabe-cabean berapa sih Yang?" tanya Rakha setelah menegak habis airnya.
"Cuma 10 kok Yang, abisnya aku pengen ngerasain juga nantinya tapi biar kamu dulu yang nyobain," ucap Alysa dengan bibirnya yang mengerucut sedangkan Rakha membelalakan matanya saat mendengar ucapan Alysa. Apa katanya cuma? 10? Cuma? Wah sungguh keren Alysa ini dan malah Rakha yang menerima akibatnya.
"Yang 10 itu banyak loh," ucap Rakha menghembuskan nafasnya berat. Apa Alysa fikir 10 buah itu tidak banyak? Padahal kini rasanya perut Rakha sudah mulai rasa mint, telinganya sudah mulai panas dan Alysa mengatakan ‘Cuma’ sungguh ajaib wanitanya itu saat menyiksa Rakha sangat pandai.
"Belum sekilo juga," sinis Alysa dan segera berlalu menuju kamarnya karena kesal dengan Rakha. Rakha menghembuskan nafasnya melihat tingkah Alysa yang berubah-ubah.
****
Thank For Reading.
Hai All im back setelah lama gak nulis di sini
akhirnya aku datang dengan cerita baru. Mungkin dari kalian ada yang udah gak
asing lagi kan sama nama dari pemain ini? Yap ini adalah sequel dari My Crazy
Badboy buat yang belum baca yuk di baca dulu guys biar pada ngerti.
Follow yuk akun ig aku @hilmiatulhasanah- dan
@Wphilmiath_
Follow juga akun rp ini ya guys
@TRAKHAAKDNA_
@ALYSAEVELYAA_
@ALVANDOJERRY_
@ARETTAEMILJ_
@SHE_LIAANGGRAINI
@ADRIENVERVER_