Raksa

Raksa
Baik



Happy Reading.


***


Alysa meregangkan tubuhnya saat sinar matahari yang menyilaukan penglihatan nya mulai masuk melalui celah jendela. Setelah berhasil mengumpulkan nyawanya Alysa langsung menuju kamar mandi untuk bersiap ke kampus.


Tak membutuhkan waktu yang lama bagi Alysa untuk bersiap hanya dalam waktu empat puluh menit gadis itu sudah tampak cantik dengan polesan make up tipisnya.


Setelah selesai bersiap Alysa langsung turun untuk sarapan, di meja makan sudah ada orang tuanya dan Kakaknya yang sudah menggunakan stelan kantornya , setelah lulus Rey sudah mulai bekerja di kantor Papa nya.


"Pagi semua," sapa Alysa dan langsung duduk di kursi samping Mama nya. Karin yang melihat kedatangan anaknya itu langsung menyiapkan sarapan untuk Alysa.


"Pagi juga sayang," sapa orang tuanya kompak.


"Pagi adek ku tersayang," sapa Rey dengan senyumannya sambil memakan makanannya .


"Gimana keadaan curut itu?" tanya Rey sambil melanjutkan makannya. Kalian pasti tau siapa yang Rey maksud curut bukan? Buat yang belum tau yang dimaksud curut itu ya si Rakha.


"Masih koma," ucap Alysa dan memakan makanannya. Alysa menghela napasnya jika mengingat itu mood Alysa langsung buruk hatinya jadi khawatir dengan keadaan Rakha.


"Oh syukur deh," ucap Rey cuek yang justru mendapat tatapan tajam dari orang sekitarnya. begitulah Rey saat sudah tidak menyukai seseorang ia pasti tidak akan peduli dengan orang itu.


"Lah kenapa? Bener kan? Syukur aja dia gak mati, tapi gak papa sih kalo mati juga biar gak ngeribetin," ucap Rey yang langsung mendapat pukulan menggunakan sendok oleh Alysa. Mulut kakaknya itu memang selalu saja jika berbicara tidak pernah di filter terlebih dulu. Seburuk apapun Rakha tetap saja kini laki-laki itu masih memiliki tempat tersendiri di hati Alysa. Tidak mungkin Alysa akan suka saat orang yang di cintainya malah di doakan meninggal. Setidaknya saat ia memang sudah tak bersama laki-laki itu mereka hanya jauh akan jarak bukan dunia.


"Kalo ngomong mulut abang lemes banget sih cowok juga, kalo abang cewek paling juga udah jadi lambe turah," ucap Alysa kesal dan segera meminum air nya rasa lapar nya sudah hilang di ganti kesal.


"Kotor dah rambut gue," ucap Rey yang malah memusingkan rambutnya yang sudah ia tata serapi mungkin.


"Au ah udah kenyang, aku berangkat dulu ya," pamit Alysa lalu mencium tangan kedua orang tuanya dan mengecup pipi mereka setelahnya Alysa langsung pergi tanpa berpamitan pada Rey terlebih dulu.


"Lah adek durhaka lo gue di lupain," teriak Rey saat Alysa sudah mulai menjauh yang dihiraukan oleh Alysa ia tidak ambil pusing dengan kakaknya itu. Mood nya masih pagi sudah rusak hanya ucapan kakaknya itu.


Alysa menunggu Jerry yang akan menjemputnya di depan rumahnya sambil sesekali mengecek ponselnya. Tak beberapa lama mobil milik Jerry sudah berhenti didepan rumahnya.


Jerry keluar dari mobilnya dengan stelan jas kantor, Jerry juga sudah bekerja menjadi CEO muda di kantor cabang milik Ayahnya.


"Udah siapa cantik?" tanya Jerry sambil mengulurkan tangannya, Alysa tersenyum dan menggapai uluran tangan Jerry untuk ia genggam. Setelahnya Alysa sudah masuk kedalam mobil Jerry.


Tak sampai satu menit mobil Jerry sudah melaju dari depan rumah Alysa untuk mengantarkan gadis itu kuliah.


****


"Alysa," suara teriakan dari seorang laki-laki saat ia akan memasuki gedung kampusnya menghentikan langkah Alsya dan membalikkan tubuhnya menghadap lakki-laki di belakangnya.


"Devin?" tanya Alysa melihat laki-laki yang memanggilnya adalah Devin, laki-laki itu tengah berjalan kearahnya dengan senyumannya yang mengembang.


"Baru datang Al?" tanya Davin berbasa-basi saat sudah sampai di hadapan Alysa.


"Iya, lo ngapain pagi-pagi udah di sini?" tanya Alysa dengan kerutannya pasalnya fakultas ekonomi sangat jauh dari fakultas kedokteran.


"Gue mau ngajak lo jalan selesai kelas nanti, mau gak?" tanya Devin menawarkan dengan penuh harap agar Alysa menerimanya. Alysa berpikir sejenak sebelum memesang wajah bersalahnya.


"Duh gimana ya? Maaf banget ya Vin tapi nanti gue harus ke rumah sakit," tolak Alysa merasa tidak enak pada Devin namun ia nanti harus menemani Rakha karena permintaan Mami laki-laki itu yang memintanya untuk menjaga Rakha.


"Ya udah deh next time ya," ucap Devin masih memohon dengan raut kecewanya karena Alysa menolak ajakannya kali ini.


"Ok deh," ucap Alysa dengan senyumannya dan mengacungkan ibu jarinya. Walau ia tak tahu kapan ia bisa meluangkan waktunya untuk itu.


"Gue anter ke kelas lu yuk," tawar Devin yang di balas anggukan oleh Alysa, dan mereka berjalan bersama ke kelas Alysa.


"Ehm btw Sa, yang kemarin itu siapa lo?" tanya Devin saat mereka sedang berjalan ke kelas Alysa. Ia penasaran dengan laki-laki yang menjemput Alysa kemarin.


"Berarti masih ada peluang ya gue bisa sama lo," ucap Devin sambil terkekeh, Alysa juga ikut terkekeh mendengar ucapan Devin sambil menggelengkan kepalanya.


"Bisa aja lo, gue lagi gak buka lowongan btw," ucap Alysa masih dengan kekehannya namun benar hatinya belum cukup siap untuk terbuka kembali ia belum mau jika harus merasakan sakit hati kembali. Luka yang Rakha torehkan begitu dalam dan kini laki-laki itu kembali hadir dalam hiidupnya disaat ia berusaha move on.


"Gue juga gak lagi minta kerjaan," balas Devin yang kembali mengundang tawa Alysa.


"Yayaya terserah lo, btw thank ya gue masuk dulu," pamit Alysa saat mereka sudah berada di depan kelas Alysa. Devin hanya mengangguk dan segera pergi menuju fakultasnya yang lumayan jauh dari fakultas Alysa. Bucin, Devin sangat bucin bukan hingga rela datang ke fakultas yang terletak jauh dari fakultasnya hanya untuk menemui gadis yang ia suka.


****


Setelah selesai kelas kini Alysa tengah berada di kantin bersama Klara dan Lia yang juga berada di sana.


"Abis ini mau ke rumah sakit Lys?" tanya Lia pada Alysa pasalnya selama Rakha di rawat di rumah sakit Alysa selalu datang untuk menjenguk laki-laki itu.


"Iya," ucap Alysa menjawab pertanyaan Lia.


"Bareng deh nanti, gue sekalian mau ke Eliza," ucap Lia mengajak Alysa untuk datang bersama ke rumah sakit.


"Btw siapa yang sakit? gue kira lo mau jenguk Eliza," ucap Klara mengerutkan keninganya bingung. Pasalnya tadi ia kira Alysa akan kerumah sakit untuk menemani Eliz karena memang itu yang sering gadis itu lakukan tapi saat mendengar ucapan Lia ia menjadi bingung.


"Mantannya dia, baik banget kan nih orang mantan sakit masih aja di urusin," ucap Lia dengan senyuman sinisnya membuat Alysa memutar matanya mendengar ucapan Lia itu.


"Kalo gue jadi elo udah gue kasih obat buat ngebunuh dah tuh," ucap Klara dengan wajah kesalnya mendengar ucapan Lia. Alysa memang begitu baik hingga mereka bingung sebenarnay terbuat dari apa hati Alysa itu.


Meski Klara tak tahu alasan mereka putus tapi bagi Klara mantan adalah orang yang harus di lupakan dan di buang pada tempatnya. Apa lagi mantan seperti Rakha yang tega berkhianat.


"Saling memaafkan itu lebih baik dari pada menyimpan dendam," ucap Alysa menasihati sahabatnya itu.


****


Thank For Reading.


Hai All im back setelah lama gak nulis di sini


akhirnya aku datang dengan cerita baru. Mungkin dari kalian ada yang udah gak


asing lagi kan sama nama dari pemain ini? Yap ini adalah sequel dari My Crazy


Badboy buat yang belum baca yuk di baca dulu guys biar pada ngerti.


Follow yuk akun ig aku @hilmiatulhasanah- dan


@Wphilmiath_


Follow juga akun rp ini ya guys


@TRAKHAAKDNA_


 @ALYSAEVELYAA_


 @ALVANDOJERRY_


 @ARETTAEMILJ_


@SHE_LIAANGGRAINI


@ADRIENVERVER_