Raksa

Raksa
Rakha siuman



Happy Reading.


****


"Alysa," suara itu terdengar lemah memanggil nama Alysa. Bukan, itu bukan suara dari sahabatnya itu suara seorang laki-laki yang memanggil namanya dengan lemah. Alysa membalikkan tubuhnya menghadap kearah Rakha dan terkejut saat melihat Rakha yang tengah menatapnya.


Alysa segera menghampiri Rakha di ikuti oleh sahabat nya, Alysa tersenyum senang melihat Rakha telah sadar dengan terburu-buru Alysa menekan tombol di samping brankar Rakha untuk memanggil dokter.


Sedangkan Lia sudah menghubungi orang tua Rakha dan sahabat nya untuk memberitahu bahwa Rakha sudah sadar agar mereka cepat ke rumah sakit.


"Lo mau minum? Ada yang sakit? Lo butuh apa? Biar gue ambilin? Lo laper?" tanya Alysa dengan tidak sabar nya membrondongi Rakha dengan pertanyaan membuat Rakha terkekeh mendengar Alysa yang bertanya tanpa jeda padanya. Gadis itu sangat mengkhawatirkannya dan Rakha senang akan itu tak masalah jika ia harus menahan sakit jika Alysa mengkhawatirkannya.


"Aku haus," ucap Rakha dan Alysa segera mengambil air minum yang berada di nakas samping laki-laki itu yang memang selalu di sediakan takut jika Rakha sadar dan membutuhkannya seperti saat ini,  kemudian Alysa membantu Rakha untuk meminumnya. Tak beberapa lama dokter datang bersama beberapa perawat yang mengikutinya di belakangnya.


"Biar saya periksa dulu," ucapan dokter tersebut dan mulai memeriksa Rakha. Alysa sedikit memberikan ruang untuk para dokter dan perawat itu mengerjakantugasnya.


"Keadaan Rakha sudah mulai membaik dan untung saja ia tidak mengalami amnesia akibat benturan di kepalanya, tapi Rakha harus tetap banyak istirahat," ucap Dokter tersebut memberi tahu kan sambil tersenyum manis. Dan dibalas anggukan dari Alysa.


"Makasih dok," ucap Alysa sambil tersenyum pada dokter tersebut. Jujur saja Rakha begit kesal melihat gadisnya yang tengah tersenyum pada laki-laki lain itu ia tak suka jika gadisnya tersenyum begitu manis pada laki-laki lain.


"Sama-sama kalau begitu saya permisi dulu," ucap dokter tersebut dan segera pergi di ikuti para perawat.


"Gimana keadaan lo?" tanya Eliza pada Rakha, Rakha menatap Eliza dengan tidak percaya pasal nya setelah 4 tahun tidak bertemu ia dapat melihat perubahan drastis dari Eliza namun sebisa mungkin ia kembali merubah raut wajahnya. Waktu itu memang mereka sempat bertemu tapi Rakha tak terlalu memperhatikan gadis itu karena fokusnya hanya pada Alysa.


"Lumayan baik," ucap Rakha sambil tersenyum pada Eliza. Yang dibalas anggukan oleh Eliza.


"Syukur deh, gue kira lo bakalan mati," ucap Lia dengan enteng nya dan hal itu membuat Rakha memelototkan matanya pada Lia dan hanya dihiraukan oleh Lia dulu memang ia sedikit takut pada Rakha namun setelah apa yang Rakha lalukan pada Alysa rasa bencinya dapat mengalahkan rasa takut itu.


"Mulut lo gak pernah berubah ya," ucap Rakha memutar matanya malas menanggapi ucapan Lia. Sahabat Alysa yang satu memang filter mulutnya selalu membuat Rakha emosi.


Suara bising dari luar mengalihkan perhatian mereka pada pintu yang mulai di buka dan menampilkan orang tua dan sahabatnya yang baru saja memasuki ruangannya.


"Kalian ngapain sih kesini? Pusing gue denger suara kalian brisik banget," ucap Rakha menatap kesal pada gerombolan orang yang baru saja memasuki ruangannya. Dan hanya dibalas cengiran oleh sahabatnya sedangkan orang tuanya sudah memelototkan mata mendengar ucapan Rakha.


"Ye nih anak baru sadar bukannya meluk Mami nya malah ngatain Mami," ucap Renata sambil mencubit tangan Rakha gemas setelah berada di samping Rakha. Renata kadang tak habis pikir dengan sikap anaknya yang satu itu.


"Sakit Mi," ringis Rakha pada Renata. Maminya itu benar-benar tak tanggung-tanggung menjewer telinganya padahal ia baru sadar tapi sudah mendapatkan jeweran dari mami nya itu.


"Gimana keadaan kamu?" tanya Briyan pada anaknya itu untuk menghentukan perdebatan yang akan segera terjadi jika ia tak menghentikannya.


"Lumayan Pi," ucap Rakha meskipun masih ada luka namun ia merasa tidak terlalu parah.


"Itu lo nabrak truk lo lagi nyoba jurus baru ye?" tanya Anji pada Rakha.


"Bapak lo nyoba jurus," ucap Rakha kesal pada ucapan Anji yang unfaedah itu. Jurus apa yang dia maksud? Jurus melayang atau jurus adu kekuatan mesin mobil?


"Ye bapak gue di bawak-bawak, gak ada akhlak lo," ucap Anji dan langsung duduk di Sofa tanpa menunggu perintah dari tuan rumah.


Mereka terus bercanda dan tertawa bersama sampai tidak sadar waktu sudah mulai sore.


"Alysa kita pulang sekarang?" tanya Jerry yang mengajak Alysa untuk pulang karena hari sudah mulai sore.


"Engga Alysa di sini nemenin gue," ucap Rakha sambil menatap Jerry tajam namun tidak Jerry hiraukan.


"Ayo Sa," ajak Jerry lagi, Alysa dan Jerry sudah akan berdiri namun kembali terhenti.


"Mau lo apa sih Jer? Kalau lo mau pulang ya pulang aja ngapain harus ajak Alysa?" tanya Rakha yang sudah menahan emosinya, ia sudah berniat akan berbicara pada Alysa setelah sahabat nya pulang tapi Jerry malah menghancurkan semua nya.


"Alysa sekarang tanggung jawab gue, lo dan Alysa udah putus kalau lo lupa," ucap Jerry dengan suaranya yang sudah mulai datar. Rakha diam dia masih mencerna apa yang Jerry ucapkan. Banya pemikiran buruk yang sudah bersarang di kepalanya.


"Dan gue pernah bilang ke lo kalau lo sampai nyakitin Alysa maka gue akan ambil dia kembali, udah gue ingetin kalo lo lupa lagi," ucap Jerry dengan suara dingin nya tanpa menghirakan tatapan Rakha yang semakin menajam.


"Alysa," ucap Rakha lembut memanggil Alysa berharap gadis itu mendukungnya.


"Maaf Kha gue harus pergi," ucap Alysa lalu menggandeng tangan Jerry untuk keluar ruangan.


"Eliza lo juga harus balik ke ruangan lo," ucap Jerry sebelum keluar dari ruangan Rakha dan membawa Eliza juga bersama nya.


"Aarrrrrggg," teriak Rakha sambil membanting gelas air yang berada di nakas samping nya ke sembarang arah.


"Udah lah Kha, ikhlasin aja," Ucap Aldo menenangkan Rakha yang malah dibala tatapan tajam oleh Rakha. Bagaimana bisa ia mengikhlaskan Alysa? Tidak, tidak akan.


"Diem lo," bentak Rakha lalu mulai membaringkan tubuhnya dan munutupi wajah nya dengan kedua tangannya yang di lipat.


Semua sahabat nya perlahan keluar dari ruangan Rakha membiarkan Rakha untuk sendiri menenangkan dirinya.


"Mami pergi dulu kamu pasti butuh ruang," ucap Renata dan segera pergi bersama Briyan.


Tanpa ada yang tau Rakha sudah meneteskan air matanya, rasanya sakit menerima penolakan dari orang yang ia sayang, saat ia berjuang untuk tetap bertahan hidup demi Alysa, gadis itu malah memilih pergi, perjuangan Rakha rasanya sia-sia. Jika seperti ini lebih baik ia tidak bangun dan tetap tertidur agar Alysa masih setia menemaninya.


 


 


*****


Thank For Reading.


Hai All im back setelah lama gak nulis di sini


akhirnya aku datang dengan cerita baru. Mungkin dari kalian ada yang udah gak


asing lagi kan sama nama dari pemain ini? Yap ini adalah sequel dari My Crazy


Badboy buat yang belum baca yuk di baca dulu guys biar pada ngerti.


Follow yuk akun ig aku @hilmiatulhasanah- dan


@Wphilmiath_


Follow juga akun rp ini ya guys


@TRAKHAAKDNA_


 @ALYSAEVELYAA_


 @ALVANDOJERRY_


 @ARETTAEMILJ_


@SHE_LIAANGGRAINI


@ADRIENVERVER_