Raksa

Raksa
Akhir



Happy Reading.


***


Sudah tiga hari Rakha koma dan belum ada tanda-tanda jika laki-laki itu akan bangun, Alysa masih setia menunggu Rakha di rumah sakit. Seperti sekarang Alysa tengah duduk di kursi samping Rakha menggenggam tangan laki-laki tersebut.


Alysa sedang sendiri menunggu Rakha, orang tua Rakha sedang pulang untuk istirahat sedangkan sahabat Rakha sedang bekerja, dan sahabat Alysa? Eliza tentu saja berada di ruang rawatnya tapi sesekali gadis itu akan datang untuk menemani Alysa saat kondisinya tidak dalam ke adaan Drop. Lia juga sering datang tapi untuk menjenguk Eliza mengingat ia masih begityu kesal dengan Rakha yang sudah dengan tega menyakiti sahabatnya itu.


Ngomong-ngomong soal Eliza keadaan gadis itu kini semakin buruk tubuhnya sudah sangat kurus, Kanker yang telah meluas  ke kedua sisi paru, hingga ke hati, tulang, dan organ lainnya. Rambutnya pun sudah mulai rontok akibat kemotrapi yang di jalaninya. Bahkan Eliza juga sudah melakukan untuk paru yang dideritnya karena kemotrapi yang dilakukannya tidak berjalan lancar akibat sel kanker sudah resisten dengan salah satu obat kemoterapi.


Dulu setelah berobat ke Australia ia kira kangker yang di deritanya sudah sembuh karena tumor sudah diangkat namun setelah sering merasa pusing, dada sesak, dan gejala lain yang di deritanya saat dulu ia juga di fonis kanker kembali muncul. Alysa kadang begitu kasihan melihat kondisi sahabatnya itu sekarang. Orang tua Jerry sudah menawarkan untuk Eliza kembali berobat ke Australia namun Eliza menolaknya dengan alasan sudah tidak ingin pergi dari tanah airnya itu.


Kembali pada Alysa yang kini tengah menatap wajah Rakha dengan tatapan sendunya, wajah yang kini tengah tertidur dengan pulas itu menyiratkan begitu lelah dirinya hingga ia memutuskan untuk tidur selama ini.


"Udah tiga hari lo gak bangun, emang gak laper apa?" tanya Alysa sambil menatap wajah pucat milik Rakha namun ketampanan laki-laki tersebut tidak hilang. Genggaman tangan Alysa pada Rakha kian mengerat menyalurkan kekutannya untuk laki-laki itu agar ia bisa cepat bangun kembali.


"Emang di sana lebih indah ya Kha?" tanya Alysa lagi namun tetap tidak ada jawaban dari Rakha, jelas saja tidak ada jawaban dari Rakha yangg masih tidak sadarkan diri matanya masih terpejam.


"Gini deh, kalo lo bangun gue bakal maafin lo jadi lo harus cepet bangun," tawar Alysa lagi tanpa mengalihkan tatapan nya dari mata Rakha yang masih memejamkan matanya.


"Sumpah ya Kha lo tega benget udah selingkuh dari gue sekarang lo malah nyuekin gue," ucap Alysa dengan nada kesal nya. Alysa tak pernah lelah mengajak Rakha berbicara walau tahu Rakha tidak akan membalas ucapannya. Tak jarang bahkan gadis itu bercerita pada Rakha tentang banyak hal, entah tentang saat Rakha mengkhianatinya atau tentang kesehariannya. Namun jika kesal maka selanjutnya Alysa akan marah pada Rakha yang tak juga membuka matanya.


Alysa akhirnya berhenti berbicara dan sibuk memainkan ponselnya mungkin gadis itu sudah lelah berbicara sendiri. Kini gadis itu hanya diam sambil menggenggam tangan Rakha dan menjadikannya sebagai bantalan kepalanya yang ia telungkupkan di brankar tempat Rakha tertidur.


Suara pintu di buka mengalihkan tatapan Alysa pada seseorang yang baru datang, senyum Alysa mengembang saat melihat Lia dan Eliza yang berada di kursi roda baru saja memasuki ruangan Rakha.


"Ya ampun Eliza, gimana keadaan lo?" tanya Alysa saat melihat Eliza yang tengah tersenyum kepadanya. Gadis itu begitu pintar menyembunyikan lukanya hingga siapapun yang melihatnya pasti mengira jika gadis itu baik-baik saja.


"Seperti yang lo lihat," ucap Eliza dengan senyuman yang menghiasi pipi tirus nya. Alysa menghembuskan nafasnya lalu berjalan ke arah Eliza dan Lia.


"Gue harap lo bisa bertahan lebih lama, gue mohon Za," ucap Alysa sambil mengelus tangan Eliza. Alysa sudah menganggap Eliza sebagai saudaranya sendiri. Eliza kini juga menjadi bagian penting dalam hidupnya.


"Gue berterima kasih banget sama kalian, kalian bisa nerima keadaan gue yang kayak gini, dan tetep ada disamping gue buat ngejaga gue padahal gue udah pernah ada salah sama lo Al," ucap Eliza yang matanya sudah mulai berair. Jika mengingat betapa bodohnya ia saat itu Eliza sangat menyesal bagaimana bisa ia berbuat jahat pada gadis sebaik Alysa? Gadis yang masih mau memaafkannya dan menerimanya menjadi sahabat walau kesalahan yang ia perbuat dulu begitu besar.


"Sebagai sahabat itu yang harus kita lakuin El. Saling memberikan kekuatan dan selalu ada dalam kondisi apapun," Lia menimpali ucapan Eliza dengan senyumannya. Dulu ia memang tidak menyukai Eliza karena sudah menyakiti sahabatnya namun kini ia juga telah menganggap Eliza sebagai sahabatnya.


“Dan tentang kejadian yang dulu biarlah berlalu dan menjadi pelajaran untuk kita, sekarang kita cuma harus menghadapi apa yang terjadi,” ucap Alysa dengan senyumannya lalu mereka saling berpelukan untuk saling menguatkan satu sama lain.


"Gimana keadaan Rakha?" tanya Eliza saat mereka sudah melepaskan pelukan meraka dan melihat ke arah Rakha yang masih berbaring tak sadarkan diri lalu gadis itu mendengus melihat nya ternyata masih sama tidak ada perubahan. Melihat Eliza yang mendengus Alysa merasa tidak perlu memberitahunya lagi karena sudah bisa ditebak Eliza tau bagaimana keadaan Rakha.


"Duduk yuk," ajak Alysa dan akhirnya mereka duduk di sofa kecuali Eliza yang duduk di kursi rodanya.


"Al lo udah maafin Rakha?" tanya Lia sambil menatap Alysa. Lia tahu bagaimana Alysa ia sangat mudah memaafkan seseorang sampai Lia heran sebenarnya terbuat dari apa hati Alysa ini? Mengapa ia sangat baik?. Alysa juga begitu sabar dalam menjalani banyak hal yang ada dalam kehidupannya yang terlihat begitu rumit.


"Gue rasa iya, gue juga ngerasa bersalah juga sih denger gimana hancurnya dia saat gue ninggalin dia dan dia juga kecelakaan gara-gara liat gue sama Jerry dia lepas kontrol dan ngebut sampai nabrak truk dan berakhir koma kayak gini," ucap Alysa sambil menundukkan kepalanya. Bagaimana Alysa bisa tahu? Jelas saja itu opininya saja karena Alysa dapat melihat bagaimana Rakha yang saat itu menahan amarahnya. Apa lagi ucapannya saat di rumah gadis itu pada Rakha saat itu yang pasti membuat emosi laki-laki itu kian memuncak.


"Tapi seenggak nya ini udah bagus, lo udah mau maafin dia," ucap Lia bangga pada sahabat nya itu yang sangat baik dan mudah memaafkan entah hatinya terbuat dari apa?


 


 


"Alysa," suara itu terdengar lemah memanggil nama Alysa. Bukan, itu bukan suara dari sahabatnya itu suara seorang laki-laki yang memanggil namanya dengan lemah.


****


Thank For Reading.


Hai All im back setelah lama gak nulis di sini


akhirnya aku datang dengan cerita baru. Mungkin dari kalian ada yang udah gak


asing lagi kan sama nama dari pemain ini? Yap ini adalah sequel dari My Crazy


Badboy buat yang belum baca yuk di baca dulu guys biar pada ngerti.


Follow yuk akun ig aku @hilmiatulhasanah- dan


@Wphilmiath_


Follow juga akun rp ini ya guys


@TRAKHAAKDNA_


 @ALYSAEVELYAA_


 @ALVANDOJERRY_


 @ARETTAEMILJ_


@SHE_LIAANGGRAINI


@ADRIENVERVER_