Professor Ling I Love You

Professor Ling I Love You
Baru Ingat



Malam itu berlalu begitu saja, entah apa yang sudah aku lakukan, sama sekali tidak ada yang bisa aku ingat, ketika pagi datang, aku hanya merasakan kepala pusing dan badan yang merasa tidak nyaman, hingga ketika aku membalikkan badan ke samping aku pikir sesuatu yang ku peluk adalah gulingku, dan kupikir aku ada di asramaku.


"Eumm..Xinxin kenapa kau tidak menutup jendelanya, astaga, itu menyilaukan mata." Ucapku terus saja merasa tidak nyaman dan mendekatkan diri semakin erat memeluk sesuatu yang ku anggap guling kesayanganku tersebut, hingga tidak lama ketika aku terus saja merasa silau meski sudah menyembunyikan wajahku, aku mulai membuka mata dan menguceknya pelan, dan betapa kagetnya aku saat ternyata seseorang yang aku peluk adalah tubuh profesor Ling, dia terlihat tidur terlentang dan aku memeluk tubuhnya begitu saja.


"Astaga....apa yang sudah terjadi, kenapa profesor Ling ada di asramaku?" Gerutu menelan saliva susah payah.


Kala itu aku juga masih belum sadar dimana aku berada sebenarnya, hanya bisa segera menjauh dari profesor Ling sambil menutup mulut yang terbuka lebar saking kagetnya menyadari semua ini, aku juga segera memeriksa tubuhku sendiri, dan langsung merasa tenang ketika melihat pakaianku masih utuh dan sama sekali tidak ada yang terjadi malam itu.


"Aahh ..syukurlah, aku pikir aku benar-benar sudah menyatu dengannya? Astaga...ada apa sebenarnya? Kenapa aku bisa tidur dengan profesor Ling, dan aaahh ini bukan asrama, ini kamar siapa? Tidak mungkin ini kamarnya bukan?" Gerutuku memikirkan lagi.


Mataku semakin terbuka lebar menatap ke arah profesor Ling yang masih terlihat menutup matanya dengan lelap, aku sangat panik da tidak tahu harus berbuat apa, sehingga aku pun segera mendekati wajah profesor Ling, dan berusah memastikan keadaannya.


"Profesor, apa kau tidur, atau sudah bangun?" Tanyaku padanya sambil menaruh tanganku di depan wajahnya.


Setelah tidak mendapatkan jawaban dan reaksi apapun darinya barulah aku bisa merasa tenang dan menghembuskan nafas dengan lega sambil terus mengusap dadaku merasa sangat tenang.


"Fyuhh...untunglah dia masih tidur, aku harus segera pergi dari sini secepatnya, sebelum profesor Ling bangun, dan dia akan marah besar denganku." Gerutuku sambil berniat membuka selimut yang melilit pinggangku.


Namun belum sempat aku turun dari ranjang itu, profesor Ling tiba-tiba saja menarik tanganku dan dia membuat aku berada sangat dekat dengan wajahnya, aku tentu kembali jatuh dan tertidur di sampingnya, profesor Ling juga memelukku dengan menarik sebelah kakinya padaku, sehingga aku tidak bisa meloloskan diri saat itu.


Tubuhku benar-benar sulit untuk digerakkan dia memeluk aku persis seperti aku yang biasa memeluk guling sebelumnya, tangan dan kakinya begitu beran menimpa tubuhku.


"Aaahh....astaga.. bagaimana ini, euhh.. profesor Ling lepaskan aku!" Ucapku tidak bisa diam saja.


Aku sudah tidak perduli, apakah dia akan bangun atau tidak tapi saat itu perasaanku sangat gugup dan aku tidak bisa diam saja disaat aku tahu dia berada terlalu dekat denganku, sampai tidak lama setelah aku berusaha melepaskan diri darinya, profesor Ling pun membuka matanya dan dia malah memeluk aku semakin erat termasuk mendekatkan wajahku kepada wajahnya.


Membuat aku membelalakkan mata sangat terkejut dan tidak bisa berkata-kata lagi di hadapannya saat itu.


"Pro...pro.. profesor, apa yang kau..." Ucapku tertahan karena dia tiba-tiba saja mencium bibirku begitu saja.


Dia benar-benar melakukannya lebih dulu dan terus melakukan hal itu padaku, sedangkan aku tidak bisa bergerak sama sekali, aku terlalu syok saat itu, dan berusaha mendorong tubuhnya agar menjauh dariku, tapi aku justru tidak bisa melakukannya karena dia memelukku sangat erat, tenagaku bukan lawan yang imbang untuknya.


Aku pun terus menepuk dada bidangnya berusaha untuk menjauhkan dia dariku, karena aku hampir kehabisan nafas sebab profesor Ling yang melakukannya tanpa jeda.


"Ah..hah..hah..hah.. profesor Ling apa yang kau lakukan? Kenpa kau m*nciumku?" Tanyaku dengan kedua alis yang ku kerutkan sangat kuat.


Dia langsung terlihat gugup dan tiba-tiba saja melepaskan tubuhku begitu saja, bahkan dia juga mendorongku cukup jauh hingga aku merasa sangat kaget, dia langsung berdiri di samping ranjang dengan memegangi bibirnya dan terlihat kelimpungan tidak jelas.


"Profesor ada apa denganmu?" Tanyaku kepadanya dengan heran.


"Aa..AA..aahh..ini sudah siang, aku hampir terlambat, kau pergilah cepat." Ucap dia malah mengusirku tanpa memberikan penjelasan apapun padaku.


Profesor Ling langsung masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya dengan membanting pintunya sangat keras, aku hanya bisa terperangah heran dan tidak menduga dengan apa yang dia lakukan saat itu, rasanya semua ini terlalu aneh untukku.


"Hah? Apa-apaan dia ini, kenapa dia mengusir aku setelah apa yang dia lakukan padaku sebelumnya, sialan!" Gerutuku sangat kesal dan penuh emosi.


Aku sangat kesal dan penuh emosi, ku usap bibirku dengan kasar, walau pun terasa sakit aku tidak perduli, segera aku pergi dari sana dengan secepatnya, dan aku sudah berjanji dengan diriku lagi agar tidak berurusan lagi dengan manusia eh dan kejam seperti profesor Ling itu.


Hingga sesampainya di asrama aku terus saja cemberut dan dipenuhi emosi, Xinxin terus menanyakan semua hal yang terjadi padaku tapi aku sam sekali tidak memiliki mood untuk bercerita dengannya saat itu, namun Xinxin memanglah seseorang yang tidak akan menyerah sama sekali, hingga kita sampai di kampus bahkan ketika tengah makan siang dia terus mengikuti aku dan bertanya mengenai hal yang sama, sampai membuat aku geram dan kesal padanya.


"Ayolah Zhan Tao, cerita denganku, apa yang sebenarnya sudah terjadi, semalam kau pulang kemana setelah mabuk?" Tanya Xinxin yang menyadarkan aku tentang sesuatu.


Aku langsung menoleh ke arahnya dengan cepat.


"Apa kau bilang? Semalam aku mabuk?" Tanyaku kepada dia dengan kedua mata terbuka lebar dan memegangi kedua bahu Xinxin dengan kuat.


Dia mengangguk menjawab ucapanku dan aku langsung merasa lemas tidak bisa melakukan apapun lagi, sambil terus berusaha mengingat apa saja yang sudah aku lakukan ketika aku mabuk semalam, sampai beberapa menit kemudian, aku sudah ingat semua kejadian memalukan itu dan aku bahkan ingat bahwa ternyata aku sendiri yang m*ncium profesor Ling lebih dulu, dan tidur di kamarnya.


Xinxin mengerutkan kedua alisnya dengan kuat dan dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dilakukan olehku kala itu, sampai dia malah pergi dengan pria baru yang meminta nomor ponselnya beberapa saat yang lalu.


"Ee..ee..ehh... Zhan Tao ada apa denganmu, hei apa kau gila ya jangan mengetuk kepalamu sendiri seperti itu." Ucap Xinxin menahan tanganku.


"Tapi Xinxin aku sudah tamat, aku mempermalukan diriku sendiri di hadapan profesor Ling, dia pasti tidak akan mau bertemu lagi denganku, pantas saja tadi pagi dia mengusirku, huaaa..." Balasku mengeluh padanya.


Mata Xinxin langsung terbelalak lebar dan dia bicara sangat keras saking kagetnya mendengar pengakuan dariku.


"APA? eumm..eumm." ucapnya sangat kencang da aku langsung membekap mulut Xinxin secepatnya.


"Aahh..kenapa kau bicara sekencang itu, kau mau semua orang tahu ya?" Ucapku memperingati dia saat itu.


"Ehehe..maaf, maaf, aku kan hanya kaget, habisnya kau sedari tadi tidak mau cerita denganku, ternyata semalam kau pergi ke rumah profesor Ling ya? Astaga Zhan Tao aku sudah tahu sekarang, dan aku sama sekali tidak bisa membantumu jika soal seperti ini." Balas Xinxin yang malah angkat tangan denganku.


Padahal aku sangat berharap dia bisa membantuku, atau menjelaskan semuanya pada profesor Ling bahwa semua kejadian semalam hanya sebuah kesalah pahaman atau kesalahan yang aku lakukan sebab aku tidak sadar diri sebelumnya.


"Huaa..Xinxin aku harus bagaimana, semua itu terjadi juga karenamu, kau yang memaksa aku untuk minum bir, padahal kau tahu aku tidak bisa minum minuman seperti itu, jadinya begini kan, aaah aku tidak tahu hal apa saja dan perkataan apa yang sudah aku katakan padanya selama aku mabuk semalam." Balasku kepada Xinxin saat itu.


"Maafkan aku Zhan Tao, tapi aku sudah punya gebetan baru, dia sudah menghubungi aku dan aku harus pergi kencan dengannya sekarang, kau urus saja semuanya sendiri oke, kau kan anak yang cerdas, lebih cerdas dariku, kau pasti bisa menjelaskan padanya sendiri." Ucap dia sambil langsung mengambil tasnya dan pergi meninggalkan aku dengan tega.


"Xinxin apa kau akan meninggalkan aku? Sungguh? Xinxin...kau benar-benar sialan, hei...jangan tinggalkan aku Xinxin..." Teriakku padanya.


Semua sia-sia saja, anak itu benar-benar pergi meninggalkan aku sendiri dengan semua permasalahan yang aku rasakan, dan tidak memiliki solusi apapun sekarang ini.


Aku hanya bisa mengeluh dan meratapi semuanya, aku tidak bisa marah lagi dengan apa yang profesor Ling lakukan padaku pagi tadi, karena aku sudah ingat bahkan semalam aku yang memulainya lebih dulu.


"Apa dia m*nciumku tadi pagi karena ingin mengambil miliknya tadi malah yang aku rebut? Aaah dia pasti begitu, profesor Ling kan sangat perhitungan, harusnya aku tidak terbawa perasaan dengannya, aaahhh aku harus bagaimana, aku juga sudah kehilangan c*uman pertamaku, hanya dengan hal konyol seperti itu, bahkan c*uman keduaku juga lenyap karena dendam, aaahh, aku mati saja." Gerutuku bicara kesal dan tidak karuan sendiri.


Terus saja aku merasa kesal dan emosi sendiri, tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa mengeluh terus menerus, di kantin duduk seorang diri, dan tidak ada satu pun kegiatan yang bisa aku lakukan, aku hanya bisa terus mengeluh dan duduk tanpa ada tujuan apapun, hingga tidak lama muncul Jingmi menyapaku dan dia mengingatkan aku pada jadwal kerjaku di laboratorium yang hampir saja aku lupakan.


"Hei, Zhan Tao kenapa kamu masih disini? Apa kamu libur dari laboratorium?" Tanya nya menyapaku saat itu.


Aku yang sedari tadi menunduk lesu sekarang langsung terbelalak lebar dan teringat dengan pekerjaanku di laboratorium.


"Astaga aku lupa, kalau aku harus ke labolatorium, Jingmi aku harus pergi sekarang juga." Ucapku sambil segera berlari dengan kencang.


Aku terus pergi meninggalkan Jingmi yang hanya menggelengkan kepala menatap kelakuanku, yang sudah sering pergi terlambat ke laboratorium, bahkan jika di hitung aku lebih banyak terlambatnya dibandingkan tepat waktu, selalu saja demikian dan aku tidak tahu kenapa, selalu banyak hal yang aku rusak dan aku begitu ceroboh, hingga saat ini saja, karena aku terburu-buru untuk masuk ke dalam lift, tas ku malah tersangkut di pintu masuk gedung bawah, hingga aku kesulitan untuk menariknya dan terus saja berusa menarik yang punggungku tersebut.


"Aishh, kenapa malah tersangkut begini, euh....ayolah, pintu tolong bekerja sama denganku, kali ini saja!" Gerutuku sambil terus menarik tasku dengan kuat.


Pintu masuk itu memang sering macet dan tertutup tiba-tiba seperti ini, namun aku merasa sangat kesal karena pintu itu macet disaat aku yang terburu-buru seperti sekarang, hingga aku malah jatuh tersungkur dan isi di dalam tasku berserakan di lantai, segera aku memungitunya sambil terus menggerutu kesal, merutuki semua benda yang sangat menyebalkan.


"Brak!" Suaraku yang jatuh dan semua barang berserakan.


"Aaaarrkkkkk...kenapa sih, kenapa harus aku yang menerima semua kesialan dalam hidup, kenapa aku tidak pernah beruntung, punya sikap konyol, wajah tidak cantik, otak tidak pintar dan ceroboh seperti sekarang, aahh aku benci diriku sendiri, tidak ada yang mencintaiku, ini menyebalkan sekali, bagaimana aku akan ke laboratorium dalam keadaan seperti ini." Gerutuku sambil terisak dan memunguti semua buku milikku juga peralatan menulis lainnya.


Sampai tiba-tiba saja seseorang berdiri di hadapanku dan dia memberikan salah satu gantungan kunci kesayanganku yang aku dapatkan di toko buku sebelumnya.


"Bangun, dan ambilah ini." Ucap profesor Ling yang memberikan gantungan kunci berbentuk bebek tersebut padaku.


Aku menengadahkan kepalaku menatapnya dengan perasaan gugup dan tidak menentu, aku terlalu malu untuk menghadapi dia setelah semua rangkaian kejadian yang pernah aku lakukan dengannya, segera saja aku mengambil benda itu dengan memalingkan pandangan ke samping da merebutnya dengan kasar, sambil segera berlari dengan berteriak mengucapkan terimakasih kepadanya.


"Aa..AA.. terimakasih banyak," ucapku sambil berlari kencang masuk ke dalam lift dan langsung saja pintu lift tertutup secepatnya, karena aku yang menekan tombolnya terus menerus.


Jantungku berdegup sangat kencang selama aku berdiri di dalam lift, tidak tahu harus melakukan apapun dan terus saja merasa gugup sambil memeluk tas milikku dengan erat, dan gantungan kunci yang menjadi sebab awal aku bertemu dengan profesor Ling, termasuk jatuh hati pada pandangan pertama dengannya, ini sangat menyebalkan karena mengingatkan aku pada kejadian yang sangat membuat aku sakit hati sekarang.