
Senior Anming benar-benar di buat gemas dalam menghadapi profesor Ling saat itu, beberapa saat setelah selesai membalut luka di telapak tangan profesor Ling, barulah senior Anming mulai buka suara dan menanyakan kembali apa yang terjadi diantara mereka dengan lebih detail, sebab sedari tadi senior Anming terus saja merasa emosi sendiri mendengar jawaban yang diberikan oleh profesor Ling atas pertanyaan yang dia ajukan, namun walau begitu, senior Anming masih berusaha untuk menahan emosi di dalam dirinya dan masih sanggup untuk menahan semua kekesalan itu.
"Oke, kau benar, memang itu hal yang bagus untukmu, tapi kan belum tentu semua wanita akan senang jika mereka di peluk olehmu, begitu." Balas senior Anming menjelaskannya.
"Aku kan sudah bilang padanya jika itu kesalahan, harusnya jika begitu dia tidak perlu kesal lagi padaku, jika memang tidak suka mendapatkan pelukan seperti itu dariku." Balas profesor Ling lagi.
Membuat senior Anming langsung membelalakkan matanya sangat lebar dan dia langsung mendekati profesor Ling dengan lebih dekat sambil membentak dia sangat keras, saking syok nya mendengar jawaban tersebut darinya.
"KAU BILANG PADANYA , JIKA ITU SEBUAH KESALAHAN?" Astaga kau ini gila atau bagaimana sih, pantas saja Zhan Tao marah besar sampai mendorongmu, aishh..kau pantas menerima semua ini, bahkan seharusnya kau mati saja disana." Ucap senior Anming yang langsung membeludak, mengeluarkan unek-unek di dalam hatinya yang sudah dia tahan sedari tadi.
Profesor Ling mengerutkan kedua alisnya sangat kuat dan dia tidak terima sekaligus tidak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan oleh sahabat seperjuangannya Anming yang telah lama bersama dengan dia dan menemani dia sejak dia bukan siapa-siapa hingga menjadi profesor mudah yang berbakat seperti sekarang ini.
"Hah...apa yang salah denganmu, beraninya kau bicara kasar begitu padaku, sudah jelas disini yang salah adalah dia bukan aku, kenapa kau masih saja membela gadis itu, apa kau menyukainya ya?" Balas profesor Ling yang malah membalikkan pembicaraan tidak jelas seperti itu.
Senior Anming semakin heran dengannya, dia langsung bangkit berdiri dan berkacak pinggang menghadap profesor Ling saat itu.
"Heh, Ling disini aku sebagai temanmu, usia kita sama bahkan aku satu bulan lebih tua darimu, kau harus tahu ini, semua wanita bahkan wanita yang menyukai kau sekalipun, pasti akan kesal dan marah jika kau mengatakan bahwa semua itu adalah kesalahan, padahal kau sudah memeluk dia lebih dulu, lagian kenapa juga kau tiba-tiba memeluknya tanpa alasan, hah?" Balas senior Anming menjelaskan lagi padanya.
Hal itu membuat profesor Ling mulai berpikir dan dia langsung saja tertunduk dengan lesu sambil mengacak rambutnya cukup kasar dan berdecak frustasi sendiri.
"Aaaaahhh ..CK...aku tidak tahu kenapa aku bisa melakukannya." Balas profesor Ling membuat senior Anming emosi sangat besar hingga dia meninju sofa disana berkali-kali, untuk melampiaskan emosi di dalam dirinya.
"Aaarghkk...buk..buk..buk.., kau ini astaga.. sudahlah aku tidak mau ikut campur atau memberitahu kau lagi, kau pergi meminta maaf padanya sendiri atau lakukan apapun itu agar dia tidak marah lagi denganmu, kali ini kau sudah sangat keterlaluan sekali Ling." Balas senior Anming yang sudah tidak tahan lagi untuk menghadapi temannya tersebut.
Dia segera pergi dari sana meninggalkan profesor Ling seorang diri, dan langsung menghubungi Zhan Tao, namun sayangnya sudah berkali-kali senior Anming berusaha menghubungi Zhan Tao, tidak ada balasan apapun darinya bahkan panggilannya tidak dianggap oleh Zhan Tao, senior Anming sangat merasa cemas dengan keadaan dia saat itu, dan terus saja berusaha keras untuk mencari keberadaan Zhan Tao.
Senior Anming tahu Zhan Tao sangat menyukai temannya tersebut dan dia pasti akan sangat kecewa dengan apa yang sudah dilakukan profesor Ling kepadanya.
"Astaga....Zhan Tao kau kemana sih, ayo angkat teleponku." Ucap senior Anming terus berusaha menghubunginya tanpa henti.
Semua usahanya gagal, dia hanya bisa berharap semoga Zhan Tao akan baik-baik saja dan tidak berlarut-larut dalam kesedihan di luar sana.
Di sisi lain aku sungguh merasa sedih, hanya bisa menangis untuk meluapkan emosi di dalam diriku saat itu, tidak ada yang bisa aku lakukan sama sekali selain menangis di jalanan, berjalan sendiri sambil menggerutu tanpa henti, hingga di perjalanan aku bertemu dengan Xinxin.
"Zhan Tao, ada apa denganmu, apa kau menangis ya?" Tanya dia padaku saat itu.
Aku langsung mengusap semua sisa air mata di wajahku dengan cepat, namun semua usaha itu tetap saja gagal, meski aku sudah berusaha keras untuk menghapus air mataku, tetap saja Xinxin mengetahuinya, dia tidak bisa aku bohongi sedikit pun.
"Tidak ada, aku hanya kelilipan saja." Balasku berbohong padanya.
"Apanya yang kelilipan, tidak mungkin matamu sembab dan hidungmu seperti tomat busuk, jika kau hanya kelilipan saja, ayo katakan kenapa kau menangis? Siapa yang berani membuat Zhan Tao ku seperti ini?" Ucap Xinxin sambil merangkul pundakku.
Aku hanya menanggapinya dengan tertawa kecil dan sama sekali tidak bisa mengatakan kejadian sebenarnya terhadap dia.
"Tidak ada, aku mau ke asrama saja, aku kita pergi." Ucapnya kepadaku saat itu.
Bukannya segera pergi ke asrama, dia malah menarik tanganku dan mengajak aku pergi membeli minuman dan makanan sekaligus.
"Aishh...untuk apa ke asrama, kau sedang sedih bukan, aku pun sama, aku baru saja di putuskan oleh pacarku karena ternyata dia selingkuh di belakangku, huaaa..aku tidak mau tersadar, aku ingin minum dan makan-makanan panas, kau harus menemaniku, ayo Zhan Tao, ikut denganku, aku akan membawamu ke tempat yang bisa melupakan semua masalah kita berdua hari ini." Ucapnya sambil langsung saja menarikku bersamanya.
Padahal aku sama sekali tidak menyetujui ajakan darinya tapi dia memasakku sehingga aku sama sekali tidak bisa menolaknya, dia membawa aku ke sebuah kedai makanan yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, cukup ramai orang-orang yang memesan makanan dan minuman disana.
Aku memilih duduk di salah satu meja yang ada di bagian teras tempat tersebut, Xinxin mulai memesan makanan dengan seenaknya da dia juga membeli minuman beberapa botol, membuat aku tercengang ketika mendengarnya saat itu.
Segera saja aku menghentikan dia terlebih dahulu sebelum dia akan menyesal nantinya karena menghabiskan uang terlalu banyak hanya untuk membeli minuman yang bisa membuatnya mabuk dan tidak ingat apapun itu.
"Hei..hei...hei...Xinxin apa kau sudah gila? Untuk apa kau memesan minuman terlalu banyak, satu botol saja itu sudah cukup untukmu dan makanannya, kita itu hanya berdua, apa kau yakin bisa menghabiskannya?" Kataku sambil menahan tangan dia dengan kuat saat itu.
"Tidak masalah, aku baru saja mendapatkan transfer dari ibuku dan kau tahu aku sudah menjual cincin mahal yang dia berikan untukku sebelumnya, aku akan menghabiskan uang manusia siala itu, dan kau hanya perlu menemaniku, jadi kau diam, aku akan memesan semua makanan laut dan makanan pedas, degan tujuh botol bir!" Teriak dia dengan wajah yang sudah di penuhi emosi sembari menggebrak meja disana, membuat aku sangat kaget dan begitu malu dengan beberapa orang yang menatap ke arah kami saat itu.