
"Dasar Xinxin teman tidak tahu diuntung itu, aishh... Kenapa bisa-bisanya dia malah meninggalkan aku dalam situasi yang sangat menyebalkan ini, padahal aku sudah membantu dia untuk mengisi absen ketelatannya, sampai aku juga harus menerima hukuman ini, huhu.... Kenapa aku sangat menyedihkan sekali, ini apa lagi yang ditulis aahh aku memang bodoh." Gerutu Zhan Tao yang merasa kesal dengan dirinya sendiri namun dia terus merutuki dan melampiaskan itu pada temannya Xinxin yang tidak ada disana saat itu.
Sampai tidak lama kemudian profesor Ling yang sudah tidak tahan lagi mendengar ocehan dari Zhan Tao dia mulai menarik nafas panjang lalu segera bangkit berdiri dan menghampiri Zhan Tao saat itu, juga sambil menyuruhnya untuk segera mengumpulkan tugas hukuman yang dia berikan sebelumnya.
"Huuh...anak seperti ini memang tidak bisa dibiarkan begitu saja," batin profesor Ling saat itu.
Dia sangat jengkel dan kesal mendengar semua ocehan yang tanpa henti dari Zhan Tao sehingga mau tidak mau dia harus melawannya dan harus menghentikan hal seperti itu sebab hanya itu cara terbaik agar Zhan Tao bisa diam dan berhenti mengoceh mengganggu dirinya yang tengah membaca buku saat itu.
"Heh... Kumpulkan hasilnya, kenapa kau sangat lama sekali hanya untuk menuliskan sebuah kaidah bahasa saja?" Ucap profesor Ling sambil hendak menarik ujung kertas yang ada di atas meja tengah dipegangi oleh Zhan Tao saat itu.
Tentu saja saat melihat kedatangan profesor Ling yang muncul secara tiba-tiba dari belakang tubuhnya itu membuat Zhan Tao sangat kaget dan dia langsung saja membelalakkan matanya dengan sangat lebar sambil refleks memegangi kertas tulisan tugasnya saat itu yang hendak ditarik oleh profesor Ling.
"AA...HH... Professor kenapa kau ada disini?" Tanya Zhan Tao sangat kaget saat itu.
Dia juga mulai merasa cemas mengingat semua hal yang sudah dia ucapkan sedari tadi sangatlah kasar juga penuh dengan makin dan rutukan kepada Xinxin dan Jingmi yang sudah meninggalkan dirinya.
"Menurutmu, aku sudah duduk cukup lama dan mendengar semua ocehan sampah dari mulutmu itu, sudahlah kemarikan tugasmu aku mengampunimu sekarang, tapi jika sampai kami tidak fokus lagi dalam kelasku, aku tidak akan memberikan kesempatan kedua untukmu bebas dari hukuman!" Ucap profesor Ling sambil langsung merampas kertas hukuman dari tanganku dengan cukup kasar.
Bahkan saking kencangnya profesor Ling menarik kertas itu aku sendiri saja hampir terjatuh ke depan karena terbawa oleh tarikannya, tapi untung saja dengan cepat aku melepaskan tarikannya sehingga tidak sampai benar-benar jatuh saat itu.
"Aaahhh....astaga... apa-apaan dengannya? Apa dia baru saja menarik kertas itu dari tanganku?" Gerutuku memikirkan.
Aku tentu saja tidak terima dengan mudah disaat seorang profesor sepertinya malah memperlakukan aku seperti itu, ditambah aku juga belum mendapatkan nomor ponselnya, aku sangat menginginkan itu walaupun sebenarnya aku cari mati jika terus mengejarnya dan bersih keras menjadikan dia calon pacar masa depanku.
Sayangnya aku tidak bisa menahan keinginanku itu, aku langsung berlari mengejar profesor Ling dan terus memanggil namanya tanpa henti.
"Aaa....ohh... Profesor Ling tunggu, profesor Ling tunggu aku...hey.. profesor!" Teriakku sangat kencang sambil terus berlari berusaha mengejar langkahnya yang cukup besar.
Hingga aku berhasil untuk memegangi tas ransel yang digunakan oleh profesor Ling saat itu dan tentu saja itu akan membuat profesor Ling berhenti berjalan sambil tubuhnya yang hampir saja jatuh ke belakang karena aku menangkap tas nya tersebut secara tiba-tiba.
Tapi untungnya profesor Ling bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dengan cepat sehingga dia tidak sampai jatuh sungguhan ke lantai.
"Haaaahh....ma..ma..maafkan aku profesor Ling, tadi aku hanya ingin memanggilmu dan kau kau tidak mendengarkan jadi aku melakukan itu, maafkan aku." Ujarku sambil segera membungkuk dan meminta maaf dengan penuh kecanggungan terhadap dia.
Kini keyakinanku untuk bisa mendapatkan nomor ponselnya semakin berkurang karena aku sudah membuatnya hampir jatuh dan sudah mempermalukan diriku saat di perpustakaan ketika aku mengomeli Xinxin sebelumnya.
Ini sangat buruk untukku padahal tidak ada pria lain lagi yang aku sukai, aku hanya menyukainya saja namun dia tidak bisa menerima cintaku jika terus saja keadaannya seperti ini, sekarang saja dia justru langsung membentak aku dan dia membersihkan tas ransel miliknya yang sebelumnya aku pegang tersebut.
"Apa kau gila ya? Beraninya kau menarik tasku seperti itu, apa kau tidak tahu atau memang aku belum cukup jelas bagimu, hah?" Ujar profesor Ling padaku saat itu.
Aku sangat takut mendapatkan bentakkan darinya pagi ketika melihat sorot matanya yang tajam dan terbelalak lebar kepadaku, itu membuat aku semakin bergetar takut dan gugup untuk menghadapinya secara langsung begini, meski sebelumnya aku begitu antusias, penuh semangat dan kepercayaan diri.
Namun saat berhadapan langsung dengan orangnya secara dekat seperti ini, tentu saja aku sangat tidak berani untuk melawan dia lagi, terlebih semua ini memang terjadi karena ulahku juga, aku yang sudah salah karena malah menarik tas miliknya itu.
"Professor Ling aku minta maaf aku benar-benar tidak bermaksud untuk melakukan semua itu padamu aku sungguh minta maaf profesor." Balasku kembali meminta maaf dengan penuh penyesalan dan bersungguh-sungguh.
Terlihat jelas saat itu profesor Ling menahan emosi dan kekesalan dengan mengerutkan kedua alisnya hingga hampir tajam sempurna.
"Haissss.... Kau ini aahh...andai saja kau bukan mahasiswiku sudah aku pastikan akan melemparmu sekarang juga." Ucap profesor Ling dengan tatapan matanya yang cukup menyeramkan untukku saat itu.
Aku pun hanya bisa menunduk dengan lesu dan merasa sedikit takut dengannya tapi disaat profesor Ling hendak pergi aku kembali menyatakan perasaanku padanya dan meminta kepada dia agar tidak marah lagi denganku dan mau memaafkan kesalahanku yang sebelumnya.
"Tunggu profesor Ling, aku ingin meminta nomormu, kau kan sudah janji jika kita bertemu lagi secara tidak sengaja maka kau akan memberikan nomor ponselmu padaku, sekarang waktu di kelas tadi kita sudah bertemu tidak sengaja, bolehkah kau memberikan aku nomormu?" Tanyaku menangis janji yang sudah aku buat sendiri denganya dan saat itu profesor Ling hanya menjawab ucapan dariku hanya sekilas saja.
Tanpa dia sadari bahwa janji itu bisa benar-benar menjadi sebuah janji bagi dia dan Zhan Tao sampai Zhan Tao menagih hal itu padanya saat ini.
Aku tidak bisa menerimanya karena aku sudah menganggap jawaban dia saat itu adalah sebuah janji sungguhan dan aku tahu dia dalam keadaan yang sadar sehingga jelas sekali dia tidak bisa membantahnya, aku tidak ingin menyia-nyiakan hal bagus seperti itu, jadi dengan cepat aku terus mendesaknya agar mau menepati janjinya memberikan nomor ponselnya padaku saat itu.
Namun bukannya dia benar-benar memberikan nomor ponselnya dia malah menyuruh aku mengisi sebuah formulir yang dia berikan kepadaku saat itu.
"Heh...daripada kau sibuk meminta nomorku kau isi formulir ini lalu datang ke laboratorium praktekku besok, baru kau bisa mendapatkan nomorku dan ambil kartu akses ini, kau bisa masuk ke dalam dengan kartu ini dan ambil sendiri kartu namaku di laboratorium pada meja milikku atau padaku langsung disana nantinya." Ujar profesor Ling kepadaku saat itu.
Kemudian dia pergi begitu saja dan aku masih terperangah melihat dia perlahan pergi keluar dari gedung kampus tanpa menjelaskan hal detail lagi padaku, aku juga ingin bertanya padanya formulir apa yang dia berikan kepadaku ini namun disaat aku hendak mengejarnya justru malah terdengar suara Yimin yang memanggilku dari belakang saat itu, sehingga aku gagal untuk mengejar pujaan hatiku karena panggilan darinya.
"Aishh... Professor Ling tunggu, kau belum menjelaskan formulir apa ini, profesor Ling!" Teriakku hendak mengejar dia lagi saat itu.
"Zhan Tao!" Teriak Yimin memanggilku.
Aku menahan emosi di dalam diriku dan saat aku berbalik sejenak saja karena sifat refleks dari tubuhku ketika mendengar teriakkan orang yang memanggilku, sayangnya profesor Ling sudah hilang saja ketika aku melihatnya lagi ke depan.
"Aaahhh...dia pergi kemana tadi, aahh Yimin semua ini karenamu aku kehilangan jejak profesor Ling tadi." Ucapku sambil cemberut kesal padanya.
"Eeehh...kenapa kau menyalahkanku, jika kau sedang mengamati seseorang kau kan bisa tidak menoleh dahulu, aku hanya menyapamu tadi, dan ada kabar gembira yang ingin aku beritahu kepadamu, hanya kau yang belum tahu kabar ini," ucapnya sambil tersenyum cerah padaku saat itu.
"Apa?" Tanyaku penasaran dan menatapnya dengan penuh kepenasaranan.
"Tada...." Ucap Yimin sambil menunjukkan tangannya kepadaku.
Dimana pada jari manisnya sudah terdapat sebuah cincin yang sangat cantik, aku benar-benar terpesona saat melihat cincin yang cantik dan berkilau seperti itu.
"Waahhh...cantik sekali, darimana kau mendapatkan cincin ini, aku juga ingin membelinya ini bagus sekali." Ucapku sambil hendak menyentuhnya saat itu.
Namun belum juga tanganku menyentuh cincin itu dengan cepat Yimin langsung menarik tangannya dan dia mulai pamer denganku tentang cincin yang dia pakai saat itu.
"Ahaha...sayangnya kamu tidak akan bisa membeli cincin ini Zhan Tao karena cincin ini dibuat khusus oleh gebetanku, ehh maksudnya pacarku itu," balasnya sambil bersikap centil padaku.
Mendengar Yimin yang sudah berpacaran dengan pria gebetannya aku kembali merasa kaget dan tida menduga dengan hal itu karena dia cepat sekali untuk menjalin hubungan dengan gebetannya tersebut.
"HAH? Kau beneran sudah berpacaran dengan pria yang kau kenal dari game itu ya?" Tanyaku memastikan kepadanya sambil membelalakkan mataku dengan lebar.
Dia mengangguk sambil tersenyum sangat senang, aku juga malah terbawa dengan suasana itu, sehingga kami langsung berpelukan sangat bahagia mendengar kabar tersebut dari Yimin.
"Huaa....selamat Yimin aaahh kau beruntung sekali, aku turut senang, aahaha...ini hebat sekali, kau sudah tidak jomblo lagi Yimin!" Teriakku yang seakan sudah lupa dengan nasib diri sendiri yang lebih menyedihkan dibandingkan ketiga temanku yang lainnya.
Sampai aku disadarkan oleh ucapan dan pertanyaan dari Yimin sendiri saat itu, pertanyaan yang sangat menusuk jantungku dan membuat aku langsung tersadar bahwa aku manusia menyedihkan yang tida pernah merasakan apa itu pacaran seumur hidupku.
"Ehh..tunggu bagaimana denganmu apa kau sudah menyatakan cintamu pada dia, aku yakin dia pasti akan menerimamu, aku juga orang yang menyatakan cinta lebih dulu pada dia da ternyata dia juga mencintai aku balik, bahkan diam-diam dia sudah menyiapkan cincin ini untukku sejak lama, ukurannya juga sangat pas dia so sweet sekali bukan?" Ucap Yimin membuat aku sangat iri dan semakin iri.
"Haissss...kenapa aku sangat bahagia mendengarmu sudah berpacaran dengan pria itu, kau yang berhasil kenapa aku haru sesenang ini, aahh aku benar-benar eror sekarang." Ucapku yang langsung melepaskan pelukan darinya dan merasa bingung dengan diri sendiri saat itu.
Tapi Yimin malah menertawakan tingkahku tersebut, dia sama sekali tidak bisa memberikan apresiasi apapun apalagi solusi untukku yang tetap bertahan dalam ke jombloan ini pada waktu yang sangat lama.
"Ahaha...Zhan Tao, kau kan temanku tentu saja kanjuga harus turut senang ketika mendengar temanmu ini sudah punya pacar, sekarang hanya giliranmu saja, jangan sampai di hari valentine nanti kau hanya sendirian, jomblo di hari valentine itu sangat menyakitkan tahu, aku dan Xinxin juga tidak akan ada di asrama, bahkan kak Xiuying yang gila belajar saja dia akan bertemu dengan kekasihnya, masa kamu sendiri saja sih, ayo cari pacar dan bersemangatlah mengejarnya. Oke!" Ucap dia dengan mudahnya berbicara seperti itu kepadaku.
"CK... Kau mudah berkata begitu karena kau suda berhasil, aku sudah melakukan cara yang terbaik hingga yang buruk sekalipun untuk mendapatkan kekasih tapi sama sekali tidak ada yang berjalan mulus, bahkan aku sudah menyatakan perasaanku secara langsung kepada profesor Ling, tetap saja tidak ada hasil, untuk meminta nomornya saja aku gagal terus." Balasku dengan wajah cemberut dan kepala yang sedikit menunduk saat itu.
"Sabar sabar, kau sendiri sih malah memilih orang yang sulit di dapatkan seperti profesor Ling ini, jangankan kau banyak sekali senior di kampus yang sangat menyukai dia, mengidolakan dia bahkan sampai rela masuk ke jurusan fisika dan matematika hanya demi bertemu dengannya, kau seharusnya bersyukur saja masih bisa dekat dengan dia, sekalipun terus menerus menerima penolakkan, setidaknya dia mau bicara denganmu bukan, kau masih tidak diabaikan olehnya, itu cukup bagus." Ucap Yimin menghiburku.
Meski apa yang dikatakan oleh Yimin ada benarnya, tetapi tetap saja aku bicara dengan dia hanya pembicaraan singkat yang menyakitkan dia sama sekali tidak memperdulikan sedikitpun bahkan dia hanya terus memberikan kesulitan padaku, seperti sengaja memberikan pertanyaan saat di dalam kelas sebelumnya dan memberi aku hukuman, sekarang dia juga malah terus memberiku sebuah formulir yang harus aku isi, padahal aku sama sekali tidak tahu formulir macam apa itu sebenarnya. Tetapi karena Yimin yang sudah mengatakan itu aku tetap merasa sedikit senang, aku akan tetap bersemangat untuk mengejar orang yang aku cintai dan tidak menyerah untuk mendapatkan dia seutuhnya.