
Happy Reading.
***
Alysa kini tengah menyuapi Rakha makanannya, laki-laki itu menjadi begitu manja kali ini. Setelah lama tak bermanja-manja dengan gadisnya itu kini Rakha seperti melampiaskan semuanya.
"Jadi kapan aku boleh pulang?" tanya Rakha pada Alysa yang kini duduk di depannya karena kini Alysa juga duduk di brankar Rakha.
"Setelah kamu udah bener-bener pulih," ucap Alysa dengan santainya dan kembali menyuapi Rakha dengan begitu telaten.
"Jadi kamu gagal move on dari aku?" tanya Rakha dengan senyuman menggoda Alysa membuat Alysa merona mendengarnya tapi sebisa mungkin ia menyembunyikan itu.
"Tidak aku hanya merasa kasihan dengan mu," ucap Alysa dengan wajah sinisnya lalu memutar matanya malas mendengar pertanyaan laki-laki itu. Jelas saja ia gagal move on karena laki-laki itu tak mau juga pergi dari hatinya yang kadang membuat kepalanya lelah memikirkan laki-laki itu.
"Benarkah?" tanya Rakha memicingkan matanya. Jelas saja ia tahu jika ucapan Alysa itu hanya candaan karena ia tahu gadisnya itu masih sangat menyayanginya sama seperti dirinya yang masih sangat menyayangi gadis itu.
"Iya lah," ucap Alysa dengan santai dan kembali memasukkan makanan laki-laki itu ke dalam mulut Rakha yang tak ada hentiya mengoceh sedari tadi itu.
"Ya udah aku bakal buat kamu jatuh sejatuh-jatuhnya lagi sama cinta itu," ucap Rakha dengan mengedipkan sebelah matanya menggoda Alysa yan hanya menatapnya kesal. Laki-laki itu memang suka sekali menggoda Alysa bagai tidak ada kerjaan lain saja.
"Nah udah selesai cepat minum obatnya," perintah Alysa yang langsung membantu Rakha untuk meminum obat laki-laki itu. Setelahnya laki-laki itu langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa begitu lengket.
****
Alysa kini berada di ruang rawat Eliza, setelah memastikan jika Rakha sudah tidur setelah membersihkan tubuhnya tadi Rakha langsung tidur mungkin efek obat yang membuatnya mengantuk. Alysa memutuskan untuk menjenguk sahabatnya itu. Diruanng rawat Eliza gadis itu hanya sendiri bertemankan sepi namun Eliza sudah biasa memangnya siapa yang ia harapkan?
"Alysa," panggil Eliza saat gadis itu melihat kehadiran sahabatnya yang tengah tersenyum ke arahnya.
"Gimana keadaan lo?" tanya Alysa yang kini duduk di samping brankar Eliza. Tatapan sendunya tak bisa ia tutupi saat melihat keadaan sahabatnya itu.
"Gue baik," ucap Alysa dengan senyumannya bermaksud menenangkan sahabatnya. Jelas jawaban itu hanya sebuah kebohongan karena siapapun tahu jika gadis itu sedang berada dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Alysa yang mendengar itu hanya menghembuskan napasnya, lagi pula ia yang bodoh menanyakan hal itu di saat ia sendiri tahu jika gadis itu sedang tidak baik-baik saja.
"Gimana kuliah lo Lys?" tanya Eliza mengalihkan pembicaraan. Saat ini hanya ada mereka berdua diruangan Eliza, orang tuanya sangat jarang menjenguknya. Dan Lia sedang sibuk jadilah ia tidak bisa menemani Eliza.
"Baik, cuma ya lo tau lah gue udah masuk semester akhir jadi ya lagi sibuk banget," ucap Alysa dengan wajah malas. Dia sangat pusing memikirkan kuliahnya. Skripsi yang menumpuk dan lain sebagainya.
"Gue jadi pengen ngerasain kuliah lagi." Eliza tersenyum masam, mengingat ia sudah tidak bisa kuliah kembali. Jangankan untuk kuliah bahkan untuk tetap bernafas sebentar lagi ia tidak tau akan terjadi atau tidak. Eliza hanya bisa bertahan hidup dengan obat-obatan.
Alysa berjalan ke arah Eliza lalu memeluk Eliza memberi kekuatan pada sahabatnya itu untuk tetap bertahan. Jelas saja Alysa belum siap jika harus kehilangan sahabatnnya.
"Lo harus kuat, lo harus yakin lo bisa sembuh," ucap Alysa memberi semangat. Hanya semangat yang bisa Alysa berikan dan doa agar sahabtanya itu tetap bertahan lama.
Eliza terbatuk cukup kencang lalu segera ia menuju kamar mandi meninggalkan Alysa yang menatap khawatir pada sahabatnya itu.
"Lo baik?" tanya Alysa yang menghampiri Eliza. Ia sangat khawatir dengan Eliza, memang batuk bukan hal yang tabu bagi pengidap kanker paru dan Alysa sudah sering melihat Eliza yang terus terbatuk bahkan susah bernafas namun tetap saja Alysa khawatir.
"Udah biasa kok Lys, lo gak perlu khawatir," ucap Eliza dengan senyumannya mencoba menenangkan Alysa lalu ia memakai maskernya dan kembali ke arah brankar nya.
Suara pintu dibuka mengalihkan tatapan kedua sahabat itu ke arah pintu ruang rawat Eliza. Di saa terlihat laki-laki dengan baju rumah sakitnya yang menatap Alysa penuh sayang tengah berjalan ke arah gadis tersebut.
"Aku cari kamu, kamu malah di sini," ucap Rakha yang baru saja masuk dan langsung berjalan ke arah Alysa dengan wajah cemberutnya. Eliza cukup terkejut melihat tingkah Rakha pada Alysa yang terlihat tidak biasanya, bahkan Alysa tak marah saat Rakha bersikap seperti itu. Eliza jadi berasumsi jika mereka sudah balikan.
"Gimana keadaan lo Za?" tanya Rakha pada Eliza sambil mengelus puncak kepala Eliza sudah lama ia tidak melihat gadis itu dan kini sudah banyak yang berubah dari Eliza. Rambutnya yag dulu indah bergelombang kini mulai tipis dan tinggal beberapa hilai.
"Gue baik kok," ucap Eliza dengan senyumannya. Baik? Bahkan ia tahu umurnya tidak akan lama lagi dengan penyakit yang di deritanya ini. Jika saja ia bertemu orang sebaik sahabatnya kini jauh sebelum ia hancur mungkin kini ia akan baik-baik aja.
"Keadaan lo gimana?" tanya Eliza balik kepada Rakha.
"Btw kalian balikan?" tanya Eliza melihat sahabatnya itu sudah dekat lagi. Alysa hanya mengangguk sambil tersenyum malu. Dugaan Eliza ternyata membuat gadis itu tersenyum mendengarnya.
"Iya dong, udah best couple gini masak gak jadi nikah," ucap Rakha sambil merangkul Alysa membawa gadisnya itu akan lebih dekat dengannya.
"Apa? Kalian balikan?" tanya seorang laki-aki dengan tidak santainya membuka pintu ruang rawat Eliza saat mendengar kata balikan dari mulut Rakha.
"Iya dong, btw thank ya Jer udah jagain jodoh gue," ucap Rakha pada Jerry yang berdiri dengan wajah tidak percayanya. Jerry menghembuskan nafasnya kasar dan berjalan ke arah Alysa.
"Kalo ini yang terbaik gue ikhlas kok, inget ya Kha jangan sakitin lagi adek gue atau beneran gue ambil tar tau rasa lo," ucap Jerry sambil menepuk pundak Rakha. Kali ini Jerry tidak boleh egois Alysa memang bukan untuknya dan Jerry berusaha untuk ikhlas. Hati Jerry memang sangat baik ia tidak pernah menyakiti Alysa dan selalu menjaga Alysa bukan hanya pada Alysa Jerry memang sangat baik pada siapapun.
"Lys, maaf ya soal yang tadi aku gak bisa ngontrol emosi sampai aku ngomong kasar gitu," ucap Jerry menyesali ucapannya yang memang kelawatan tidak seharusnya ia berbicara seperti itu apa lagi sampai menghuna Eliza.
"Iya Jer, jangan gitu lagi ya," Alysa memeluk Jerry yang juga di balas oleh Jerry dan segera di lepaskan oleh Rakha, dan berganti Rakha yang memeluk Alysa dengann erat.
"Ganggu aja lo Tai." Jerry mendengus kesal sambil memutar malas matanya.
"Sayang balik yuk," ajak Rakha pada Alysa. Alysa hanya mengangguk karena percuma ia menolak pasti Rakha akan tetap memaksanya.
"Za gue keruang Rakha dulu ya, lo disini sama Jerry," ucap Alysa pada Eliza. Eliza hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Iya, udah sono balik, biar gue yang jagain Eliza," ucap Jerry. Alysa dan Rakha segera melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat Eliza dan turun ke lantai tiga untuk ke ruang rawat Rakha.
****
Thank For Reading.
Hai All im back setelah lama gak nulis di sini
akhirnya aku datang dengan cerita baru. Mungkin dari kalian ada yang udah gak
asing lagi kan sama nama dari pemain ini? Yap ini adalah sequel dari My Crazy
Badboy buat yang belum baca yuk di baca dulu guys biar pada ngerti.
Follow yuk akun ig aku @hilmiatulhasanah- dan
@Wphilmiath_
Follow juga akun rp ini ya guys
@TRAKHAAKDNA_
@ALYSAEVELYAA_
@ALVANDOJERRY_
@ARETTAEMILJ_
@SHE_LIAANGGRAINI
@ADRIENVERVER_