Raksa

Raksa
Hilang



Happy Reading.


***


Alysa  kini tengah menunggu Rakha di depan pagar rumahnya dengan sesekali melihat jam tangannya yang melingkar indah di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh dan ia ada kelas pagi sekarang tapi Rakha belum juga datang untuk menjemputnya.


Tak beberapa lam akhirnya yang di tunggu datang juga. Mobil sport berwarna hitam itu akhirnya berhenti tepat di depan Alysa dengan segera gadis itu memasuki mobil Rakha tanpa menunggu laki-laki itu keluar untuk membukakannya pintu mobil.


Terlihat Rakha sudah rapih dengan jas formalnya membuat laki-laki itu tampak begitu tampan. Rakha tersenyum melihat tunangannya itu lalu mulai melajukan mobilnya menuju kampus Alysa.


"Setelah kuliah kamu mau kerja?" tanya Rakha membuka pembicaraan setelah hanya ada  keheningan yang menghasi mereka. Laki-laki itu masih fokus menatap ke depan namun tangannya yang satu dengan setia menggenggam tangan gadisnya itu.


"Iya lah, emang mau ngapain lagi?" tanya Alysa sinis memutar matanya malas karena pertanyaan Rakha menurutnya sangat tidak bermutu. Memang setelah susah payah mendapatkan gelar sarjana ia hanya akan duduk santai?


"Kamu bisa kerja di rumah sakit milikku, tapi akan aku batasi," ucap Rakha yang membuat kening Alysa mengerut, apa maksud Rakha membatasi?


"Membatasi?" tanya Alysa bingung dengan kerutan di dahinya.


"Cuma pasien cewek yang boleh kamu tangani," ucap Rakha final menjawab pertanyaan Alysa dan hal itu sontak membuatAlysa memelototkan matanya sempurna . Bagaimana bisa seorang dokter memilih pasien yang bisa ia tangani? Bukankah Rakha sangat keterlaluan?


"Tapi Kha, ini konyol." Alysa menatap Rakha malas melihat betapa posesifnya laki-laki ini, ini bukan hanya masalah ia dan Rakha tapi juga masalah keselamatan orang lain dan laki-laki itu mengambil keputusan dengan seenaknya.


"Terima atau engga sama sekali." Rakha mengucapkannya tanpa bantahan tidak ada pilihan lain selain Alysa menerimanya atau ia benar-benar tidak bisa bekerja sama sekali karena tunangan posesifnya ini.


Tak bebarapa lama akhirnya mereka sampai di kampus Alysa. "Hati-hati ya, nanti kalau pulang langsung telfon aku," peringat Rakha pada gadisnya itu. Ia hanya tidak iangin laki-laki yang waktu itu mendekati gadisnya itu kembali mendekati Alysanya.


"Iya Rakha," ucap Alysa dengan sabarnya. Rakha mencium kening Alysa sebelum Alysa keluar dari mobilnya. Setelahnya Alysa langsung berjalan menuju fakultasnya setelah memastikan Rakha sudah pergi.


"Hey Alysa," sapa seseorang di belakang Alysa. Alysa membalikkan tubuhnya dan menatap Devin yang tengah tersenyum padanya dengan lembut.


"Hay juga Dev," sapa Alysa dengan senyumannya yang tidak pernah luntur.


"Gimana sama tawaran gue waktu itu?" tanya Devin mengingatkan Alysa tentang tawaranya mengajak Alysa utuk jalan.


"Hm gimana ya? liat entar aja deh Dev gue juga lagi sibuk dan harus jagain sahabat gue di rumah sakit," ucap Alysa tidak enak menolak tawaran laki-laki di depannya itu. Bukan apa Alysa hanya tidak mau kejadian yang dulu menimpa Sein kembali terulang mengingat Rakha yaan sangat posesif itu.


"Ok deh, kalau gitu gue duluan ya Sa," ucap Devin dan segera berlalu meninggalkan Alysa yang tengah menatapnya tidak enak. Alysa menghembuskan napasnya kasar melihat punggung Devin ynaag sudah mlai menjauh.


****


Setelah pulang sekolah Rakha langsung menjemput Alysa dan mengantarkan gadis itu pulang agar Alysa bisa beristirahat memingat malam ini adalah acara pengangkatannya menjadi seorang CEO muda.


Setelah mengantar Alysa pulang Rakha langsung menuju tempat yang akan ia gunakan untuk acara pesta malam ini. Rakha hanya sekedar mengecek persiapan yang sudah berjalan karena malam ini akan menjadi malam yang begitu bersejarah untuknya karena akan ada kejutan yang akan ia berikan untuk tunangannya itu.


"Gimana Mi semua udah beres?" tanya  Rakha pada Renata yang juga tengah berada di sana untuk mengecek semua persiapan.


"Udah kok tinggal tunggu Karin aja, kamu giamana udah kan tugasnya?" tanya Renata pada anaknya itu yang langsung di balas dengan anggukan lalu laki-laki itu mengeluarkan benda dengan kotak kecil dari jas nya. Kemudian menyodorkannya untuk Maminya.


"Wah cantik sekali sayang," ucap Renata menatap benda yang Rakha tunjukkan padanya.


"Ini yang kedua kalianya untuk aku tapi kali ini aku lebih gugup karena saat pertama kali Mami dan Papi membantuku," ucap Rakha sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Kamu pasti bisa kok," ucap Renata sambil mengelus punggung anaknya itu. Ia tahu anaknya itu pasti akan gugup menghadapi ini apa lagi ia akan melakukannya di depan para tamu yang tentu saja banyak yang datang.


"Renata, Rakha," suara yang begitu mereka kenali itu membuat kedua orang itu menoleh ke arah pintu masuk da mendapati Karin-Mama Alysa yang berada di sana dengan senyumannya.


"Bagaimana semua berjalan lancarkan?" tanya Renata pada calon besannya itu.


"Pasti dong, ini," ucap Renata sambil mengelurkan benda yang di bawanya pada Rakha namun di tolak oleh laki-laki itu.


"Mama simpen aja dulu, setelah ini kasih Alysa lagi. Bagimanapun yang itu memiliki banya kenangan," ucap Rakha dengan senyumannya yang di balas dengan senyuman juga oleh kedua wanita paruh baya itu. Karin kadang masih tak menyangka Rakha sebegitu menyayangi putrinya. Namuan kesalahannya yang lalu memang sempat membuat Karin marah saat melihat anak gadis nya yang menangis karena laki-laki itu.


"Mami jadi gak sabar," ucap Renata yang begitu bersemangat dan mendapatkan persetujuan dari Karin yang juga begitu bahagia untuk anaknya itu.


Di tempat lain kini Alysa baru saja bangun dari tidur siangnya saat jam sudah menunjukkan pukul lima sore tak terasa ia sudah tertidur selama dua jam. Alysa segera berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah membersihkan tubuhnya gadis itu hanya menggunakan kaos overzise dan short pants. Saat Alysa tengah mengeringkan rambutnya ia merasa ada yang janggal ia berpikir keras lalu melihat jarinya yang kosong tak tersemat satu cincin pun di sana membuat Alysa memelototkan matanya.


Dengan segera Alysa mulai mencari cincin tunangannya dengan Rakha, Alysa terus mencari hingga kamarnya pun sudah begitu berantaka, tak menemukan cincinnya di kamar Alysa berjalan turun menuju lantai bawah mencari Mama nya siapa tahu mamanya itu mengetahui di mana cincin gadis itu.


"Mama," teriak Alysa tapi tak menemukan keberadaan Mamanya itu membuat gadis itu semakin frustasi mencari cincinnya itu.


"Mama kemana sih," gerutu Alysa dengan air matanya yang tanpa sadar sudah mengalir ia begitu takut cincin itu benar-benar hilang Rakha pasti kecewa dengannya yang tak bisa menjaga cincin pertunangan mereka dengan baik.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Karin yang di kagetkan dengan anaknya yang tengah menangis sambil mencari sesuatu.


"Mama lihat cincin aku gak? cincin aku hilang," ucap Alysa yang masih terus mencari tanpa melihat ke arah mama nya itu.


"Emang kamu terakhir kali naroknya di mana?" tanya Karin yang di balas gelengan oleh Alysa. Karin mulai ikut mencari cincin anaknya yang hilang itu


"Sayang kamu kenapa nangis?" tanya suara yang baru saja datang. Dan suara itu sukses membuat Alysa berbalik lalu menatap ke arah laki-laki yang kini berada tak terlalu jauh darinya.


"Kamu ngapain ke sini?" tanya Alysa pada laki-laki itu.


"Aku cuma mau ngeliat kamu aja, kamu kenapa nangis?" tanya laki-laki itu lagi yang kini mendekati Alysa lalu memeluk Alysa erat.


"Rakha cincin tunangannya aku ilang," adu Alysa pada laki-laki yang tak lain adalah Rakha. Rakha cukup terkejut mendengar itu dan Alysa merasakannya karena laki-laki itu hanya diam.


"Hey kamu jangan nangis nanti malam acara aku loh masak tunangan CEO dateng-dateng matanya sembab. Udah gak papa sayang nanti kita bisa beli yang baru," ucap Rakha menenangkan Alysa yang langsung membat Alysa mendengak menatap tunangannya itu. Tak bisa di pungkiri Alysa menghembuskan napasnya lega karena laki-laki itu tidak marah. Namun tetap saja cincin itu sudah menyimpan banyak kenangan mereka entah susah ataupun senang.


"Tapi Rakha...." ucapan Alysa terpotong karena Rakha lebih dulu menyela ucapannya.


"Gak papa sayang, udah sekarang mending kamu berhenti nangis ya," ucap Rakha sambil mengelus punggung gadis nya itu sayang.


Dan benar Alysa berhenti menangis tapi pikirannya terus mengarah pada cincin pertunangannya yang kini entah berada di mana itu.


***


 


Thank For Reading.


Hai All im back setelah lama gak nulis di sini


akhirnya aku datang dengan cerita baru. Mungkin dari kalian ada yang udah gak


asing lagi kan sama nama dari pemain ini? Yap ini adalah sequel dari My Crazy


Badboy buat yang belum baca yuk di baca dulu guys biar pada ngerti.


Follow yuk akun ig aku @hilmiatulhasanah- dan


@Wphilmiath_


Follow juga akun rp ini ya guys


@TRAKHAAKDNA_


 @ALYSAEVELYAA_


 @ALVANDOJERRY_


 @ARETTAEMILJ_


@SHE_LIAANGGRAINI


@ADRIENVERVER_