Professor Ling I Love You

Professor Ling I Love You
Kencan Ketiga



Xinxin yang mendengar jawaban tersebut dariku dia hanya terlihat menunduk sambil berkacak pinggang sampai tidak lama kemudian dia mulai terlihat mengeluh denganku dan terus saja meminta agar aku bisa menjadi lebih sabar lagi dalam menghadapi para pria itu, padahal semuanya sudah cukup jelas aku merasa tidak cocok dengan mereka sebelumnya jadi tentu saja aku mengusirnya yang pertama sangat narsistik dan yang kedua idiot juga jorok, mana mungkin aku memilih mereka itu terlalu menjengkelkan.


"Aishhh.... Zhan Tao lalu sekarang bagaimana? Kau hanya punya dua pilihan lagi, usahakan yang ketiga ini kau tidak boleh mengusirnya dengan kasar, sekalipun dia menjengkelkan apa kau mengerti?" Ucap Xinxin kepadaku.


Aku pun hanya bisa kembali menurut dengannya karena tidak ingin membuat Xinxin semakin pusing untuk menghadapinya.


"Hmm...oke..oke ..aku akan usahakan agar tidak marah dengan mereka, aahhh kau ini selalu saja seperti itu padaku, tapi Xinxin jika yang ketika ini juga tidak benar aku memutuskan untuk jangan ada yang ke empat karena sudah pasti jika tiga-tiganya tidak jelas maka yang ke empat juga sama konyolnya bukan, jadi lebih baik tidak usah ada lagi yang ke empat, bagaimana?" Ucapku memberikan penawaran kepada Xinxin saat itu.


"Ya...baiklah kau bisa melakukan apapun yang kau mau, aku sudah memberikan yang terbaik untukmu" balas Xinxin menjabat tanganku yang menunjukkan dia sudah setuju.


Aku merasa lega karena dia sudah mau menyetujuinya sampai tidak lama kemudian aku kaget karena seorang pria yang memakai kemeja putih dengan celana pendek datang menghampiriku dia membawa setangkai bunga yang tiba-tiba saja berjongkok di hadapanku lalu mulai bicara tidak jelas yang membuat aku sangat ilfil mendengar kalimatnya tersebut.


"Rembulan di pagi hari, cahayanya yang menghangatkan tubuh. Selalu aku mencari, tempat untuk berteduh..hu...hu..huu..... Kini aku telah menemukan bidadariku" ucap pria itu sambil memberikan bunga mawar itu kepadaku.


Aku kaget dan membelalakkan mata dengan sangat lebar, tidak tahu apa yang harus aku lakukan karena aku tidak mengenalnya begitu juga dengan Xinxin saat itu, tetapi pria tersebut terus saja memaksa agar aku menerima bunga yang dia berikan saat itu.


"Xinxin siapa pria ini apa dia kencan buta ku yang ke ke tiga?" Tanyaku kepada Xinxin sambil berbisik pelan,


"Mungkin saja, tapi fotonya beda sekali dengan yang di kirim oleh pacarku" ujar Cincin padaku saat itu.


"Nona cantik, ayo terimalah bunga indah ini jika kamu bersedia menjadi pendamping hidupku" ucap pria itu membuat aku dan Xinxin terbelalak sangat kaget mendengar ucapannya.


"Aahh... tidak-tidak aku tidak mau, aku tidak suka denganmu sebaiknya kamu pergi saja terimakasih sudah datang untuk menepati janji, ayo cepat berdiri jangan seperti itu" ucapku kepadanya.


Saat itu aku sudah berusaha untuk bersikap baik dan ingin segera mengusir dia dari hadapanku namun konyolnya pria itu terus saja mendesak aku untuk menerima bunga darinya dan aku sangat membenci itu, karena aku tidak ingin menerimanya namun pria tersebut terus saja memaksa sampai aku memutuskan untuk berlari menghindarinya, tapi pria itu malah terus mengejarku dan Xinxin.


"Ayo terima bungaku ini, aku sudah membelinya dengan uang sakuku... Kau tidak bisa menyia-nyiakan semua ini, cepat terimalah nona cantik" ucapnya sambil berjalan mendesak terus menerus padaku.


"Hah....Xinxin ada apa dengannya aku menjadi takut" ucapku kepada Xinxin sambil menggandeng tangannya.


"Sebaiknya kita lari saja dia seperti orang gila aaaaaa" teriak Xinxin yang malah lari lebih dulu meninggalkan aku.


"Ahh..ahaha...maafkan aku, tapi aku tidak mau menjadi pasangan hidupmu...aishh..dasar gila...aaaaaa....Xinxin tunggu aku!" Teriakku sambil segera berlari meninggalkan pria konyol itu.


Aku pikir pada awalnya pria itu tidak akan mengejar aku tetapi disaat aku berhenti sejenak sambil membungkuk memegangi lututku, terdengar suara pria itu yang memanggil aku dan dia berlari mengejar ke arahku.


"Hah....hah...hah...sial kemana Xinxin pergi aaahhh, kencan macam apa ini" gerutuku merasa sangat kesal sekali.


"Hey...kau...tunggu aku kau harus menerimanya hey..kau tidak bisa kabur dariku!" Teriak pria itu yang tiba-tiba saja muncul sambil berlari mengejarku.


Aku semakin panik dan takut sehingga langsung saja aku berlari masuk ke gedung kampus dimana disana banyak sekali orang yang berlalu lalang dan aku pikir jika aku lari ke dalam gedung kampus pria itu akan kesulitan untuk mengejar aku, namun sialnya dia cukup cepat juga dalam berlari sedangkan aku tidak terlalu cepat, itu membuat dia bisa terus mengikutiku dan tidak ada pilihan lain selain dari bersembunyi untuk membebaskan diri dari pria tersebut.


"Aishh ..sial kenapa dia bisa terus mengejar aku begini" gerutuku saat itu.


Aku terus saja berlari sekencang yang aku bisa dan melihat ada salah satu ruangan yang terbuka saat itu, sehingga aku langsung masuk ke dalam ruangan itu dan menutup pintunya sekaligus sambil berjongkok dan menutup mataku berharap pria sialan itu tidak akan mengetahui keberadaan aku di dalam ruangan tersebut.


"Ohh ..tuhan tolong selamatkan aku, selamatkan aku" gerutuku sambil terus saja merekatkan tanganku sendiri dan terus berdoa disana.


Sampai terdengar suara pria itu yang menggerutu kesal di luar sana, sampai hentakkan kakinya yang cukup kencang membuat aku sedikit kaget di buatnya, namun untung saja pria itu tidak berhasil menemukanku sehingga aku bisa mengusap dadaku dengan tenang dan merasa lega setelah mendengar langkah kakinya menjauh dari sekitar sana.


"Dasar wanita tidak tahu diuntung, awas kau jika aku bertemu lagi denganmu aku akan memastikan kau harus mengganti rugi!" Gerutu pria itu sambil segera pergi dari sana secepatnya.


Aku langsung saja mengusap dadaku merasa tenang ketika mengetahui pria itu sudah pergi dari sana.


"Huh...untunglah dia sudah pergi, aish....semua ini karena Xinxin awas saja aku tidak akan mau lagi melakukan hal konyol seperti sebelumnya" gerutuku merasa sangat lelah dan kesal.


Sampai ketika aku hendak berdiri dan menoleh ke arah samping, aku sangat kaget karena ada seseorang yang sudah berdiri tegak di depanku dengan memberikan tatapan dingin padaku saat itu.


Tatapan itu terasa cukup mencekam dan menakutkan untukku sampai aku harus kesulitan untuk mengedipkan mata saat itu.