Professor Ling I Love You

Professor Ling I Love You
Alasan Dia



Bahkan saat itu masih bisa aku rasakan dengan kuat, tanganku bergetar dengan hebat disaat senior Sisi menariknya dan menempelkan kartu itu hingga pintu ruangan pribadi profesor Ling terbuka saat itu, dan nampak profesor Ling menatap ke arah kami dengan tatapan matanya yang dingin dan tajam sama seperti biasanya.


Kini ketakutanku menjadi bertambah bukan hanya takut melihat senior Sisi saja, tapi juga takut dengan tatapan dari profesor Ling juga saat ini.


"Heh kenapa kau diam saja ayo cepat masuk, apa kau mau aku seret lagi hah?" Bentak senior Sisi padaku saat itu.


Karena takut aku segera masuk mengikuti dia ke dalam dan yang tidak aku duga senior Sisi ini benar-benar sangat menyeramkan dia bahkan berani meninggikan suara di depan seorang profesor Ling saat itu, dan dia berani memanggil profesor Ling tanpa gelar yang dia miliki dan hanya memanggil namanya saja dengan sangat lantang saat itu.


"Ling Hao! Beraninya kau memasukkan mahasiswa S1 ke dalam labolatorium tanpa memberitahuku terlebih dahulu, apa kau mau menghancurkan labolatorium ini dengan memasukkan mahasiswa yang baru saja masuk ke dunia perkuliahan sepertinya hah?" Bentak senior Sisi sangat kencang dengan kedua matanya yang terbelalak sangat lebar dan besar.


Aku saja benar-benar sangat kaget dan tersentak ke belakang untuk beberapa saat sebelumnya, itu benar-benar membuat aku syok dan kaget sangat berat sebab dia begitu menyeramkan ketika tengah marah seperti itu.


"Ya ampun apa yang harus aku lakukan sekarang mereka berdua sama-sama menyeramkan, astaga matilah aku sekarang." Batinku terus saja mengucek ujung pakaianku sendiri saat itu tiada henti sampai tidak lama profesor Ling menjawab ucapan dari senior Sisi dengan wajah datar dan begitu santai seakan semua bentakkan dari senior Sisi sama sekali tidak ada artinya bagi dia saat itu.


"Sisi apa kau pikir kau memiliki wewenang disini, kau hanya senior dan orang pertama yang masuk ke sini bukan orang yang mendirikannya atau memberikan aku bantuan dalam bentuk finansial atau hal lainnya yang berhubungan dengan pembangunan tempat ini, jadi kau tidak berhak bicara sekarang itu denganku, meski usia kita sama dan hanya beda beberapa hari tadi disini kau tetaplah murid yang aku ajar, tidak pantas untukmu melawan pada seorang gurumu meski usianya sama denganmu bukan?" Ucap Profesor Ling yang membuat senior Sisi langsung terdiam dengan cepat saat itu juga.


Dia langsung melipat kedua bibirnya dan menatap tajam beralis kepadaku untuk beberapa saat hingga mulai memalingkan lagi pandangan ke depan dan terlihat begitu kesal atas ucapan dari profesor Ling saat itu.


"Baiklah jika kau tidak menganggap aku sama sekali, tapi setidaknya aku harus tahu apa alasanmu memasukkan dia ke dalam labolatorium ini dan mendapatkan kartu akses darimu bahkan dia terlihat lebih banyak mendapat hal istimewa dibandingkan aku yang menjadi orang pertama menjadi muridmu sampai saat ini." Balas senior Sisi lagi.


Akhirnya setelah mendengar permintaan dari senior Sisi profesor Ling mulai mengatakan alasa dia memasukkan aku ke dalam laboratorium yang dia pimpin saat ini.


Bukan hanya senior Sisi saja tetapi aku juga merasa sangat penasaran sekali tentang apa yang akan di jawab oleh profesor Ling saat itu sebab dia juga tidak pernah mengatakan kepadaku apa alasan dia memasukkan aku ke labolatorium ini, terlebih caranya begitu mudah dan langsung saja di berikan akses masuk khusus pada labolatorium tersebut hanya dalam hitungan jam saja, dia juga tidak pernah memberikan aku soal ujian untuk tes masukku ke dalam labolatorium itu maupun hal lainnya yang mungkin akan diberikan oleh laboratorium lain ketika ada mahasiswa yang masuk ke sana nantinya.


"Sisi jika kau ingin mendengarkan alasannya maka dengar ini baik-baik, dia aku masukkan kesini hanya sebagai asistenku, termasuk orang yang akan membersihkan ruanganku ini, dia juga bisa membantumu dengan rekan yang lainnya, itulah fungsinya, dan harusnya kau sudah mengerti itu sejak awal aku sudah memberitahu bahwa Zhan Tao ini, bukan untuk meneliti apapun dan dia pasti akan bisa melakukan pekerjaan ini dengan baik, bukankah begitu Zhan Tao?" Ucap profesor Ling sambil menatap kepadaku.


Karena takut dengan senior Sisi langsung saja aku mengangguk dengan cepat agar senior Sisi tidak lagi memperpanjang masalah ini, lagi pula apa yang dikatakan oleh profesor Ling memang benar juga, aku tidak akan mungkin mengerjakan tugas penelitian seperti yang lainnya sebab di lihat dari jurusannya saja aku sudah sangat berbeda dan tidak mungkin sejalur dengan penelitian yang tengah dilakukan oleh labolatorium ini sekarang. Sampai akhirnya senior Sisi mau mengalah dan dia langsung saja keluar darinya dengan cepat, walau wajahnya terlihat sangat kesal bahkan dia juga menyenggol sebelah pundakku cukup keras saat itu, membuat aku hampir jatuh tersungkur sebelumnya, untung saja saat itu aku masih sempat mengembalikan keseimbangan badanku sehingga aku tidak benar-benar jatuh dan menanggung malu saat itu.


"Aaaa ....ahhh...., Ya ampun apa senior Sisi membenciku saat ini?" Gerutuku memikirkan sambil melihat punggung senior Sisi yang menjauh bahkan dia langsung keluar dari labolatorium tersebut secepat nya.


"Heh ...sedang apa kau masih disini, sana keluar dan kerjakan tugasmu itu!" Ucap profesor Ling kepadaku.


Aku baru sadar kalau saat itu masih berada di dalam ruangannya, dengan cepat aku pergi dari sana dan kembali duduk di mejaku sambil mulai menyalakan komputerku lagi dan menyelesaikan data yang di minta oleh senior Feng untuk aku rapihkan saat itu.


Aku juga segera saja merapihkannya lagi dengan teliti dan secara perlahan, hingga jam pulang akhirnya tiba dan aku bisa segera pergi dari sana, aku pergi lebih dulu saat itu karena masih ada urusan yang harus aku selesaikan dengan Xiuying juga Xinxin, selepas pulang dari labolatorium saat ini.


"Aaahh... Senior aku pulang dulu ya, aku masih harus segera pergi sekarang," ucapku kepadanya saat itu.


"Iya Zhan Tao hati-hati dijalan ya, sekarang sudah gelap," ucap senior An Ming juga senior Feng saat itu.


Aku mengangguk kepadanya dan segera pergi dari sana dengan memakai tas milikku saat itu, sampai saat aku keluar dari labolatorium aku melihat ada Jingmi di depan pintu masuk gedung tersebut, aku heran mengapa dia ada disana dan di luar ternyata tengah hujan saat itu.


"Yah....hujan aku tidak membawa payung sekarang, bagaimana ini?" Gerutuku saat itu.


Aku terus berjalan hingga melihat keberadaan Jingmi yang berdiri seorang di depan pintu masuk saat itu.


Aku pun segera menghampirinya dengan cepat sambil menyapa dia saat itu.


"Eehh..apakah itu Jingmi, sedang apa dia disini? Jingmi!" Teriakku sambil berjalan menghampiri dia dengan cepat saat itu juga.


"Ehh..Zhan Tao kau sudah keluar, ayo kita pulang," ajak dia begitu saja kepadaku.


Tentu aku langsung membelalakkan mata merasa sedikit bingung dan heran karena dia tiba-tiba saja muncul disana dan sekarang malah mengajak aku untuk pulang begitu saja, jadi aku mulai menanyakan kepada dia apa urusannya tinggal berdiri disana saat itu.


"Jingmi jangan bilang kalau kamu sedari tadi menungguku disini ya?" Tanyaku kepada dia saat itu.


"Iya, tentu saja aku menunggumu, memangnya jika bukan kamu siapa lagi yang akan aku tunggu, tidak ada siapapun lagi yang aku kenal di sini," balasnya padaku saat itu.


"Ehehe...iya juga sih, tapi darimana kamu tahu aku masuk ke labolatorium ini sekarang? Dan untuk apa juga kamu menungguku disini, apa ada hal penting yang ingin kamu bicarakan padaku?" Tanyaku bertubi-tubi kepadanya saat itu.


"Pertama aku tahu dari Yimin dan kedua aku tidak perlu memiliki alasan untuk menjemputmu karena aku tahu hari ini akan hujan dan kau pasti tidak akan membawa payung, jadi tolong jangan banyak tanya lagi, ayo pulang aku akan mengantarmu." Ujarnya menjawab semua pertanyaanku saat itu.


Aku tersenyum menanggapi ucapan darinya karena wajah dan cara dia menjawab ucapanku begitu lucu, sangat serius dan sedikit menggemaskan, aku mengangguk dan dia langsung membukakan payungnya, kali berjalan beriringan saat itu dan terus saja dia mengalengkan tangannya ke pundakku mendekatkan aku agar tidak kehujanan sedikitpun padahal pundak dia sendiri kehujanan dan sedikit basah saat itu.


"Jingmi pundakmu basah, kau jangan mementingkan aku terus kita pakai payungnya dengan adil." Ucapku kepadanya dan membenarkan cara dia memegangi patung hitam tersebut dengan cepat.


"Ahh..akhirnya sampai juga, Jingmi terimakasih banyak kamu datang, jika tidak ada kamu tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya, besok aku juga akan menyiapkan payung supaya bisa siap sedia nantinya," ujarku padanya saat itu.


"Tidak usah, aku akan datang untuk memberikan tumpangan payungku padamu kamu tidak perlu membelinya bukankah kau ingin mengumpulkan uangmu, kau simpan saja itu jangan membeli payung di musim hujan harganya akan mahal sekali," ujar Jingmi memberitahuku.


Meski apa yang dikatakan olehnya memang benar, bahwa harga payung di musim hujan selalu melonjak naik, bahkan sampai dia kali lipat, tetapi tetap saja untuk apa aku membeli payung di musim lain karena nanti tidak akan menggunakannya juga.


"Ahaha...Jingmi kau ini ada-ada saja, aku akan tetap membelinya," ucapku pada dia.


"Ya sudah sana kamu masuk ini sudah malah." Ujarnya menyuruhku masuk.


Aku mengangguk dan sudah membalikkan badan saat itu, tapi aku teringat dengan pakaian Jingmi yang basah sebelah karena dia melindungi aku saat itu, sehingga aku langsung kembali berbalik dan memangg Jingmi lagi sampai membuat Jingmi kembali menatap ke arahku.


"Eehh Jingmi tunggu!," Teriakku menahannya saat itu.


"Ada apa kau memanggilku lagi?" Tanya dia dengan wajahnya yang terlihat penasaran.


"Ini pakai jaketku, ini tidak terlalu terlihat seperti jaket wanita kan, kau akan masuk angin jika pergi ke asrama pria dengan pakaian setengah basah seperti itu, sudah sana pergi dan hati-hati di jalan oke." Ucapku sambil memberikan jaket yang aku pakai saat itu.


Dia hanya tersenyum menanggapi ucapanku dan terlihat senang saat aku memberikan pinjam jaket itu kepadanya.


Setelah itu aku juga segera pergi masuk ke asrama dan bertemu dengan ketiga temanku yang selalu kepo dengan percintaanku saat ini, mereka langsung saja bertanya kepadaku dan mengintrogasi aku disaat aku baru saja membukakan pintu kamar kami saat itu.


"Huaaa...Zhan Tao bagaimana apakah tinggal di labolatorium itu menyenangkan, apa sulit, apa banyak senior tampan disana?" Tanya Xinxin menjadi orang yang paling antusias diantara yang lainnya saat itu.


"Aish..kalian ini, apa hanya itu yang kalian pikirkan tentang labolatorium? Tidak ada sama sekali aku tidak memperhatikan hal itu, hanya saja disana ada macan wanita yang sangat menyeramkan, aku tadi baru saja bermasalah denganya dan aku sangat lah sekarang, hmmm," ucapku sambil duduk di kursi belajarku dan menaruh kepalaku diatas meja dengan lesu saat itu juga.


Xinxin yang merasa sangat penasaran dia segera mendekati aku dan terus saja mendesak aku untuk menceritakan semua hal yang aku lewati di labolatorium tersebut sejak awal masuk ke sana, padahal saat aku aku sungguh tidak ingin membahasnya, apalagi disaat dia malah menanyakan tentang macan wanita tersebut kepadaku.


Itu adalah hal yang paling membuat aku tidak senang dan sangat tidak betah berada di dalam labolatorium tersebut.


"Zhan Tao ayolah cerita padaku, aku sangat penasaran sekali tahu, ayolah Zhan Tao cerita padaku, Zhan Tao!" Ucap Xinxin yang terus saja merengek bak seperti anak kecil yang meminta angpao di hari raya.


Dia benar-benar sangat mengganggu saat itu, di tambah dia terus menarik tanganku dan menggoyangkan badanku sambil terus mendesak agar aku mau bercerita dengannya padahal saat itu aku sudah menolak terus menerus kepadanya dia tetap saja tidak bisa di halangi sama sekali dan tidak pernah menyerah untuk mendesak aku dan membujukku tiada henti, sampai malah aku yang menjadi cukup kesal dalam menghadapinya saat itu.


"Tidak...aku tidak akan menceritakannya semua hal yang terjadi disana lebih banyak hal yang menyebalkan dan menghancurkan moodku hari ini dibandingkan dengan kesenangannya, jadi aku tidak akan cerita apapun," balasku yang terus saja tidak ingin menceritakannya meski Xinxin terus merengek seperti itu.


Sampai tidak lama kak Xiuying bahkan malah ikut campur dan dia juga menyuruh aku untuk mengabulkan keinginan dari Xinxin sebab bukan hanya menggangguku saja tetapi suara rengekannya itu mengangguk kak Xiuying yang tengah belajar malam itu.


"Zhan Tao kenapa kau membiarkan sahabatmu merengek terus seperti bayi, aku kabulkan saja keinginannya itu, jangan membuat dia menjadi pengganggu belajarku, atau kalian akan aku keluarkan dari asrama ini." Ujar kak Xiuying yang menyeramkan sekali saat itu.


Karena aku juga takut dengan ancaman dari kak Xiuying aku pun mengabulkannya dengan cepat dan segar saja menyuruh Xinxin untuk dia dan duduk di sampingku saat itu juga, sebab tidakungkin dia akan mendengarkan ceritaku sambil berdiri terus di samping meja seperti itu.


"Aahh..baiklah baiklah, ayo duduk dan berhentilah merengek kau ini sangat menjengkelkan sekali sih." Balasku berkata kepadanya saat itu juga.


Benar saja Xinxin langsung terlihat sangat senang dan wajahnya begitu ceria ketika aku suda mengabulkan keinginannya saat itu, dia juga sangat menurut, langsung duduk dengan benar dan memandangi aku dengan begitu serius sekali, terlihat jelas kalau dia manusi paling kepo dan penasaran nomor satu di dunia ini dengan percintaan orang lain, padahal dia sendiri sudah memiliki pacar entah apa yang membuat dia menjadi gila seperti itu benar-benar membuatku kesulitan sekali dalam menghadapinya.


"Ahah...iya iya aku duduk sekarang, ayo cepat cerita Zhan Tao aku sudah sangat tidak sabar mendengarkan cerita darimu itu hehe," balasnya malah cengengesan sedikit.


"Huuhh..oke, jadi begini sebenarnya profesor Ling memasukkan aku ke labolatoriumnya bukan karena dia mau menerima aku ataupun karena dia tertarik padaku namun rupanya karena dia membutuhkan seseorang yang harus dia pakai untuk jadi asisten dirinya termasuk membantu pekerjaan para senior lainnya namun itu hanya untuk tugas ringan saja bukan benar-benar meneliti sesuatu sendiri atau terlibat dengan penelitian utama mereka saat ini," balasku mulai menceritakannya dengan jelas.


Baru saja dia mendengarkan cerita separuh dariku, Xinxin sudah mulai terpancing emosi tidak jelas dan malah terlihat marah sampai menggebrak meja cukup kencang saat itu bahkan Yimin yang sedang bermain game saja dia sangat kaget mendengarnya dan ikut memarahi Xinxin akibat ulahnya yang terkesan terlalu berlebihan tersebut, padahal aku yang mengalaminya secara langsung namun malah dia yang marah dan meledak-ledak seperti itu.


"APA? BRAK!" Suara gebrakan dan teriakkan Xinxin yang membuat semua orang kaget saat itu juga.


"Astaga...Xinxin apa kamu gila jangan berteriak sekencang itu kak Xiuying sedang belajar apa kau berani mengganggunya ya?" Ucapku menyadarkan dia.


Dan saat itu kak Xiuying dan Yimin sudah menatap tajam ke arah Xinxin dan menyipitkan kedua mata mereka, seakan mereka benar-benar tengah memberikan peringatan dengan tatapan tajam mereka pada Xinxin saat itua agar tidak berbuat hal lain lagi yang bisa membuyarkan fokus mereka berdua saat itu.


"Ehehe...maafkan aku Yimin kak Xiuying aku keceplosan tadi, ayo silakan lanjutkan lagi urusan kalian masing-masing, aku janji tidak akan melakukan hal konyol seperti tadi lagi, ayo cepat, lanjutkan saja hehe," balas Xinxin sambil tersenyum garing dan dia juga pasti takut dengan tatapan tajam yang dia dapatkan dari dia orang sekaligus saat itu.


Sedangkan aku sendiri terus berusaha menahan tawa sendiri melihat Xinxin yang sudah terkena tatapan tajam kedua orang itu, karena akibat dirinya sendiri yang memotong ucapanku dan malah berteriak terlalu berlebihan saat itu.


"Xixixi ...rasakan itu, makanya aku kan bilang biarka aku bercerita dahulu sampai selesai baru kau menyanggah ini malah marah lebih dulu, sangat tidak jelas kau ini." Balasku kepadanya saat itu.