
Setelah mendapatkan teguran dari kak Xiuying dan Yimin baru saja Xinxin mau berhenti berteriak dan dia telah meminta maaf kepada mereka berdua yang sudah terganggu karena ulah Xinxin yang sangat berisik itu.
"Ehehe..maaf ya, sudah Zhan Tao sekarang ayo cepat kamu ceritakan lagi, apa yang kamu lakukan setelah itu?" Tanya Xinxin meminta aku untuk menceritakannya lagi.
Padahal aku sudah tidak mood dan aku juga sudah tidak terlalu ingat lagi harus mulai menceritakannya dari mana sehingga aku hanya mengatakan intinya saja kepada Xinxin saat itu dan memilih untuk menghindari dia secepatnya.
"Aahh..sudahlah Xinxin tidak ada gunanya juga bercerita hal menyebalkan seperti itu, intinya aku belum bisa mendapatkan profesor Ling sudah segitu, aku mau tidur saja," ucapku segera pergi naik ke ranjangku dengan cepat saat itu juga.
Alhasil karena aku tidak mau melanjutkan cerita lagi kepadanya, kini Xinxin justru malah terlihat emosi dan dia kesal padaku hingga menghentakkan kakinya cukup kuat namun dengan cepat dia kembali mendapatkan tatapan tajam dari Xiuying dan Yimin kala itu.
"Aahh Zhan Tao jangan seperti itu aku sudah terlanjur penasaran nih, Zhan Tao kau tegas sekali padaku euhh..," ucap Xinxin sambil menghentakkan kakinya.
Dia melirik ke arah Yimin dan kak Xiuying yang saat itu sudah menatap tajam kepadanya dengan menyipitkan kedua mata mereka dan terus saja menahan emosi kepadanya.
"AA...aahh..hehe..iya iya, aku minta maaf aku tidak akan mengganggu kalian lagi, ayo...silahkan lanjutkan saja perkerjaan kalian, jangan lihat kemari ayo..ayo selamat malam semuanya hehe," ucap Xinxin yang sudah terlanjur takut dengannya saat itu.
Dia juga segera menaiki ranjangnya karena Xiuying dan Yimin terus menatap tajam hingga dia benar-benar membaringkan tubuhnya di ranjang baru mereka kembali memalingkan pandangan pada kerjaan yang tengah mereka lakukan saat itu.
Sampai ke esokan paginya, aku sudah bersiap-siap membawa semua benda yang sekiranya akan aku butuhkan untuk di labolatorium nantinya, seperti banyak bebek berwarna kuning kesayanganku juga gelas bebek milikku yang cantik, aku selalu menggunakannya dan entah kenapa aku sangat menyukai bebek berwarna kuning ini sama dengan sebuah serial kartun di televisi, dan ini sudah menjadi kebiasaan ku sejak aku kecil sehingga sulit untuk aku menghentikannya, walaupun sekarang aku sudah dewasa, aku tetap menyukai bebek-bebek itu.
Disaat aku sudah bersiap-siap hendak pergi ke kampus Xinxin justru malah baru saja bangun dan dia menatap dengan matanya yang setengah terpejam kepadaku saat itu.
"Hei Zhan Tao apa itu kau?" Tanya Xinxin kepadaku saat itu.
"Iya..ini aku, ada apa kau, cepat bangun malah masih tidur seperti itu," ujarku kepadanya.
"Aaahhh..aku masih mengantuk lagi pula aku tidak ada kelas pagi, kau juga untuk apa pergi sepagi ini, kelas kita di mulai jam sepuluh tahu," ujarnya padaku saat itu.
Mungkin Xinxin pikir aku sudah lupa padahal aku sudah tahu dengan jelas bahwa hari ini memang tidak ada kelas pagi, aku hanya pergi untuk memindahkan beberapa barang milikku ke laboratorium dan aku juga memiliki tugas yang masih belum selesai disana sehingga harus menyelesaikannya hari ini agar bisa segera menyerahkannya kepada senior Feng dengan segera.
"Iya..aku tahu, aku hanya ingin pergi ke labolatorium saja, kau kalau mau tidur ya tidur saja sana," balasku kepadanya saat itu.
Setelah mendengarkan ucapanku tiba-tiba saja Xinxin langsung terperanjat dari ranjangnya dia langsung bangkit terduduk dengan rambutnya yang cukup berantakan dan wajahnya yang masih seperti bantal, dia benar-benar terlihat cukup ngeri ketika bangun tidur seperti itu.
"Apa? Kau mau ke labolatorium sepagi ini? Apa kau sekarang sudah menjadi mahasiswa teladan ya?" Balas Xinxin dengan wajahnya yang kaget dan terperangah menatap ke arahku saat itu juga.
"Hei....aku hanya ingin memindahkan barang, apa yang kau pikirkan, sudahlah aku sudah hampir kesiangan, aku harus pergi sekarang juga, bye..bye," ucapku kepadanya.
Saat aku pergi dari sana kak Xiuying baru keluar dari kamar mandi dia menatap heran kepadaku yang membawa sebuah box barang di tangan dan pergi cukup pagi sekali tidak seperti aku yang biasanya, sehingga dia menanyakan masalah itu kepada Xinxin.
"Hei..Xinxin ada apa dengannya bukannya kalian tidak ada kelas pagi ya?" Tanya Xiuying kepada Xinxin sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.
"Katanya dia mau ke labolatorium untuk memindahkan barang miliknya, entahlah dia mungkin akan menjadi anak yang rajin mulai sekarang, aahhh aku masih mengantuk," balas Xinxin sambil segera tidur lagi.
Aku sangat bahagia pagi ini bisa bergabung bersama orang-orang jenius dan cerdas seperti mereka tentu saja aku sangat senang sekali, selain bisa banyak belajar dan mendapatkan lebih banyak ilmu pengetahuan serta ilmu tentang sains dari mereka, maka aku juga bisa memiliki teman-teman yang keren juga tidak perlu memilih jurusan untuk metode analisis nanti yang akan dilakukan dala waktu dekat ini.
Bahkan Xinxin dan Jingmi belum terlihat memilih laboratorium saat ini, aku juga belum menanyakannya kepada mereka.
Berjalan sendiri sambil membawa box barang di tanganku dan terus tersenyumenatap ke depan hingga tidak lama suara klakson motor terdengar di belakangku dan saat aku menoleh rupanya itu Jingmi dengan sepeda listri miliknya.
"Zhan Tao mau kemana kau sepagi ini?" Tanya Jingmi sama saja dengan Xinxin.
Mereka selalu hanya mengira aku sebagai mahasiswa yang malas dan selalu bersikap santai padahal aku kan juga ingin belajar dengan serius dan mengubah rasa malas di dalam diriku yang membuat aku kesulitan menggapai mimpi itu.
"Aku mau ke laboratorium untuk memindahkan beberapa barangku," balasku kepadanya sambil segera melanjutkan jalanku.
Begitu juga dengan Jingmi dia juga melakukan sepeda listriknya lagi sambil terus melakukannya dengan pelan beriringan denganku saat itu.
Aku sedikit kesal karena dia terus melaju tepat di sampingku beriringan sangat dekat dengan aku, membuat aku kesulitan untuk bergerak saat itu.
"Aishh..Jingmi sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan, menyingkir dari sampingku kalau kau mau pergi ke depan ya pergilah kalau mau berhenti maka berhenti saja kenapa kau malah mengikuti aku seperti ini?" Ucapku dengan meninggikan suara saking kesalnya dengan dia saat itu.
"Aku mau mengantarmu, ayo cepat naik," jawabnya membuat aku senang da langsung tidak marah lagi dengannya.
"Eehhh..kenapa kau tidak bilang sejak awal, kalau begitu aku tidak perlu berlari lagi sejak tadi, aishh ... Kau ini ada-ada saja," balasku sambil segera naik di belakangnya.
Dia mulai melajukan sepeda listrik miliknya itu dan kami bisa sampai dengan cepat ke labolatorium berkat bantuan dari Jingmi, dia memang yang terbaik bagiku, sekali hadir setiap aku membutuhkan bantuan dan selalu siap siaga setiap saat untuk membantu aku.
"Aahhh... terimakasih banyak Jingmi, kemarikan bawaanku," ucapku kepadanya.
Namun bukannya Jingmi memberikan box itu padaku dia malah membawakannya dan segera turun dari motornya dengan cepat. Saat itu tentu saja aku merasa heran karena dia malah ikut turun dari motornya tersebut dan berjalan melewati aku lebih dulu dengan membawanya saat itu.
"Eehhh..Jingmi tunggu, kau mau kemana Jingmi tunggu aku!" Teriakku sambil segera berlari menyusul dia dan segera menghentikannya.
"Ah..hah..hah..Jingmi kenapa kau malah pergi begitu saja kemari berikan box itu padaku," ucapku sambil hendak menarik barang itu dari tangannya.
"Aku kan sudah bilang kalau aku akan mengantarmu, kenapa kamu jadi pikun seperti itu dasar tua!" Balasnya begitu saja.
"Hei.. Jingmi apa yang kau bilang aku tidak tua, apa maksudmu itu, jadi kau mau mengantarkan aku sampai ke depan laboratorium ya?" Tanyaku lagi kepada dia untuk memastikan.
"Yap... Sepertinya kamu sudah menjadi pintar sekarang, jadi jangan banyak bertanya lagi oke, ayo cepat kita pergi nanti kau kesiangan bukan," balasnya padaku saat itu.
Aku pun tersenyum dan baru memahami apa yang dia maksudkan selama ini, rupanya dia hanya ingin mengantarkan aku sampai ke depan laboratorium. Mungkin karena dia tahu aku membawa barang di tanganku dan itu cukup berat, dia memang pria yang paling perhatian dan peka dalam segala hal, tanpa aku harus mengatakannya, sekarang aku juga mengerti mengapa banyak sekali wanita di jurusan kami dan di kelas kami yang sangat menyukai ketua kelas tampan ini, walaupun di mataku yang paling tampan tetaplah profesor Ling semata.
Hingga sesampainya di depan laboratorium aku hendak mengambil box tersebut darinya namun dia tetap saja benar-benar mau mengantarkan aku sampai ke dalam.
"Jingmi kemarikan kita sudah sampai aku akan segera masuk," ucapku padanya.
"Bukakan pintunya kau tidak akan bisa membuka pintunya jika sambil membawa box ini, aku bantu kamu pegangan box nya dahulu," ujar dia kepadaku.
Aku pikir apa yang dikatakan oleh Jingmi memang benar jadi aku mengangguk dan segera menurutinya namun disaat aku tengah menempelkan kartu aksesku untuk membuka pintu Jingmi justru langsung saja masuk seorang diri disaat pintunya sudah terbuka saat itu.
Aku segera mengejar dia masuk ke dalam dan dia mah dengan santai menanyakan dimana mejaku saat itu.
"Eehh..Jingmi tunggu, aish kenapa kamu malah masuk ke dalam begitu saja? Ini adalah laboratorium Jingmi bukan tempat sembarangan apa kamu tidak tahu?" Ucapku kepadanya saat itu.
Hanya bisa segera menunjukkan padanya dimana mejaku saat itu dan Jingmi segera menaruh box barang itu diatas mejaku dengan hati-hati.
Saat itu disana rupanya sudah ada senior Anming dan tentu saja dia menatap penuh kepenasaranan kepada Jingmi yang datang bersamaku di tambah Jingmi yang mengusap pucuk kepalaku disaat dia berpamitan pergi dariku saat itu.
"Baiklah aku taruh disini, kau baik-baik tinggal disini ya aku masuk ke laboratorium sebelah milik profesor Yen, jika ada apapun katakan padaku, oke bebek kecil aku pergi ya, jaga dirimu baik-baik." Ucap Jingmi mengacak atas kepalaku saat itu.
Dia selalu menyebut bahwa itu adalah sebuah usapan padahal aku tahu bahwa itu usapan kasar dan dia malah merusak tatanan rambutku saja.
"CK...kau selalu merusak rambutku, sana kau pergi sana." Balasku kepadanya.
Namun disaat dia pergi hendak keluar dari sana dia malah berpapasan dengan profesor Ling saat itu dan mereka ternyata memiliki tinggi badan yang sama dan entah kenapa aku merasa mereka saat itu sempat saling bertukar tatapan yang sangat tajam walau hanya berselang beberapa detik saja.
Aku juga segera menyambut kedatangan profesor Ling bersama dengan para senior lainnya yang langsung berdiri menghadap ke arah profesor Ling lalu menundukkan kepala menyapa dia dengan serempak.
"Selamat datang profesor Ling." ucap kami semua serempak.
"Kembali ke pekerjaan kalian." Balas profesor Ling begitu saja sambil dia yang langsung masuk ke dalam ruangan pribadinya saat itu.
Bisa melihat sang pujaan hati pagi-pagi sekali seperti ini benar-benar sangat menyenangkan dan ada sebuah kebahagiaan tersendiri yang aku rasakan setiap kali menatap dia, sama dengan apa yang baru saja aku rasakan.
"Ya ampun kenapa profesor Ling sangat tampan dia benar-benar tipeku sekali." Ucapku keceplosan saat itu sampai di negara oleh senior Anming yang ada di sampingku.
Aku masih belum menyadari hal itu hingga tiba-tiba saja senior Feng merangkul pundakku dari belakang dan dia cukup mengagetkan aku saat itu.
"Hei...Zhan Tao apa kamu menyukai profesor Ling ya?" Ucap senior Anming sambil menatap penuh kecurigaan kepadaku saat itu.
Aku sangat gugup dan degan cepat menyangkalnya namun wajahku benar-benar tidak bisa untuk diajak bekerja sama meski dengan sekuat tenaga aku berusaha menyembunyikan perasaan suka itu, tetap saja nyatanya ketahuan juga oleh senior Anming saat ini dan dia malah terus menggoda aku saat itu.
"Aaa.....a..apa, aku tidak menyukainya aku hanya kagum saja dengannya," balasku sambil melepaskan rangkulan tangan darinya dan segera duduk di kursiku.
Namun senior Anming malah terus saja mendekati aku dan terus menggodaku tanpa henti hingga kedua pipiku menjadi merah merona karenanya saat itu.
"Eumm..apa kau bicara jujur, kenapa pipimu merah merona seperti itu jika kamu tidak menyukainya? Hah...ayo jawab.... Zhan Tao kamu ini tidak cocok untuk berbohong hidungku mulai megembang dan pipimu merah merona ketika kamu berbohong hahah...ayo akui saja jika kamu menyukainya kan. Aku dan senior Feng tinggal bersama dengan profesor Ling kita bisa membantumu untuk dekat dengannya bagaimana?" Ucap senior Anming kepadaku.
Mendengar hal tersebut aku langsung saja membelalakan mataku menoleh ke arah senior Anming dengan cepat, karena aku tidak tahu jika seorang profesor Ling bisa tinggal dengan mereka berdua.
"Hah? Senior Anming memangnya aku bodoh, tidak mungkin aku mempercayai ucapanmu, kau masih S3 dan belum lulus begitu juga dengan senior Feng tentu kalian tinggal di asrama sedangkan profesor Ling dia tidak mungkin tinggal di asrama mahasiswa S3 juga bukan?" Balasku kepada dia saat itu.
Untung saja aku tidak tertipu olehnya karena ternyata dia juga hanya memancing aku untuk mengatakan iya kepadanya dan berkata jujur dengannya tentang perasaanku kepada profesor Ling saat itu.
"Ahaha... ternyata kau tidak bisa di tipu dengan cara lama ya, tapi aku dan senior Feng memang dulu berada di jurusan dan kelas yang sama dengan profesor Ling, hanya saja dia memang anak jenius berbeda dengan kami yang hanya cerdas bawaan saja, dia itu memiliki otak diatas manusia secerdas kami makanya dia langsung loncat kelas dan terus melanjutkan pendidikannya di luar negeri sampai dia mendapatkan gelar Profesor tersebut di usianya yang masih muda, tapi dia memang mahasiswa yang berbakti dan teladan, setelah berhasil dia kembali lagi ke universitas ini untuk membalas budi karena universitas ini juga yang menerbangkan dia ke luar negeri sampai mendapatkan beasiswa penuh disana sebelumnya," ungkap senior Anming yang malah terus bergosip kepanjangan tentang profesor Ling kepadaku tanpa aku minta sebelumnya.
Mendengar tentang profesor Ling yang cukup banyak dari senior Anming aku semakin kagum saja dengannya, sudahlah aku memang menyukai dia, ditambah sekarang senior Anming malah membicarakan semua hal hebat tentang dia, tentu saja aku semakin cinta dan kagum kepadanya tanpa henti, dia begitu luar biasa dan sempurna di mataku saat ini, apalagi jika sampai dia pandai bersikap dan memasang senyum itu pasti akan benar-benar me jadi kesempurnaan yang luar biasa.
Sudah pasti akan ada lebih banyak wanita lagi di luar sana yang mengejar dia terus menerus dan mungkin aku tidak akan memiliki sedikit pun kesempatan untuk mengejar dia jika hal itu terjadi sebab sudah pasti saingannya akan diatas rata-rata semua, sudah untung profesor Ling tidak ramah dan dikenal kejam dengan begitu meski banyak wanita yang mengidolakan dia dan menyukainya tetapi profesor Ling tidak menggubris semua itu da setidaknya untuk saat ini hanya aku yang dianggap dekat dengan profesor Ling oleh para senior di laboratoriumnya meski aku cukup malu untuk mengakui perasaanku kepadanya.
Hingga disaat aku baru saja hendak bertanya lebih banyak tentang profesor Ling kepadanya, tiba-tiba saja senior Sisi datang dan muncul tiba-tiba di hadapan kami sampai membuat aku dan senior Anming langsung kembali sibuk dengan komputer di hadapan kami masing-masing secepatnya.
Aku tidak berani mengucapkan kalimat apapun lagi jika ada senior Sisi di dekat kami saat itu, melihatnya saja aku sudah begitu merinding dan takut dengan ekspresi di wajahnya yang selalu terlihat begitu serius dan tatapan mata yang tajam juga wajah datar yang dingin membuat siapapun akan takut untuk berkenalan dengannya, bagiku dia terlalu berkelas dibandingkan siapapun tangan ada disana.
Terlebih penampilannya yang seperti lagi-lagi semakin membuat aku takut dengannya jadi aku lebih memilih untuk fokus dengan pekerjaan aku lagi dengan sangat serius.
Hingga tak lama senior Sisi pergi dari sana sepertinya dia akan mulai melakukan praktek di ruangan khusus penelitian praktek disana.
Aku baru bisa menghembuskan nafas dengan lega begitu juga dengan para senior lainnya yang ada disana.
"Huuhh..untung saja tidak ketahuan," ucap senior Anming sambil mengusap dadanya yang sedari tadi berdegup kencang karen panik oleh senior Sisi yang ada di hadapannya begitu dekat.
Jangankan aku senior yang satu jurusan deganya sajatakit untuk melawan senior Sisi bukan? Lalu apalagi aku, tentu saja aku sangat takut juga kepadanya sedari tadi terus saja menatap ke depan layar komputer tanpa berani menatap sedikit pun ke samping dan ke arah lainnya.
"Aahhh... senior Anming lain kali kau kalau mau bergosip denganku cari tempat yang lebih baik saja, disini tentu tidak akan aman, tadi hampir saja kita ketahuan," balasku kepadanya yang langsung dianggukkan oleh senior Anming dengan cepat.
Aku yang sudah menyelesaikan riset data milik senior Feng segera saja mulai merapihkan barang yang sudah aku bawa dari asrama sebelumnya.
Aku mengeluarkan bebek hiasanku yang bisa aku gunakan untuk mouse milikku, aku juga mengganti karpet di tempat dudukku dengan karpet gambar bebek berwarna kuning yang cantik dan sangat lucu, di tambah mengeluarkan sebuah bantal bebek yang berukuran sedang, untuk aku beristirahat jika nantinya aku merasa lelah atau harus pulang larut malam jika tengah di labolatorium.
Senior Anming yang melihatku terus mengeluarkan semua benda berbau bebek dan kuning dia terlihat tertarik pada barang-barang miliku saat itu hingga mendekat padaku dan menanyakan semua barang lucu yang aku keluarkan saat itu.
"Wahhh..Zhan Tao darimana kamu bisa menemukan gelas bebek berwarna kuning begitu, dan bantalnya ahaha..ini lucu dan empuk sekali apa kau semacam pecinta bebek ya?" Tanya senior Anming kepadaku.
"Jika kamu suka juga aku bisa berbagi denganmu senior Anming," balasku kepadanya dan dia terlihat sangat senang.
Aku langsung menganggukkan kepada kepadanya karena memang benar aku sangat menyukai semua hal yang berkaitan dengan bebek, apalagi bebek yang berwarna kuning dan sangat lucu, makanya aku sering mengoleksi beberapa barang yang lucu tentang bebek kuning yang menggemaskan, termasuk dengan gantungan kunci yang aku pakai sebagai gantungan di resleting tasku.
Dimana gantungan itu adalah sejarah aku yang bertemu dengan profesor Ling untuk pertama kalinya, dan karena gantungan itu juga aku bisa bertemu dengan pria se keren profesor Ling ini, sampai bisa berkenalan dengannya hingga di tahap ini.
Aku selalu senang dan menjadi baper sendiri setiap kali mengingat kejadian di toko buku kala itu, aku sungguh ingin semuanya terjadi lagi padaku.
Sampai ketika aku tengah asik membayangkan kejadian yang indah itu senior Feng datang menghampiri aku dan menepuk sebelah pundakku hingga membuat aku kaget dan semua bayanganku tentang kejadian manis tersebut langsung saja hancur berkeping-keping hanya dalam waktu yang begitu singkat.
"Zhan Tao...dimana datanya, apakah sudah selesai?" Tanya dia padaku sambil menepuk pundakku cukup kuat secara tiba-tiba saat itu.
"Astaga....aahhh senior Feng kamu mengagetkan aku saja, aku akan mencetak datanya sekarang semuanya sudah selesai kok," balasku kepadanya saat itu.
"Ohh baiklah, aku tunggu ya," balasnya saat itu.
Aku mengangguk dan segera pergi menuju tempat untuk mencetak berkas disana, mulai memakai mesinnya dan terus saja menyusun beberapa lembar data itu sendiri hingga setelah selesai aku segera kembali memberikan data tersebut kepada senior Feng dengan cepat, sambil segera hendak pergi ke ruangan profesor Ling karena aku belum membersihkan ruangannya.
"Senior Feng ini datanya, kamu periksa dahulu ya, jika ada kesalahan aku akan memperbaikinya nanti, sekarang aku harus membersihkan ruangan profesor Ling dahulu," ujarku sambil memberikan sekumpulan data tersebut kepadanya.
"Baiklah terimakasih Zhan Tao." Balas dia padaku dan aku hanya membalasnya dengan mengangguk kepala dengan cepat.