
Profesor Ling terus mengerjakan semua pekerjaan yang masih belum selesai saat itu dan setelah profesor Ling selesai mengerjakan semuanya di mulai menatap ke arah Zhan Tao yang masih tertidur di kursinya, melihat wajah Zhan Tao yang terlihat begitu lelah dan dia tertidur dengan lelap, sebenarnya saat itu profesor Ling mulai merasa tidak tega dengannya, terlebih sudah melihat bagaimana Zhan Tao yang bekerja dengan keras untuk menyelesaikan tugas yang seharusnya tidak di selesaikan oleh mahasiswa S1 seperti dirinya.
"Dia ternyata bekerja dengan sungguh-sungguh, apa aku terlalu keras dalam menghadapinya ya?" Gerutu profesor Ling saat itu.
Saat dia hendak membangunkan Zhan Tao dan baru saja berniat untuk menyentuh wajah Zhan Tao untuk membangunkannya, tiba-tiba saja ponsel Zhan Tao berbunyi cukup keras, sehingga hal itu membuat profesor Ling cukup kaget dan panik.
Dia segera saja pergi dari sana dengan cepat dan karena panik Profesor Ling justru malah bersembunyi ke bawah kolong meja milik Zhan Tao dengan cepat.
Sedangkan Zhan Tao sendiri dia mulai terbangun dengan perlahan karena mendengar suara dering ponselnya yang cukup keras saat itu.
"Aaaa ..ahh..kepalaku, siapa yang menghubungiku," gerutuku saat itu sambil segera memeriksa ponselku yang terus berdering.
Aku mulai mengambil ponselku dan melihat ternyata itu panggilan telpon dari Jingmi sehingga aku segera saja menjawab panggilannya dengan cepat.
"Halo ada apa Jingmi?" Tanyaku kepada dia secara langsung.
"Kami dimana, aku sudah menunggumu di bawah laboratorium, kenapa kamu belum keluar juga?" Balas dia kepadaku.
"Ehhh...kenapa kamu menungguku tanpa berbicara kepadaku dahulu, aku masih harus mengerjakan pekerjaanku, tapi aku tidak tahu bagaimana menyelesaikannya, mungkin aku tidak akan pulang malam ini, kau pulanglah lebih dulu, jangan menungguku." Balasku kepadanya.
Aku pun langsung mematikan panggilannya lebih dulu dan segera beralih pada komputer yang ada di hadapanku, tapi saat aku mau mulai mengerjakan kembali tugasku, aku kaget melihat semua tugas itu sudah selesai.
"Eeehhh .... Kenapa tiba-tiba sudah selesai, perasaan tadi aku masih ingat dengan jelas aku belum menyelesaikan bagian yang sulit ini, kenapa sekarang tiba-tiba sudah tersusun se rapih ini?" Gerutuku merasa bingung sendiri.
Aku mulai berpikiran aneh dan terus berperasangka pada hal lain, aku mulai menatap ke sekeliling ruangan laboratorium yang terlihat gelap dan hanya terdapat cahaya remang-remang saja saat itu.
"Astaga....apa jangan-jangan hantu disini yang membantuku menyelesaikannya? Perasaan semua orang sudah pulang, apa profesor Ling masih ada di ruangannya? Tapi ruangannya itu sudah gelap, tidak mungkin dia masih ada di dalam bukan?" Gerutuku terus saja memikirkan hal itu.
Aku semakin merasa merinding dan langsung saja membereskan tas juga mematikan komputerku saat itu.
Aku tidak mau berada berlama-lama di tempat yang menyeramkan seperti ini, apalagi banyak sekali rumor tentang laboratorium fisika, jadi aku merasa sangat takut saat itu.
"Setannya pun bahkan sangat pintar, aaahhh aku harus pergi dari sini secepatnya." Tambahku lagi sambil terburu-buru mengambil kartu akses milikku dan segera saja menempelkannya dengan cepat dan saat pintunya terbuka, aku sangat kaget melihat Jingmi yang sudah berada di depan pintu dengan berdiri tegak dan memakai topi hitam hampir menutupi sebagian wajahnya karena dia tengah tertunduk saat itu.
"Astaga....huhu....kau mengagetkan aku saja, aku pikir kau setan laboratorium." Ucapku kepadanya.
Jingmi malah tertawa cukup keras saat itu, padahal aku sungguh ketakutan sebelumnya bahkan tanganku saja masih belum bisa berhenti bergetar dengan kuat saat itu.
"Apa? Setan laboratorium? Ahahaha... Memangnya ada hal semacam itu, kamu ini ada-ada saja sih." Balas Jingmi yang menganggap aku bercanda padanya.
"Aishh..aku bicara sungguhan padamu, kenapa kau malah tertawa, aku beritahu kau, tadi itu aku mengalami kejadian yang sangat aneh dan di luar nalar saat aku di dalam, makanya aku sangat takut, terlebih kau tiba-tiba muncul di depan pintu yang baru saja akan terbuka, bagaimana aku tidak kaget coba," balasku lagi padanya dengan perasaan sedikit kesal.
"Aduh....Zhan Tao sepertinya kau benar-benar sangat kelelahan ya, sampai berhalusinasi seperti ini, sudah...sudah, ayo cepat kita pulang ini sudah sangat malam nanti asrama putri akan di tutup," balas dia sambil mengalengkan tangannya ke pundakku dan kami segera pergi dari sana secepatnya.
Sedangkan disisi lain profesor Ling yang masih bersembunyi di bawah kursi kerja Zhao Tao dia baru bisa keluar setelah melihat pintunya tertutup dan terus menggerutu dengan kesal sambil merapihkan pakaiannya karena dia merasa sangat jengkel pada Zhan Tao yang berani sekali menganggap dirinya sebagai hantu di laboratorium itu.
"Sialan, beraninya dia mengatakan aku hantu laboratorium, aaahh....bodoh dia kan tidak tahu kalau aku yang membantunya, tapi walau begitu seharusnya dia tidak sampai berpikir ke arah sana, dasar gadis konyol, mana ada hantu yang bisa mengerjakan riset data seperti ini." Gerutu profesor Ling sambil terus memasang wajah yang kesal dan terus merapihkan pakaiannya penuh dengan kekesalan.
Dia juga segera pergi dari sana dengan cepat dan melihat Zhan Tao yang begitu dekat dengan Jingmi, bahkan dia juga menyaksikan secara langsung bagaimana Jingmi merangkul pundak Zhan Tao dengan begitu mudahnya saat itu.
"Dasar manusia konyol, bagaimana bisa dia malah malah bersikap sangat dekat dengan pria lain, katanya dia mengejar aku, menyukai aku tapi nyatanya dia memang wanita ganjen yang selalu dekat dengan banyak pria, aishh...untuk apa aku memikirkan wanita konyol seperti dia." Tambah profesor Ling yang berjalan cukup jauh di belakang Zhan Tao dan Jingmi saat itu.
Dia bahkan dengan sengaja rela menunggu hingga Jingmi dan Zhan Tao pergi dari gedung itu, barulah dia mau melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana, dalam beberapa saat dia juga merasa dirinya mulai berubah karena dia tidak mengerti kenapa dia harus menghindari Zhan Tao saat itu.
"Aaaahhh? Kenapa aku harus menunggu sampai dia manusia itu pergi baru aku pergi dari sini? Memangnya mereka itu siapa? Astaga....otakku benar-benar suda eror," tambah profesor Ling yang menggerutu lagi dan mereka ada yang salah pada dirinya sendiri saat itu.
Sedangkan disisi lain Zhan Tao pulang diantar oleh Jingmi namun saat dia sampai sayangnya asrama sudah di tutup dan dia terlambat untuk sampai disana tepat waktu.
"Eee....ee..ehhh..Bu...buka gerbangnya, kau meninggalkan satu orang di luar sini, Bu...." Teriak Zhan Tao sambil terus berdiri di depan gerbang yang sudah tertutup dan lampunya mulai padam seketika saat itu.
"Ya ampun sekarang aku harus bagaimana, asrama putri sudah di tutup, aku tidak mungkin tidur di luar bukan?" Gerutuku sambil tertunduk dengan lesu menghadap pada Jingmi saat itu.
"Ayo, kau ikut denganku ke asramaku saja," ucap Jingmi sambil menarik tanganku.
Aku membelalak mataku dengan cepat dan langsung menarik kembali tanganku yang di genggam oleh Jingmi saat itu, dia benar-benar konyol jika sampai mau membawa aku ke asrama pria, dimana semua penghuni disana pria semua, aku tidak mungkin berani untuk masuk ke dalam kandang macan seperti itu.
"Hei.. Jingmi lepaskan tanganku, ayo lepaskan eugh! Apa kau gila ya? Mana mungkin aku ikut ke asrama pria, aku ini seorang wanita," balasku kepada dia saat itu.
"Kau kan bisa menyamar, lagi pula ini sudah sangat malam penjaga disana tidak akan berkeliling memeriksa, dan di kamarku hanya ada aku sekarang, kedua temanku tidak masuk karena mereka pulang kampung dahulu, baru akan kembali lusa jadi aku sendiri di sana," balas dia kepadaku.
Aku semakin membelalakkan mataku lagi padanya, justru jika dia sendiri itu lebih akan bahaya untukku, dan juga bisa membuat orang lain salah paham nantinya.
"Jingmi apa kau benar-benar sudah gila ya? Apa kepalamu itu terbentur saat kau mau menjemput aku sebelumnya?" Ucapku kepadanya.
"Tidak, aku baik-baik saja, ayo kita pergi." Ucap dia yang terlihat begitu santai.
"Eeeeehh...tunggu, Jingmi apa kau masih belum mengerti juga, aku dan kau itu berbeda, kau pria dan aku seorang wanita, bagaimana bisa aku dan kau tidur di satu ruangan yang sama, terlebih tidak ada siapapun lagi disana, semua itu akan membuat orang lain berperasangka buruk tentang kita, dan apa kau bisa menjamin penyamarannya tidak akan terbongkar, aku tidak mau melakukan hal konyol seperti itu, karena sudah pasti dampaknya akan sangat besar, kau sebaiknya pergi saja ke asramamu, aku akan tidur di laboratorium saja," balasku kepadanya saat itu.
Aku hendak melangkahkan kaki dari sana, namun Jingmi terus saja menarik tanganku dia menahan aku dengan kuat dan tidak mengijinkan aku untuk tidur di sana pada awalnya.
"Zhan Tao apa kau yakin berani tidur disana, bukankah sebelumnya kau bilang sangat takut?" Ucap Jingmi padaku sambil menahan tanganku cukup kuat saat itu.
"Tadi aku memang takut, tapi memangnya ada cara lain lagi? Tidak ada kan, aku akan tetap tidur disana, lagi pula setelah aku pikirkan mungkin disana tidak akan semenyeramkan itu jika aku menyalakan semua lampunya." Balasku kepada dia.
"Ya sudah kalau gitu biar aku antar kau kesana," balas Jingmi lagi.
Aku menolaknya, bukan karena aku berani pergi sendiri tetapi aku tahu ini sudah sangat malah waktu tutup asrama pria juga hampir habis, dia juga akan terlambat jika dia mengantarkan aku ke laboratorium dahulu nantinya, maka dari itu aku menolaknya dan menyuruh Jingmi untuk pulang saja saat itu.
"Tidak usah Jingmi, aku bisa pergi ke sana sendiri, kau pergilah nanti asrama pria akan tutup juga jika kau malah mengantarkan aku dahulu." Balasku kepadanya saat itu.
"Tapi Zhan Tao aku tidak akan merasa tenang jika kau pergi ke sana sendirian." Balas dia padaku lagi.
Aku pun harus meyakinkan anak itu terlebih dahulu agar dia bisa cepat pergi dan berhenti mencemaskan aku terlalu berlebihan seperti ini, aku juga tidak ingin merepotkan dia terlalu banyak, sudah cukup malu rasanya karena selalu mengandalkan Jingmi untuk segala hal yang terasa sulit bagiku.
"Jingmi percaya padaku, aku bisa menjaga diriku dengan baik, aku akan menghubungimu dengan cepat jika sesuatu terjadi padaku, kau akan jadi orang pertama yang aku kabar jadi kau jangan mencemaskan apapun tentangku." Ucapku padanya sambil memegangi kedua pundaknya dan tersenyum kecil untuk membuat dia yakin pada keputusanku ini.
Sampai akhirnya dia pun mau membiarkan aku pergi sendiri dan dia segera pergi ke asramanya saat itu juga.
"Hmm... baiklah jika begitu, tapi ingat ya saat ada apapun kau harus menghubungi aku sebagai orang pertama, aku akan pergi menemuimu secepatnya nanti." Balas dia kepadaku.
"Iya...iya...kau lebih cerewet dari orangtuaku, sudah sana pergi waktunya tinggal dua puluh lima menit lagi, kau harus bergegas sekarang juga." Balasku kepadanya saat itu.
Dia pun mengangguk padaku dan segera pergi dari sana, aku juga mulai kembali berjalan menuju gedung laboratorium seorang diri, di sepanjang jalan cukup sepi dan saat aku sudah berada di depan gedungnya aku melihat ke lantai atas tempat dimana ruangan laboratorium berada dan disana cukup gelap ruangan sekelilingnya juga sangat gelap, hanya lantai bawah saja yang menyala, aku sungguh merasa takut dan nyaliku langsung ciut ketika melihat kegelapan seperti mengerubungi gedung praktek tersebut.
"Astaga...kenapa rasanya menjadi sangat menyeramkan, apa aku bisa tidur disana?" Gerutuku memikirkan dengan menelan salivaku susah payah saat itu.
Aku memberanikan diri untuk melanjutkan langkahku tapi saat aku baru ingin melangkahkan kaki untuk menaiki tangga tiba-tiba saja aku merasakan pundakku di tepuk seseorang dari belakang secara tiba-tiba dan aku langsung menjerit ketakutan.
"Aaarrtkkkkk....." Teriakku sangat kencang tanpa berani membalikkan tubuh ke belakang saat itu.
Sampai tiba-tiba saja orang itu membalikan badanku dan ternyata itu adalah profesor Ling.
"Heh....kenapa kau berteriak sangat kencang, kupingku hampir pecah karena suara kau!" bentak profesor Ling kepadaku.
Saat mengetahui bahwa itu profesor Ling aku sangat merasa lega dan refleks langsung memeluknya dengan erat, karena sebelumnya aku sangat ketakutan dan mengira hanya ada aku seorang diri di gedung tersebut.