
Happy Reading.
***
Hari-hari yang barat bagi Alysa kini mulai terlewati berkat temannya yang selalau ada di sisinya. Kenangan yang ingin ia lupakan kini hanya menyisakan kenangan kelabu dengan harap segera menjadi abu, membakar semua penyesalan dan luka yang kian membelenggu.
Namun di balik itu semua kini mereka tengah menatap cemas pada ruangan putuh di depannya, di sana salah satu sahabat mereka tengah di rawat. Eliza, kondisinya kian memburuk hingga tepat dua bulan yang lalu gadis itu sudah mulai harus di rawat di rumah sakit. Dan hari ini saat sahabat gadis itu datang Eliza mengalami sesak nafas yang amat hingga sahabatnya khawatir dan dokter yang mereka panggil dengan segera menghampirinya bersama beberapa suster.
Lama mereka menunggu sampai akhirnya pintu ruangan terbuka bersamaan dengan dokter yang mulai keluar bersama para suster membuat semua yang menunggu di depan ruang rawat segera menghampiri dokter tersebut.
"Dok bagaimana keadaan Eliza?" tanya Alysa yang mewakili pertanyaan yang lainnya.
"Hal ini biasa terjadi pada penderita kanker paru stadium akhir sekarang Eliza sedang istirahat," ucap Dokter tersebut yang membuat mereka menghembuskan nafasnya kasar merasa kasihan dengan sahabat mereka yang satu itu.
"Terima kasih dok," ucap mereka kompak yang mendapatkan anggukan dari dokter tersebut yang setelahnya langsung pergi.
"Jerry kamu sama yang lainnya mending pulang aja deh istirahat besok kalian harus sidang kan? Biar Eliza aku sama Lia yang jagain," ucap Alysa pada Jerry dan sahabat laki-lakinya yang kini harus mempersiapkan sidang untuk besok.
"Gak papa kita istirahat di sini aja Lys jagain kalian juga," ucap Aldo yang langsung membuat Alysa menggeleng tak setuju.
"Gak usah mending kalian pulang deh, kalo ada kalian yang ada rame danb Eliza gak bisa istirahat," sanggah Lia menolak ucapan kekasihnya itu.
"Nah bener tuh, jadi mending kalian pulang aja sana," usir Alysa membuat mereka mendengus namun tak urung mereka akhirnya mengangguk setuju mendengar ucapan kedua gadis itu.
"Ya udah kalau gitu kita balik dulu, kalian hati-hati kalau ada apa-apa langsung kasih tahu," ucap Gian akhirnya yang membuat kedua gadis itu mengangguk kompak.
"Siap lah tar sekalian kita kasih tempe sama lauk lainnya," ucap Lia yang sudah berbicara melantur membuat sahabatnya yang lain hanya bisa menggeleng mendengar ucapan gadis itu.
"Udah balik sana," usir Alysa yang langsung membuat kelima laki-laki itu segera pergi meninggalakan Alysa dan Lia yang menjaga Eliza. Orang tua gadis itu sangat sibuk hingga tak memperhatikan anaknya sendiri mereka akan datang sesekali ke rumah sakit, Alysa dan Lia serta sahabatnya yang lain yang menjaga Eliza karena mereka kasihan jika Eliza harus sendiri di rumah sakit.
Alysa dan Lia berjalan memasuki ruang inap Eliza. Di brankar rumah sakit itu sudah terlihat Eliza yang masih tertidur dengan pulasnya menggunakan selang oksigen untuk membantu pernapasan gadis itu.
Dengan lelah Alysa dan Lia mendudukka dirinya di sofa kamar rumah sakit itu mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah mulai lelah.
"Gue masih gak nyangka waktu cepet banget berlalu, rasanya baru aja kita kenal sama mereka pas kelas sebelas sekarang mereka udah mau sidang aja," ucap Alysa sambil terkekeh mengingat waktu yang kian cepat pergi.
"Bener banget, rasanya baru aja kemarin gue berantem mulu sama Aldo eh sekarang udah lama aja jadiannya," ucap Lia yang ikut terkekeh juga.
"Waktu dan kenangan mereka terikat begitu erat. Yang dulunya mengisi waktu sekarang hanya pengisi kenangan," ucap Alysa tersenyum miris mengingat seseorang yang kini hanya menjadi bagian dari kenangannya. Lia yang melihat gurat kesedihan di wajah sahabatnya itu dengan segera menggenggam tanga Alysa sambil tersenyum menguatkan.
"Im ok," ucap Alysa walah terpancar jelas kesedihan yang masih di rasakannya.
***
Di tempat lain kini seorang laki-laki sudah terlihat begitu gagah dengan jas toga yang melekat indah pada tubuhnya. Berbeda dengan mahasiswa lainnya yang terus menampilkan senyumannya laki-laki itu tak menampilkan ekspresinya sama sekali hanya wajah datar yang menhiasi wajah tampan itu.
"Woy lah senyum dong, usaha udah gede pas wisuda datar aja," ucap teman laki-laki itu yang malah di balas dengan tatapan tajam oleh laki-laki yang tak lain adalah Rakha.
Rakha hanya bisa mendengus kasar, Wisuda yang sudah lama ia nanti dengan harap gadis nya akan hadir dan mereka akan melepas rindu yang kian mengguncah kini hanya tinggal angan yang tak mungkin terwujud.
"Rakha," suara teriakan itu membuat Rakha berbalik untuk mencari sumber suara hingga pandangannya tertuju pada wanita paruh baya yang kini berdiri dengan bucket di tangannya yang sudah merentang meminta pada Rakha untuk memeluknya.
Rakha yang melihat keberadaan wanita paruh baya bersama laki-lami paruh baya yang tak lain adalah orang tuanya itu segera menghampiri mereka dan langsung memeluk maminya saat sudah berada di hadapan Mami nya itu.
"Selamat ya sayang," ucap Maminya setelah melepaskan pelukan mereka yang di balas dengan senyuman tepis oleh Rakha.
"Setelah ini aku boleh kan balik ke Indo?" tanya Rakha dengan sebelah alisnya yang terangkat. Briyan hanya tersenyum tipis mendengar ucapan anaknya itu yang memang sudah ia larang untuk kembali ke tanah kelahirannya.
"Tentu," ucap Renata dengan senyumannya. Laliu setelah itu Rakha beralih memeluk Papinya ala laki-laki.
"Kamu tahu Alysa sudah bersama Jerry," bisik Briyan yang suksek membuat Rakha membeku. Briyan hanya menampilkan smrik nya lalu melepas pelukan mereka dengan Rakha yang masih terdiam di tempatnya kini otaknya sudah tidak bisa bekerja dengan baik setelah mendengar ucapan dari papi nya itu.
Bagai pisau yang menghunus hatinya. Kini hatinya sungguh sakit mendengar jika gadis yang ia cintai telah bersama laki-laki lain. Mengapa semenyakitkan itu saat mendengar orang yang kini sayang orang yang kita cinta ternyata kini telah menemukan tambatan hatinya sendiri. Meninggalkannya dengan penuh penyesalan yang kian bertambah. Harusnya Alysa masih menjadi miliknya bukan menjadi milik orang lain, Rakha tak akan pernah melepaskan gadis itu. Meskipun dengan cara licik sekalipun akan ia lakukan untuk mendapatkan gadisnya itu.
"Rakha kamu kenapa sayang? Ayo kita masuk," ucap Renata yang menyadarkan Rakha dari keterkejutannya. Renata mengelus tangan Rakha lalu mengajak anaknya itu untuk masuk ke tempat berlangsungnya acara.
***
Thank For Reading.
Hai All im back setelah lama gak nulis di sini
akhirnya aku datang dengan cerita baru. Mungkin dari kalian ada yang udah gak
asing lagi kan sama nama dari pemain ini? Yap ini adalah sequel dari My Crazy
Badboy buat yang belum baca yuk di baca dulu guys biar pada ngerti.
Follow yuk akun ig aku @hilmiatulhasanah- dan
@Wphilmiath_
Follow juga akun rp ini ya guys
@TRAKHAAKDNA_
@ALYSAEVELYAA_
@ALVANDOJERRY_
@ARETTAEMILJ_
@SHE_LIAANGGRAINI
@ADRIENVERVER_