
"Aaarrkkkk... Apa yang harus aku lakukan jika nanti bertemu profesor Ling di laboratorium, aku harus menghindarinya, iya itu adalah hal yang paling terbaik untuk bisa aku lakukan." Gerutuku sudah memutuskan sendiri.
Aku tarik nafas dengan dalam dan membuangnya perlahan, terus aku lakukan begitu berkali-kali hingga sampai di laboratorium dan bertemu dengan senior Anming juga senior Feng saat itu, mereka menyapaku tapi seperti biasa senior Sisi sama sekali tidak menengok ke arahku dia selalu memberikan tatapan sinis dengan ujung matanya padaku, setiap kali aku berpapasan dengannya, ataupun setiap kali berada dalam satu ruangan yang sama selama ini.
"Pagi Zhan Tao, kau sudah segar saja, kenapa kali ini hampir kesiangan lagi?" Ucap senior Feng kepadaku.
"Iya kau lama-lama akan aku lantik menjadi duta kesiangan bagaimana?" Tambah senior Anming yang mengundang gelak tawa semua orang di dalam laboratorium tersebut.
Aku juga hanya bisa ikut tertawa dalam menanggapi ucapannya, karena apa yang mereka bicarakan memang ada benarnya, semuanya tidak pernah kesiangan se banyak yang aku lakukan, aku terkadang merasa malu dan tidak enak kepada yang lainnya, namun mereka selalu baik padaku, tidak pernah mempermasalahkan itu dan tidak mengadukan aku pada profesor Ling.
"Ehehe ...boleh juga tuh, tapi kan aku hanya hampir kesiangan, masih ada satu menit lagi sebelumnya, jadi aku masih masuk dalam absen terakhir bukan?" Balasku kepada mereka sambil tersenyum kecil.
"Ya ya...begitulah kau, selalu datang di detik-detik terakhir, kau ini sudah seperti pemeran utama dalam novelku saja." Balas senior Anming padaku.
"Ya, maaf senior, kau kan tahu kakiku pendek aku kecil jadi energiku tidak sebesar milikmu, aku juga tidak bisa berlari kencang dan kau tahu apa yang menyebabkan aku hampir terlambat lagi kali ini?" Balasku mengobrol sambil menunggu komputerku ready.
"Apa memangnya?" Tanya dia balik dengan wajah yang begitu penasaran.
"Lihat ini, tasku nyangkut di pintu utama gedung bawah, ku jatuh dan tersungkur ke lantai, membuat semua isi di dalam tasku berserakan dan harus memungutinya dahulu, lihat bedakku hancur, tas ku juga robek, ini tas peninggalan ibuku, dimana aku bisa menemukan tas seperti ini lagi, sudah tidak ada yang menjualnya saat ini, dan bagaimana juga aku akan memperbaiki tas ini, aku tidak pandai dalam hal apapun. Hmm." Balasku mengeluh kepadanya.
Mereka langsung terdiam dan mungkin merasa bersalah karena terus menertawakan aku yang datang terlambat sebelumnya, sampai senior Feng mulai meminta maaf kepadaku.
"Eehh...kau sungguh jatuh?" Tanya dia memastikan lagi padaku.
"Eum...lihatlah tangan dan lututku merah dan lecet karena jatuh tadi, apa kau masih meragukan ceritaku." Balasku sambil mengangguk dan memperlihatkan lutut juga tanganku yang lecet pada senior Anming dan Feng.
"Ya ampun, maafkan aku Zhan Tao, aku tidak tahu sebelumnya, ya sudah aku bawakan kamu obat dulu ya." Balas senior Feng sambil segera bergegas.
Sedangkan senior Anming justru dengan baik menawarkan diri untuk memperbaiki tas peninggalan ibuku tersebut.
"Mana tas mu yang sobek, aku akan memperbaikinya untukmu." Ucap dia kepadaku.
Aku langsung terperangah menatapnya dengan penuh keheranan, pasalnya aku tidak bisa mempercayai senior Anming yang selalu saja berada di depan layar komputer untuk menjahit tas kesayanganku itu, aku takut dia akan semakin merusaknya nanti.
"Eehh.. senior Anming apa kau yakin, kau bisa menjahitnya, ini tas loh, menjahit tas lebih sulit daripada menjahit pakaian biasa," ucapku kepadanya dengan penuh keraguan.
Senior Anming menatapku dengan lekat dan dia menghembuskan nafas dengan kuat sambil langsung menarik tas yang masih aku pegang dengan cepat.
"Sudah kemarikan, kau ini banyak sekali bicara, aku kan mau menolongmu, bukan mau merusak tasmu, kau tenang saja aku sudah terbiasa menjahit kulit tikus dan hewan lainnya, aku bisa menjahitkan tas milikmu, kau jangan cemas." Balas senior Anming kepadaku.
Meski begitu tetap saja aku tidak bisa merasa tenang denganya, bagaimana mungkin seorang senior Anming bisa menjahit, cara menjahit kulit hewan dan menjahit tas kan berbeda, itu sangat tidak masuk akal bagiku.
"Senior Anming, awas saja jika kau sampai merusaknya, aku tidak akan menganggapmu kakakku lagi!" Ancamku kepadanya.
Dia langsung membelalakkan mata sangat lebar dan terlihat begitu kaget mendengarkan ancaman dariku barusan.
"Astaga...apa tas ini lebih penting daripada persaudaraan kita ya? Kau ini benar-benar." Balasnya kepadaku.
Tidak lama senior Feng tiba dan dia langsung membantu mengobati lecet di lututku, dia berjongkok di hadapanku dan terus mengusap luka di lututku dengan begitu hati-hati, dia juga meniupkan luka itu beberapa kali, hingga tidak aku sangka profesor Ling tiba disana dan baru masuk ke dalam laboratorium, aku langsung menoleh ke arah depan dan berusaha untuk tidak bertatapan dengan profesor Ling.
"Astaga...itu dia aku harus menutupi wajahku, ahh aku tidak boleh melihatnya, berpura-pura tidak tahu, ayo berpura-pura lah tidak tahu Zhan Tao, jangan penasaran." Gerutuku dalam hati sambil terus berusaha menahan diri agar tidak menatap ke arah profesor Ling saat itu.
Memang agak sulit untuk aku lakukan, sebab aku sudah terbiasa menatap profesor Ling setiap kali dia datang ke laboratorium, dan selalu memperhatikan dia dengan begitu lekat sejak dia masuk hingga pergi ke ruangan pribadinya, dan sekarang tiba-tiba saja harus berpura-pura tidak melihatnya dan menghindari kontak mata dengannya, hal yang paling ingin aku lakukan dengan dia sebelumnya.
Aku harus menghindari semua itu secara tiba-tiba, menghilangkan kebiasaan yang aku lakukan, itu sangat menyulitkan ku tapi untungnya kali ini aku masih bisa melewati profesor Ling berkat adanya senior Anming dan Feng yang berada di sampingku.
Sedangkan disisi lain profesor Ling yang baru masuk dan sudah mendapatkan pemandangan yang membuat hatinya terbakar, dia merasakan kesal hingga mengeratkan giginya dengan kuat, ketika melihat senior Feng tengah mengobati lutut Zhan Tao saat itu.
"Aishh...dasar manja, apa dia tidak punya tangan, kenapa harus Feng yang mengobati lukanya." Batin profesor Ling sangat kesal.
Dia langsung memanggil senior Feng dan memberikan tugas yang cukup berat kepadanya secara tiba-tiba.
"Feng, kemari kau." Ucap profesor Ling memanggilnya.
Senior Feng segera menghentikan aktifitasnya dan dia menghampiri profesor Ling dengan segara.
"Apa kau sudah memutuskan penelitian apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Tanya profesor Ling lebih dulu.
"Belum, aku masih memikirkannya." Balas dia lagi.
"Bagus, ayo ikut ke ruanganku, aku memiliki ide yang bagus untuk penelitian mu selanjutnya." Ajak profesor Ling membawa senior Feng pergi ke ruangannya.
Dia memberikan tugas penelitian yang paling sulit kepada senior Feng, sengaja melakukannya agar Feng disibukkan dengan hal itu, tanpa perlu bertemu dengan Zhan Tao terlalu sering, hanya dengan begitu profesor Ling pikir dia bisa menjauhkan Feng dari Zhan Tao, dan dia baru bisa merasa tenang.
Sedangkan senior Feng sendiri mulai merasa aneh karena dia tiba-tiba saja harus meneliti tumbuhan yang sangat langka seperti itu, tapi karena itu adalah rekomendasi dari profesor Ling yang dia pikir sudah jauh lebih berpengalaman dalam bidang ini dibandingkan dirinya, dia pun mempercayai semua ucapannya sehingga langsung menyetujui hal itu, dan akan memulai mencaritahu tentang bunga raksasa tersebut yang hanya ada 25/33 spesies di dunia, dan sulit sekali untuk bisa melihatnya secara langsung.
Karena hal itu senior Feng terlihat begitu serius ketika dia baru keluar dari ruangan profesor Ling, di harus mulai mencari tahu mengenai bunga raksasa terbesar di dunia tersebut, selain itu dia masih harus membantu profesor Ling dalam mengelola robot untuk penyembuhan penyakit yang akan di salurkan pada rumah sakit yang membutuhkan nantinya.
Mulai saat itu dia memiliki sedikit waktu untuk mengobrol ataupun bercanda, bahkan hampir tidak pernah bercanda lagi, sebab jarang berada di kursinya, dia selalu berada di ruangan khusus dan sering pergi ke luar untuk mencari tahu dari berbagai sumber lainnya.
Aku merasa tidak memiliki teman, bahkan bukan hanya senior Feng saja, senior Anming juga mulai sibuk, mungkin karena mereka sudah hampir lulus jadi tugas mereka berlipat ganda, hanya ada aku dan senior Sisi yang tersisa disana, dan aku merasa begitu canggung kepadanya, hingga ketika jam pulang tiba aku melihat senior Sisi kebingungan dan terlihat terus saja mengeluarkan semua barang yang ada di dalam tasnya tersebut, barangnya berserakan begitu saja di atas meja kerjanya, aku mulai menghampiri dia dan menanyakan apa yang tengah dia cari sebenarnya.
"Senior Sisi, apa yang sedang kamu cari?" Tanyaku kepadanya saat itu.
"Kartu akses, aku kehilangannya." Balas dia kepadaku.
Aku terperangah merasa heran, karena tanpa kartu akses mungkin senior Sisi tidak akan bisa masuk ke dalam laboratorium, tapi dia malah kehilangan kartu aksesnya sekarang.
"Ehh, kalau kartu aksesmu hilang, bagaimana kamu bisa masuk ke dalam laboratorium?" Tanyaku kepada dia saat itu.
"Aku masuk dengan Feng sebelumnya, dan kupikir aku meninggalkannya di laboratorium, tapi saat mencari tidak ada, sepertinya aku menjatuhkan kartu itu di tempat lain, sudahlah kau jangan banyak bertanya, pergi sana!" Ucap dia kepadaku saat itu.
Aku tidak mungkin meninggalkan senior Sisi di laboratorium sendiri, terlebih semua orang sudah mulai pulang satu persatu, akhirnya aku pun terus membantu dia mencarinya kesana kemari di sekitar laboratorium.
"Hei, kenapa kau masih belum pulang juga?" Bentak dia dengan wajah yang kesal.
"Aku tidak akan pulang jika kamu juga tidak pulang, atau apa senior Sisi mau keluar denganku saja?" Balasku mengajak dia.
"Tidak usah, aku tidak ingin memiliki balas budi dengan orang sepertimu." Balasnya terlihat begitu enggan dengan bantuan yang aku tawarkan.
"Senior Sisi, bukankah profesor Ling akan marah jika kita menghilangkan kartu aksesnya? Kau mungkin akan terkena amarahnya dan tidak akan bisa mendapatkan kartu akses yang baru dalam waktu dekat, sebab profesor Ling harus menonaktifkan kartu aksesmu yang lama, apa kamu sudah memberitahunya mengenai hal ini?" Tanyaku kepada dia lagi dengan wajah yang sedikit gugup.
Tiba-tiba saja dia langsung menatap ke arahku dengan wajah yang menyeramkan di bandingkan sebelumnya, dia terus mendekatiku dan mulai berbicara dengan nada yang sangat tinggi.
"Diam kau, jangan pernah beri tahu profesor Ling mengenai hal ini, atau aku akan membencimu selamanya!" Ancam dia kepadaku.
Padahal aku juga sama sekali tidak ada niatan untuk membicarakan atau mengadukan hal ini kepada profesor Ling, aku bukan orang seperti itu.
"Senior Sisi, sepertinya kau salah tanggap dengan maksudku, aku sama sekali tidak ada niatan seperti itu, ini kau bisa pakai kartu akses milikku, kartu akses kita hampir sama mungkin profesor Ling tidak akan menyadarinya untuk waktu dekat, kau bisa mencari kartu akses milikmu dahulu," balasku sambil memberikan kartu akses milikku pada senior Sisi segera.
Dia hanya menatap ke arahku sambil terus mengerutkan kedua keningnya. Karena lama dia tidak mengambil kartu itu dari tanganku, aku pun segera menarik tangannya dan memberikan kartu itu kepada dia.
"Ini cepat ambil, aku akan mengubah kode dan namanya atau kau bisa melakukan itu sendiri, jadi anggap saja yang hilang itu jika tidak di temukan itu milikku, kau akan aman, aku pergi dulu." Ucapku kepadanya sambil segera pergi terburu-buru.
Aku harus keluar bersama teman lain agar bisa melewati pintu tanpa menggunakan kartu akses, untungnya saat itu ada salah satu teman yang hendak keluar jadi aku bisa keluar dengannya dan bisa segera pulang secepatnya.
Saat aku sampai di lantai bawah hujan terlihat begitu deras mengguyur disana, aku lagi-lagi lupa tidak membawa payung, sehingga tidak tahu harus berbuat apa saat itu, hingga tidak alam ada profesor Ling yang baru turun juga, dia membawa payung berwarna hitam dan hanya menatap sekilas kepadaku lalu membuka payungnya dan mengajakku untuk ikut dengannya.
"Kau tidak punya payung, ayo ikut." Ucapnya kepadaku.
Aku langsung terperangah kepadanya dan merasa tidak menyangka profesor Ling mau mengajak aku memakai payung bersama dengannya.
"Tidak usah, profesor aku menunggu hujannya reda saja." Balasku sambil menggeser kakiku untuk menjauh dan terus menjaga jarak darinya.
Aku masih merasa canggung dan sangat malu, tidak berani untuk menghadapinya, untung saja saat itu ada Jingmi, dia juga membawa payung yang cukup besar dan memanggil namaku.
"Zhan Tao, ayo kita pulang." Teriaknya kepadaku.
Aku mengangguk dan langsung pergi dengan Jingmi secepatnya, tanpa menyapa ataupun berkata apapun pada profesor Ling saat itu.