Professor Ling I Love You

Professor Ling I Love You
Putus asa



Aku terus saja tersenyum kecil dan sebisa mungkin menahan kesenangan di dalam diriku saat itu, benar-benar sebuah berkah yang luar biasa untukku karena bisa di gendong oleh seorang profesor Ling dan langsung di bawa masuk ke dalam mobilnya saat itu, bahkan disaat aku sudah duduk di mobilnya dia terus saja memperhatikan aku sampai memakai sabuk pengaman pun dia yang mengingatkannya.


Aku terlalu fokus menatap wajah profesor Ling yang sangat tampan dan begitu baper sekali saat itu, sehingga lupa dengan sabuk pengamannya.


"Hei, berhenti terus menatapku dan pakaian sabuk pengaman mu itu." Ucapnya kepadaku saat itu.


"Aahh...iya, aku akan memakainya." Balasku sambil terus tersenyum kepadanya.


Sayangnya saat aku hendak menarik sabuknya, itu sangat sulit sekali dan aku selalu gagal untuk memakainya, hingga profesor Ling yang sudah siap menyetir dia mungkin agak kesal denganku karena terlalu lama untuk memasang sabuk pengamannya sehingga membuat dia terhambat olehku, dia langsung saja menyuruhku diam dan membantu aku untuk memasangkannya, walaupun dia membentak aku tapi aku tetap merasa senang dan sama sekali tidak keberatan dengannya, yang ada justru aku merasa sangat senang karena dia malah membantu aku untuk memasangkan sabuk pengamannya tersebut.


"Aishh...kenapa kau lama sekali, minggir sana, biar aku saja yang memakaikannya, dasar kau ini, memasang sabuk pengaman saja kau tidak becus!" Bentak profesor Ling kepadaku saat itu.


"Itu karena ada kau, semua orang pasti akan salah fokus dan gugup jika di hadapan orang yang di sukainya." Ucapku pelan sambil terus menundukkan kepala.


Sebenarnya aku sangat malu untuk bicara secara terang-terangan seperti itu kepadanya, namun mau bagaimana lagi aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak bicara jujur kepadanya, dan profesor Ling sendiri justru malah langsung saja berdehem pelan sambil segera menjauh dariku setelah dia selesai memasangkan sabuk pengamannya padaku saat itu.


"Ekhmm.... Hei, aku peringatkan padamu, lain kali kau jangan berani-beraninya berbicara secara gamblang seperti itu mengenai perasaanmu padaku." Ucap profesor Ling kepadaku dengan wajahnya yang terlihat cukup gugup.


Dia juga segera menyalakan mobilnya dengan segera melajukan mobil itu perlahan, meninggalkan kawasan halaman laboratorium dan segera pergi menuju kediamannya saat itu sedangkan aku sendiri terus saja merasa heran dan kebingungan.


"Eumm....tapi profesor Ling kenapa aku tidak boleh mengatakannya, aku kan hanya bicara jujur, bahwa aku menyukaimu, memangnya apa salahnya?" Tanyaku lagi kepadanya.


Dan yang membuat aku kaget, profesor Ling malah kembali membentak aku lebih keras di bandingkan sebelumnya saat itu, aku juga tidak menduga bahwa dia bisa membentak aku sekeras itu, mungkin dia benar-benar sangat marah denganku, padahal aku hanya bicara sesuatu dengan fakta yang terjadi dengan perasaan yang aku rasakan pada dia sesungguhnya.


"Aishh ..kenapa kau sangat cerewet sekali sih, kalau aku sudah bilang tidak ya tidak! Intinya kau jangan bicara seperti itu! Lagi pula aku kan sudah tahu kau memang menyukai aku dan terus saja meras kepala mengejarku, jadi kau tidak perlu mengatakannya lagi, itu membuat malu saja!" Balas dia membuat aku sedikit sakit hati dengan ucapannya.


Namun dibandingkan dengan sakit hati aku lebih merasa putus asa untuk mengejar profesor Ling, sebab sudah begitu banyak cara yang aku lakukan selama ini, tapi tidak ada satu pun yang berhasil untuk mendapatkan cinta ataupun balasan darinya, dia selalu mengabaikan aku, giliran sekarang baru saja mau mendapatkan balasan darinya, eh malah dibentak seperti ini dan ternyata memang aku saja yang terlalu percaya diri dengannya, padahal nyatanya profesor Ling ini terus saja kecup kepadaku, membuat aku merasa semakin putus asa untuk mengejar dirinya.


"Heumm...baiklah aku tidak akan bicara seperti itu padamu, tapi itu artinya kau melarang aku untuk mengejarmu ya?" Balasku sambil bertanya lagi padanya.


"Ya. Itu kau tahu, untuk apa lagi kau masih membahasnya, suda diam dan jangan berpikiran yang lain-lain, aku membawamu pulang ke rumahku karena tidak tega membiarkan perempuan harus menginap di laboratorium seorang diri, aku masih seorang manusia dengan hati nurani, jika hal ini terjadi pada perempuan lain aku juga akan melakukan hal yang sama." Balas dia menegaskan kepadaku.


Aku langsung saja menghembuskan nafas dengan lesu, dan benar-benar merasa sangat sedih sekarang ini, ku pikir aku sudah selangkah lebih maju untuk mendekati profesor Ling, nyatanya malah semakin minus.


"Hmmm...iya profesor Ling." Balasku dengan tertunduk lesu padanya.


Terus saja aku diam selama di perjalanan hingga sampai ke kediamannya, tidak ada lagi mood untuk aku bicara, sekalipun aku ingin aku sudah ingat sesuatu yang dia peringatan dengan keras kepadaku hingga sampai membentak aku sekencang tadi, mungkin profesor Ling merasa risih dan jengkel sebab aku yang terus saja mengatakan pada semua orang bahwa aku menyukai profesor Ling, hingga semua orang di laboratorium mengetahuinya, tetapi aku juga tidak benar-benar bermaksud melakukan semua itu.


Semuanya terjadi begitu saja dan tidak bisa aku hentikan, sehingga aku tidak bisa melakukan apapun, mengelak juga bukanlah hal yang tepat.


Sebab aku tidak mungkin berbohong kepada mereka semua soal perasaanku dan aku juga sama sekali tidak bisa menjawab mereka, sehingga aku terus saja hanya bisa diam disaat mereka semua bertanya kepadaku bahwa aku menyukai profesor Ling, sehingga mereka semua malah menyimpulkan bahwa diamku adalah sebuah jawaban yang benar, tapi memang semua yang mereka duga memang sungguh benar.


Jadi mana bisa aku mengelak ucapan dari mereka.


Hingga aku ketika aku hendak masuk ke dalam kamar profesor Ling malah menarik tanganku dan menahan aku cukup kuat saat itu.


"Ada apa profesor Ling, kenapa menahan tanganku?" Tanyaku kepada dia sambil menatap ke arah tanganku yang dia tahan saat itu.


Dengan cepat profesor Ling langsung melepaskan pegangan tangannya kepada tanganku dengan cepat dan langsung saja terlihat agak gugup juga.


"Aaa..aaahh.... Memangnya kau mau kemana apa kau tidak mau makan dulu?" Tanya dia kepadaku saat itu.


"Tidak profesor, aku mau tidur ke kamar saja, lagi pula kau hanya menyediakan kamar untuk aku tinggal bukan, tidak dengan makan malamnya, aku juga tidak merespon dirimu, kalau aku mau makan malam pasti kita harus pergi ke luar." Balasku kepadanya masih dengan wajah yang lesu saat itu.


Segera saja aku pergi ke kamar tamu dan menutup pintu dengan cepat, aku benar-benar merasa putus asa dan tidak mau lagi memiliki banyak ekspektasi berlebihan kepada profesor Ling, sebab aku tidak mau terlalu jatuh hati dengannya lalu aku juga yang sakit dan menanggung semuanya sendiri, dan dia juga sudah pasti akan menyalahkan diriku sendiri sebab memang aku yang sejak awal menaruh banyak harapan tinggi padanya, padahal Xinxin dan Yimin juga sudah memberitahuku untuk menyerah saja dengan professor Ling, tapi aku sendiri yang keras kepala dan masih ingin terus mengejarnya meski beberapa kali merasakan kegagalan dan sampai seperti sekarang ini otakku masih saja ingin mengejar dia dan terus memiliki keinginan kuat untuk mendekati dirinya.


Aku rasa mungkin ini sudah waktunya aku menyerah dan berhenti agar tidak terus memaksakan diri pada kehendak yang tidak bisa aku tentukan sendiri dengan pasti.


Sedangkan disisi lain profesor Ling justru malah membelalakkan matanya dengan heran, dia merasa tidak terima karena Zhan Tao justru malah menolak tawaran darinya, karena rupanya saat itu profesor Ling bukan benar-benar sekedar bertanya saja, tapi dia memang ingin makan malam bersama dengan Zhan Tao, hanya saja Zhan Tao yang sudah lebih dulu menjawab ucapannya dan memotong pembicaraan dia sejak awal jadi membuat dia tidak sempat mengatakan niat awalnya.


Padahal profesor Ling bahkan sudah membeli banyak persediaan makanan di dalam lemari esnya saat itu.


"Aaahh...aku sudah membeli banyak persediaan makanan karena aku takut kau kelaparan, tapi dia malah menolakku begini, aishh... sia-sia saja, untuk apa juga sebelumnya aku malah membeli banyak persediaan makanan, aku juga tidak bisa masak!" Gerutu profesor Ling yang merasa sedikit kecewa saat itu.


Karena kesal gagal mengajak makan malam Zhan Tao, profesor Ling pun segera saja kembali ke kamarnya dengan menghembuskan nafas yang kasar dan berusaha untuk tidak memperdulikan semua hal yang dia pikirkan saat itu.


"Aaaaahhh... sudahlah, untuk apa aku memikirkan masalah tidak penting seperti ini, sangat bukan aku sekali." Tambahnya segera menutup pintu kamar dengan rapat.


Ke esokan paginya aku bangun agak siang, lagi pula hari ini libur aku segera merapihkan tempat tidur yang aku gunakan semalam, aku juga membantu profesor Ling untuk membersihkan seisi rumahnya, setelah aku baru saja selesai mengepel lantai dan mengelap meja, profesor Ling baru saja keluar dari kamarnya dengan rambutnya yang masih setengah basah saat itu.


Dan yang membuat aku kaget, tiba-tiba saja dia menyuruh aku untuk membantunya mengeringkan rambut.


"Hei, sedang apa kau mengelap mejaku, ayo kemari dan jangan sembarang mengelap barang-barang di rumah ini." Ucap dia kepadaku.


Segera aku bangkit berdiri dan menghampiri dia lebih dekat.


"Aku hanya mau membersihkan semua rumahmu untuk bentuk terimakasih sebab kau sudah baik mau membawa aku masuk dan membiarkan aku menumpang tidur dua kali di sini, aku tidak punya uang untuk bayar sewa jadi aku membersihkan rumahmu saja." Balasku kepadanya.


Profesor Ling terus saja menahan tawa saat mendengarnya jawaban dari Zhan Tao yang terkenal sangat lucu untuknya. Namun karena dia tidak ingin dianggap sok dekat dan dianggap seperti menertawakan Zhan Tao makanya dia menahan senyum dengan sekuat tenaganya saat itu.


"Ffftt....dia benar-benar sangat konyol, ada-ada saja pikirannya itu." Batin profesor Ling saat itu.


"Hei...kau tidak perlu melakukan semua itu, kau aku anggap sebagai tamu di rumahku bukan pembantu, jadi berhentilah membersihkan semua isi rumahku, nanti aku akan membayar gaji buta pada pelayan yang biasa membersihkan rumahku ini." Balas dia lagi padaku.


Aku pun mengangguk patuh dengannya, dan segera meminta maaf untuk tidak melakukan hal itu lagi.


"Kalo begitu maafkan, aku aku pikir kau tidak punya pelayan." Balasku kepadanya.


"Aku punya, itu pelayanku." Balas dia sambil menunjuk ke arah sebuah robot pembersih disana.


Melihat itu aku langsung membuka mataku dengan lebar dan menaikkan kedua alisku ke atas, karena merasa sangat heran dengan apa yang di pikirkan oleh jenius sepertinya, dimana profesor Ling malah menunjuk ke arah sebuah robot pembersih yang terus melaju dengan memutar dan bergerak kesana kemari terus menerus menyapu semuanya.


Aku pikir tidak ada robot semacam itu di rumahnya karena terakhir kali aku hanya melihat robot kecil saja, rupanya sudah ada robot baru lagi yang lebih besar dari sebelumnya.


"Wahh.... sepertinya robotmu memang lebih baik dalam urusan membersihkan rumah, dibandingkan denganku, haha...iya, seharusnya aku tidak perlu susah payah melakukan semua ini." Balasku kepadanya.


Aku pun segera saja menaruh lap dan alat pembersih lainnya ke tempat sebelumnya aku mendapatkan semua itu, lalu segera saja aku berpamitan kepadanya untuk pulang.


"Kalau begitu aku pergi ya ini sudah cukup siang, profesor Ling terimakasih atas tumpangannya." Ucapku kepada dia.


Tapi dia malah memanggil aku disaat aku sudah berbalik dan hendak pergi dari sana saat itu, dia terus menyuruh aku untuk kembali menghadap padanya, padahal saat itu aku sudah tidak mau berhadapan dengannya lagi, karena sudah menyadari bahwa aku tidak akan bisa menggapainya, itu membuat aku semakin sakit dan terus saja tetap menyukai profesor Ling, akan sulit untuk aku move on darinya jika aku berlama-lama menatap wajahnya seperti yang aku lakukan saat ini, dan semuanya sangat menyebalkan jika aku benar-benar tidak bisa melepaskan dia dalam benakku.


"Heh tunggu Zhan Tao!" Teriak dia menahanku saat itu.


"AA...aaa....aaahhh..iya ada apa profesor Ling?" Tanyaku kepadanya saat itu.


"Kemarilah, kau tidak bisa pergi begitu saja, bantu aku dahulu." Balas dia kepadaku.


Aku pun menghampirinya dan dia malah memberikan alat pengering rambut padaku.


"Apa yang perlu aku bantu?" Tanyaku lagi padanya.


"Ambil ini!" Balas dia sambil memberikan alat pengering rambut itu ke hadapanku.


"Eehh...ini untuk apa, rambutku kering kenapa kau memberikan alat ini padaku?" Tanyaku kebingungan sambil terus menolak balik alat pengering rambut itu.


"Bodoh! Siapa yang memberikannya untuk mengeringkan rambutmu, tentu saja itu untukku, cepat kau bantu aku mengeringkan rambut." Balas dia kepadaku sambil langsung duduk di sofa saat itu.


Aku terus saja terperangah dan menatap penuh keheranan kepada profesor Ling saat itu, sebab semua ini terlihat seperti bukan sosok profesor Ling yang aku kenali sebelumnya, apalagi cara dia menyuruhku mengeringkan rambutnya, semua ini terkesan sangat aneh dan janggal bagiku.


"Kenapa kau diam saja, ayo cepat." Ucap dia mendesak aku lagi.


Walaupun aku sempat terperangah heran dan kebingungan, tapi aku tetap melakukannya meski pun sedikit ragu, sebab profesor Ling sendiri yang terus mendesakku tanpa henti dan menyuruhku untuk melakukannya dengan cepat saat itu juga.