
Hingga tidak lama kemudian saat Jingmi membuka tasnya dan mengeluarkan tangannya dia malah mengeluarkan sebuah wadah pensil berwarna putih bening dan langsung memberikannya kepada Xinxin begitu saja. Membuat aku tidak tahan untuk tertawa begitu pula dengan Xinxin yang langsung memasang wajah cemberut penuh dengan kekesalan, dia langsung menarik tanganku dengan cepat dan membawa aku untuk masuk ke dalam asrama saat itu juga.
"Aishh... Kau memberi hadiah spesial untuk Zhan Tao, tapi malah memberikan tempat pensil jelek itu untukku! Dasar menyebalkan. Ayo Zhan Tao kau tidak boleh berteman dengan dia lagi, mulai sekarang aku tidak akan mengijinkan kau menemuinya, cepat masuk." Teriak Xinxin sambil terus menarik tanganku dengan cepat.
Aku hanya bisa terus menuruti keinginan Xinxin sambil melambaikan tangan pelan untuk berpisah dengan Jingmi. Kami pun terus tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Jingmi yang berhasil membuat Xinxin kesal dan marah besar seperti itu.
Di sisi lain profesor Ling semakin disibukkan dengan banyak peraturan baru yang dibuat oleh laboratorium di luar negeri, sedangkan dia masih harus memasarkan robot kesehatan pertamanya, dia sudah melakukan pembukaan besar sebelumnya dan mendapatkan keuntungan yang sangat fantastis, banyak rumah sakit besar di luar negeri yang sangat tertarik dengan hasil karyanya tersebut, sehingga banyak undangan yang dia dapatkan dari berbagai ketua forum dan sebagainya, profesor Ling benar-benar tidak memiliki banyak waktu, dia terus melakukan pekerjaannya tanpa henti dan masih merasa kebingungan untuk memutuskan mengambil kerjasama dengan pihak laboratorium di universitas terbaik dunia untuk menciptakan hal-hal dan terobosan baru yang lebih besar.
Namun jika dia mengambil kesempatan itu, mungkin dia tidak bisa menikah, tidak bisa kembali ke negara ini dan waktunya akan benar-benar dihabiskan demi sains dan penelitian, untuk kelangsungan umat manusia dan menciptakan banyak teknologi mutakhir agar menghapuskan banyak penyakit langka yang sampai sekarang belum mendapatkan obatnya.
Dia melamun di dalam ruangan pribadi laboratorium miliknya dan memegangi sebuah kartu akses milik Zhan Tao, sebuah benda pipih berukuran tiga cm tersebut yang tipis seperti kertas HVS, kartu tipis sebagai tanda identitas anggota laboratorium medis milik Zhan Tao, yang menjadi sebab di keluarkannya dia dari laboratorium ini dan membuat dirinya jauh dengan Zhan Tao, termasuk dibenci hingga saat ini.
Profesor Ling berdiri memandangi kursi yang dulu pernah di tempati oleh Zhan Tao, dia melihat bayangan yang diputar kembali bak sebuah film masa lalu, dimana masih ada Zhan Tao yang duduk disana dan bercanda ria dengan senior Anming, kini laboratorium telah menjadi sepi seiring dengan perginya Zhan Tao yang selalu membawa kebahagiaan dan kegembiraan di dalam laboratorium, semua orang fokus dengan pekerjaannya masing-masing, tidak ada yang bisa bercanda seperti Zhan Tao, tidak ada orang yang mencairkan suasana seperti sebelumnya, tidak ada teriakkan yang memekikkan telinga dan tidak ada seseorang yang bisa memberikan teh susu kepada semua anggota laboratorium.
Profesor Ling mulai menghembuskan nafas dengan lesu dia mulai tersadar bahwa dia telah melakukan sebuah kesalahan besar di masa lalu, dia baru mengetahuinya sekarang bahwa dia memang menyukai Zhan Tao, dan merasa kehilangan atas kepergiannya.
"Huuhh....seharusnya saat itu aku tidak membuat keputusan sebelah pihak dan terlalu terburu-buru. Tapi apa mungkin dia yang melakukan kecurangan seperti itu? Dia hanya mahasiswa S1 yang baru menempuh pendidikan, apa mungkin itu sungguh perbuatan dia?" Gerutu profesor Ling terus memikirkan semuanya dengan lekat.
Hingga tanpa dia ketahui gerutuan nya tersebut di dengar oleh senior Feng yang saat itu sudah berada di belakangnya hendak memberitahu profesor Ling tentang pekerjaan dia yang baru saja selesai, Feng mendengar gerutuan itu dan dia tidak bisa diam saja disaat dia sudah tahu cerita aslinya dari mulut Zhan Tao secara langsung.
"Kau benar dia hanya mahasiswa S1 yang baru memulai pendidikan di laboratorium ini, dia tidak akan mampu mengganti akses secanggih itu, seharusnya kau mencaritahu kebenarannya jika kau benar-benar menyesal atas apa yang pernah kau perbuat padanya." Ucap senior Feng sambil menaruh berkas di atas meja profesor Ling saat itu.
Dengan cepat profesor Ling langsung berbalik menatap ke arahnya dia cukup kaget karena melihat senior Feng sudah ada di dalam ruangannya dan bicara seperti itu kepada dia sehingga hal tersebut, menimbulkan sebuah kecurigaan baginya dia pun mulai mendekati Feng dan mulai bertanya lebih dalam lagi untuk mengulik informasi darinya.
"Apa yang kau katakan barusan? Memangnya kau tahu apa yang tengah aku bicarakan?" Tanya profesor Ling kepada Feng saat itu.
"Tentu saja aku tahu, kau pasti menyesal sudah mengusir Zhan Tao dari laboratorium ini bukan?" Balas Feng begitu blak-blakan.
"Tidak.. untuk apa aku menyesali hal itu, semuanya sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku di laboratorium ini, dan semua peraturan tersebut sesuai dengan kesepakatan semua anggota laboratorium, jadi itu adalah kebijakan yang aku lakukan, lagi pula kau sendiri juga tahu kan, apa tujuanku memasukkan wanita itu ke dalam laboratorium ini, aku hanya memanfaatkan dia agar dia bisa menjadi alat pembersih gratis dan tidak boros listrik disini, dengan adanya dia kita semua juga banyak terbantu, jika dia sudah tidak terpakai lagi untuk apa di pertahankan dan untuk apa aku menyesalinya, dia hanya aku anggap tameng agar tidak ada wanita lain yang mengusik hidupku." Balas profesor Ling yang masih saja merasa enggan untuk mengakui perasaannya tersebut secara langsung di hadapan orang lain.
Senior Feng yang sudah mengenal lama seorang profesor Ling, dia hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu dan menggelengkan kepalanya pelan, bagi dia ini sudah mendarah daging bagi profesor Ling yang sudah jelas memiliki ego yang sangat tinggi sejak dia kecil, bahkan dia tidak bisa di atur maupun di bantah oleh siapapun.
"Hahaha kau memang sialan... Ya sudahlah, tersebut kau saja, aku rasa dirimu sendiri yang lebih tahu tentang perasaanmu, hanya saja aku beritahu kau dari sekarang, disini aku sebagai sahabatmu bukan bawahan atau partner kerja, jika kamu menyukainya kau harus mengejarnya dan menyingkirkan gengsimu itu, jika tidak aku rasa kau akan kehilangan dia karena ada orang yang melakukan kerja keras lebih besar dibandingkan dirimu untuk mendapatkan dia di luar sana." Balas senior Feng kepada profesor Ling dengan wajahnya yang sangat serius.
"Semoga kau berhasil Ling." Tambah senior Feng lagi sambil menepuk sebelah pundak profesor Ling dan dia pergi dari sana secepatnya.
Profesor Ling semakin cemas mengingat dia juga sudah mengenal siapa yang dimaksudkan oleh senior Feng kepadanya, yang tidak lain itu tertuju pada Jingmi, dia selalu merasa kesal dan naik pitam tiap kali mengingat dan membayangkan mengenai Zhan Tao yang begitu dekat dengan Jingmi, bahkan kejadian terakhir kali Zhan Tao jelas menolak payungnya dan pergi dengan pria itu, membuat dia merasa semakin frustasi dibuatnya.
"Aaarrkkkk.... Sialan, terserah saja aku sama sekali tidak menyukainya dan aku tidak menyesali apapun!" Bentak profesor Ling dengan keras dan dia terus mengatur nafasnya yang menderu tanpa henti.
Tanpa profesor Ling ketahui di balik pintu itu, diam-diam ada senior Sisi yang merekam ucapan dari profesor Ling sebelumnya dia hanya merekam dalam satu sisi saja lalu segera kembali ke kursinya karena melihat senior Feng yang baru keluar dari laboratorium tersebut.
"Ini akan jadi bahan yang bagus, untuk membuat wanita sialan itu tidak kembali lagi ke laboratorium ini!" Gerutu senior Sisi dengan sorot matanya yang sinis dan sudut bibir yang dia angkat ke atas sedikit.
...****************...
Sampai hari-hari berikutnya mulai berlalu dia semakin disibukkan dengan berbagai penelitian lanjutan dan hubungan antar negara lainnya yang harus dia hadiri sebagai bentuk penghormatan, sedangkan aku sendiri sudah mengikuti ujian kelulusan mendapatkan nilai yang cukup tinggi dan aku sudah lulus dengan gelas S1 yang selama ini aku mimpikan, mulai bekerja dengan sangat giat di tim kreatif sebuah perusahaan besar dalam bidang periklanan juga pemasaran produk.
Semuanya berjalan cukup lancar dalam masalah karir, aku semakin di percaya dan jabatanku terus naik, hingga liburan tiba dan aku lebih memilih pergi ke kampung halamanku setelah sekian lama tidak berjumpa dengan ayah dan bibi juga adik tiri ku.
Ada rasa sakit mendalam yang selama ini aku pendam seorang diri ketika mengingat mengenai ayah dan bibi, mereka yang beberapa bulan terakhir sudah tidak menghubungi aku lagi,bahkan tidak mengirimi aku uang sama sekali, sehingga aku harus bekerja keras sendirian untuk membayar biaya wisudaku sebelumnya, aku selalu mengambil lembur di kantor dan selalu mengambil pekerjaan sampingan lainnya hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupku, untungnya ada Xinxin yang masih mau menampung aku di rumahnya disaat aku belum sanggup untuk mengambil rumah sewa.
Hari ini adalah hari yang sudah aku jadwalkan perusahaan memberikan waktu libur selama dua hari untukku, dan aku pikir aku bisa tinggal di rumah ayah satu hari saja, setelah itu kembali ke tempat ini dan bertarung lagi dalam hidup.
"Xinxin bagaimana pun mereka keluargaku, aku harus menemui mereka, aku harus tahu bagaimana keadaan mereka disana." Balasku kepada Xinxin saat itu.
Dia pun mengangguk kepadaku dan membiarkan aku untuk pergi, aku mulai menarik koper milikku dan segera pergi menuju halte bus terdekat, aku masih haru menaiki bus untuk sampai ke tempat kereta bawah tanah, agar bisa sampai ke kampung halaman.
Saat aku tengah di perjalanan tiba-tiba saja aku mendapatkan sebuah video berdurasi pendek dari seseorang yang tidak tahu siapa pengirimnya.
Karena merasa penasaran aku pun mulai membuka rekaman tersebut, hingga wajah profesor Ling dengan suaranya yang sangat jelas terdengar oleh telingaku, dimana dia mengatakan sebuah kalimat yang sangat menyakiti perasaanku saat itu, dan di detik itu juga aku baru tahu jika ternyata selama ini tujuan dia memasukkan aku ke dalam laboratorium miliknya hanya untuk hal seperti ini.
"Hah.... Jadi dia hanya ingin menjadi aku pembantu saja? Apa dia sekejam ini? Aku salah mengira dia orang yang baik, dia pria paling brengsek yang aku kenal!" Ucapku sambil menghapus air mata yang mulai menerobos keluar dari pelupuk mataku.
Rasanya hatiku benar-benar hancur, aku tidak menduga jika profesor Ling memang sangat kejam, bahkan pada aku yang sudah memperjuangkan dia dan selalu membela dia di hadapan Jingmi juga teman sekamarku yang lainnya.
Sekarang aku sadar bahwa semua yang dikatakan oleh Xinxin juga yang lain benar, memang seharusnya sejak awal aku melupakan profesor Ling, menjauhkan diri darinya, dan seharusnya saat itu aku tidak menerima undangan ke laboratorium darinya.
Sekarang semuanya sudah benar-benar terlambat, aku sudah menurunkan banyak sekali harga diriku kepadanya, aku merasa menjadi manusia paling bodoh di dunia ini, karena bisa percaya dengan orang sepertinya.
Aku menangis terisak di dalam kereta bawah tanah dan saat aku hendak menaruh ponselku tidak sengaja aku malah mengirimkan video tersebut pada gruf yang terdapat aku, Jingmi juga teman sekamar ku yang lain.
Ponselku mati setelah itu dan aku tidak tahu apa yang terjadi.
Hingga sesampainya di kampung halamanku, aku justru melihat dengan kedua mata kepalaku bahwa ayah dan bibi bertengkar sangat kencang, bahkan mereka terlihat saling mendorong satu sama lain, ada pula adik tirimu yang berlari keluar menghampiri aku lalu dia langsung m*mukul ku dengan kencang sambil menangis terisak dengan keras.
"Kau... Kenapa kau kembali, semua ini karenamu, kau wanita tidak berguna, kau sudah menghabiskan harta ayahku, kau pergi dari sini!" Teriak adik tirimu dengan kencang.
Aku kebingungan dan sama sekali tidak mengerti apapun, hingga ayah dan bibi menoleh ke arahku dan mereka segera menghentikan pertengkarannya.
"Zhan Tao, sudah berapa lama kamu berdiri disana?" Teriak ayah kepadaku.
"Kenapa kamu bisa ada disini sayang?" Tanga ayahku lagi dengan memegangi kedua pundakku begitu erat saat itu.
Aku terus diam membisu melihat sekeliling rumah yang berantakan, tidak ada mobil dan semuanya begitu kacau.
"Ayah.. apa yang sebenarnya telah terjadi?" Tanyaku dengan lirih kepadanya.
Ayah terus menunduk dan sama sekali tidak membalas pertanyaan dariku, aku semakin cemas dan terus mendesaknya lebih kuat lagi, sampai ibu tiriku yang menjawabnya.
"Dia bangkrut, dan kau tahu semua itu karena kau, biaya kuliahmu itu sangat tinggi dan dia masih saja ingin menguliahkan kau lagi sampai S3, arkk.. apa dia gila. Sayang ayo masuk ke dalam tinggalkan dua orang ini!" Ucap ibu tiriku sambil menarik adik laki-laki ku masuk ke dalam rumah dengan segera.
"Pergi kau dari sini, jangan pernah kembali, dasar kau pembawa sial!" Teriak adik tirimu saat itu, yang masih menggema di telingaku terus menerus.
Aku berusaha untuk tidak menangis di hadapan ayah, tetapi nyatanya aku masih anak gadis yang cengeng, ayah memeluk aku dengan erat dan aku semakin menangis keras, tetapi aku tahu bibi akan membenci itu jika ayah terus membelaku dan berada di pihakku seperti ini.
"Ayah... Aku tidak akan lanjut kuliah lagi, aku sudah bekerja dan aku bisa menghasilkan uang sendiri, tolong jangan pikirkan aku, minta maaflah pada bibi jangan buat dia marah dan tolong jangan bercerai dengannya." Ucapku di tengah-tengah Isak tangisku saat itu.
"Tidak sayang jika dengan begitu ayah tidak bisa melihat kamu bahagia, maka lebih baik ayah menceraikannya saja, meski ayah masih sangat menyayangi bibimu dan adikmu itu." Balas ayah kepadaku.
Aku terus menggelengkan kepala dan melarang ayah untuk melakukan itu, semua ini juga kesalahan ayah, aku sama sekali tidak pernah menerima kiriman uang lagi darinya setelah beberapa bulan terakhir, entah dikemanakan uang itu oleh ayah dan dia beralasan pada bibi bahwa uangnya habis untuk biaya ku.
"Ayah, tolong jangan mendekatiku, aku pergi saja, kau juga sama sekali tidak jujur padaku, aku tahu ayah, kau menghabiskan uangnya sendiri, aku tidak pernah menerima kiriman uang sedikitpun darimu, dan aku akan pergi melanjutkan kuliahku di jenjang S2 dengan caraku sendiri jika ayah tetap ingin aku melanjutkan pendidikan, tapi mungkin tidak di sini dan tidak dengan uangmu." Ucapku padanya sambil segera berbalik dan pergi meninggalkan rumah itu.