
Tentu saja aku tidak bisa melawan lagi, ditambah saat itu aku masih membawa makanan di tanganku, jika aku berontak terlalu keras, maka aku pasti akan menumpahkan makananku tersebut, makanya aku lebih memilih untuk menurutinya saja, walau di lubuk hatiku yang paling dalam sebenarnya aku sangat benci untuk melihat profesor Ling lagi, bukan karena aku benar-benar membenci dia, tetapi karena aku sadar bahwa nyatanya aku masih menyayangi dia, sekalipun aku tidak pernah berkata apapun mengenai perasaan aku terhadap dia sejauh ini.
Akhirnya aku tetap duduk dan Jingmi dengan sigap mendorongkan kursi untuk aku duduk saat itu, dia sangat baik dan begitu perhatian kepadaku bahkan saat aku sudah duduk dia tiba-tiba saja memberikan beberapa potong ati ampela kepada piringan makan milikku, hingga membuat aku kaget dan terperangah dengan membulatkan mata dengan sangat lebar saat itu.
"Ehh...Jingmi darimana kau mendapatkan ati ampela? Bukannya sudah habis ya?" Tanyaku kepada dia dengan heran.
"Aku sudah mengantri lebih dulu dibandingkan kau, jadi tentu aku mendapatkannya, aku berikan itu untukmu, khusus untuk Zhan Tao ku." Balas dia kepadaku sambil tersenyum dengan lebar, aku sangat senang menerima pemberian darinya.
"Ekmm.... Cie...cie..kalian ini sangat romantis dan serasi sekali sih, aahh kapan aku bisa memiliki seseorang yang siap siaga seperti Jingmi, aku juga ingin di sisakan telur mata sapi kesukaanku agar tidak kehabisan oleh orang lain." Ucap Xinxin yang entah kenapa aku merasa dia seperti tengah menyinggung seseorang saat itu.
Sebab dia bicara cukup keras dan menyandingkan tubuhnya ke samping, seakan dia sengaja bicara seperti itu agar seseorang bisa mendengar ucapannya, tapi dengan cepat aku langsung memangkas perkataan dia saat itu, karena aku tidak ingin kesalah pahaman terjadi diantara aku dan Jingmi, yang jelas selama ini kami hanyalah sahabat dekat, tidak ada hubungan spesial apapun seperti yang dimaksud oleh Xinxin barusan.
"Aishh..Xinxin kau ini bicara apaan sih, kau kan tahu aku dan Jingmi sahabat baik, tentu hal biasa jika dia bersikap seperti ini kepadaku, sebab dia tahu aku menyukai ati ampela, dan mungkin dia juga tahu jika aku manusia yang payah, sebab selalu saja kehilangan sesuatu yang aku sukai, entah itu makanan ataupun seseorang." Balasku dengan wajah yang lesu dan terus saja menghembuskan nafas dengan lesu.
Jingmi langsung menghibur aku dengan cepat dan dia terus saja menyuruh aku untuk segera makan, begitu pula dengan Xinxin yang terus menyuruh aku untuk tidak banyak bicara lagi, dan aku hanya bisa mengangguk menuruti semua ucapan mereka berdua.
"Sudah...sudah...ayo makan Zhan Tao, kamu pasti sudah sangat lapar bukan?" Ucap Jingmi kepadaku.
"Iya cepat kau makan saja, mulutmu itu selalu saja mengeluarkan ucapan yang menyedihkan, sudah cukup kau menjadi sad girls selama berbulan bulan lamanya, aku sudah sangat benci mendengar tangisan dan keluhanmu." Tambah Xinxin kepadaku saat itu, dan dia malah memberikan tatapan sinis padaku.
Dia memang sahabat yang sangat tidak pantas untuk di contoh, terlebih lagi mulutnya itu selalu saja tidak bisa ditahan, selalu bicara seenaknya dan terus saja membuat aku resah dan kesulitan sendiri untuk menutup mulutnya yang sangat lemes sekali.
Alhasil aku hanya bisa makan dengan perasaan yang tidak menentu dan tetap saja sesekali aku masih mencoba untuk mencuri-curi pandang ke arah profesor Ling juga senior Sisi yang ada disana, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana mereka begitu dekat da senior Sisi yang terlihat begitu senang juga wajahnya yang begitu ceria seperti itu, disaat dia tengah duduk berhadapan dengan profesor Ling.
Meski wajah profesor Ling tetap terlihat datar dan dia terus saja makan dengan fokus, namun disaat senior Sisi menyuapi dia makanan profesor Ling juga menerima suapan itu, aku benar-benar merasa sangat kesal hingga tidak bisa menahan kekesalan di dalam diriku sendiri saat itu, dan tidak sengaja aku malah menghentak-hentakkan kakiku dengan keras sampai tidak sengaja menginjak kaki Xinxin yang membuat dia menjerit kesakitan dan terus saja marah denganku saat itu.
"Aishh..sangat menyebalkan, bagaimana bisa dia malah menerima suapan sari senior Sisi, apa dia menyukai seorang Sisi, atau jangan-jangan mereka sudah? Aaahh..." Gerutuku dalam hati yang terus saja merasa kesal.
"Aw... Zhan Tao, apa yang kau lakukan? Apa kau gila kenapa malah menginjak kakiku sekencang itu?" Bentak Xinxin yang langsung membelakkan matanya kepadaku saat itu.
Aku baru tersadar saat itu jika ternyata malah melampiaskan kekesalan ku sampai tidak sengaja malah menginjak kaki Xinxin sampai seperti itu.
Segera saja aku meminta maaf kepadanya karena merasa bersalah, sekaligus segera membantu dia untuk berjalan pergi mengobati kakinya saat itu juga.
"Aa...aahh..maafkan aku Xinxin aku benar-benar tidak sengaja tadi aku ....aku.." ucapku gugup dan tidak tahu harus bicara apa kepadanya.
Namun kayanya sahabat terbaik yang lain, dia juga sudah mengerti apa yang terjadi denganku tanpa aku perlu menjelaskannya lagi kepada dia saat itu, sehingga Xinxin sudah tidak mempermasalahkannya lagi dan dia segera saja mengerti keadaan aku.
"Aahh.. sudahlah lagian kakiku juga sudah tidak begitu sakit, paling hanya akan lecet sedikit saja, kau harus membantu aku mengobatinya!" Balas dia kepadaku dengan memberikan tatapan yang tajam.
Aku mengangguk dan terus tersenyum kepada dia sambil segera membawa dia ke UKS dan mengobati kakinya yang benar-benar lecet karena ulahku sebelumnya, kembali aku meminta maaf dan Xinxin dengan baiknya masih saja tidak menyalahkan apapun lagi kepadaku, padahal aku sudah melukai kakinya tersebut, walaupun itu hanya sedikit saja.
"Maafkan aku ya, Xinxin. Karena aku kamu jadi harus terluka seperti ini, pasti perih ya? Aku benar-benar merasa bersalah kepadamu Xinxin." Balasku sambil terus menunduk dan mengoleskan salep kepada kaki Xinxin yang lecet saat itu.
"Hei.. sejak kapan kau menjadi seperti ini, sudahlah lagi pula aku kan hanya lecet sedikit, itu tidak akan membuat aku mati juga, jadi jangan berlebihan lagi." Balas Xinxin kepadaku saat itu.
Aku semakin terharu ketika mendengar jawaban darinya dan langsung saja aku memeluk dia dengan sangat erat sampai Xinxin hampir kehabisan nafas dan barulah sekarang dia marah besar padaku.
"Aaaa... terimakasih banyak Xinxin kau memang teman terbaikku, kau yang paling hebat dan sangat memahami aku, aku sangat menyayangimu Xinxin." Ucapku sambil semakin mempererat pelukan padanya.
Aku pun segera melepaskannya dan dia langsung saja terlihat mengatur nafasnya dengan cepat, dia juga terus mengusap dadanya dengan perlahan, meski begitu dia tetap saja menggerutu kesal tanpa henti kepada aku terus menerus.
"Euh...dasar kau, ah..hah..hah..hah.. aku hampir mati karenamu, apa kau gila ya, malah memeluk aku se erat itu?" Ucap dia kepadaku.
"Ehehe... Maafkan aku Xinxin, habisnya kau buat aku semakin terharu saja sih, aku sangat senang dan merasa sangat beruntung sekali karena bisa memilih sahabat sebaik kau, eumm aku senang sekali hehe.." ucapku sambil mencubit kembali kedua pipinya dengan gemas, dan terus saja tertawa keras kepadanya.
Dia pun terus saja cemberut kepadaku dan mengusap pipinya karena merasa sangat ngilu dengan kedua pipinya yang sedikit merah sebab aku cubit sebelumnya, walau Xinxin sedikit merajuk padaku tetapi itu tidak berselang lama, dia bisa kembali tertawa dan mengobrol bersama lagi deganku hanya selang beberapa detik saja.
Kami pun pulang menuju asrama bersama dengan Jingmi yang juga ikut mengantarkan aku ke asrama, dia juga memberikan aku sebuah hadiah kecil yang tidak pernah aku sangka-sangka sebelumnya.
"Zhan Tao, tunggu." Ucap dia menahan langkahku.
Dengan cepat aku langsung berbalik menatap ke arahnya dengan wajah yang kebingungan dan linglung saat itu, terus saja aku membelalakkan mataku dengan lebar dan terus menaikkan kedua alisku saat itu.
"Ada apa Jingmi?" Tanyaku kepadanya sangat heran.
"Ini, ada hadiah untukmu." Balas dia sambil memberikan sebuah kotak kecil yang membuat aku sangat heran.
"Ehh...ada apa ini, kenapa kamu memberikan aku hadiah secara tiba-tiba? Hari ini aku tidak ulang tahun kok, dan aku juga tidak mendapatkan pencapaian apapun sama sekali, jadi kenapa kamu memberikan aku hadiah seperti ini?" Tanyaku kepada dia.
"Eheh... Tidak itu hanya seperti oleh-oleh saja, kamu kan tahu beberapa hari yang lalu aku menemani salah satu professor di laboratorium ku untuk penelitian ke salah satu peninggalan bersejarah di luar kota, dan aku juga tahu kalau kamu suka sesuatu yang berhubungan dengan bebek, makanya aku membelikan patung bebek yang lucu ini untukmu, mereka bilang patung ini bisa digunakan untuk hiasan kamar ataupun sebagai pajangan lainnya, semoga kamu suka ya." Ucap dia sambil membukakan kota itu.
Sebuah patung bebek yang sangat mirip sekali dengan bebek aslinya terlihat sangat jelas dan aku begitu senang bisa mendapatkan hadiah unik seperti ini.
"Wahh... Jingmi, kau sangat luar biasa, bagaimana bisa kamu menemukan sesuatu yang sebagus ini, aaahh aku sangat senang sekali." Balasku sambil segera menerima pemberian itu darinya.
Saat itu senyuman di wajahku terus saja tergambar sangat jelas sampai ketika Jingmi pergi Xinxin malah memanggilnya lagi dan dia ikut meminta oleh-oleh dari Jingmi saat itu, sebab Jingmi hanya memberikan hadiah kepadaku saja.
"Hei...mau kemana kau, seenaknya pergi begitu saja, apa kau tidak melupakan sesuatu?" Ucap Xinxin kepada Jingmi saat itu.
"Memangnya apa yang aku lupakan? Aku sama sekali tidak melupakan apapun?" Balas Jingmi kebingungan sambil terus saja menatap heran ke arah Xinxin yang sudah memasang wajah yang kecut kepadanya.
"Hei....dasar kau manusia sialan, bisa bisanya kau hanya memberikan hadiah kepada Zhan Tao saja, sedangkan padaku tidak memberikan apapun, memang aku ini apa untukmu, apa aku bukan temanmu juga?" Bentak Xinxin sangat keras saat itu.
Langsung saja aku tertawa terbahak-bahak begitu pula dengan Jingmi yang ikut tertawa melihat tingkah Xinxin yang selalu saja mendapatkan apa yang aku miliki dan dia sangat lucu sekali ketika dia merajuk seperti itu.
"Ahaha...Xinxin... Aku pikir ada apa, tapi aku juga menyimpan hadiah untukmu loh." Balas Jingmi di sela-sela tawanya saat itu.
Seketika Xinxin langsung merubah wajahnya, dan dia kembali ceria juga terus merasa sangat antusias ketika mendapatkan perkataan seperti itu dari Jingmi, dia sudah sangat senang dan berharap banyak dengan hadiah yang di maksudkan oleh Jingmi untuknya saat itu.
"Benarkah? Mana..dimana hadiahku, cepat berikan aku sudah sangat tidak sabar." Balas Xinxin begitu tidak sabaran.
"Sungguh? Kau juga memberikan hadiah untuk Xinxin?" tanyaku lagi kepada Jingmi.
"Ya tentu saja, dia kan sahabat terbaikmu, jadi dia sahabat aku juga." balas Jingmi begitu yakin dan terlihat meyakinkan.
Dia benar-benar sangat antusias dan terlihat sudah tidak sabar lagi menunggu Jingmi untuk memberikan hadiah kepadanya, aku juga terus merasa senang sekaligus menunggu hadiah apa yang akan diberikan oleh Jingmi kepadanya, sehingga aku terus saja ikut merasa penasaran dengan hal itu, tapi Jingmi malah terus tersenyum dan dia mulai membuka tas yang dia pegang sedari tadi sambil terus merogoh ke dalam, terlihat tengah mencari sesuatu di dalam sana, tapi tidak tahu apa yang sebenarnya tengah dia cari karena cukup lama dia mencari di dalam tasnya tersebut, membuat aku dan Xinxin semakin penasaran lagi dan lagi tanpa henti.