
Aku sungguh sudah pasrah dan tidak bisa melakukan apapun lagi, hanya bisa menggelengkan kepala pelan sambil tertunduk dengan lesu dan menghembuskan nafas penuh dengan ketidak berdayaan, aku juga memang dalam suasana hati yang buruk beberapa saat yang lalu. Namun setelah melihat Xinxin seperti ini aku merasa dia lebih buruk dariku, bahkan dia yang sebelumnya tidak pernah terlihat memakan makanan laut, kini justru memakan sangat banyak dalam sekali santapan.
"Ya ampun Xinxin pelan-pelan, tidak akan ada yang mencuri makananmu, kau bisa tersedak jika terburu-buru seperti itu." Ucapku memperingatinya.
"Tidak bisa Zhan Tao, aku sudah menahan semua ini terlalu lama, kau tahu, aku berusaha keras mengesampingkan semua hal yang aku sukai untuk bertahan menjadi kekasihnya, aku tidak makan makanan laut kesayanganku, aku juga tidak memakai sepedaku lagi demi dia, tapi dia malah selingkuh degan gadis yang lebih kaya dariku. Huaaa...hiks....hiks..Zhan Tao aku harus bagaimana sekarang ini." Ucapnya kepadaku saat itu.
Aku langsung saja merasa semakin cemas dan iba melihat kondisi dia yang lebih buruk dibandingkan aku saat ini.
"Sudah sudah, tenangkan dirimu, masih banyak pria yang baik di luar sana, kau tidak pantas menangisi pria sepertinya, dia adalah pria sialan aku akan mengh*jar dia jika kau mau." Ucapku sambil terus mengusap tangannya dan berusaha menenangkan dia saat itu.
"Tidak, kau tidak boleh melakukan itu padanya, aku sangat menyukai dia Zhan Tao, aku tidak bisa putus dengannya, aku menyesal huaa...." Balasnya lagi yang semakin membuat aku kebingungan sendiri.
Aku merasa malu dan merasa kasihan dengan keadaan dia saat itu, tapi mau bagaimana lagi tidak ada yang bisa aku lakukan untuk menghentikan tangisannya, aku sendiri juga terlalu emosi dan sangat kesal, tidak bisa melakukan apapun lagi dan hanya bisa mengeluh bersama dengan Xinxin saat itu.
"Hmm..ya sudahlah, kau seharusnya jangan menangisi pria itu lagi, jangan menangisi si brengsek itu, atau aku akan m*nghajar dia dengan kedua tanganku sendiri." Bentakku menatap tajam dengan nafas menderu kepadanya.
Aku sudah sangat emosi, itulah kenapa aku berani membentak dia, karena memang tidak ada pilihan lain lagi yang bisa aku lakukan saat ini, bahkan aku sampai kehilangan kesabaran hingga menggebrak meja dengan keras.
'Brak!' suara gebrakan meja yang sangat kencang olehku.
"Hei... apa-apaan kau ini? Kenapa kau menggebrak meja? Apa kau marah denganku?" Ucap dia kepadaku.
Aku tahu saat itu Xinxin sudah mulai mabuk dan dia terlihat baik dengan matanya yang mulai merah dan bicaranya yang sudah tidak jelas, aku pun menghentikan tangannya yang hendak meminum bir lagi saat itu.
"Sudah cukup! Kau tidak boleh minum lagi, biar aku saya yang menghabiskannya." Ucapku sambil merampas gelas tersebut dan langsung meneguknya sampai habis.
"Wah...wah...Zhan Tao, kau sudah hebat dalam minum ya? Haha..bagus bagus.. kalau begitu apa kau juga sudah berhasil mendapatkan profesor gila itu?" Tanya Xinxin kepadaku.
Aku sebenarnya tidak tahan minum bahkan hanya minum satu gelas saja aku sudah langsung merasa pusing dan sangat tidak terkendali, perlahan pandanganku memudar dan aku tidak tahu harus bicara apa untuk menjawab Xinxin saat itu.
"Ahaha...Xinxin kau salah, aku lebih parah dibandingkan kau, setidaknya kau sudah pernah memiliki dia, walaupun sekarang kalian putus, kau juga bisa cepat menemukan penggantinya, sedangkan aku? Apa....ahaha..aku sangat menyedihkan dia membenciku, tidak pernah menyukai aku, bahkan aku tidak bisa memanggilnya sayang seperti kau sebelumnya, aku sangat menyedihkan huaaa.." balasku sambil terus saja menangis terisak dan menundukkan kepala saat itu.
Xinxin yang sudah sedikit sadar, dia mulai merasa ada yang tidak beres dengan temannya itu, dia pun mulai mengucek matanya dan pergi ke toilet untuk menyegarkan wajah supaya mabuknya bisa sedikit hilang.
Setelah mencuci mukanya dan kembali ke meja sebelumnya, Xinxin justru malah melihat Zhan Tao menghilang, dia tidak ada di meja tempatnya duduk saat itu, hal tersebut tentu membuat kaget Xinxin namun karena dia dalam keadaan mabuk juga, jadi tidak terlalu memperdulikan hal itu, dan sudah tidak banyak berpikir.
"Eehhh, kemana dia pergi, apa dia pulang lebih dulu? Sial, tega sekali Zhan Tao meninggalkan aku sendiri, aaaahh....kepalaku pusing." Ucap Xinxin sambil segera mengambil tas miliknya dan pergi setelah membayar pesanannya.
Dia pulang ke asrama dan langsung tidur, tanpa Xinxin tahu bahwa saat itu Zhan Tao tidak pulang ke asrama, melainkan pergi ke suatu tempat yang menurutnya harus didatangi.
Aku yang masih dalam keadaan mabuk dan tidak terkendali justru malah pergi ke rumah profesor Ling, aku terus saja mengetuk pintunya dengan keras sambil terus saja membawa sandal yang sebelumnya aku bawa dari rumah dia secara tidak sengaja.
Berkali-kali menekan bel di rumah itu, hingga keluarlah profesor Ling dan aku langsung mengulurkan tangan dengan tubuh yang sempoyongan dan hampir jatuh saat itu.
"Zhan Tao, ada apa kau kemari semalam ini?" Tanya profesor Ling kepadaku.
"Ini aku mengembalikan sandal yang tidak sengaja aku bawa kemarin, ayo cepat ambil aku tidak mau melihat wajah menyebalkan itu terlalu lama." Ucapku tak sadarkan diri.
Profesor Ling langsung membelalakkan matanya sangat lebar dia kaget dan segera menahan tubuhku yang hampir jatuh saat itu, namun dengan cepat aku segera menghempaskan tangannya yang memegangi tubuhku, rasanya aku tidak sudi sekali jika dia memegangi tubuhku walau sedikit saja.
"Eeh...Zhan Tao ada apa denganmu, apa kamu baik-baik saja?" Tanya profesor Ling mulai merasa ada yang aneh.
"Aishh..lepaskan aku, beraninya kau memegangi ku, bukankah kau tidak menyukaiku, kau tidak boleh menyentuhku atau memandangku jika kau tidak menyukai aku!" Bentakku kepadanya dengan keras.
"Zhan Tao apa kau mabuk ya?" Balas profesor Ling yang sudah mulai mengetahui kebenarannya.
"Aahh...apa? Aku mabuk? Ahahah..tidak. aku tidak mabuk, aku hanya sedang membersihkan pikiranku, agar tidak terus merasa sedih karena memikirkan profesor Ling sialan itu, hiks..hiks..aku sangat meyedihkan bukan." Balasku kepadanya.
Saat itu karena dalam keadaan mabuk, aku tidak bisa melihat wajah orang lain dengan jelas dan selalu berhalusinasi dan malah mengira orang yang ada di hadapanku ini adalah orang lain bukan profesor Ling, melainkan seseorang yang tidak aku kenal sebelumnya, dan wajahnya juga tidak terlalu jelas hanya saja hatiku merasa aku mengenalnya.
Padahal saat itu aku dalam pengaruh mabuk yang cukup berat.
"Kau siapa berada di rumah profesor gila itu, apa kau adiknya ya? Atau apa kau kakaknya? Tapi ku dengar dia anak tunggal, mana mungkin memiliki adik atau kakak, aaahh kau pembantunya ya?" Ucapku yang terus saja bicara sembarangan.
Profesor Ling pun segera menarik tanganku secara tiba-tiba dan membawa aku masuk ke dalam rumahnya sekaligus, hingga mendudukkan aku di sofa.
"Duduk dan diamlah disini!" Ucapnya dengan tegas kepadaku.
Hingga dia kembali dan membawa segelas air hangat untukku, membantuku minum dan menyuruhku untuk beristirahat di rumahnya.
"Ayo minum lagi." Ucapnya yang langsung aku anggukan dan segera meneguk air lagi beberapa kali.
"Sudah lebih baik?" Tanya profesor Ling kepadaku.
"Tidak, aku sangat pusing, aahh ini semua pasti karena memikirkan profesor bodoh itu, kau tahu aku sudah mengejar dia sangat sangat lama, sejak aku melihat dia di toko buku, pertama kali aku masuk ke universitas ini, sampai sekarang aku sudah hampir ujian akhir, tapi apa yang aku dapatkan, dia membenciku, dia tidak menyukai aku, dia tidak suka aku ada di dekatnya selama ini, huaaa.. aku sangat menyedihkan sekali." Ucapnya bicara terus menerus mengatakan semua keluhan yang aku rasakan.
"Kenapa kau sangat menyukainya?" Tanya profesor Ling kepadaku.
"Aaahh? Aku tidak tahu, yang pasti aku sangat menyukai semua hal yang ada pada dirinya, wajahnya yang tampan, pribadinya yang berwibawa dan senyumnya yang manis, tapi sayangnya aku belum pernah melihat dia tersenyum jadi aku tidak tahu apa dia sungguh semanis itu atau tidak, aaaahh....aku sangat membenci dia, tapi aku menyukainya, aku tidak bisa melupakan orang itu, aku sudah mengorbankan banyak tenaga, waktu dan bahkan uang untuk mendekati dia selama ini, namun semua pengorbanan itu sia-sia." Balasku sambil terus saja merengek dan menangis terisak sangat kencang.
Profesor Ling terus tertawa dan menahan dirinya agar tidak sampai membuat Zhan Tao tersinggung dengan tawanya jika dia tertawa di depan Zhan Tao dengan suara yang keras.
Profesor Ling juga tidak menduga jika ternyata Zhan Tao menyukai dia sebesar itu, bahkan hanya kejadian sebelumnya dia yang memeluk Zhan Tao dan mengatakan itu sebuah kesalahan, justru dia malah langsung melihat keadaan Zhan Tao yang se kacau ini pada malam harinya.
"Hei..sudahlah kau jangan terus merengek seperti anak kecil, ini sudah malah sebaiknya kau pergi tidur saja, ayo aku bantu kau pergi ke kamarmu." Ucap profesor Ling yang langsung memapah aku dan membantuku masuk ke dalam kamar.
Namun saat dia hendak membuka pintu kamar tamu, aku langsung mendorong tubuhnya secara tiba-tiba dan terus saja membentak dia sambil memarahi dia sangat kencang.
"Heh. Siapa kau? Beraninya kau menyentuhku, aku masuk ke dalam kamarku sendiri, kau pasti anak buah si profesor sialan itu kan?" Ucapku sambil terus berjalan sempoyongan kesana kemari hingga memegangi dinding kamar saat itu.
"Ya ampun, Zhan Tao kau akan malu jika sadar nanti, dengan apa yang sudah kau perbuat saat ini, kau memang benar-benar di luar batas, kemari ayo cepat masuk ke kamarmu." Ucap profesor Ling yang terus menarik tanganku secara paksa.
Aku tidak mau menurut dengannya karena saat itu aku mengira dia bukan profesor Ling tetapi mantan pacarnya Xinxin, aku menghempaskan tangan ku yang dia pegang dan berlari masuk ke dalam kamar profesor Ling begitu saja, sampai menidurkan tubuhku sendiri diatas ranjangnya.
"Hei....hei...tunggu kau mau kemana, hei kamarmu disini, jangan kesana!" Teriak profesor Ling yang sangat kaget dan cemas.
Dia segera berlari menyusulku dan masuk ke dalam kamarnya, melihat aku yang sudah tertidur dengan pulang diatas ranjangnya saat itu.
Tentu saja profesor Ling sangat emosi dan kesal karena selama ini tidak ada yang begitu lancang berani menempatkan ranjangnya secara brutal seperti yang aku lakukan, dengan menarik selimutnya sembarangan dan terus berguling kesana kemari dengan leluasa.
"Oh tidak ....ya ampun harusnya tadi aku mengusir dia saja dari rumah ini." Gerutu profesor Ling merasa sangat frustasi karenanya.
Dia sudah mengurut keningnya dengan kuat dan terus saja mencoba mengatur nafasnya sendiri agar tidak terbalut dengan emosi yang terlalu besar dalam dirinya sendiri, dia segera saja berjalan mendekati aku dan mulai menarik selimut yang menutupi wajahku dengan paksa.
"Hei, ayo cepat bangun, pindahlah dari ini, ini bukan kamarmu kau salah masuk." Ucap profesor Ling memberitahuku saat itu.
Sayangnya aku benar-benar sudah sangat mengantu sekali, bahkan aku begitu enggan untuk membuka mataku sendiri, rasanya sangat melelahkan sebab sudah berjalan cukup jauh untuk sampai ke rumah profesor Ling dan aku merasa pusing sebab meminum banyak bir sebelumnya jadi aku benar-benar tidak tahan lagi sampai terkapar dengan lesu.
Profesor Ling sangat jengkel dan dia sudah mengerang keras untuk menghadapi Zhan Tao yang tidak kunjung bangun juga dari ranjangnya tersebut.
"Aishh...kenapa dia sangat merepotkan sih, hei..Zhan Tao jika kau tidak pergi dari ranjang ku aku akan benar-benar menendangmu dari sini!" Ucap profesor Ling mengancamnya.
Sudah jelas aku memang tidak sadarkan diri dia malah terus berbicara sendiri tidak jelas dan mengancam orang yang tidak sadar dengan cara seperti itu, tentu saja aku tidak akan memahaminya apalagi mendengarkan ucapan dari dia.
Hingga profesor Ling terus menarik kedua tanganku dan dia berniat untuk memindahkan Zhan Tao dengan paksa seorang diri.
"Ayo cepat bangun Zhan Tao, astaga...kau sangat menjengkelkan, cepat bangun hei..." Teriak profesor Ling sambil terus menarik kedua lenganku sangat kuat sekali.
"Eumm...apaan sih, aku tidak mau, aku lelah." Ucapku sambil terus saja menarik kembali tanganku sekaligus.
Hingga membuat profesor Ling tertarik juga dan dia jatuh menimpa tubuhku sampai wajahnya nampak berjarak begitu dekat denganku, bahkan deru nafasnya saja bisa aku rasakan di wajahku saat itu.
Entah apa yang aku pikirkan sampai tiba-tiba saja aku hendak bangkit saat itu dan malah membuat bibirku dan bibirnya bertemu, lalu aku malah mengucapkan selamat malam padanya.
"Muach. Selamat malah profesor." Ucapku sambil segera kembali tidur dan mengesampingkan wajah ke sebelah kanan.
Profesor Ling membelalak matanya sangat lebar dan dia langsung menjatuhkan tubuhnya ke sampingku, diam membeku tidak bisa mengatakan apapun atau bergerak sedikitpun dari posisinya saat itu.
Sambil memegangi bibirnya sendiri dan merasakan degup jantungnya yang semakin memburu.
"Apa yang terjadi denganku?" Batin profesor Ling yang merasa kebingungan sendiri.