
Setibanya di asrama aku benar-benar tidak memiliki energi apapun, dan Xinxin langsung mendekati aku saat itu.
Dia mengira aku sudah berhasil membuat profesor Ling menyukai aku balik, maka dari itu saat aku pulang dia begitu senang dan bersemangat sekali menyambutku sambil terus saja bertanya mengenai perkembangan percintaan diriku dengan profesor Ling saat itu.
"Waahh...si ahli pengejar cinta kita sudah kembali, bagaimana hasilnya, kau tidur sudah yang ke dua kalinya di rumah profesor Ling, bukankah ini lampu hijau yang menyala dengan terang, ayo ceritakan padaku, apa saja yang sudah kau lakukan dengannya, kau pasti sudah jadian ya?" Ucap Xinxin yang benar-benar sudah salah sangka.
Aku hanya duduk dengan tertunduk lesu lalu langsung saja menangis keras disaat Xinxin menduga hal tersebut kepadaku.
"Huaaa....Xinxin kau salah besar, profesor Ling tidak menyukai aku, dia menganggap aku selalu merepotkan dirinya, dia bilang dia hanya merasa kasihan padaku, dia sama sekali tidak menyukai aku, dan dia bersikap baik padaku benar-benar terpaksa karena aku yang selalu membuatnya terdesak, dia bilang aku tanggung jawabnya karena aku tinggal di laboratorium dengan pengawasan dia, huaa...hiks..hiks...Xinxin aku harus bagaimana lagi sekarang, dia benar-benar tidak menyukai aku." Ucapku terus saja menangis dengan keras kepadanya.
Xinxin membelakkan matanya dengan sangat lebar dan dia langsung saja memeluk aku dengan erat sambil mengusap kepalaku beberapa kali untuk memberikan ketenangan padaku saat itu.
"Cup ..cup... cup, sudah sudah jangan menangis lagi, dia memang pria yang sangat menjengkelkan, lagi pula kenapa kau harus menyukai pria sepertinya sih, ingat Zhan Tao jika dia sudah bisa mencampakkan kamu seperti ini dan sudah tidak bisa kamu kejar lagi, sekarang semuanya ada di tanganmu, kau akan mengejarnya dan terus sakit seperti ini atau berhenti dan memulai awal yang baru lagi." Ucap Xinxin memberikan nasihat padaku.
"Aku mau berhenti saja Xinxin, tapi aku tidak tahu apakah aku bisa melupakan profesor Ling atau tidak, dia cinta pertamaku dan aku sangat mencintai dia sekali, aku takut aku tidak bisa melupakan dia, terlebih aku akan bertemu dengannya setiap hari, huaaa..aku harus bagaimana?" Balasku kepada Xinxin saat itu.
"Aku punya ide." Balas Xinxin yang membuatku langsung berhenti menangis dan menatap serius kepadanya saat itu.
"Ide? Ide apa yang kau miliki, awas saja jika idenya buruk, aku tidak mau melakukannya." Balasku sambil kembali bertanya kepadanya.
Xinxin tersenyum kecil kepadaku dan dia terlihat begitu percaya diri dengan ide yang dia miliki di kepalanya saat itu, sehingga dia mulai membisikkan sesuatu kepadaku, aku terus saja menatap penuh curiga dengannya.
Hingga beberapa jam berlalu aku berniat pergi membeli makanan untuk makan siangku, aku tidak bisa terus berdiam diri di asrama, apalagi dalam keadaan yang tengah bersedih seperti ini, nanti yang ada aku akan semakin tidak bisa melupakan profesor Ling, jadi aku memutuskan untuk pergi keluar saja.
Tapi sayangnya Xinxin tidak bisa menemani aku, karena dia lagi-lagi malah pergi berkencan dengan pacarnya ke taman bermain, memang terdengar sedikit aneh, sebab caranya kencang malah ke tempat yang di datangi banyak anak-anak seperti itu, tetapi jika aku memiliki pacar seperti dia, aku juga pasti akan melakukan hal yang sama.
"Huaaa...aku juga ingin punya pacar, aku ingin kencan, aku ingin di suapi aku ingin di gendong, hiks...hiks..kenapa aku sangat menyedihkan sekali." Teriakku sangat kencang dan terus saja merasa sedih di tengah jalan seorang diri.
Hingga tidak lama aku malah berpapasan dengan Jingmi dan dia menyapaku dengan segera.
"Zhan Tao sedang apa kau disini, dan kenapa matamu bengkak begitu? Apa kau baru saja menangis?" Tanya dia kepadaku dengan cepat aku langsung mengusap wajahku dan menjawabnya dengan segera.
"Ah? Aku menangis? Tidaklah aku hanya kelilipan saat berjalan tadi, tapi ini sudah baik-baik saja kok, tapi kenapa kau berkeliaran, bukannya kau masih sakit ya?" Tanyaku balik kepadanya.
Aku senang jika Jingmi sudah sembuh, setidaknya jika ada dia aku tidak akan merasa terlalu kesepian, sebab masih ada dia yang mau menjagaku dan mau menemani aku kapan dan dimanapun aku berada.
"Eumm... syukurlah kalau kau sudah sembuh, aku sangat senang sekali mendengarnya, jadi sekarang kau bisa menemani aku lagi kan?" Balasku padanya saat itu.
"Tentu saja, memangnya kau mau aku menemanimu kemana?" Tanya dia padaku saat itu.
"Aku mau ke taman bermain, ayo kita kesana Jingmi, aku iri sekali pada Xinxin." Ucapku kepadanya dengan wajah yang memohon.
Dia malah membalas ucapanku dengan senyuman lebar dan malah balik bertanya dan menertawakan permintaanku tersebut.
"Ahahah....untuk apa kau mau ke taman bermain dan apa hubungannya dengan Xinxin?" Balas Jingmi padaku saat itu.
"Dia pergi berkencan ke taman bermain dengan pacarnya, aku sama sekali tidak punya pacar tapi aku ingin pergi kesana, hanya kau satu-satunya orang yang bisa aku ajak kesan Xiuying pulang kampung dan Yimin ada turnamen hari ini, mereka tidak ada yang bisa menemaniku, aku mohon ayolah kita pergi kesana, ayo Jingmi." Balasku sambil memegangi tangannya dan terus memohon kepada dia saat itu.
Sedangkan disisi lain tanpa Zhan Tao ketahui saat itu ada profesor Ling dengan senior Anming yang tengah membawa banyak buku sebab mereka baru saja pulang dari toko buku yang ada di sekitar sana.
Melihat bagaimana Zhan Tao menarik tangan Jingmi dan Jingmi yang mengusap kepa Zhan Tao, itu membuat profesor Ling sangat kesal hingga dia mengeratkan kedua tangannya yang memegangi buku dengan sangat erat, senior Anming yang melihat hal itu dia bisa mengerti apa yang dirasakan oleh profesor Ling, sebab sejak awal dia juga sudah merasa bahwa ada yang aneh dengan temannya itu semenjak kehadiran Zhan Tao di laboratoriumnya.
"Ekhm.... profesor Ling kalau kau tidak senang melihat mereka terlalu dekat sebenarnya sangat mudah untukmu mendapatkan Zhan Tao, asal kau tidak perlu gengsi saja." Ucap senior Anming kepadanya.
Dengan cepat profesor Ling langsung menoleh ke arah senior Anming dengan memasang wajah yang datar serta tatapan yang tajam seakan tengah memberikan peringatan kepadanya, mendapatkan tatapan seperti itu tentu saja membuat senior Anming tidak bisa berkutik lagi dan dengan segera dia langsung membuat dirinya terdiam dengan memperagakan sebuah resleting pada mulutnya seakan dia memberikan isyarat bahwa dia akan menutup mulut dengan rapat.
"Astaga ..kenapa dia sangat menyeramkan sekali saat cemburu." Batin senior Anming saat itu.
Profesor Ling langsung saja pergi dari sana dengan segera dan dia malah memberikan setumpuk buku yang dia bawa kepada senior Anming secara tiba-tiba.
"Bawa ini ke ruanganku." Ucap profesor Ling memberikannya begitu saja.
"Eehh... profesor Ling hei...kenapa kau malah memberikannya kepadaku, Ling hei.... profesor Ling, astaga....aaahh aku juga yang harus membereskan semuanya." Gerutu senior Anming dengan kesulitan membawa setumpuk buku hingga menyulitkan dia untuk berjalan saat itu.