
Sayangnya mimpiku yang sangat indah itu ketika aku membayangkan profesor Ling mengungkapkan perasaannya kepadaku dan kami hampir saja akan berpelukan di dalam mimpiku itu, tiba-tiba saja aku harus terbangun karena Xinxin yang datang dan membangunkan aku dengan cukup kasar saat itu, sampai aku tidak bisa menikmati mimpi indahku itu.
"Zhan....Tao..bangun hei...Zhan Tao kau ini selalu saja tidur seperti seekor babi hei...cepat bangun," teriak Xinxin yang saat itu baru sampai di asrama.
"Aduhh...Xinxin kau ini apa-apaan sih, gara-gara kau aku tidak jadi memeling profesor Ling, huaa... Kau sangat mengganggu sekali sih, kenapa kau kembali lebih awal," ucapku kepadanya dengan emosi yang cukup besar saat itu.
"Aishh.... Aku membangunkan mu karena ini sudah malam waktunya makan malam kenapa kau mau terus tidur begitu apa kau mau sakit lagi, kau kan tidak boleh sampai telat makan, ini aku sudah bawakan makanan buatan ibuku dia memasak ini untukku dan berbagi dengan kau juga yang lainnya, cepat kau makan lebih dulu, lihat Yimin sudah tidur dan kak Xiuying katanya baru akan kembali besok, lalu jika bukan aku yang mengingatkanmu maka siapa lagi?" Balas Xinxin yang memang ada benarnya.
Aku pun hanya bisa menghembuskan nafas yang kasar lalu segera turun dari ranjang dan pergi makan bersama dengan Xinxin saat itu juga, tidak di sangka masakan ibunya sangat enak sekali, aku bahkan tidak bisa berhenti makan setelah mencicipi masakan tersebut.
"Wahh ...kenapa bisa selezat ini, ibumu hebat sekali, ini benar-benar makanan paling enak yang pernah aku nikmati selama ini, terimakasih Xinxin hehe," ucapku sambil memeluk dia sesaat.
Dia hanya berdecak kesal sedikit padaku karena sebelumnya aku memarahi dia dan menggerutu kesal, tapi sekarang Xinxin juga sudah tidak masalah lagi dan terus saja makan bersama denganku hingga kencang, rasanya sangat nikmat sekali bisa menikmati makanan rumah seperti ini, aku juga jadi teringat dengan sosok ibuku, jika saja dia masih hidup mungkin aku bisa merasakan masakan buatannya sama seperti Xinxin saat ini.
Tapi bisa menikmati makanan dari ibu Xinxin itu sudah bisa mengobati sedikit kesedihan di dalam hatiku tentang kenyataan bahwa ibuku sudah tidak ada.
Sampai ke esokan paginya kali ini aku pergi dengan Xinxin menggunakan sepedanya karena motor listri milik Jingmi masih di bengkel dan tengah di servis saat itu, entah apa yang sudah terjadi dengan motor listriknya tersebut, yang pasti untuk pertama kalinya dia tidak bisa menjemput aku saat itu, dan mengatakan kami akan bertemu di gedung universitas saja, aku juga tidak banyak bertanya kepadanya karena aku pikir lebih nyaman bicara langsung nantinya.
Sesampainya aku di kampus ku lihat Jingmi tengah berjalan sambil menggusur kakinya yang terlihat di perban sedikit saat itu, aku kaget dan langsung berlari menghampiri dia secepatnya.
"Jingmi apa yang terjadi dengan kakimu? Apa kau kecelakaan ya?" Tanyaku kepadanya dengan panik.
Bukan hanya aku yang kaget tapi Xinxin juga merasakan ha yang sama, dia merasa kaget dan langsung ikut bertanya denganku.
"Iya, ada apa denganmu Jingmi kenapa kakimu di perban begini?" Tanya Xinxin juga saat itu.
Tapi Jingmi hanya tersenyum kecil lalu mulai mengatakan bahwa dia baik-baik saja padahal kakinya jelas sekali terluka seperti itu dan dia menjelaskan apa yang terjadi dengan kakinya tersebut.
"Haha...kalian ini kenapa sekaget itu denganku, aku baik-baik. Kakiku hanya terluka sedikit karena jatuh dari motor ini biasa, aku lupa tidak memperbaiki rem di motorku jadilah begini tapi sekarang motorku sudah di perbaiki aku baru saja ingin mengambilnya sepulang ngampus nanti," ujar Jingmi padaku saat itu.
"Kan, aku sudah menduganya kau pasti jatuh dari motor lagi, Jingmi apa kau benar-benar bisa menyetir atau tidak sih, kenapa kau terus jatuh, bahkan saat kita pertama kali bertemu kau juga jatuh aishh...kau senang sekali jatuh terus ya?" Ucapku kepadanya saking kesalnya pada Jingmi yang tidak bisa menjaga keselamatan dirinya sendiri.
"Haduhhh, kau ini memang manusia tida tahu pelajaran, sudah berapa kali kau terjatuh dari sepeda listri milikmu itu, kau tetap saja tidak kapok dan terus mengendarainya dengan ceroboh, Jingmi jika kau terus begini kau mungkin akan memiliki banyak bekas luka di tubuhmu, dan apa kau tidak bisa libur ke kampus sehari saja jika memang kau tidak sehat, kenapa masih memaksanya lagi?" Ucap Xinxin saat itu.
Jingmi hanya tersenyum saja menanggapi ucapan kedua wanita di hadapannya itu dan dia terus saja berjalan lebih dulu karena tidak ingin mendengarkan omelan dari kedua temannya tersebut dan lebih memilih untuk menghindarinya.
Namun dengan cepat aku menarik tangannya dan mengalengkan tangannya itu ke bahuku dengan cepat, tidak mungkin aku diam saja disaat melihat temanku kesulitan berjalan dengan pincang seperti itu, makanya aku langsung membantu dia untuk berjalan.
"Sudahlah kalian ini terlalu lebay dan berpikir jauh, ayo kita ke kelas sebentar lagi kelas akan di mulai." Ucap Jingmi saat itu.
"Tunggu, kau mana bisa berjalan cepat jika terus menjadi pincang seperti itu, kemarilah biar aku bantu kau berjalan sampai ke kelas, aku tidak mau terjadi sesuatu kepada ketua kelas kita." Ujarku kepadanya dan segera saja membantu Jingmi pergi ke dalam gedung universitas dengan perlahan dan memapahnya dengan baik saat itu.
Sedangkan disisi lain aku sama sekali tidak sadar jika di sana ada profesor Ling yang baru saja tiba dan baru keluar dari mobil miliknya, dia melihat aku yang menarik tangan Jingmi lalu mengalegkannya ke pundakku saat itu.
Termasuk tangan Jingmi yang berpegangan ke pinggangku.
"CK...dia bilang menyukaiku sampai terus mengejar-ngejarku bahkan dia mau saja masuk ke laboratorium walau hanya jadi tukang bersih-bersih, nyatanya semua wanita memang sama saja, menjengkelkan." Ucap profesor Ling pelan saat itu.
Kemudian dia segera pergi meninggalkan tempat tersebut dengan cepat.
Bener jam berlalu aku sudah melewati pembelajaran di kelas dan saat ini aku pergi ke kantin seperti biasa dan harus berbuat ati ampela kesukaanku juga ayah goreng yang renyah sebelum nanti akan kehabisan oleh pada mahasiswa lain yang juga berburu makanan yang sama dengan kami.
"Xinxin, ayo cepat....kenapa kau larinya lambat sekali sih, kalau kau terus begini kita akan kehabisan ayam dan ati ampelanya tahu, ayo cepat," ucapku sambil terus saja menarik tangan Xinxin saat itu dengan kuat.
Untunglah Xinxin masih bisa diajak bekerja sama dan dia masih bisa berlari dengan kuat saat itu, aku juga tidak menyerah dengan mudah kepadanya, langsung saja aku menarik tangannya sekuat yang aku bisa hingga akhirnya kami berhasil juga mendapatkan setidaknya dia porsi ayam goreng dan tersisa satu buah ati ampela saat itu.
"Wahhh.....yeayy...masih ada ati ampelanya haha.. terimakasih banyak Xinxin huhu senang sekali," ucapku kepada Xinxin dan terus saja meminta pelayan kantin untuk membungkus ati ampelanya pada wadah yang berbeda.
Tapi disaat aku hendak berbalik ada profesor Ling yang meminta ati ampelan juga pada penjaga kantin disana sedangkan ati ampela ya benar-benar sudah habis saat itu.
"Maaf profesor tetapi ati ampela terakhir sudah di ambil oleh nona ini, ayam gorengnya juga sudah habis hanya tersisa sayur saja, apakah masih mau ambil?" Tanya penjaga kantin disana.
"Ee..euhh..ya sudah aku ambil ayamnya saja, ati ini untukmu saja profesor," ucapku sambil memberikan ati ampelanya ke nampan profesor Ling saat itu.
Tapi sialnya setelah aku memberikan ati ampela itu pada tempat makannya dia malah langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun kepadaku.
Padahal saat itu aku pikir dia akan tersenyum atau setidaknya mengucapkan terimakasih kepadaku atas kebaikan hati yang sudah aku lakukan untuknya.
"Eehhh....dia pergi begitu saja?" Ucap Xinxin yang terperangkap melihatnya saat itu.
Aku juga sama terperangahnya dengan mulut terbuka dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Rasanya benar-benar menyesal aku sudah memberikan makanan kesukaanku kepada orang semacam dia yang benar-benar tidak tahu balas Budi ataupun tanda terimakasih sama sekali kepada orang yang sudah berbuat baik dengan tulus kepadanya.
"Hah?...hahah....konyol sekali dia itu, kenapa dia tidak mengucapkan apapun, bahkan dia sama sekali tidak menatap ke arahku, apa dia memang sangat membenci aku Xinxin, sampai tidak mau bicara padaku, apa aku melakukan kesalahan pada dia sebelumnya?" Ucapku merasa heran dan sangat sedih saat itu.
Xinxin langsung saja menenangkan aku dan menepuk pundakku dengan pelan sambil mengelusnya saat itu.
"Aishh..sudah...sudah...jangan sedih begini, kita kan mau makan, ayo cepat pergi cari mejanya saja jangan hiraukan pria sepertinya," ucap Xinxin sambil membawa aku pergi dengan cepat sari sana.
Aku hanya mengikuti kemana kakiku melangkah saja sampai kami segera duduk di salah satu meja yang cukup jauh dari meja tempat profesor Ling duduk saat itu tapi aku masih bisa melihatnya dan sangat sulit untuk menjauhkan pandanganku kepada pria tersebut.
"Hei.....Zhan Tao makananmu akan dingin jika kau terus menatap profesor Ling, perutmu juga tidak akan kenyang hanya dengan menatap wajahnya saja, jadi ayo cepat makan yang banyak, lupakan saja kejadian tadi," ucap Xinxin saat itu.
Tapi rasanya tetap saja aku tidak bisa melupakan kejadian itu dengan mudah, aku pikir profesor Ling sudah mulai perduli denganku karena kemarin dia menggendong aku dan mau menolongku yang jatuh pingsan namun nyatanya dia masih tetap sama, bahkan sekarang jauh lebih menyeramkan dibandingkan sebelumnya.
Aku tidak bisa makan dengan mood yang baik dan terus saja memasukkan makanan ke dalam mulutku dengan kasar sampai akhirnya justru malah aku juga yang tersedak dan memegangi tenggorokanku yang terasa sakit akibat tersedak saat itu.
"Ohok....ohok...eumm..eumm..ohok...," Batukku yang tersedak saat itu.
"Ya ampun Zhan tau aku kan sudah bilang kau jangan memperdulikan pria itu lagi, jadi begini kan sekarang, ayo cepat minum dulu." Ucap Xinxin sambil dengan cepat memberikan minum untukku.
Untung saja saat itu ada Xinxin yang bersikap baik dan bisa membantu aku dengan cepat memberikan aku air sampai tenggorokanku bisa lebih baik sekarang.
"Hah....hah....hah.. terimakasih banyak Xinxin, aahhh tenggorokan ku hampir saja dalam bahaya," ucapku dengan nafas yang terengah-engah karena sebelumnya tersedak sampai sulit untuk bernafas.
Sampai ketika aku menoleh lagi ke tempat dimana profesor Ling duduk kini dia sudah menghilang entah pergi kemana, dia seperti jin saja yang bisa menghilang kapan saja dan muncul secara tiba-tiba dan mengagetkan aku untuk beberapa kali.
"Ehhh....Xinxin dimana dia, apa dia sudah pergi ya?" Tanyaku kepada Xinxin dengan terperangah linglung mencari keberadaan profesor Ling saat itu.
"Siapa yang kau maksud, apa kau masih memperhatikan profesor Ling itu?" Ucap Xinxin yang langsung aku anggukkan dengan cepat.
Segera saja Xinxin menunduk dan menggelengkan kepala dengan cukup kuat saat itu karena dia sudah terlalu pusing untuk menghadapi aku yang selalu memperhatikan mengenai profesor Ling dimanapun dia berada.
"Aaahh ..Xinxin kau ini, aku harus segera pergi ini sudah waktunya ke lab," ucapku sambil segera pergi dengan terburu-buru saat itu juga.
Lagi dan lagi aku harus berlari dengan cepat dari gedung satu ke gedung lainnya yang jaraknya cukup jauh saat itu dan harus melewati banyak orang yang berlalu lalang yang ada di sekitar koridor disana.
Meski sangat lelah dan perutku terasa sedikit sakit karena sebelumnya aku baru saja selesai makan, tapi aku tidak boleh berhenti karena jika aku berhenti takutnya nanti akan terlambat, jadi terus saja aku berlari hingga berhasil masuk ke dalam lift dan berbarengan dengan senior Anming yang rupanya juga hampir terlambat saat itu.
"Hah...hah....hah ..Zhan Tao kau hampir terlambat juga ya, keringatmu itu astaga.. kau seperti orang baru mencuci muka saja," ucap senior Anming kepadaku saat itu.
"Ahahah....aku terlalu terburu-buru untuk mengusap wajahku, aku juga tidak ada tisyu, hah...hah...hah," ucapku sambil bersandar ke samping dan memegangi pegangan dalam lift tersebut.
Sampai tidak aku duga senior Anming memberikan aku tisyu saat itu dan dia membantu mengusap keringat di keningku dengan baik dan lembut, dia sangat cocok untuk jadi kakak yang baik dan bisa mengurusi adiknya dengan hangat.
"E ...ee..ehh .. senior, biar aku saja aku bisa mengelap keringatku sendiri," ucapku kepadanya karena merasa tidak enak saat itu dengannya.
Namun dia sendiri yang malah menahan tanganku dan melarangku untuk menghentikannya saat itu.
"sudah diam saja biar aku bantu kau mengelapnya, aishh...kau ini sangat berantakan sekali sih, apa kamu tidak bisa menjadi lebih berhati-hati, lihat rambutmu yang berantakan ini aaahhh bagaimana profesor Ling akan menyukaimu jika penampilanmu begini, kau harus memperhatikan penampilanmu jika ingin membuat professor Ling terpanah dan melihat dirimu," ujar senior Anming yang sangat memperhatikan aku dan perhatiannya itu membuat aku sangat terharu.