
Kebiasaan aku sejak kecil memang tidak bisa aku abaikan begitu saja, aku selalu merasa lapar ketika malam dan tidak bisa tidur jika perutku dalam keadaan lapar seperti ini, jadi meski aku sudah berusaha keras untuk menahannya dan mencoba untuk mengabaikan rasa lapar di perutku tetap saja aku tidak bisa tidur dan malah membuat aku merasa resah tidak menentu saat itu.
Aku pun memutuskan untuk pergi mencari makanan ke dapur karena aku takut mengganggu profesor Ling saat itu, tapi sayangnya tidak ada apapun yang bisa aku temukan disana, bahkan di dalam lemari esnya sendiri hanya ada sebuah kecap dan saus saja, selain itu hanya banyak minuman soda yang ada disana tidak ada makanan satu pun yang tersedia.
"Hah? Apa dia tidak pernah makan apapun, kenapa isi di kulkasnya hanya minuman semua?" gerutuku memikirkan dengan aneh saat itu.
Terpaksa akhirnya aku tetap harus menemui profesor Ling ke kamarnya saat itu juga.
"Huaaa.. aku benar-benar tidak bisa tidur dalam keadaan lapar seperti ini, terpaksa ku harus menemui profesor Ling." Ucapku bangkit terduduk dan segera pergi untuk menemui profesor Ling saat itu juga.
Aku keluar dari kamar itu dan pergi ke kamar profesor Ling, meski aku sangat takut dengannya tapi aku harus melakukan semua ini, sebab tidak ada cara lain lagi yang bisa aku lakukan, aku tetap harus mengetuk pintu kamarnya dengan cepat.
"Semoga saja dia tidak akan marah atau semakin membenciku." Gerutuku pelan sambil menarik nafas panjang dan berusaha mempersiapkan mentalku sendiri di depan pintu kamarnya.
Hingga aku mulai mengetuk pintu kamarnya beberapa kali sampai profesor Ling datang membukakan pintunya untukku setelah beberapa saat aku mengetuknya.
"Aishh....ada apa kau menggangguku, aku kan sudah bilang jik kau mau tidur di sini kau tidurlah cepat jangan menemuiku lagi!" Bentak profesor Ling kepadaku dengan matanya yang menusuk tajam menatap ke arahku.
Aku benar-benar merasa bersalah karena mengganggu waktu tidurnya tetapi tidak ada cara lain yang bisa aku lakukan, selain dari membangunkan profesor Ling dan meminta sedikit makanan yang dia miliki di rumahnya.
"Aku....itu...aku..." Ucapku gugup saat ingin mengatakan yang sebenarnya kepada dia.
"Cepat katakan atau aku akan menutup pintu kamarku lagi!" Ancam dia kepadaku.
"Aku lapar." Jawabku dengan cepat kepadanya karena dia mendesak aku seperti itu.
Wajah profesor Ling langsung terperangah menatap dengan semakin besar kepadaku, karena dia tidak habis pikir dengan apa yang aku rasakan saat itu, bahkan dia sampai mengusap rambutnya ke belakang dan berkacak pinggang keluar dari kamarnya dengan segera saat itu juga.
"Astaga...jadi kau lapar, lalu membangunkan aku untuk meminta makanan padaku, iya?" Balas dia kepadaku dengan matanya yang semakin melebar.
"Eum..." Balasku sambil mengangguk padanya.
"Ya ampun, apa kau tidak bisa menahan rasa laparmu itu, kenapa kau harus menggangguku, kau ambil saja makanan sendiri di dalam lemari pendingin, jangan menggangguku." Ucap dia sambil hendak kembali masuk ke dalam kamarnya lagi saat itu.
Aku langsung menarik tangannya dan menahan dia dengan kuat, karena sebelumnya aku sudah memeriksa lemari es yang ada di dapurnya profesor Ling dan tidak ada apapun didalam sana, jika pun ada pasti aku sudah memakannya sedari tadi.
"Aish...kenapa lagi kau menahanku?" Ucap dia padaku saat itu.
Dia kembali menghembuskan nafas dengan kasar dan langsung kembali keluar dari kamarnya lalu mengajak aku untuk membuktikan ucapanku barusan.
"Aaaahhh ...oke oke.. ayo ikut aku, kita lihat apakah benar tidak ada apapun di lemari es itu," ucap dia kepadaku saat itu.
Aku mengikutinya dari belakang dan dia terus pergi ke dapur sambil menggerutu kesal padaku, hingga ketika membukakan lemari es nya memang benar-benar tidak ada apapun lagi yang tersisa disana sehingga dia hanya bisa kembali menatap ke arahku dan mulai mengajak aku untuk pergi mencari makanan keluar denganya saat itu.
"Aishh...ya sudah ayo kita pergi ke luar saja, dasar kau merepotkan sekali." Gerutu dia padaku.
Walaupun dia terus menggerutu dengan kesal padaku, tetapi dia masih mau mengajak aku pergi keluar untuk pergi mencari makanan malam itu jadi aku tetap merasa senang dengannya, terlebih hanya aku dan dia yang pergi berdua saja.
Aku terus saja tersenyum senang dan mengikutinya dari belakang saat itu juga.
"Kenapa kau terus tersenyum seperti itu, hah? Aishh...senang ya kau akan aku bawa makan diluar iya?" Ucap dia kepadaku saat tengah memakai sepatunya.
"Hehe...tentu saja aku senang, aku sangat lapar profesor Ling, bagaimana mungkin aku tidak senang jika akan diajak makan malam di luar oleh orang yang aku sukai." Balasku kepadanya.
"Ya ampun, kenapa aku harus mengenal orang seperti dirimu, apa kau tidak sadar kalau kau sangat merepotkan aku, tidur di rumahku, aku yang harus membawamu di mobilku, dan kenapa juga aku yang harus memberimu makan, apa kau ini anakku?" Ucap dia terus menggerutu sambil berjalan lebih dulu di depanku.
Dan aku terus saja berusaha mengimbangi langkah kakinya yang memang cukup cepat tapi aku tidak pernah menyerah akan hal itu sampai kami masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi mencari makanan di malam hari hanya berdua saja.
"Aku memang bukan anakmu profesor Ling tapi aku calon istrimu, hehe." Balasku kepadanya sambil tersenyum senang seorang diri.
"Astaga...astaga...dasar kau ini, berhenti berharap kepadaku aku tidak akan pernah menikah, terlebih dengan wanita yang sangat merepotkan sepertimu." Balas profesor Ling yang membuat aku langsung terdiam dan tidak berani bicara lagi dengannya.
Aku pikir dia bicara seperti itu hanya karena dia tengah marah dan kesal sebab tidurnya malah terganggu olehku, tetapi ucapannya barusan benar-benar membuat aku terus terpikirkan tanpa bisa melupakannya sedikit pun, aku hanya takut jika profesor Ling benar-benar melakukan apa yang dia katakan saat itu.
"Ekm... profesor Ling, apa kau sungguh tidak akan menikah?" Tanyaku kepadanya karena sangat penasaran sekali.
"Tidak!" Balas dia dengan tegas saat itu.
Aku benar-benar merasa sangat lesu dan terus saja terasa begitu tidak bersemangat karena dia bicara seperti itu, padahal aku sudah sangat berharap besar padanya agar dia bisa menjadi calon suamiku bukan hanya sekedar pacarku saja, walaupun sebenarnya saat ini, aku bahkan belum bisa untuk menjadi temannya sekalipun.
"Hmm...kenapa kau tidak mau menikah, apa kau mau hidup seorang diri sampai kau tua, apa kau mau hidup kesepian selamanya?" Balasku kepadanya yang tidak aku sangka ternyata ucapanku itu membuat profesor Ling terdiam dan dia tidak menjawab ucapanku lagi saat itu.
Wajahnya juga terlihat sedikit berbeda dari sebelumnya, dia seperti tengah memikirkan sesuatu yang begitu dalam dan aku sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya tengah dia pikirkan dalam kepalanya tersebut.