
Aku segera saja menghampiri dia dengan lebih dekat dan menarik tangannya dengan kuat saat itu juga.
"Ya ampun Jingmi kenapa kamu malah menatapku seperti itu, ayo kita pergi saja, cepat... cepat ini makin siang nanti," ucapku kepadanya sambil terus saja menarik tangannya dengan kuat saat itu.
Namun sayangnya Jingmi malah menahanku dan dia malah menyentuh rambutku saat aku, aku tentu saja merasa kebingungan dan cukup kaget ketika merasakan dia hendak menyentuh kepalaku saat itu namun bodohnya aku bahkan malah menutup mataku karena aku pikir dia akan mencium aku saat itu karena wajahnya terlebih begitu dekat dengan wajahku sehingga aku merasa cukup panik sekali saat itu.
Namun ternyata aku memang terlalu banyak menonton drama sehingga aku menjadi banyak berhalusinasi dengan adegan romantis yang sering aku tonton sebelumnya.
Karena rupanya saat itu Jingmi hanya hendak mengambilkan sebuah rolan poni milikku yang masih menggantung di jidatku dan tidak aku sadari sedari tadi, bahkan teman-teman sekamarku sendiri tidak memberi tahu aku mengenai hal tersebut.
"Hei....kenapa kamu menutup mata? Aku hanya ingin mengambilkan roll ini di ponimu, lihatlah," ucap Jingmi menyadarkan aku.
Aku sungguh merasa sangat malu sekali saat itu dan ketika mendengar ucapan dari Jing aku langsung membuka mataku dengan menaikkan kedua alisku sangat lebar dan cukup kaget saat itu, dia juga memberikan roll rambut milikku kembali dan aku hanya bisa tersenyum kecil menampakkan gigiku dengan penuh rasa malu yang harus aku sembunyikan dan harus aku tahan dengan sekuat tenagaku saat itu.
"AA...aaahh..haha.. ternyata hanya sebuah roll rambut, aku pikir kamu akan menjambak rambutku makanya aku menutup mata karena takut, ahaha.. sepertinya aku terlalu banyak menonton film aksi deh, ahah...," Ucapku memalingkan pembicaraan dan sengaja berbohong untuk menutupi rasa malu yang sangat terlihat begitu jelas ini.
Aku bahkan merutuki diriku sendiri karena sudah ke gr an seperti itu pada Jingmi padahal seharusnya aku tidak boleh berpikiran sampai ke arah sana yang dimana hal itu sangat tidakungkin sekali di lakukan oleh pria seperti Jingmi yang sangat sopan dengan wanita meski dia terkadang sangat menjengkelkan untuk aku hadapi sendiri tapi bagaimana pun dia adalah ketua kelas di kelas kami, tidak mungkin dia memberikan contoh yang buruk seperti itu di hadapan banyak orang yang berjalan lalu lalang di sekitar sana, aku memang terlalu konyol dan pikiranku yang kotor ini memang sudah harus di bersihkan sepertinya.
"Aishh..bodoh...bodoh, benar-benar manusia bodoh kenapa aku malah berpikir dia akan mencium aku, apa yang aku pikirkan aahh sialan otak ini memang terlalu berlebihan kebanyakan nonton drama romantis disaat jomblo akut jadi begini kan," gerutuku bicara pelan merutuki hal konyol yang baru saja aku lakukan dan hampir ketahuan oleh Jingmi saat itu.
Untung saja aku pandai memabalikkan kalimat dan bisa menyesuaikan keadaan dengan cepat, jadi tidak terlalu meninggalkan kecurigaan atau pun pertanyaan lainnya yang akan semakin menyudutkan aku dan menyulitkan aku untuk menjelaskan yang sebenarnya kepada Jingmi saat itu, kami juga segera pergi ke toko buku bersama-sama dan aku baru tahu jika Jingmi pergi ke toko buku untuk membeli buku yang sudah di perintahkan oleh senior dosen padanya sebagai materi pembelajaran yang akan dilakukan kedepannya agar anak-anak di kampus sudah tidak perlu lagi membeli buku di luar dan dosen baik hati itu sendiri yang akan membayar atas buku tersebut lalu membagikannya kepada semua mahasiswa yang dia ajar nantinya.
"Jingmi kenapa kamu membeli banyak buku yang sama, apa kamu ingin membagikan buku ini kepada orang-orang?" Tanyaku menebak untuk pertamanya.
"Iya..aku akan membagikannya di kelas kita besok," balas Jingmi yang membuat aku kaget dan refleks langsung menatap tajam ke arahnya saat itu.
"Apa? Kamu yakin ingin membagikan semua buku ini kepada seluruh mahasiswa di jurusan kita? Bukanya jurusan kita itu memiliki banyak sekali mahasiswa, apa kamu yakin bisa membayar semua buku ini, bukan apa-apa Jingmi tapi buku ini terlalu mahal bahkan jika kamu hanya membelinya satu buah saja," ucapku kepadanya saat itu.
Jingmi malah terlihat tersenyum menatap ke arahku saat itu dan dia mulai menjelaskan kepadaku tentang perintah dosen kepadanya.
"Bodoh..ya iya lah aku tidak mungkin bisa membeli buku dengan harga jutaan seperti ini, bahkan uang jajanku tidak sampai semahal semua harga buku ini, aku hanya diminta untuk membelinya saja dan dosen yang akan membayarnya nanti," ucap Jingmi kepadaku.
Aku baru saja paham dan menanyakan dosen mana yang mau memberikan kebaikan sebanyak ini kepada anak muridnya sendiri sebab selama ini aku tidak pernah menemukan ada dosen royal dan baik hati sampai mau membelikan buku untuk anak muridnya secara khusus seperti ini.
"Wahhh..keren sekali dosen itu, memangnya siapa sih, dan dosen yang mana yang kamu sebutkan ini? Tanyaku langsung kepada Jingmi saat itu.
"Siapa lagi kalau dosen yang legendari itu, dia adalah dosen dan profesor terbaik sepanjang sejarah di universitas ini, bahkan dia juga gurunya profesor Ling dan banyak profesor lainnya, dia juga mengajar di kelas kita kemarin, dia memberikan buku ini untuk semua mahasiswa di kelas kita sebagai kenang-kenangan, keren bukan?" Ucap Jingmi kepadaku yang langsung saja aku balas dengan anggukkan cepat sekali saat itu.
"Wahh..wah... benar-benar professor panutan semua orang, dia bukan hanya keren saja, tetapi juga luar biasa, aaahh aku berharap semua dosen bisa sebaik dirinya, meski wajahnya terlihat sangat menyeramkan tapi dia ternyata memiliki hati yang baik, buku ini juga sangat bagus untuk kita mengulang pelajaran dan bahan-bahan ujian akhir nantinya, buku ini bak seperti buku rangkuman ilmu pengetahuan, keren sekali," ucapku menanggapi kalimat dari Jingmi saat itu.
Dan Jingmi tiba-tiba saja memuji aku tanpa ada angin dan tanpa ada hujan yang membuat aku cukup kaget dengan pujian yang dia berikan kepadaku saat itu.
"Zhan Tao kenapa aku merasa cara bicaramu sekarang menjadi lebih pintar tidak sebodoh sebelumnya ketika kita pertama kali bertemu haha," ucap Jingmi kepadaku yang membuat aku merasa senang karena dia memujiku.
Tapi untuk beberapa detik saja karena aku tersadar dengan cepat bahwa ternyata dia bukan benar-benar memujiku saat itu tapi lebih ke arah menghina aku dan membuat aku sebagai bahan candaan saja saat itu, sehingga aku sangat kesal dengannya dan begitu emosi sampai tidak tahan lagi untuk pergi menghajar dia dengan buku yang aku bawa saat itu sampai aku bisa merasa puas dengannya.
"Aahaha.. terimakasih banyak tapi tunggu kau bilang apa tadi, aku tidak terlihat sebodoh sebelumnya?" Tanyaku memastikan dahulu saat itu.
Namun dia malah langsung mengangguk pelan sehingga aku langsung saja bangkit berdiri dan menjambak rambutnya dengan sekuat tenagaku aku benar-benar emosi di buatnya dan merasa sangat kesal sekali.
"Aishh..kau ini sialan kemari kau euhh..buk...buk....buk, beraninya kau malah menghina aku, sebenarnya kau niat memuji aku atau tidak sih hah? Aishh..rasakan ini rasakan kau!" Ucapku bicara dengan sangat kencang dan terus menjambak rambut dia sambil tangan yang satunya aku pakai untuk mem*kuli tubuhnya saat itu dengan keras.
Hingga tidak lama tiba-tiba saja ada seseorang yang menahan tanganku dengan kuat disaat aku tengah asik menghajar Jingmi dengan buku yang ada di tanganku saat itu, tetapi orang itu tiba-tiba saja muncul dan menahan tanganku sangat kuat hingga aku kesulitan untuk menarik tanganku sendiri.
"Eeh...lepaskan aishh..lepaskan tanganku siapa kau berani se...." Ucapku yang terlampau kesal dan baru sadar saat berbalik ternyata itu adalah profesor Ling yang memberikan tatapan tajam kepadaku saat itu.
Aku benar-benar merasa sangat kaget dan langsung saja menurunkan tanganku yang satunya lagi disaat sebelumnya aku tengah menjambak rambut Jingmi dan sampai sekarang Jingmi sendiri masih merasa kesakitan dan meringis merapihkan rambutnya yang baru saja selesai aku Jambak dan aku acak-acak dengan puas.
"Ssstt...aaaahh kau ini gila ya kenapa malah mem*kul aku begitu?" Ucap Jingmi memarahi aku dan dia langsung terdiam ketika melihat ada profesor Ling di hadapanku dan memegang tanganku saat itu.
Aku dan profesor Ling saling tatap satu sama lain dengan perasaan kaget tidak menentu hingga Jingmi yang melihat hal itu dia merasa sangat tidak senang lalu segera saja dia datang dan mendorong tubuh profesor Ling dengan kuat tanpa rasa takut sedikitpun, padahal sebelumnya dia sudah tahu bahwa orang tangan ada di hadapannya juga di hadapanku saat itu adalah profesor Ling.
"Minggir kau jangan berani menyentuh Zhan Tao," ucap Jingmi kepada profesor Ling.
Sedangkan profesor Ling hanya bisa menatap sinis sekilas dan segera kembali pergi dari sana melewati aku dan Jingmi saat itu.
Namun sebelum dia benar-benar sudah pergi dari sana dengan perasaan kesal dan penuh emosi profesor Ling masih sempat berbisik pelan kepadaku saat itu juga.
"Kau akan terkena hukuman dari toko ini jika merusak sebuah buku yang kau gunakan untuk menimpuki orang lain!" Bisik profesor Ling sangat dekat di samping telingaku saat itu.
Hal tersebut juga jelas membuat Jingmi merasa sangat kesal dan dia langsung menarik tangan Zhan Tao agar menjauh dari profesor Ling saat itu, dia segera pergi dari sana dan tidak memperdulikan Zhan Tao maupun Jingmi yang masih terus saja memberikan tatapan tajam kepadanya terus menerus saat itu, tetapi disisi lain Jingmi mulai menarik tangan Zhan Tao dan kembali mengajaknya untuk segera membawa semua buku yang sudah mereka pilihkan disana untuk segera pergi ke kasir dan membelinya saat itu juga.
Hingga setelah keluar dari toko buku itu aku masih belum bisa merasa tenang karena kejadian konyol seperti tadi di toko buku ketika dia mem*kuli Jingmi dengan kasar dan bicara begitu bebas mungkin saja sudah terdengar oleh profesor Ling sendiri.
Terus saja aku melamun sambil membawa banyak buku di dalam koper yang aku dorong saat itu, Jingmi juga terus saja memperhatikan aku tanpa aku sadari saat itu.
"Zhan Tao ada apa denganmu, apa yang kamu pikirkan? Ke apa kamu terus saja terlihat melamun seperti itu sejak tadi?" Ucap Jingmi menanyakan keadaanku saat itu.
Aku yang sama sekali tidak sadar dan tidak tahu jika saat itu Jingmi ternyata memanggilku aku terus saja berjalan lebih cepat dan mendorongnya lebih kuat lagi hingga hal tersebut membuat Jingmi merasa cukup kesal sebab dirinya terkesan di abaikan oleh Zhan Tao yang terus saja melamun tidak jelas dan tidak mau bercerita dengannya lagi saat itu.
"Ehh..Zhan Tao...tunggu! Hei...Zhan Tao!" Teriak Jingmi sambil segera mengikuti aku dari belakang saat itu.
Aku yang tidak mendengarkan dia terus saja berjalan dengan lurus ke depan sampai akhirnya Jingmi berhasil untuk menyamakan langkahnya denganku meski terdengar deru nafasnya yang terengah-engah saat itu dan aku mulai melirik ke sampingnya dengan perasaan aneh dan kebingungan karena dia terus bernafas dengan terengah-engah terus menerus tanpa henti di sampingku.
"Ehhh ...Jingmi ada apa denganmu? Apa kamu baru saja lari maraton ya, sampai nafasku begitu kesulitan?" Tanyaku kepadanya dengan menaikkan sebelah alisku dengan heran.
Jingmi menatap tajam kepadaku dan tiba-tiba saja dia membentak aku dengan sangat keras yang membuat aku langsung mengerutkan kedua alis saling kaget dan merasa bingung dengan apa yang dia lakukan sampai bisa membentak aku sekeras itu dengan sorot mata yang di penuhi dengan emosi padahal saat itu aku sama sekali tidak pernah merasa melakukan kesalahan kepadanya.
"Heh...semua ini karenamu kau yang meninggalkan aku di belakang dan apa kau ini tuli hah? Kenapa kau tidak mendengarkan aku disaat sedari tadi aku berteriak memanggil namamu berkali-kali, aku bahkan sudah sering melambaikan tangan di belakangmu dan terus berteriak sekencang yang aku bisa untuk menghentikan langkah kakimu yang cepat ini, tapi kau tidak mendengarkan teriakkan dariku, kau terus saja berjalan persis seperti orang tuli sampai membuat aku malu dengan semua orang yang berlalu lalang di sepanjang jalan sedari tadi, sampai akhirnya aku terpaksa harus berlari dengan kencang sambil membawa koper berisi banyak buku ini sendiri, kau hanya membawa koper kecil itu aishh...apa kau benar-benar gila ya atau apa kau sakit sampai menjadi seperti orang tuli dan gila seperti ini?" Ucap dia dengan bentakkan yang sangat kencang kepadaku saat itu.
Aku sendiri justru tidak merasa melakukan apa yang baru saja dikatakan oleh Jingmi padaku sehingga aku hanya bisa menggelengkan kepala menanggapi ucapannya dan sama sekali tidak mengakui hal itu kepada Jingmi.
"Hei...Jingmi apa yang kamu maksud, ayo ceritakan yang lebih benar, aku sedari tadi merasa berjalan sendiri dan tidak mendengarkan teriakkan dariku, jadi aku pikir kau ada mengikuti aku dari belakang jadi aku terus saja berjalan sendiri tanpa perlu menunggumu lagi, tapi ternyata kamu tertinggal aku mana tahu," balasku kepadanya saat itu.
Jingmi terlihat seperti orang yang frustasi saat itu dan dia bahkan sampai mengacak rambutnya ke depan dan belakang berkali-kali saat itu sambil menggerutu sangat keras dan mengatakan kalian yang aneh tidak aku mengerti sama sekali apa yang sebenarnya dia maksudkan saat itu.
Aku hanya mengira dia terdengar seperti orang yang tengah marah besar dan terdengar sangat jengkel sedari tadi tanpa henti.
"Aaarrkkkk...sangat menjengkelkan, sialan, kau ini benar-benar sangat tuli untuk apa memiliki telinga jika tidak kau gunakan dengan baik, sedari tadi terus berjalan cepat tidak memperhatikan aku sedikit pun sampai kau tidak merasa kalau temanmu sendiri tertinggal di belakang, brengsek memang, aaaihhh...aku ingin menjambak rambutmu ini tapi aku tidak bisa, benar-benar sangat siang sekali!" Gerutu Jingmi tanpa henti amembuat aku merasa aneh dengan kelakuannya sendiri saat itu.
"Hei Jingmi apa kau berbicara seperti itu kepadaku ya?" Tanyaku kepadanya saat itu.
"Tidak...sama sekali bukan padamu aku hanya ingin menggerutu pada diriku sendiri, orang tuli dan tidak peka sepertimu tidak diajak, sini biar aku bawa sendiri saja semuanya aku masih mampu melakukannya sendiri," ucap Jingmi sambil langsung merampas koper yang aku bawa saat itu.
Aku juga sempat hendak menghentikan dia dan berteriak memanggilnya tapi itu sama sekali tidak digubris sedikit pun oleh Jingmi dia terus saja berjalan cepat sambil mendorong kedua koper tersebut dengan penuh emosi yang menggebu di dalam hatinya bahkan sebenarnya saat itu Jingmi sengaja melakukan hal tersebut agar memberikan pelajaran kepada Zhan Tao agar dia bisa mengerti apa yang juga orang lain maksudkan dalam diri kamu ketika kamu mulai memulai obrolan dengan siapapun.
"Hei...Jingmi kau mau kemana... Jingmi kenapa kau membawa keduanya hei..Jingmi!" Teriakku sangat kencang memanggil Jingmi saat itu.
Dia terus berjalan lebih cepat menghindari aku dan pergi dari sana dengan kendaraan yang dia miliki saat itu.
"CK...dia tidak mendengarkan aku, entah itu sengaja atau tidak aku tidak perduli yang penting kopernya sudah ada di tangan dia aku hanya perlu pergi ke cafe seorang diri dan menikmati makanan juga minuman disana dengan santai untuk mendinginkan otak dan pikiranku saat ini karena kelakuan Jingmi yang malah mengabaikan aku di hadapan banyak orang sehingga aku harus menanggung malu karena tidak semua orang akan mengira hal-hal tersebut baik-baik saja di dalamnya.
"Aahh.. sudah lah jika dia memang tidak akan pergi aku juga bisa pergi sendirian bahkan ini lebih bagus dari pada harus mengajak anak itu yang sangat susah sekali di ajak jalan setiap kali Zhan Tao meminta dia untuk membawanya ikut berwisata walau hanya sebentar, sama dengan apa yang banyak orang lain lakukan.
Aku pun mengabaikan permasalahan aku dengan Jingmi dan tidak memperdulikan dia lagi aku hanya sibuk duduk seorang diri di salah satu bangku pojokan sambil menikmati kopi latte yang sudah aku pesan sebelumnya.
Duduk sendiri di cafe dan menikmati kopi seperti ini memang memiliki suasana yang nyaman dan cukup berbeda dari biasa ataupun dari ketika kita harus ngumpul dengan banyak teman dan ternyata circlenya sangat tidak mendukung sekali saat ini.
Maka sendiri itu akan menjadi sangat nyaman dan menenangkan.
"Aaahhh....kopinya enak sekali, cafe ini juga cukup keren kenapa tidak sejak awal aku menemukan cafe sebagus ini sih, kan enak jika aku pergi nongkrong dengan teman-teman sekamarku nantinya." ucapku bicara sendiri sambil menikmati kopi tersebut sendiri.
Tapi sayangnya saat itu aku lupa bahwa teman sekamarku semuanya sangat sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Bahkan mereka sulit sekali untuk aku ajak pergi main ke luar setiap kali aku meminta waktu dari mereka, kak Xiuying yang selalu di sibukkan dengan pelajaran ngampus dan semua tugas menumpuk yang dia tuliskan pada sebuah pohon yang dikenal sebagai pohon ajaib pengirim pesan kepada orang-orang kesayangan mereka yang sudah tidak bisa beraktivitas dan melakukan semua di dunia bersama kalian ini.
"Wahhh..aku lupa, kalau aku memang tidak pernah memiliki teman, Xinxin sekarang pasti tengah sibuk mencari pakaian yang akan dia gunakan untuk menemui pacarnya di dinner makan malamnya nanti." pikirku saat itu.
Bahkan aku sendiri langsung saja membelalakkan mata dengan sangat lebar melihat Xinxin yang saat itu tengah mengacak-ngacak semua isi pakaian di dalam lemarinya padahal saat itu aku baru saja kembali ke asrama tapi kini semua isi asrama kami sudah menjadi seperti kapal pecah akibat Xinxin yang terus melemparkan pakaian yang sudah dia coba dan tidak cocok dengan tubuhnya, tapi Xinxin malah melemparkan pakaian yang tidak dia pakai itu ke belakang secara acak dan sembarangan hingga semua pakaiannya berserakan kemana-mana dan ini benar-benar menutupi meja belajar, komputer milik Yimin juga semua buku milik kak Xiuying saat itu.
Aku benar-benar kaget karena takut barang-barang mereka akan rusak karena ulah dari Xinxin yang sudah pasti kita tidak akan bisa membelikan barang dengan kualitas yang sama bagusnya dengan apa yang sudah mereka miliki saat ini, terutama dengan komputer yang keren milik Yimin ini.
Bahkan melihatnya dari luar saja itu sudah membuatku merasa takut dan cemas sehingga dengan cepat aku menghentikan Xinxin untuk tidak terus melemparkan pakaiannya kemana-mana secara sembarangan bahkan sampai ada diantaranya yang mengenai wajah juga kepalaku cukup keras hingga menutupi pandanganku saat itu.
"Astaga...Xinxin apa yang kamu..aaahhh," ucapku sambil langsung terhenti karena kaget mendapatkan lemparan dari Xinxin dan sebuah pakaian lengan pendek itu mendarat di wajahku cukup keras lalu kembali jatuh ke bawah meski aku tidak menyingkirkannya.
Aku sudah menahan emosi dengan sekuat tenagaku dan hanya bisa mengepalkan tangan saja untuk menahan emosi di dalam hatinya yang sangat menggebu sekali saat itu.
Saat aku baru saja hendak berbicara untuk menghentikan dia lagi justru satu lagi celana pendek miliknya melayang dan mengenai kepalaku yang membuat aku sudah tidak bisa menahan kesabaran lagi dalam menghadapinya saat itu.
"Aishh.....Xinxin!" Teriakku sangat kencang sambil membiarkan celana itu diatas kepalaku agar bisa di lihat sendiri oleh Xinxin dampak apa yang sudah dia lakukan pada asrama tepat kami tidur satu-satunya ini.
Barulah setelah aku sudah benar-benar naik pitam, Xinxin mulai menghentikan kelakuan konyolnya itu dan dia menatap dengan sangat kaget ketika menatap kondisi diriku di belakangnya saat itu.