
Happy Reading.
***
"Kamu harus kuat Jer, aku sama terpukul nya. Kamu sebagai laki-laki harus kuat, kalau kamu lemah siapa yang akan menguatkan aku?" ucap Alysa yang juga ikut menangis, ia mengerti Jerry pasti sangat terpukul apa lagi Eliza menghembuskan nafas terakhirnya bersama Jerry di sampingnya.
“Maaf karena sudah menjadi lemah, tapi ini begitu mendadak dan aku. Dia pergi dalam pelukan aku Lys,” ucap Jerry saat mengingat kembali saat-saat Eliza menghembuskan napas terakhirnya. Saling berusaha untuk menerima kenyataan. Rakha yang melihat itu hanya mendengus berusaha mengontrol dirinya.
Jerry kembali mengingat saat-saat itu, saat ia yang tak datang ke acara peresmian dan lebih memilih untuk menamni Eliza.
Jerry yang memang tak datang ke acara tahunan sekolah memilih untuk menjaga Eliza di rumah sakit. Saat ia memasuki ruang rawat Eliza terlihat tersenyum ke arahnya yang Jerry balas dengan senyuman juga lalu ia mulai menghampiri gadis itu.
“Lo gak dateng ke acara kampus?” tanya Eliza pada laki-laki yang kini tengah duduk di kursi samping brankarnya itu.
“Kali ini gue mau baik dulu sama hati gue, kasian hati gue sakit mulu sesekali biarin dia tenang dulu,” ucap Jerry yang membuat Eliza hanya bisa menggeleng mendengarnya. Eliza mematikan televisi yang tengah di tontonnya lalu menatap Jerry sepenuhnya dan ternyata laki-laki itu tengah memainkan ponselnya.
“Jerry makasih banget ya lo dan keluarga lo udah baik banget sama gue, makasih ya lo udah selalu ada buat gue, ngejagian gue dan….” Ucapan Eliza terpotong karena Jerry yang menatapnya sangat tajam.
“Lo kenapa? Gak usah bilang gitu gue jadi parno,” ucap Jerry yang malah membuat Eliza terkekeh mendengarnya.
“Kalaupun bener juga itu udah takdir gue Jer, semua yang hidup pasti akan mati,” ucap Eliza membuat Jerry menghembuskan napasnya saat mendengar ucapan gadis itu.
“Gak usah ngomong yang aneh-aneh deh Za,” ucap Jerry yang sudah mulai kesal dengan Eliza yang berbicara aneh.
“Kali ini aja dengerin dulu omongan gue, dengerin dulu ucapan maaf dan terima kasih gue untuk yang terakhir kalinya setelah ini janji deh gak ada ucapan itu buat kita,” ucap Eliza meyakinkan Jerry agar laki-laki itu agar mau mendengarkannya.
“Ok lanjut, janji ini untuk terakhir kali karena setelah ini gue gak mau denger lo bilang makasih atau maaf lagi,” ucap Jerry yang mendapatkan anggukan pasti dari Eliza.
“Makasih ya udah mau mengorbankan sesuatu yang begitu berharga buat lo demi gue dan maaf juga karena itu lo harus kehilangan dia,” ucap Eliz bersungguh-sungguh Jerry mengambil tangan Eliza lalu menggenggamnya dengan erat.
“Boleh peluk?” tanya Eliza yang langsung mendapatkan anggukam dari Jerry dan ia langsung memeluk Eliza begitu erat sambil memejamkan matanya.
“Jerry gue capek banget, gue mau istirahat ya,” ucap Eliza lalu mata gadis itu terpejam pelukanya pada Jerry terlepas dan itu membuat Jerry kaget pasalnya tak mungkin jika Eliza tidur secepat itu.
Dengan khawatir Jerry melepaskan pelukannya lalu meletakkan Eliza di brankarnya.
“Eliza,” panggil Jerry pada gadis itu tapi tak ada jawaban namun Jerry masih terus berusaha memanggil gadis itu namun tetap nihil tak ada respon membuat Jerry dengan panik langsung memanggil dokter untuk memeriksa Eliza dan segera menghubungi Alysa dan juga kelarga nya dan keluarga Eliza.
Dan setelah itu ia tahu jika pembicaraan mereka tadi adalah pembicaraan terakhir, permintaan maaf dan ucapan terima kasih itu benar-benar menjadi yang terakhir. Jika saja tahu begitu Jerry tak akan meminta Eliza berjanji akan hal itu. Ia tak akan mengizinkan Eliza untuk beristirahat jika tahu istirahat yang di maksud gadis itu adalah istirahat untuk selamanya.
***
Suasana hikmat di iringi tangisan memenuhi area pemakaman, tepat hari ini jenazah Eliza akan dimakamkan.
Alysa dengan baju hitamnya dan kerudung yang membalut indah wajahnya sudah berada dalam pelukan Rakha yang juga menggunakan baju hitamnya. Jerry ikut membantu memakamkan Eliza bahkan ia ikut turun ke pusaran terakhir Eliza untuk mengantarkan gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu.
Tak ada yang bersuara kecuali lantunan takbir untuk mengantar Eliza, jenazah Eliza mulai di timbun dengan tanah. Alysa tidak kuat melihatnya langsung menyembunyikan wajahnya pada dada Rakha isaknya pecah saat melihat tubuh Eliza sudah berada di peristirahatan terakhirnya.
Alysa ikut menaburkan bunga pada makan Eliza begitupun sahabatnya yang alin, Alysa membawa buket mawar merah dan meletakkannya di dekat baru nisan Eliza. Kini sahabatnya sudah berkurang orang yang biasa menjadi telinganya oranga yang biasa menjadi sandarannya kini sudah berpulang dengan berbagai haru dan kenanagn yang masih melekat.
Kini Eliza hanya tinggal kenangan, Eliza yang dengan senyum manisnya salalu menenangkan Alysa kini sudah tiada. Hanya ada namanya di ukiran batu nisan, kenangannya dalam setiap ingatan orang yang mengenalnya.
"Semoga lo bahagia di sana El, terimakasih karena telah hadir dan memberikan kenangan tersendiri untuk kita," ucap Alysa sambil mengelus batu nisan Eliza air matanya tak pernah berhenti untuk menetes mengiringi kepergian salah satu sahabatnya itu. Percayalah kehilanagn yang paling menyakitkan bukan di saat kehilangan kekasih tapi kehilangan sahabat.
"Kalo ngomong lo gak di saring dulu, nying." Aldo menoyor kepala Josep dengan kesal membuat temannya yang lain menggeleng melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
"Lo berdua ya, lagi berduka sempetnya bercanda. Lama-lama lo berdua yang gue tanem di sini," ucap Rakha kesal dengan kelakuan kedua sahabatnya itu. Bermaksud menghibur malah berujung dengan kemarahan Rakha memang sepertinya Josep dan Aldo selalu salah.
"Hehe maaf bos," ucap Aldo. Mereka masih sama saat mereka masih SMA masih kekanakan tak ada yang berubah.
"Pulang sekarang?" tanya Rakha pada Alysa. Alysa hanya mengangguk lalu berjalan dengan Rakha yang dengan setia merangkulnya. Namun langkahnya terhenti saat melihat Jerry yang masih berada di makam sambil terduduk mengelus nisan Eliza dengan tatapan sendunya.
"Bentar," ucap Alysa, lalu ia berjalan kearah Jerry yang terlihat sangat kacau. Bukan hanya bajunya saja yang berwarna hitam, bahkan lingkaran matanya juga menghitan karena tidak tidur.
"Jer, ayo pulang kamu harus istirahat," ucap Alysa sambil merangkul pundak Jerry. Jerry hanya menggeleng masih setia terduduk di makam Eliza, sedangkan keluarga Eliza sudah pulang.
"Jerry kamu kelihatan kacau banget, kamu belum istirahat belum makan juga, please pulang ya," ajak Alysa dengan memohon, akhirnya Jerry mengalah ia menuruti Alysa. Alysa merangkul tangan Jerry sambil berjalan.
Lagi-lagi Rakha harus mendengus kasar, ia hanya bisa mengalah untuk kali ini dengan membiarkan Alysa bersama laki-laki lain. Ini yang terakhir tidak akan ada lagi yang seperti ini. Rakha merangkul pinggang Alysa jadi mereka sudah seperti orang yang tengah selingkuh. Dengan Jerry yang merangkul pundak Alysa, Alysa yang menggandeng tangan Jerry, dan Rakha yang merangkul pinggang Alysa.
Mereka berjalan keluar area makam menuju mobil Rakha. Sahabat mereka berdecak kagum melihat pemandangan Alysa, Rakha, dan Jerry entah apa yang membuat mereka kagum.
****
Thank For Reading.
Hai All im back setelah lama gak nulis di sini
akhirnya aku datang dengan cerita baru. Mungkin dari kalian ada yang udah gak
asing lagi kan sama nama dari pemain ini? Yap ini adalah sequel dari My Crazy
Badboy buat yang belum baca yuk di baca dulu guys biar pada ngerti.
Follow yuk akun ig aku @hilmiatulhasanah- dan
@Wphilmiath_
Follow juga akun rp ini ya guys
@TRAKHAAKDNA_
*** @ALYSAEVELYAA_***
*** @ALVANDOJERRY_***
*** @ARETTAEMILJ_***
@SHE_LIAANGGRAINI
@ADRIENVERVER_