Professor Ling I Love You

Professor Ling I Love You
Kedekatan Dengan Jingmi



Xinxin semakin terperangah kaget mendengar ucapan yang aku katakan dan dia langsung saja memegangi tanganku lalu langsung memeluk aku begitu erat sambil berjingkrak ria bersama saat itu.


"Aaarrkkkk.....Zhan Tao sayangku itu artinya profesor Ling, dia...aaahhh dia memperdulikan kamu Zhan Tao, huaaa..selamat Zhan Tao kau harus bersyukur dengan menemani aku kemari, kau bisa bertemu dengan profesor Ling dan satu lagi kau juga harus senang karena kau jatuh akibat high heelsku itu, kamu bisa di belikan sandal oleh professor Ling dan yang lebih luar biasanya kau bisa merasakan di gendong olehnya huaaa..aku sangat iri denganmu bahkan pacarku belum pernah menggendong aku begitu." Ucap Xinxin yang terus saja mengoceh kepadaku saat itu dan meminta aku untuk bersyukur atas semua kejadian memalukan yang aku alami.


Tanpa dia tahu bahwa rasa malunya jauh lebih besar daripada keberuntungannya sendiri saat itu.


"Aishh...kau ini minta saja sana kau gendong dengan pacar kesayangan mu itu, huh," balasku kepadanya sambil segera saja aku menikmati ayah yang sangat lezat di sana.


Bahkan aku juga meminta agar Xinxin membungkus sisa ayah yang tidak habis saat itu karena kita sudah harus segera kembali ke asrama sebelum gerbangnya yang akan di tutup nanti.


"Xinxin sudahlah kita harus kembali sekarang atau kita akan tidur di luar," ucapku kepadanya dan kami segera saja pergi dari sana dengan cepat saat itu juga.


Kami pergi menggunakan jalanan biasa yang harus mengeliling dan memiliki jarak lebih jauh di bandingkan jalan pintas yang sering kami lewati biasanya, sebab jika kami melewati jalan pintas itu sudah pasti aku dan Xinxin tidak akan berani untuk melewatinya sebab rumor dan kejadian sebelumnya yang pernah kami alami membuat aku dan Xinxin tidak berani untuk pergi melewati jalanan sepi itu lagi meskipun kami sudah tahu bahwa saat itu adalah Jingmi bukan hantu seperti rumor yang beredar sebelumnya.


Sesampainya di asrama aku langsung beristirahat karena sudah tidak tahan sangat mengantuk sekali saat itu, begitu juga dengan Xinxin tapi sampai ke esokan paginya aku benar-benar tidak bisa melupakan kejadian yang sangat membuat aku baper malam tadi.


Bahkan aku sudah bangun sangat pagi dan mencuci jas milik profesor Ling dengan cepat dan mengeringkannya di balkon kamar dan menjaganya dengan amat sangat baik saat itu.


Dan saat aku turun ke bawah dengan Xinxin rupanya sudah ada Jingmi menungguku disana dan seperti biasa aku akan pergi berboncengan dengan Jingmi sedangkan Xinxin memakai sepedanya yang sangat merepotkan itu dan sudah cocok dibawa ke rongsokan saja.


"Hai.....kau sudah lama menunggu disini?" Tanyaku pada Jingmi saat itu.


"Tidak baru saja aku tiba, ayo naik," ajak Jingmi padaku yang langsung saja aku balas dengan anggukkan kepala secepatnya saat itu.


Aku juga berpamitan pada Xinxin dan melambaikan tangan padanya karena aku akan pergi duluan dengan Jingmi saat itu.


"Eumm...Xinxin aku pergi duluan ya, daahh sampai bertemu di kelas Xinxin ku..." Ucapku padanya sambil berpegangan pada Jingmi saat itu.


Kami pergi ke kampus dan aku melewati hari dengan sangat ceria dan begitu senang saat ini bahkan aku sama sekali tidak marah disaat Jingmi hampir saja membuat aku akan terjatuh ketika di bonceng olehnya saat itu.


"Aaahhhh...Jini hati-hati dong kau ini sudah seperti seorang bastrad saja, jangan terlalu cepat mengemudikannya!" Ucapku kepada dia.


Dan Jingmi hanya meng iyakan nya saja dengan cepat, hingga sesampainya di kampus aku segera memilik meja di tengah agar bisa melihat profesor Ling lebih jelas karena aku tahu hari ini adalah jadwal dia mengajar lagi di kelasku menggantikan profesor lain yang tidak bisa masuk dalam kelasnya.


Aku sudah sangat bersemangat untuk menyambut kedatangan beliau saat itu dan aku bahkan menjadi cukup rajin pagi ini, aku membersihkan meja belajar dengan tisyu, membuka buku paket dan buku catatan saat itu aku juga mulai menyiapkan alat tulis ku dengan lengkap dan ku terus dengan rapih di samping buku ku saat itu.


Sampai hal tersebut membuat Jingmi menatap aneh kepadaku dan dia mengerutkan kedua alisnya sangat kuat menatapku.


"Heim..Zhan Tao apa kau kesurupan ya?" Ucap Jingmi seenaknya mengatai aku saat itu.


"Aishhh...beraninya kau bilang begitu padaku, apa kau mau aku hajar hah?" Ucapku sambil menunjukkan kepalan tangan ke hadapan wajahnya saat itu.


"Buka begitu habisnya tumben sekali kau terlihat begitu memiliki banyak sekali persiapan yang matang hari ini, padahal biasanya kau sangat kesal, lesu atau terkadang menggerutu karena sudah hari Senin lagi, dan kau sangat membenci hari Senin," ucap Jingmi padaku.


Aku pun langsung saja tersenyum menunjukkan setengah gigiku kepadanya karena apa yang di katakan oleh Jingmi memang sama persis dengan apa yang terjadi dan sesuai dengan kelakuanku sebelumnya.


"Ehehe...begini Jingmi aku kan ingin berubah tidak ada salahnya jika aku menjadi sedikit rajin siapa tahu saja aku bisa menjadi siswa teladan seperti dirimu, lagi pula ini masih cukup awal untuk aku melerbaiki diri bukan? Jadi mungpung masih banyak kesempatan untukku melakukannya," balasku beralasan kepada dia.


Sampai tidak lama anak-anak yang menongkrong di luar mulai buru-buru masuk dan mengatakan dosen akan datang, aku pun segera membenarkan posisi dudukku dengan tegak dan sudah tida sabar untuk menyambut kedatangan profesor Ling di dalam kelas pagi ini.


Namun apa yang terjadi rupanya yang muncul bukanlah profesor Ling tetapi dosen yang biasa mengajar di pajaran ini, hal tersebut benar-benar membuat aku sangat kecewa sampai aku bicara keceplosan dan menghembuskan nafas dengan berat sekali saat itu.


"Padahal aku berharap dia masih sakit," tambahku lagi keceplosan saat itu dan ternyata terdengar oleh Jingmi saat itu, sampai membuat dia langsung menanyakan nya padaku.


"Siapa yang kamu harap agar tetap sakit? Kenapa juga kau terlihat langsung lesu begitu saat dosen masuk?" Tanya Jingmi yang super kepo sekali dengan urusanku ini.


"Aishhh...tidak ada aku hanya sudah kehilangan seluruh energi di dalam diriku, sudahlah belajar dengan baik kau kan mahasiswa teladan janga mengikuti jejaknya aku sudah tidak memiliki mood belajar saat ini." Balasku kepadanya.


Saat itu aku duduk berjauhan dengan Xinxin tapi aku masih bisa melihat dengan jelas bagaimana dia mah meledeki aku saat itu dan dia terlihat begitu puas karena yang masuk ke dalam kelas saat ini bukanlah profesor Ling.


"Haha...rasakan itu haha, kau terlalu berharap sih, jadi kecewa sendiri kan," ucap Xinxin dengan bahasa mulutnya tanpa suara kepadaku saat itu.


Rasanya aku ingin menjambak dia saat itu dan meremas bibirnya yang sangat menjengkelkan sekali karena terus saja meledeki aku tanpa henti saat itu, sedangkan aku yang duduk berjauhan dengannya hanya bisa menahan emosiku sendiri sambil mengepalkan kedua tanganku untuk menahan emosi sendiri saat itu.


"Eeughhh......menyebalkan sekali sih, membuat aku emosi saja!" Gerutuku pelan saat itu.


Sepanjang kelas berlangsung, aku tidak bisa memahami satu ouk kalimat yang di jelaskan oleh dosen di depan saat itu, seakan telingaku menjadi tuli dan mataku malah sekali untuk terjaga, aku hanya terus menunduk lesu dan berkali-kali menguap sampai aku terus mengantuk dan Jingmi berkali kali menahan kepalaku dengan tangannya saat itu agar tidak sampai jatuh ke bawah dan mengenai meja.


"Eughhh....aahh...hoaamm..kenapa lama sekali sih," ucapku yang baru saja tersadar dari tidurku saat itu.


Dan mengetahui Jingmi menaruh tangannya untuk menahan dahulu dan kepala aku agar tidak jatuh ke meja saat itu.


"Jangan tidur atau dosen akan menanyakan materi padamu." Ucap Jingmi memberikan peringatan kepadaku saat itu.


Tapi aku hanya bisa mengangguk saja saat itu sampai akhirnya dosen pergi dan aku masih mengantuk saat itu sampai Xinxin mengagetkan aku dan membentak aku tidak jelas saat itu.


"Bangun woi....sampai kapan kau akan terus menyusahkan Jingmi, bahkan tidur di dalam kelas saja harus Jingmi yang menyanggah kepalamu, tangannya lama-kelamaan akan kram jika terus menyanggah kepalamu dan dia harus mencatat! Apa kau tidak kasihan dengannya." Ucap Xinxin kepadaku.


Aku pun terpaksa segera bangkit berdiri namun Jingmi malah menarik tanganku dan dia menyuruh aku untuk terus tidur selama aku masih mengantuk saat itu, bahkan dia mempersilahkan aku untuk menggunakan pundaknya saat itu.


"Eumm.. iya iya kenapa kau lebih cerewet dari Jingmi nya sendiri sih" gerutuku sambil bangkit berdiri.


"Tunggu, duduk saja disini, kau bisa tetap tidur dan gunakan pundakku jika kau masih mengantuk, aku sama sekali tidak merasa di repotkan ataupun keberatan dengan itu," ucap Jingmi yang sangat baik padaku.


Karena dia sendiri yang menawarkan diri tentu saja aku juga tidak akan segan dan kembali saja aku duduk sambil menyandarkan kepalaku ke pundaknya dan menyuruh Xinxin untuk pergi dari sana lebih dulu saat itu.


"Nah kan, kau dengar sendiri, sudahlah aku mau tidur lagi aku masih mengantuk kau pergi duluan saja Xinxin....hoamm.." ucapku padanya sambil kembali tidur dan memeluk tangan Jingmi sebelah saat itu.


Xinxin terlihat sangat kesal saat itu, karena Jingmi malah terus membela Zhan Tao dan terus memanjakan dirinya, hingga dia langsung saja berdecak pelan dan segera pergi dari sana secepatnya saat itu juga.


"Aishhh....terserah kalian berdua saja, aku benar-benar tidak habis pikir dengan otak kalian berdua terutama kau Jingmi, mau maunya kau terus menuruti Zhan Tao, aahhhh lebih baik aku pergi ke kantin saja." ucap Xinxin saat itu sambil menggelengkan kepala saking tidak mengertinya dengan sikap Jingmi yang terlalu baik di matanya pada Zhan Tao selama ini.


Zhan Tao juga sama sekali tidak memperdulikan Xinxin dan dia terus saja menyuruh dia untuk pergi saja karena sudah sangat mengantuk bahkan sudah hampir kehilangan kesadarannya saat itu.


"Sudah...sana kau pergi saja, berisik sekali sih, Jingmi jika kau pegal bangunkan saja aku, jangan memaksakan diri ya, aku tidur dulu, kamu hangat sekali," ucapku kepadanya sambil segera saja tidur dengan cepat dan terus memegangi tangan Jingmi dengan erat.


Aku sangat nyaman ketika di samping Jingmi dan aku merasa di hadapan dia aku seperti bisa menjadi diriku seutuhnya, tanpa harus berpura-pura melakukan apapun, ataupun berpura-pura menjadi wanita feminim dan lainnya.


Itulah yang membuat aku sudah tidak segan lagi dengannya.