Professor Ling I Love You

Professor Ling I Love You
Wahana Seluncur Es



Aku langsung menarik tangannya berusaha memberikan isyarat kepadanya agar dia tidak bersikap seperti itu kepada profesor Ling, karena mau bagaimana pun dia tetaplah orang yang memberikan ilmu kepada kami, wajib hukumnya untuk aku dan Jingmi menghargai beliau mau di dalam kelas ataupun di luar kelas.


"Syyyuut... Jingmi kau tidak boleh bicara seperti itu!" Ucapku sambil menatapnya tajam.


"Tapi Zhan Tao dia ini..." Ucap Jingmi yang terus saja aku berikan tatapan lebih tajam lagi sehingga dia pun akhirnya mau mengalah dan memalingkan pandangan dariku begitu saja.


"Aku akan tetap ikut dengan kalian, apa salahnya untukku ikut mengolahragakan diriku sendiri, lagi pula usiaku tidak terlalu jauh dengan kalian, walaupun aku sudah menjadi profesor tetapi aku bukan orang tua." Balasnya yang tetap saja mau ikut denganku.


Aku tidak bisa menolaknya, selain karena dia adalah profesor Ling yang memberikan aku ilmu dan aku harus menghormati dirinya, aku juga masih sangat menyukai dia, bagaimana mungkin aku bisa melupakan sosok seperti dia hanya dalam beberapa jam saja, tentu saku tidak bisa melakukan semua itu, sehingga aku pun mengijinkan dia untuk ikut denganku serta Jingmi saat itu, dan kami memutuskan untuk pergi bersama saat itu juga.


"Aahh.. baiklah jika kau mau iku dengan kami, aku tidak keberatan, ayo kita pergi bersama-sama saja, lebih banyak orang akan lebih seru, iya kan Jingmi?" Balasku menyetujuinya sambil menatap tersenyum kepada Jingmi saat itu.


Jingmi membalas ucapanku dengan ketus dan terkesan sangat tidak perduli, sehingga dia malah langsung menarik tanganku dan membawa aku pergi dari sana, kami langsung berjalan lebih dulu sedangkan profesor Ling berada di belakang aku dan Jingmi, aku terus saja menatap ke arah wahan kreta luncur yang sangat aku dambakan untuk menaikinya sejak lama.


Wahana itu tidak terlalu ekstrim sebab yang dilewatinya hanya rintangan biasa saja jadi tidak terlalu menakutkan dibandingkan wahana utama yang ada disana, untuk awalan aku memang sangat ingin menaikkan wahana itu sejak kecil jadi aku memilihnya lebih dulu.


"Jingmi, Jingmi aku mau naik wahana kereta luncur itu, sepertinya seru sekali bermain kereta luncur di atas es dan kita bisa bermain salju, walaupun itu salju buatan, hehe, ayo kita kesana cepat." Ucapku sambil menunjuk ke arah wahana itu.


"Iya...iya kau ini merengek sudah seperti anak kecil aja, aku akan beli tiketnya dahulu, kau tunggulah disini." Ucap Jingmi padaku.


Dia kemudian melirik ke arah profesor Ling dengan sinis dan segera pergi dari sana secepatnya, sedangkan aku terus saja berdiri di luar pagar pembatas menyaksikan banyak orang lainnya bermain wajahnya kereta luncur yang sangat canggih, di sampingnya terdapat beberapa pohon cemara buatan dengan ada taburan salju yang cukup tebal dan sebuah kreta luncur dengan tempat duduk sepasang, dimana satu tempat bisa di duduki oleh dua orang, dan akan melaju cukup cepat melintasi beberapa halang rintang yang menakjubkan, bak seperti masuk ke dalam dunia dongeng dan bisa memegangi salju ketika kereta akan berhenti di tengah-tengah jalan nantinya, ada banyak patung dan boneka salju di samping jalanan yang di lewati kereta luncur tersebut.


Semuanya sangat indah dan menakjubkan, terlebih aku suka Disney Princessa sejak aku masih kecil, aku menyukai karakter Elsa yang merupakan ratu dengan kekuatan es dari tangannya, keanggunan dan keberanian Elsa seperti memberikan inspirasi tersendiri kepada diriku sehingga aku sangat menyukainya.


Hingga tidak lama profesor Ling mulai mendekatiku dan aku merasa heran karena aku pikir dia pergi dengan Jingmi membeli tiketnya.


"Eehh... profesor, kau tidak pergi membeli tiketnya?" Tanyaku kepada dia saat itu.


"Tidak. Untuk apa aku bermain permainan konyol seperti ini, memangnya aku anak-anak?" Balas dia dengan wajah yang datar dan jutek sekali saat itu.


"Oh begitu ya, hmm kau memang sangat dewasa profesor Ling, orang seperti anda ini sangat tidak pantas untuk bermain permainan seperti ini, kau sebaiknya menjadi penonton saja untuk mengawasi aku dan Jingmi bermain." Balasku kepadanya sambil mengangguk pelan saat itu.


Hingga tak lama Jingmi datang menghampiri aku dan menunjukkan dua buah tiket yang sudah dia belikan untukku.


"Tada...ayo kita pergi," ucap Jingmi padaku.


Aku langsung menganggukkan kepala dengan wajah yang sangat senang dan riang gembira. "Ayo kita pergi, aku sudah sangat tidak sabar untuk naik wahana itu." Balasku kepadanya dengan wajah yang tidak sabaran.


Jingmi menarik tanganku dan kami segera pergi ke dalam antrian berserta para pengunjung lain yang akan memasuki wahana tersebut, hingga sesampainya di dalam aku segera memilih tempat duduk di bangku ke dua karena menurutku itu adalah tempat paling cocok untuk di duduki dan akan lebih seru jika bisa duduk di barisan paling depan, sayangnya itu sudah lebih dulu di ambil pasangan kekasih lain yang mendahului aku sebelumnya.


"Sudah disini juga bagus, kau tetap bisa melihat ke depan dengan jelas atau mati kita bisa mendapatkan di bagian depan." Ucap Jingmi mengobati rasa kecewaku.


"Eumm, kau benar, disini juga lebih baik dibanding orang dewasa yang hanya menjadi penonton saja, itu sangat membosankan." Balasku kepada Jingmi sambil menatap ke arah profesor Ling yang berdiri tegak dengan melipat kedua tangan di depan dadanya terus menatap tajam ke arahku dan Jingmi yang tengah bersiap saat itu.


Jingmi yang melihat profesor Ling terlalu serius menatap ke arahnya dia langsung saja tidak memperdulikan tatapan itu, lalu segera membantu Zhan Tao untuk memasangkan sabuk pengaman pada kursinya.


"Kemari biar aku bantu kau pasangkan, jika kau takut pegang tanganku dengan erat kau akan aman jika berada di sampingku." Ucap Jingmi kepadaku.


"Yah, aku sudah tahu itu, tapi aku bukan penakut kau tidak perlu mencemaskanku. Hehe," balasku kepadanya sambil di akhiri dengan senyuman yang lebar.


Profesor Ling semakin kesal dan matanya semakin menyipit ketika melihat kedekatan antara Zhan Tao dan Jingmi saat itu.


Dia sangat tidak terima melihat mereka berdua malah tertawa riang dan begitu dekat sampai terus berpegangan tangan dan bak seperti sepasang kekasih ketika menaiki wahana tersebut tanpa dirinya.


"Sial, kenapa mereka begitu dekat, seharusnya tadi aku ikut menaiki wahana itu saja." Gerutu profesor Ling dengan mengeratkan giginya cukup kuat untuk menahan emosi.