Professor Ling I Love You

Professor Ling I Love You
Ketahuan



Meski saat itu aku merasa heran dan terus termenung menatap dengan lekat pada wajah senior Sisi hingga dia duduk di kursinya, aku pun segera mengucapkan terimakasih kepada dia saat itu, karena mau bagaimana pun dia sudah membantu aku untuk masuk ke dalam laboratorium ini.


"Eumm.. senior Sisi, terimakasih banyak sudah membantuku." Ucapku kepadanya sambil tersenyum lebar.


Dia hanya menatap senis dengan ujung matanya dan sama sekali tidak membalas ucapan dariku sedikitpun, dia langsung berdiri dan pergi ke ruang prakteknya di ikuti dengan beberapa senior lainnya, sedangkan aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu, tidak tahu harus melakukan apa dan hanya bisa menenangkan diri sendiri, agar tidak sampai sakit hati karena perlakuan senior Sisi terhadapku sebelumnya.


"Hmm. Tidak papa gak semua orang harus menyukai aku bukan, mereka berhak sekalipun memilih membenciku, tapi aku tidak mau punya musuh," gerutuku sambil menunduk lesu.


Aku pun segera mengeluarkan beberapa alat tulis sambil segera mengerjakan pekerjaanku di laboratorium, membantu senior Anming menyalin data dan membantu senior lainnya menyalin, atau pun mencetak beberapa hal, hingga beberapa saat kemudian aku pun sudah selesai mengerjakan semuanya, masih ada sedikit waktu tersisa untuk aku membersihkan ruangan pribadi profesor Ling sebelum orang itu tiba disini, jadi aku segera bergegas pergi.


Namun saat aku hendak masuk ke dalam aku lupa aku kan tidak memiliki kartu akses lagi, jadi jelas tidak bisa masuk ke dalam, aku merasa bingung sendiri dan terus berdiri dengan penuh keheranan disana, sampai tidak lama senior Sisi muncul dan dia langsung menempelkan kartu akses itu ke di dinding disana sampai membuat pintunya terbuka.


"Senior Sisi?" Ucapku penuh dengan keheranan.


"Apa? Ayo sana masuk, dan ambil ini, kau bisa menggunakannya saat di dalam ruangan," ucap dia sambil memberikan kartu akses itu kepadaku.


Aku menerimanya karena dia memberikan kartu akses itu begitu saja ke tanganku, dan langsung pergi dengan cepat, aku pun masuk ke dalam dan membereskan seluruh bagian ruangan pribadi profesor Ling hingga bersih dan mengkilap, mulai dari mengelap meja, menyedot debu, mengepel lantai hingga membersihkan kaca disana, semuanya aku lakukan sendiri dan aku menggunakan peralatan yang biasa, sehingga membutuhkan energi lebih banyak untuk melakukannya, sehingga setelah selesai membersihkan semua itu aku mulai berkeringat dan terus merasa sangat lelah sekali, keringat bercucuran di dahiku dan aku segera menyekanya dengan tanganku.


"Aaahh .. akhirnya selesai juga, aku bisa kembali sekarang." Ucapku sambil segera keluar dari sana.


Namun saat aku baru selesai menggesek kartu aksesnya pintu terbuka dan aku berhadapan langsung dengan profesor Ling saat itu, tentu saja aku sangat kaget dan langsung membelalakkan mata dengan lebar, diam membatu dan tidak tahu harus berbuat apa.


Dia juga segera masuk ke dalam sambil menatap tajam ke arahku lalu langsung menarik kartu yang masih aku pegang saat itu.


Aku sudah sangat tegang, panik dan merasa sangat cemas, karena tentu saja profesor Ling akan mengetahui bahwa aku memakai kartu akses dengan nama senior Sisi, tetapi yang muncul malam aku di hadapannya dan sama sekali tidak ada senior Sisi di dalam ruangannya saat itu, dia sangat jeli dan teliti mengetahui semua hal yang dia ciptakan sendiri, dan tidak dapat di kelabui, buktinya sekarang saja dia sudah bisa tahu tentang kejanggalan tersebut, tanpa basa basi apapun langsung merampas kartu akses itu dan memeriksanya sendiri.


"Aahhh.. profesor..aku aku bisa menjelaskannya." Ucapku kepada dia dengan wajah penuh dengan kecemasan.


Dia berjalan melewati aku dan langsung duduk di depan meja kebesarannya, mengabaikan ucapan dariku dan langsung menelpon ke bagian luar sampai menyuruh senior Sisi untuk menghadap dirinya saat itu juga, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa semua yang aku katakan padanya dia abaikan begitu saja dan terlihat dengan jelas bahwa saat itu profesor Ling tidak menginginkan penjelasan dariku sedikitpun.


"Profesor aku bisa menjelaskannya, kenapa kamu memanggil senior Sisi, ini semua tidak ada hubungannya dengan dia." Ucapku terakhir kalinya dengan nada yang lebih tinggi.


Dia pun akhirnya menoleh ke arahku lalu merekatkan kedua tangannya dan menaruh tangan itu di bawah dagu untuk menganggap wajahnya sambil mempersilahkan aku untuk duduk.


Aku benar-benar tidak habis pikir dengannya, sudah sangat jelas sekali jika sejak awal dia sudah mengetahui semuanya, dan dia langsung memanggil senior Sisi itu artinya dia akan membahas mengenai kartu akses terlebih dia juga merampas kartu akses yang tadi aku pegang, tapi masih saja berbicara seperti ini.


Hingga tidak lama ketika senior Sisi sudah ada di ruangan itu dan berdiri di sampingku menghadap ke arah profesor Ling juga, dia mulai menoleh ke arahku menatap tajam dengan mengerutkan sedikit alisnya seakan tengah bertanya kepadaku tentang apa yang sebenarnya terjadi hingga melibatkan dirinya saat itu.


Aku menelan salivaku dengan susah payah, terlebih saat melihat ekspresi yang di berikan profesor Ling tak kalah menyeramkan dengan tatapan tajam yang diberikan senior Sisi sejak pertama kali masuk ke dalam ruangan itu, aku tahu aku terlalu ceroboh dan aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang ini.


Karena takut senior Sisi akan marah padaku, aku pun mengakui semuanya secara langsung dan gamblang tepat ketika profesor Ling bertanya kepada kami berdua saat itu mengenai kartu akses senior Sisi yang ada di tanganku dan digunakan olehku sebelumnya.


"Zhan Tao, kau harusnya sudah tahu apa yang menggangguku sejak awal, begitu pula denganmu Sisi, sekarang aku mau kalian menjawab dengan sejujur-jujurnya, milik siapa kartu akses ini?" Tanya profesor Ling kepada kami berdua.


Senior Sisi hendak menjawabnya aku mendahului ucapan dia karena aku takut dia berkata jujur dan aku tidak mau orang yang sudah berkorban dan mengabdikan dirinya pada laboratorium ini dan sains penelitian bersama profesor Ling dalam waktu yang sangat lama malah mengorbankan dirinya karena aku, jadi aku pun lebih memilih agar aku saja yang menanggung semuanya.


"Itu kartu akses milik senior Sisi, bukankah disana sudah tertera namanya, kenapa profesor Ling masih bertanya." Balasku kepada dia.


"Dasar bodoh, apa dia pikir dia bisa membohongi Ling, apa yang dia pikirkan kenapa masih mau melindungi aku." Batin senior Sisi saat itu.


Tanganku bergetar cukup kuat tapi aku berusaha untuk meyakinkan profesor Ling saat dia menatap tajam ke arahku kala itu, sampai tidak lama dia mulai menarik salah satu laci di bawah mejanya dan mengeluarkan satu kartu akses lain di dalam sana.


"Jika ini milik Sisi lalu, yang ini milik siapa?" Tanya profesor Ling memperlihatkan kartu akses milik senior Sisi di tangan kirinya.


Aku langsung terbelalak lebar begitu pula dengan senior Sisi, kami sama-sama kaget sebab sebelumnya senior Sisi sudah mencari ke segala tempat tapi dia tetap tidak menemukan kartu tersebut.


"Kenapa bisa ada padamu, dimana kau menemukannya?" Tanya senior Sisi langsung.


Sedangkan aku hanya bisa menunduk dengan lesu dan sama sekali tidak bisa berkutik lagi, sebab sudah bisa dipastikan aku sudah mati kali ini dan hanya ada hukuman setimpal atas kebohongan yang sudah aku lakukan kepada profesor Ling sebelumnya.


"Aku menemukannya di bawah kursimu Sisi, kau menjadi ceroboh akhir-akhir ini, apa yang mengganggu pikiranmu, aku harap kau bisa merubah hal buruk ini, dan kau Zhan Tao kenapa kau berbohong padaku dan kenapa kartu akses milikmu berganti nama dengan nama Sisi?" Tanya profesor Ling kepadaku.


Aku gugup dan sama sekali tidak bisa menjawabnya dengan jujur, aku sangat takut senior Sisi akan terbawa dampaknya dan aku takut dia malah terkena hukuman karena kebodohan yang aku perbuat.


"Profesor Ling aku salah, aku minta maaf, kau bisa menghukum aku saja, dan tolong jangan mempermasalahkan masalah ini dengan senior Sisi, semua yang terjadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia, aku juga yang meminta senior Sisi untuk mengubah nama di kartu aksesku." Balasku kepada dia sambil menunduk kecil sebab tidak berani untuk menatap matanya.