Professor Ling I Love You

Professor Ling I Love You
Bangun Tidur



Hingga seiring berjalannya waktu sudah banyak senior lain yang pergi meninggalkan laboratorium tapi aku masih belum melihat sosok profesor Ling keluar lagi sejak sebelumnya dia masuk ke ruangan pribadinya itu, aku terus saja berkali-kali melirik ke arah ruangan pribadi profesor Ling saat itu, namun sayangnya tetap saja aku tidak berhasil menemukan dia saat itu.


"Kenapa profesor Ling belum keluar juga ya?" Gerutu pelan.


Aku tidak sadar jika ternyata gerutuanku itu terdengar oleh senior Anming dan malah dia yang menjawab gerutuanku saat itu begitu saja, membuat aku sedikit malu karena ketahuan terus memikirkan mengenai profesor Ling sedari tadi.


"Dia tidak ada keluar karena selalu lembur di sini setiap kali akhir pekan." Ujar senior Anming membuat aku langsung menoleh ke arahnya dengan cepat.


"Ee...eehh..senior Anming kamu mendengar gerutuanku ya? Aku pikir tadi aku bicara cukup pelan, kenapa kau tetap bisa mendengarnya membuat aku malu saja." Balasku sambil tersenyum kecil kepadanya.


"Sudahlah Zhan Tao aku tahu kamu menyukainya bukan? Kau harus bersabar dan sebaiknya jangan terlalu menaruh harapan terlalu besar kepadanya, dia itu manusia es tidak mungkin akan cair dia batu hitam yang keras," ujar senior Anming sambil menepuk sebelah pundakku saat itu.


Tidak tahu mengapa senior Anming bicara seperti itu kepadaku, tapi aku juga tidak bisa mengendalilan perasaanku sendiri karena sejak awal sudah terlanjur menyukai profesor Ling lebih dulu, jadi sekarang sudah terlanjur mengejar dia sejauh ini tidak mungkin aku menyerah atau pun menyia-nyiakan kesempatan sebagus ini.


"Ahaha..senior Anming apa yang kamu bicarakan sudahlah bukannya kamu mau pergi ini sudah sangat malam tahu." Ujarku kepadanya karena sudah tidak tahan merasa rasa malu lagi saat itu di hadapannya.


"Hei..kau mengusir aku ya?" Balas senior Anming kepadaku saat itu.


"Tidak tidak tentu saja tidak begitu, mana mungkin aku mengusir seniorku sendiri ahh kau ini ada-ada saja," balasku kepadanya sambil tertawa kecil saat itu.


Senior Anming hanya menatapku sekilas dan dia segera saja membersihkan mejanya lalu mulai mematikan komputer miliknya dengan cepat.


"Sudahlah ayo pulang, aku antar kamu kembali ke asrama." Ucap senior Anming menawarkan tumpangan padaku saat itu.


Dan dia mengajak aku pulang bersama namun sayangnya aku masih belum mau pulang karena masih belum melihat keberadaan profesor Ling saat ini, jadi aku beralasan kepadanya untuk pulang setelah profesor Ling juga keluar dari ruangan pribadinya tersebut, karena aku mencemaskan dia saat itu.


"Aahh...kau pulang saja lebih dulu senior, aku mau menunggu profesor Ling dulu, nanti aku bisa pulang dengannya, dia juga pasti belum makan aku akan menyiapkan makanan untuknya nanti," balasku kepadanya.


Dan dengan cepat senior Feng dan senior Anming langsung saja menaikkan kedua alisnya sambil membulatkan mata mereka kepada saat itu.


"Eummmm...oke..ayo Feng jangan mengganggu gadis yang sedang kasmaran atau kita yang akan tersakiti dengan kelakuannya nanti," ucap senior Anming saat itu.


"Ahaha..iya ayo, Zhan Tao kau hati-hati disini banyak hantu loh jika malam, karena ini adalah laboratorium, cukup menyeramkan tinggal disini sendiri." Tambah senior Feng yang malah menakut-nakuti aku saat itu.


"Eehhh... sudah jangan menyakuti aku senior Feng aku bukan anak kecil usia lima tahun yang akan takut dengan ucapanmu itu," balasku kepadanya dengan penuh keberanian.


Lagi pula aku memang bukan orang penakut dan lampu di laboratorium cukup terang tidak mungkin ada hal-hal aneh disana ditambah aku tahu bahwa di sini aku tidak benar-benar seorang diri, sebab masih ada profesor Ling di dalam ruangannya.


Setelah dia senior itu pergi aku segera mencari makanan ke luar dan membeli beberapa ayam untuk makan malamku juga profesor Ling, setelah sampai kembali ke laboratorium aku segera masuk ke dalam ruangan pribadinya profesor Ling saat itu dan melihat profesor Ling tengah terkulai lemah seorang diri di kursi kebesarannya, melihat wajah dia yang pucat pasi dan tangannya yang terus memegangi perutnya itu membuat aku sangat cemas dan panik.


"Profesor? Ada apa denganmu?" Tanyaku sambil segera berlari menghampiri dia secepatnya saat itu juga.


"Kenapa kau masuk kemari? Aahhh... perutku," ucap profesor Ling sambil terus memegangi perutnya dengan kuat.


Aku tidak tahu apa yang dia rasakan jadi aku mulai menanyakan kepada dia mengenai bagian mana yang terasa sangat sakit pada perutnya tersebut.


"Profesor Ling ini bukan waktu yang tepat untuk kau menanyakan keberadaanku, sekarang yang terpenting adalah kesehatanmu, ayo aku bantu kau duduk dengan benar di sofa sama agar bisa lebih leluasa." Ujarku sambil segera menarik tangannya dan memapah dia sampai duduk di sofa yang ada di ruangannya malam ini.


"Aaaakkkkkk....kenapa bisa sesakit ini," gerutu profesor Ling sambil meringis kesakitan.


"Profesor mana yang sakit? Apa sebelah sini?" Tanyaku kepadanya dan dia langsung memberikan anggukkan kepadaku saat itu.


Setelah dia memberitahuku dimana letak rasa sakit ya aku sudah bisa mengetahui bahwa dia mungkin saja sembelit saat itu, sebab dulu adik tiriku juga pernah merasakan penyakit seperti itu karetdia manusia pemalas yang jarang sekali berolahraga jadi dia mengalami kesulitan untuk buang air besar dan harus memakan makanan yang tinggi akaa serat supaya bisa membantu dia dalam pencernaan di dalam tubuhnya.


"Profesor Ling tunggu di sini aku tahu obat yang tepat untukmu," ucapku kepadanya.


Aku segera saja berlari dengan secepat yang aku bisa, aku langsung mencari obat yang biasanya selalu aku bawa dalam dompet perlengkapan obatku, hingga akhir aku berhasil menemukan sebuah sirup yang bisa digunakan untuk obat sembelit adik tiriku sebelumnya, untung saja obat itu masih aku simpan.


"Aahh...syukurlah aku bisa menemukannya," gerutuku sambil segera pergi mengambil air dan mulai melarutkan obat sirup tersebut, aku pergi lagi menemui profesor Ling dan memberikan minuman obat itu kepadanya.


"Profesor Ling minumlah ini, kamu akan merasa lebih baik nanti," ucapku kepadanya.


Namun sepertinya dia tidak mempercayai aku jadi pada awalnya dia menolak pemberian obat tersebut dariku dan malah mencurigai hal yang tidak-tidak kepadaku saat itu padahal niatku sangat tulus dan baik kepadanya.


"Minuman apa yang kau berikan ini, apa kau mau meracuni aku ya?" Ucap profesor Ling kepadaku dengan sorot matanya yang sangat tajam sekali saat itu.


Aku tentu saja kaget dan langsung terperangah dengan sangat lebar mendapatkan prasangka seperti itu darinya.


"Ehhh...tidak profesor, ini obat cair untuk sembelit yang biasa adikku gunakan, jadi aku memberikannya untukmu agar pencernaanmu bisa lancar dan perutmu tidak akan tegang lagi seperti ini." Balasku menjelaskan kepadanya dengan langsung.


Mendengar penjelasan dariku yang tidak aku sangka profesor Ling langsung saja menutup mulutku dengan sebelah tangannya dengan kuat dan dia menatapku begitu tajam sambil menyuruh aku untuk diam.


"Aishh..diam kau, kenapa kau bisa tahu kalau aku sembelit, apa kau memata matai aku ya?" Ucap profesor Ling kepadaku saat itu.


Aku hanya bisa menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan darinya karena mulutku masih dia bekap saat itu.


Aku merebahkan aneh dan sedikit kesal dengannya, karena dia yang sudah dengan jelas membekap mulutku saat itu, tapi justru malah dia sendiri menyuruh aku untuk bicara kepadanya, benar-benar manusia yang aneh menurutku saat itu.


Aku juga segera menunjuk ke arah tangan profesor Ling yang membekap mulutku saat itu sampai membuat dia segera melepaskannya dengan cepat ketika dia tersadar dengan hal itu, dan terlihat cukup malu karena kelakuannya sendiri yang konyol.


Padahal dia adalah manusia jenius dalam sanis dan matematika, tapi entah kenapa dia bisa sekonyol itu sampai tidak sadar kalau dia membekap mulutku dengan kuat sampai aku tidak bisa bicara.


"Aahh....kenapa kau tersenyum begitu, apa kau berani menertawakan aku ya?" Bentak profesor Ling yang malah terlihat semakin kesal kepadaku.


Ya tentu saja aku ingin tertawa ketika melihat kelakuannya yang konyol seperti itu tapi aku sudah berusaha menahan semuanya semampuku hanya saja sulit sekali melakukannya jadi aku tetap menampakkan senyum sedikit tapi sialnya dia malah mengetahui hal itu dan mengatakan bahwa aku menertawakan dirinya padahal aku hanya tersenyum kecil saja saat itu dan itupun tidak berlangsung lama karena dia langsung membentak aku dengan cepat.


"Profesor Ling aku tidak menertawakan mu aku hanya tersenyum saja padamu, dan itu karena aku menyukaimu walaupun kamu punya sembelit parah seperti ini." Balasku sambil terus menahan tawa sendiri.


Profesor Ling merasa semakin kesal dia kembali menatap tajam kepadaku.


"Diam kau....aahhh jika sampai orang di luar sana mendengar ucapanmu dan mengetahui penyakitku ini, maka aku akan menendangmu dari sini, apa kau dengar hah! Ini ancaman khusus padamu, jangan sampai kau berani membocorkan rahasiaku!" Ucap dia memperingati aku dan mengancam aku bertubi-tubi seperti itu.


Aku hanya bisa tetap menahan tawa seorang diri karena selain itu aku juga sudah tahu bahwa memang tidak ada siapapun lagi yang ada disana, sehingga tentu tidak aka ada yang mendengar ucapanku ataupun ucapan dia yang membicarakan mengenai penyakit sembelit yang dia derita saat itu.


"Profesor Ling tenang saja di luar sana sudah tidak ada siapapun, hanya tinggal aku seorang saja yang ada di laboratorium ini, dan ini aku juga datang untuk memberimu ayam goreng. Aku pikir kamu pasti belum makan sejak siang jadi aku membelikan ini dahulu untukmu sebelum aku akan pulang, kamu makan ya dan jangan lupa minum juga sirupnya, itu benar-benar sangat manjur pada adikku," balasku kepadanya saat itu.


Aku pun segera pergi dari sana karena sudah tidak tahan lagi untuk tertawa aku tidak mungkin akan tertawa lebar di hadapan profesor Ling yang begitu sensitif kali ini sehingga menghindarinya itu adalah keputusan yang terbaik untukku saat ini.


Setelah aku keluar dari ruangannya aku baru saja bisa tertawa dengan sangat lebar dan terus saja menertawakan kejadian yang sangat konyol tadi saat bersama dengan profesor Ling sebelumnya.


"Ahahaha...tidak menyangka ternyata seorang profesor yang jenius dan selalu sibuk dengan pekerjaannya dia bisa juga memiliki penyakit yang memalukan seperti itu, ahahah...mana wajahnya tadi lucu sekali ahahah...dia benar-benar memiliki sisi yang konyol," gerutuku terus tertawa dengan puas.


Aku pergi mengambil tas punggungku dan segera pergi dari laboratorium itu secepatnya, saat ini sudah cukup malam sekali dan aku masih harus pergi dengan jalan kaki dari laboratorium menuju ke asrama, tapi aku tidak masalah saat itu karena aku membawa ponselku dan menyalakan lampu ponselku untuk menerangi jalanan saat itu.


Sudah tidak banyak orang yang berkeliaran di sekitar sana hanya ada satu dua orang dalam jarak yang cukup jauh yang bisa aku lihat hingga sesampainya di asrama aku masih belum bisa berhenti untuk menertawakannya sampai kedatangan aku yang terus tersenyum sendiri membuat teman sekamarku menatap heran sambil mengerutkan kedua alisnya padaku saat itu.


"Eehhh...Zhan Tao darimana saja kau jam segini baru pulang, untung saja gerbang belum di tutup." Ucap Xinxin kepadaku saat itu.


"Ehehhe...tidak akan gerbang di tutup jam sepuluh ini masih ada waktu dua puluh menit lagi jadi santai saja ahahaha," balasku kepadanya.


"Hei...Zhan Tao apa kau baru keluar dari rumah sakit jiwa ya? Kenapa terus tertawa seperti itu, aishh menyeramkan." Tambah Yimin kepadaku namun aku tetap tidak menghiraukan ucapannya tersebut.


Aku segera saja pergi ke kamar mandi dan membersihkan diriku dengan cepat bahkan disaat aku sudah keluar dari kamar mandi aku masih terus tersenyum sendiri membayangkan kejadian sebelumnya, yang sangat membuat aku ingin terus tersenyum dan tertawa lebar sesekali saat itu.


"Ahahah...dia konyol sekali," ucapku sambil hendak menaiki ranjangku.


"Zhan Tao ada apa sih denganmu, ayo cepat cerita padaku kau seperti orang gila sejak masuk tadi?" Tanya Xinxin si paling kepo dalam segala hal.


"Xinxin kau masih tidak cukup umur untuk mendengar ceritaku ini jadi sebaiknya kau tidur saja oke, aku juga sudah mengantuk hoaamm sangat mengantuk sekali, selamat malam Xinxin." Balasku kepadanya sengaja untuk membuat dia menjadi kesal.


"Aishh..kau ini sangat pelit sekali, awas saja kau aku akan menghajarmu nanti, aishh...menyebalkan!" Gerutu Xinxin yang tidak aku beritahu apapun saat itu.


Meski aku tahu Xinxin terlihat kesal sekali saat itu tapi aku sudah tidak memikirkannya langsung saja tertidur dengan penuh harapan agar bisa memimpikan sosok profesor Ling nanti malam.


Tapi ke esokan paginya aku bangun dengan cemberut dan wajah yang datar karena semalam tadi aku benar-benar tidur tanpa aku sadari dan aku sama sekali tidak bermimpi apapun, padahal aku sudah berusaha membayangkan sosok profesor Ling sebelum aku tidur semalam, namun hasilnya tetap saja aku tidak memimpin apapun, hal itu membuat aku merasa sedikit kesal karena aku sudah berharap terlalu banyak sejak semalam.


"Aishh....hiks..hiks..hiks..menyebalkan sekali aku tidak bisa memimpikannya, aku ingin tidur lagi," ucapku sambil kembali merebahkan tubuhku ke ranjang lagi saat itu juga.


Aku merasa sangat lelah sekali dan rasanya ingin segera tidur saat itu namun tetap saja aku tidak bisa meski sudah memaksakan diri untuk kembali tidur dan berusaha keras untuk menutup mataku, tetap saja aku tidak bisa dan malah terus berguling kesana kemari tidak jelas.


"Huaa...aku ingin tidur," ucapku yang sudah sangat frustasi karena gagal tidak memimpikan profesor Ling.


Hingga tidak lama muncul Xiuying yang terlihat baru saja masuk saat itu sambil membawa makanan di tangannya untuk sarapan.


"Zhan Tao cepat kau turun di bawah ada Jingmi yang menunggumu, dia sepertinya sudah menunggu cukup lama sedari tadi," ucap kak Xiuying mengingatkan aku tentang Jingmi.


Aku langsung terbelalak dengan lebar dan langsung saja bangkit terduduk dengan cepat saat mengingat mengenai janjiku kepada Jingmi sebelumnya.


"Astaga...aku lupa, aku memiliki janji dengannya, aahh sudah jam berapa sekarang?" Ucapku sambil terburu-buru mengambil ponselku.


Saat melihatnya ternyata itu sudah jam sepuluh siang dan aku benar-benar terlambat cukup lama karena kami janjian pergi ke toko buku jam sembilan, karena sebelumnya Jingmi sudah mengganti jadwal denganmu, yang seharusnya kamu kuliah hari ini menjadi libur karena dosen yang tidak bisa hadir juga ada pergantian jadwal, aku benar-benar lupa dengan hal itu karena Jingmi memberitahuku saat sudah tengah malam dan aku hanya membacanya dengan mata setengah terbuka lalu kemudian kembali tidur lagi dengan cepat saat itu.


Sehingga tentu saja sekarang aku malah melupakannya dan justru malah sibuk merasa kesal karena tidak bisa memimpikan profesor Ling.


Aku pun dengan cepat terperanjat dari ranjangku dan langsung saja mengambil alat mandi dan pergi ke kamar mandi dengan terburu-buru, mandipun rasanya aku seperti hanya terkena air saja, aku buru-buru berganti pakaian dan masih mengikat rambutku sambil berlari dengan sepatu yang aku kenakan sambil berlari saat itu karena aku tidak ingin membuat Jingmi harus menunggu aku lebih lama lagi hingga ketika aku sampai di lantai bawah aku melihat Jingmi benar-benar masih menunggu aku saat itu, dan bisa-bisanya dia masih tersenyum menatap kepadaku di saat aku sudah datang sangat terlambat saat itu, padahal awalnya aku pikir dia akan marah denganku karena keterlambatan ini, namun rupanya dia sama sekali tidak marah sehingga membuat aku sedikit keheranan dan bingung saat melihat dia malah terus tersenyum kepadaku.


"Hei..kenapa kamu tersenyum begitu apa kau tidak marah, sejak kapan kamu menungguku disini?" Tanyaku kepada dia saat itu.


Namun Jingmi malah terus saja tidak bisa berhenti tersenyum lebar membuat aku sedikit kesal dan semakin penasaran di buatnya.