Professor Ling I Love You

Professor Ling I Love You
Menikmati Makanan Sendiri



Xinxin terus saja melanjutkan tertawanya dengan sangat keras dan dia malah terus menarik ujung pakaianku sambil merengek tanpa henti, aku juga tidak tahu harus berbuat apa dengannya, hanya bisa terus mengusap punggungnya dengan lembut dan terus membuat dia agar merasa nyaman berada di sampingku saat itu, setidaknya dengan begitu mungkin Xinxin bisa merasa lebih baik dan dia bisa berhenti merengek kepadaku.


"Ahh..sudah sudah Xinxin jangan mempermasalahkan hal itu lagi, sudah kau mau sampai kapan terus merengek seperti bocah begini kepadaku, aduh...lama kelamaan bahuku akan habis basah oleh air matamu itu, sudah dong jangan mewek terus aku kan bosan dengarnya." Ucapku kepada dia.


Hingga akhirnya berhasil membuat Xinxin berhenti menangis dan dia mau melepaskan tangannya dari pakaianku, aku baru bisa merasa lega saat itu, setelah dia mau melepaskan pegangannya dari pakaianku, setidaknya aku sudah bisa duduk di kursi, dan bisa merebahkan punggungku ke sandaran belakang, setelah beberapa saat terus berdiri dan menjadi tiang untuk di peluk oleh Xinxin sedari tadi.


"Huaa.. akhirnya aku bisa duduk juga, gini dong, dari tadi kek, kau melepaskan aku, kan enak kalau begini, aku bisa duduk dengan tenang dan kau bisa curhat apapun padaku sampai kau puas." Ucapku kepadanya saat itu.


Xinxin terus saja memberikan tatapan tajam kepadaku dan terus saja dia melihat wajahku sangat tidak senang, dengan tatapan matanya yang sinis dan dia yang terus saja menyipitkan matanya itu, aku sangat kebingungan dengan apa yang harus aku lakukan.


"Hei...ada apa denganmu? Kenapa menatap aku begitu, memangnya ucapanku salah apa?" Tanyaku dengan kedua alis yang aku naikkan bersamaan saat itu.


"Aish...sudahlah bodo amat, aku tidak perduli lagi denganmu!" Ucap dia yang malah merajuk begitu saja padaku.


Lalu dia naik ke ranjangnya dan menutup wajah dia dengan selimut tebal yang ada disana, bahkan dia menutup seluruh tubuhnya, aku hanya bisa keheranan begitu juga dengan Yimin dan Xiuying yang ada disana.


"Eeehh...dia malah merajuk begitu, heran banget sih, sudahlah aku makan makananmu saja ya?" Ucapku bertanya kepada dia.


"Makan, kalian makan saja semuanya aku benci makanan itu, aku tidak mau melihatnya!" Teriak dia yang sepertinya benar-benar sangat membenci semua makanan itu.


Padahal makanan Diana sama sekali tidak berdosa dan masih terlihat begitu nikmat, juga menggugah selera, semuanya terlihat begitu lezat tapi tidak ada siapapun yang berani menyantapnya, sehingga hanya aku yang bisa memakannya tanpa rasa bersalah sedikitpun, karena Xinxin sudah mengijinkan aku untuk menghabiskan semuanya, sehingga tidak ada lagi keraguan yang ada di dalam hatiku, jadi aku merasa lebih senang dan sangat bersemangat sekali untuk menghabisi semua makanan enak itu.


"Hei, Xinxin apa kamu yakin, aku boleh menghabiskan semuanya? Makanan ini sangat lezat loh?" Tanyaku lagi memastikan.


"IHK. Sudah sana kau makan saja, apa kau tidak tahu apa? Aku ini sedang galau, aku sedih kau malah lebih mementingkan makanan dibanding temanmu sendiri, dasar teman laknat kau ini!" Bentak dia kepadaku dengan keras.


"Ya sudah sih, kalau kau sudah mengijinkannya, aku tidak akan menolaknya akan aku habiskan semua makanan ini hingga tidak tersisa sedikit pun, awas saja kalau kau menyesal nantinya, jangan salahkan aku!" Balasku kepadanya.


Aku terus saja duduk di depan meja yang penuh dengan makanan tersaji, aku membuka satu persatu dan mencicipinya terus, semuanya sangat enak dan begitu nikmat, aku terus memakan semua makanan pedas hingga yang manis sekaligus.


Selain itu aku juga sudah mencoba untuk menawarkan makanan itu kepada Xiuying dan Yimin, tapi mereka menolak pemberian dariku, jadi ini sebuah nikmat yang sangat besar untukku, aku bisa menyimpan semua sisanya untuk sarapan besok dan makan siang, setidaknya dengan begitu aku akan hemat lebih banyak uang.


"Kak Xiuying, apa kau mau? Daging panggang ya lezat loh, ini dipanggang dengan sangat pas dan bumbu di atasnya menyerap dengan merata." Ucapku sambil memperlihatkan satu gigitan kepadanya.


"Tidak aku sedang baca buku, mana bisa sambil makan makanan seperti itu, yang ada bisa mengotori buku ku." Balasnya dengan cuek, bahkan tidak melirik sedikitpun ke arahku.


Dia memang penggila buku dan selalu membaca semua buku ketika ada waktu luang, entah itu buku pelajaran, novel, hingga komik sekalipun dia pernah membaca semua jenis buku, mulai dari yang kecil dan pembahasan ringan hingga yang tebal, besar juga memiliki pembahasan berat di dalamnya.


Dia manusia yang luar biasa hanya saja matanya terkena minus 7, itu karena dia terlalu banyak menghabiskan waktu melihat banyak tulisan kecil di buku saat malam hari juga selalu berada di depan komputer dengan cahaya yang besar di setiap hari.


Tapi bahkan Yimin yang setiap harinya dihabiskan untuk bermain game, matanya sehat-sehat saja, mungkin dia trmasuk ke dalam salah satu orang yang beruntung karena memiliki mata yang sehat, namun bagi dia itu adalah bencana, sebab dengan begitu dia masih bisa mengalahkan banyak orang dalam permainan yang sulit tersebut, dan orang akan semakin menggerubuni dirinya, sampai membuat pacarnya sendiri merasa cemburu karena dia merasa terlalu banyak orang yang mencintai Yimin sehingga dia tidak memiliki hak atas sesuatu yang istimewa sebagai pacarnya.


Tetapi selain dari gadis yang baik dan keren Yimin walau dekat dengan banyak pria dalam game, dia tetaplah wanita setia, karena aku tahu dengan jelas bahwa dia adalah gadis yang sangat luar biasa sekali.


Kali ini karena kak Xiuying menolak tawaran dariku, aku beralih kepada Yimin dan segera menawarkannya lagi, sama dengan apa yang aku katakan pada kak Xiuying sebelumnya.


"Yimin bagaimana denganmu, bukankah kau sangat senang dengan kentang goreng? Lihat kentang gorengnya renyah loh eumm ini sangat nikmat jika di tambah dengan mayonaise dan saus tomat, apa kau yakin tida merasa tergugah dengan semua kenikmatan yang gratis ini?" Tanyaku kepada dia.


"Tidak mau! Aku sangat mengantuk mau tidur saja, besok kan masih harus pergi ke kampus di pagi hari, selamat malam Zhan Tao." Balasnya yang malam memilih untuk tidur di bandingkan menemani aku makan disana.


Aku pun hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu dan terus saja bersikap pasrah meratapi semua temanku yang menolak ajakan dariku dan mereka menghindar dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal itu, tidak biasanya mereka tidur lebih awal ataupun mengerjakan tugasnya di jam segini, aku merasa sangat di abaikan saat itu.


"Huuuhh...ya sudahlah, jika kalian tidak mau aku bisa memakannya sendiri, awas saja jika nanti kalian menginginkannya, aku tidak akan memberikan kalian sedikit pun!" Bentakku dengan kesal kepada mereka semua sambil terus memasukkan lebih banyak makanan ke dalam mulutku sekaligus.


Karena kesal menerima penolakkan dari mereka bertiga, aku pun menghabiskan semua makanan dan mencicipinya satu per satu tanpa henti, aku terus merasa sangat nikmat dengan perut yang sudah kenyang dan suara sendawa yang keras akhirnya aku bisa duduk dengan santai dan penuh kenikmatan seperti ini.


Ke esokan paginya aku bangun seperti biasa pergi mandi dan bersiap-siap ke kampus, mengambil semua buku sesuai jadwal dan saat turun ke lantai dasar melewati gerbang asrama putri yang baru dibuka, aku bertemu dengan Jingmi yang rupanya sudah menunggu kedatangan aku sedari tadi disana.


"Eehh..Jingmi, kenapa kau ada disini, bukannya kau tidak bisa pergi bareng denganku ya?" Tanyaku kaget dengan kemunculannya.


Sebab sebelumnya dia sudah memberikan pesan kepadaku bahwa dia tidak bisa menjemputku sebab ada pekerjaan kecil dari dosen yang harus dia selesaikan, tapi kini malah tiba-tiba muncul di depan gerbang dan sudah berpakaian rapih duduk di atas motor listrik miliknya sambil tersenyum kepadaku.


"Tada... Selamat ulangtahun Zhan Tao." Ucapnya memberikan aku sebuah kado yang cantik.


Aku kaget melihat hal itu, dan terus saja terperangah dengan membelalakkan mata sangat lebar sambil menutup kedua mulutku dengan kedua tangan sangat erat, pasalnya aku sendiri lupa bahwa ternyata hari ini adalah tanggal 19 Maret, hari ulangtahunku sendiri, rasanya sangat tidak menyangka ada orang yang mengingat hari ulangtahun disaat aku sendiri melupakan hari penting tersebut.


"Jingmi darimana kau tahu jika ini hari ulang tahun ku?" Tanyaku kepadanya dengan wajah yang masih syok.


"Haha..tentu saja aku tahu dari absen pelajar milikmu, aku kan ketua kelas aku bisa melihat tanggal lahir semua mahasiswa di kelas kita, sangat mudah untuk mengetahui milikmu karena berada di urusan terakhir." Balas dia kepadaku.


"Ini, kado dariku, kau tidak boleh membukanya sekarang, buka saat kau sudah sendirian, mengerti?" Ucapnya yang langsung aku balas dengan anggukkan.


"Iya..iya..lagian kenapa sih tidak boleh membukanya sekarang, aku kan sangat penasaran tahu." Balasku kepadanya.


"Pokoknya jangan, awas saja kalau kau berani mengintip apalagi membuka kadonya tidak sesuai dengan yang aku katakan, aku tidak akan memberimu kado lagi kemudian hari!" Balas dia memperingati aku dengan keras sambil memberikan helm miliknya padaku.


Aku pun tidak bisa melanggar hal itu, jadi hanya bisa menuruti ucapannya saja, meski aku sangat penasaran, segera aku masukkan kado itu ke dalam tas dan naik ke motornya, kami pergi ke kampus dan aku bertemu Xinxin yang sudah meninggalkan aku lebih dulu, dia tiba-tiba saja sudah menjadi anak teladan dan sangat rajin, menyalin catatan yang banyak di buku milik orang lain, pergi ke kampus setengah jam lebih awal dan untuk pertama kalinya aku melihat Cincin begitu sungguh-sungguh dalam belajar.


"Hei...bukankah dia teman sekamarmu? Tumben sekali dia sudah ada di kelas jam segini?" Ucap Jingmi yang juga merasa heran atas perubahan Xinxin.


"Haduh..jangankan kau, aku saja yang teman sekamarnya sama sekali tidak mengerti, dia baru saja putus dengan cara yang taragis kemarin, mungkin karena itu dia mengubah visi misi hidupnya." Balasku menanggapi pertanyaan dari Jingmi.


Yang malah di tanggapi dengan tawa cukup lama darinya, kami segera duduk dan aku sengaja memilih kursi di samping Xinxin sedangkan Jingmi duduk di kursi paling depan.


Dia memang anak teladan dan ketua kelas terbaik sejauh ini.


"Syutt ..apa yang sedang kau lakukan? Apa kau sudah mau belajar sekarang?" Tanyaku kepada Xinxin sambil menyenggol pelan tangannya.


"Aahh..diam kau! Mulai sekarang aku akan mendedikasikan diriku dalam bahasa dan pembelajaran, lihat saja nanti, aku akan membuktikan kepada para mantan sialan itu, bahwa mereka telah salah memutuskan aku dengan cara yang keterlaluan, ketika aku sukses mereka akan merasa menyesal telah memperlakukan aku dan mencampakkan aku seenaknya." Ucap Xinxin yang terlihat penuh tekad juga begitu bersemangat.


Aku bahkan sampai kagum dengan tingkahnya saat ini, jadi aku langsung bertepuk tangan memberikan dukungan sekaligus apresiasi kepadanya.


"Wahh..prok...prok ..prok...keren keren, kau hebat juga Xinxin, gitu dong baru kau Xinxin yang aku kenal, memang lebih bagus kita meningkatkan value dalam diri kita sendiri, daripada memikirkan dan bersedih atas pria yang tidak tahu diri di luar sana." Balasku menanggapi ucapannya.


Dia mengangguk menyetujui ucapanku dan kami mulai berniat untuk belajar sungguh-sungguh mulai sekarang, aku mendengar semua penjelasan yang diberikan oleh dosen, mencatat semua hal-hal penting yang di perlukan, dan kami mulai menjadi lebih aktif dibandingkan sebelumnya, hingga aku dan Xinxin saling tatap satu sama lain dan kami pergi ke kantin dengan sikap elegan dan terlihat keren dengan berjalan tegak, dan mengibaskan rambut ke kiri dan kanan.


Mengantri dengan lancar dan menikmati makan siang tanpa banyak mengobrol ataupun banyak mengelus seperti yang biasa kami lakukan sebelumnya, hari itu aku dan Xinxin benar-benar telah mengubah banyak kebiasaan buruk yang sebelumnya sulit sekali untuk kami tinggalkan, dan sejak saat itu aku mengerti bahwa orang-orang lebih cepat berubah dalam menata hidup ketika mereka patah hati, sama dengan apa yang menimpa aku juga Xinxin saat ini.


Hingga karena semua kebiasaan yang di tata lagi, aku sudah tidak kesiangan untuk pergi ke laboratorium, bisa datang tepat waktu tapi aku lupa kali ini aku sudah tidak memiliki kartu akses lagi, sehingga saat sudah sampai di depan pintu laboratorium, aku hanya bisa berdiri dan menundukkan kepala merasa bodoh dengan diri sendiri yang baru menyadari semua itu ketika sudah sampai di lantai atas seperti ini.


"Aishh..bodoh, aku kan sudah memberikan kartu akses milikku pada senior Sisi, aahh sekarang bagaimana aku bisa masuk?" Gerutuku merasa kesal sendiri.


Hingga tidak lama senior Sisi muncul dia tidak berucap apapun padaku dan berjalan menggesekkan kartu akses milikku, tapi aku tahu dia sudah mengganti namanya sebab jika belum mungkin dia tidak akan bisa menggunakannya semudah itu, aku tidak berharap bisa masuk dengannya tapi tiba-tiba saja senior Sisi memanggil namaku dan mengajak aku untuk masuk bersama dengannya.


"Hei kenapa kau masih diam saja, ayo masuk." Ucapnya membuat aku sangat kaget.


Dengan cepat aku menengadahkan kepalaku dan menatapnya dengan mata yang membulat sempurna, lalu segera saja aku berlari cepat mengikuti dia sebelum pintunya akan kembali tertutup nanti.