
Happy Reading.
***
Alysa kini tengah berjalan di Koridor kampusnya dengan mata yang masih sembab dan wajah yang kusut. Kenangannya dengan Eliza cukup banyak hingga sulit untuk benar-benar mengikhlaskannya. Sudah seminggu berjalanan namun tetap saja kenangan yang ingin Alysa anggap sebagai mimpi buruk saat Eliza pergi dari mereka.
Saat sampai di kampus Alysa berjalan ke arah kelasnya karena sebentar lagi kelas akan di mulai. Setelah sampai di kelasnya Alysa berjalan ke arah Klara lalu duduk di samping gadis itu yang kebetulan kosong. Klara menatap Alysa bingung pasalnya tidak biasanya Alysa terlihat kacau seperti sekarang. Gadis yang belakangan ini selalu terlihat tersenyum dengan lebar seakan tak ada hari esok untuk tersenyum itu kini malah datang dengan tatapan sendu dengan matanya yang sembab tak ada senyuman di wajahnya. Penampilan yang biasanya terliaht selalu tampil sempurna itu kini malah terlihat sederhana dan sedikit kacau.
"Lo kenapa?" tanya Klara pada Alysa yang tengah menatap kosong ke depan. Klara begitu penasaran ada apa dengan temannya itu, apa ia kembali putus dengan Rakha? itu yang kini tengah Klara pikirkan. Klara memang telah tahu jika hubungan Alysa dan Rakha pernah berakhir sebelum akhirnya kembali bersama.
"Eliza meninggal," jawab Alysa pada Klara dengan mengingat kembali tentang sahabatnya itu. Alysa berusaha dengan kuat menahan air matanya agar tidak menetes. Alysa menutup telinganya lalu menatap ke atas berusaha menahan air matanya agar tidak keluar. Dan cara itu adalah cara yang Eliza ajarkan padanya.
Alysa kembali mengingat saat-saat itu saat-saat kebersamaannya dengan Eliza. Saat itu Alysa tengah mengajak Eliza jalan-jalan di rumah sakit saat gadis itu mulai di rawat di rumah sakit. Hubungan Alysa dan Rakha saat itu masih tidak baik-baik saja. Saat Rakha yang datang menghampirinya untuk pertama kali setelah lama mereka tak bertemu.
Alysa dan Eliza memutuskan untuk duduk di kursi yang berada di taman rumah sakit. Mereka duduk saling berdampingan.
"Lo masih sayang sama dia?" tanya Eliza sambil menatap Alysa yang kini juga tengah menatapnya. Namuna setelahnya Alysa langsung menatap ke arah langit malam.
"Susah untuk melupakan orang kita sayang El meskipun dia sudah nyakitin kita," ucap Alysa dengan senyuman sendunya matanya rasanya sudah panas ingin meneteskan air matanya.
Eliza yang melihat itu mengelus punggung Alysa lalu tersenyum menenangkan gadis itu lalu tersenyum ke arah sahabatnya itu.
"Lo tahu gue punya cara tersendiri buat nahan tangis. Lo teken telinga lo terus madep ke atas," ucap Eliza sambil memperagakannya. Alysa mulai mengikuti saran sahabatnya itu lalu tersenyum ke arah Eliza.
Suara di samping Alysa menyadarkan gadis itu dari lamunannya lalu tersenyum masam kala mengingat bahwa semua itu kini hanya tinggal kenangan saja.
"Alysa," panggil Klara sambil menggoyangkan tangan Alysa, menyadarkan gadis itu dari lamunannya. Dengan segera Alysa tersenyum ke arah Klara menyembunyikan kesedihannya.
"Gua turut berduka ya Al," ucap Klara sambil mengelus tangan Alysa, karena ia juga mengenal Eliza. Mengingat Alysa yang sangat sering bersama gadis itu. Alysa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Tak beberapa lama seorang Dosen masuk ke kelasnya, tatapan Alysa masih kosong ia tidak fokus dalam materinya itu.
Alysa memperhatikan dosen yang sedang mengajar dengan tidak fokus sampai akhir kelasnya Alysa hanya menatap nanar kedepan mengingat tentang sahabatnya. Setelah kelas selesai dengan segera Alysa berjalan keluar bersama Klara.
"Klara ayo balik," ajak Alysa yang dengan segera di sambut anggukan oleh Klara.
"Ayo," ucap Klara lalu mereka mulai beriringan keluar dari kelas sambil berbicara tentang skripsi mereka.
Baru saja Alysa keluar dari kelasnya ia sudah dikejutkan dengan kehadiran Rakha yang sudah berdiri depannya kelasnya sambil bersedekap dada.
"Sa gue duluan ya," ucap Klara berpamitan pada Alysa saat melihat tunangan Alysa yang sudah menunggu.
"Hati-hati ya," ucap Alysa pada Klara yang di balas dengan anggukan oleh gadis itu.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Alysa yang bingung, karena biasanya Rakha akan menunggunya di depan gedung kampusnya, namun kini laki-laki itu malah menunggunya di depan kelas.
"Sekarang tuh disini udah gak aman, ada pembinor nya. Aku gak mau tar dia nyamperin kamu kesini," ucap Rakha dengan posesifnya. Alysa memutar matanya malas, Rakha sangat posesif akhir-akhir ini, lebih posesif dari dulu sebelum ia selingkuh, padahal yang selingkuh dia tapi yang posesif juga dia.
"Ya ampun Rakha tenang aja, aku gak mungkin selingkuh," ucap Alysa dengan menekan kata selingkuh. Rakha memicingkan matanya, karena merasa Alysa menyinggung nya. Memangnya kenapa jika ia posesif? Ia hanya tidak ingin kekasihnya itu direbut laki-laki lain. Dan tentang selingkuh Rakha tidak sengaja melakukannya, ah sudah lah hanya Rakha yang mengerti jalan pikirnya saat itu.
"Gak usah bahas selingkuh selingkuh, kesel dengar nya," ucap Rakha yang membuat Alyaa tertawa. Lihat bahkan ia yang selingkuh ia yang kesel harusnya Alysa yang kessal jika membahas perselingkuhan karena ia yang menjadi korban tapi ini malah si pelaku yang kesal.
"Ya emang kenapa? Lagian yang selingkuh siapa yang sinis siapa?" ucap Alysa yang masih tidak memberhentikan tawanya. Kini sudah banyak yang memperhatikannya dengan Rakha tapi Alysa sama sekali tidak perduli hal ini sudah biasa baginya. Rakha memutar malas matanya mendengar ucapan Alysa tersebut, mengapa kini malah gadis nya itu yang suka menggodanya.
"Gak usah di bahas, Nyonya Abrisam," ucap Rakha yang berhasil membuat pipi Alysa bersemu merah karena Rakha memanggilnya dengan nama belakang laki-laki itu. Rakha tersenyum melihat itu kini posisi berbalik, Rakha yang kini menggoda gadis itu membuat Alysa terdiam dengan pipinya yang bersemu merah.
"Rakha apa sih?" tanya Alysa dengan pipinya yang sudah memerah karena malu. Kupu-kupu di perutnya rasanya sudah berterbangan. Alysa segera pergi meninggalkan Rakha sambil memegangi pipinya yang bersemu merah.
"Kenapa sayang? Cocok kok, langsung KUA yuk," ajak Rakha dengan teriakannya yang tambah membuat Alysa bersemu merah, Rakha hanya bisa tertawa melihat tingkah lucu tunangannya itu. Banyak pasang mata yang sudah memperhatikan mereka membuat Alysa semakin malu karenanya.
"Rakha gila," teriak Alysa kesal masih sambil memegangi pipinya yang sudah bersemu merah itu dengan senyumannya yang mengembang. Kali ini Rakha berhasil membuat senyuman itu kembali dengan caranya.
Rakha menggeleng melihat tingkah tunangannya itu setelahnya ia langsung mengejar Alysa dan merangkul pinggangnya posesif membawa gadisnya itu menuju mobilnya.
Saat di mobil tak ada pembicaraan antara Alysa dan Rakha sampai laki-laki itu dengan iseng memberhentikan mobilnya di depan kantor KUA, Alysa mengernyitkan dahinya bingung lalu menatap Rakha penuh tanda tanya. Untuk apa Rakha menghentikan mobilnya di KUA?
"Mau ngapain kesini?"
****
Thank For Reading.***
Hai All im back setelah lama gak nulis di sini
akhirnya aku datang dengan cerita baru. Mungkin dari kalian ada yang udah gak
asing lagi kan sama nama dari pemain ini? Yap ini adalah sequel dari My Crazy
Badboy buat yang belum baca yuk di baca dulu guys biar pada ngerti.
Follow yuk akun ig aku @hilmiatulhasanah- dan
@Wphilmiath_
Follow juga akun rp ini ya guys
@TRAKHAAKDNA_
@ALYSAEVELYAA_
@ALVANDOJERRY_
@ARETTAEMILJ_
@SHE_LIAANGGRAINI
@ADRIENVERVER_