
Masih dalam suasana yang sama, 4 cowo dan 3 cewe itu masih berkumpul di taman yang sama. Namun suasana hati Trisyel yang kini sudah berubah, gadis itu sangat menikmati suasana sembari bercanda bersama teman satu mejanya, kecuali Prince, cowo itu hanya diam sambil menatap wajah bahagia Trisyel yang duduk di sampingnya
Trisyel sendiri bingung, kemana perginya kekesalan yang ia rasakan tadi? Mood nya begitu gampang berubah, hanya beberapa menit ia sudah tidak kesal lagi
"Foto yuk" Ajak Aurin pada Bara
Cowo itu mengangguk "Di sana aja yang, tempatnya bagus buat foto" Kata Bara sambil menunjuk salah satu tempat yang tak jauh dari meja mereka duduk
"Kita gak di ajak nih?" Sindir Fanyya
"Ya udah ayo ikut. Tapi jadi kang foto aja ya" Kekeh Aurin membuat Fanyya mendengus
"Temen gaada akhlak"
"Tenang fan, nanti kita foto rame rame, gak usah ajak nih jamet bedua" Ujar Jeje
"Muka lo jamet" Ketus Bara
"Lagian lo sih, mentang mentang punya pacar. Kitanya di cuekin! Gak mikirin nasip jomblo banget" Celetuk Felix
Bara mengedikkan bahunya acuh "Tuh si Fanyya ada"
"Belum resmi"
Semua orang tertawa kecuali Fanyya "Paan dah. Gak jelas" Ucapnya ketus
"Ya udah ayok foto rame rame. Tapi Jeje gak ikut, dia jadi PG nya aja" Ujar Bara sambil menarik tangan Aurin untik bangkit
"Jahat banget" Protes Jeje
mereka semua berjalan menjauh dari meja itu, namun tidak dengan Prince. Cowo itu masih bersedekap dada sambil menatap Trisyel
Trisyel menyadari bahwa ia sedang di perhatikan, namun gadis itu pura pura tak tau dan memilih untuk acuh. Ia tak mau merusak moment langka ini hanya karena Prince yang menyebalkan
"Lo gak mau ngajak gue?" Tanya Prince sambil menahan tangan Trisyel yang ingin pergi
"Ya elah tinggal jalan aja sih!"
"Tapi gue maunya lo ajakin dulu" Ujar Prince lembut dengan seulas senyum yang begitu manis
wah bisa diabetes nih gue Batin Trisyel tanpa sadar tatapannya lekat pada wajah Prince
Prince terkekeh pelan "Kenapa liatin gue kayak gitu?"
"Gak!" Dengan cepat Trisyel membuang muka "Ya udah lo gak usah ikut, disini aja udah!" Gadis itu langsung melepaskan tangannya dari genggaman Prince kemudian berjalan menjauh
Prince hanya tersenyum 'Jutek aja cantik. Apalagi kalau manja ya, pasti gemes banget'
Prince bangkit, cowo itu berniat menyusul Trisyel namun tiba tiba indra pendengarannya menangkap sesuatu. Prince berbalik dan menatap ke arah meja, di sana ia melihat ponsel Trisyel berdering dengan nama Geral yang tertera di layar ponsel itu
satu sudut bibir Prince terangkat. Tangannya dengan cepat mengambil alih ponsel itu dan menggeser ikon warna hijau
halo syel.. akhirnya lo angkat juga Ucap Geral. Prince hanya diam mendengarkan
Syel?
lo denger gue kan?
"...." Prince masih terdiam
Gue pengen ngajak lo jalan, mau ya? Gue jemput deh. lo Sherlock aj_"
"Gak usah ganggu cewe gue. Kita lagi pacaran" Jawab Prince dengan nada tak bersahabat
what? lo siapa hah?
"Gue pacarnya Trisyel. Prince Melvin" Jawab Prince tegas
Bangsa_
tut..
belum sempat Geral menyelesaikan ucapannya Prince sudah lebih dulu memutuskan panggilan sepihak. Prince tersenyum smirk, kemudian menaruh kembali ponsel Trisyel pada tempat semula
Kakinya melangkah mendekat ke arah teman temannya, di sana ia melihat semua temannya sedang asik berselfi
Prince dengan sengaja mendekati Trisyel agar bisa berfoto di samping gadis itu. Trisyel hanya diam karena tidak ingin merusak moment bahagianya sekarang
"Eh tunggu deh, kayaknya lo bedua cocok kalau di foto" Fanyya berujar pada Trisyel dan Prince
mendengar itu alis Trisyel langsung mengerut
"Ya udah ayo fotoin" Tanpa izin tangan Pring langsung merangkul pinggang ramping Trisyel membuat sang empu kaget dan reflek langsung menoleh
ckrek..
satu foto di ambil dengan kedua orang saling bertatapan. Sangat pas dan terlihat romantis
"PRINCE!!!" Pekik Trisyel sambil mencubit pinggang Prince, sedangkan sang pelaku hanya terkekeh
"Lo nyebelin banget sumpah!"
"Tapi ganteng iya kan?" Prince menaik turunkan alisnya membuat Trisyel bergidik
"Pen muntah boleh gak?" Ujar Trisyel dingin
Sahabat mereka hanya diam sambil tersenyum menyaksikan Tom and Jerry itu berdebat
"Jangan ngidam dulu dong yang, kan belum bikin dedek" Kekeh Prince
Seketika tangan Trisyel langsung melayang memukul kuat dada bidang Prince, kemudian dengan wajah kesalnya ia melenggang pergi menuju meja
"Gimana tu cewe mau kelepek kelepek sama lo, kalau sikap lo aja ngeselin gitu" Ujar Aurin
"Ikan kekurangan oksigen kali kelepek kelepek" Sahut Jeje
"Ikan gak nafas pake oksigen tolol" Bara menyahuti dengan tangan yang ikut serta menabok kepala Jeje
πππ
Jakarta, 22:23
"Syel sorry ya kayaknya gue gak bisa anterin lo pulang deh" Fanyya menatap Trisyel dengan tatapan memelas
"Hah, kenapa?"
"Nyokap gue suruh gue pulang sekarang! Sorry banget" Ujar Fanyya lagi
Trisyel menghembuskan nafasnya kasar "Terus gue pulangnya sama siapa dong?" Gadis itu mencibikkan bibirnya
"Sama Prince aja tuh! Lo mau kan Prince?"
Orang yang di panggil langsung menoleh sambil tersenyum "Boleh" Jawabnya
"Gak, gue gak mau! Mending gue minta jemput kak Kayzo aja" Gadis itu hendak mengambil ponselnya
Fanyya menahan tangan Trisyel "Eh jangan! Tar lo gak di izinin keluar lagi gimana?"
Trisyel diam sambil berfikir. Setelah kurang lebih 5 menit gadis itu menatap Prince yang juga menatapnya
"Mending sama Jeje aja deh. Mau gak je?" Tanya Trisyel
"Gak bisa syel, Jeje sama Bara ada urusan, jadi dia harus ikut kita" Sahut Aurin
Sebenarnya mereka semua sepakat untuk menjebak Trisyel agar gadis itu bisa pulang bersama Prince atas permintaan Prince tentunya
"Felix harus anterin gue, karena gak mungkin kan gue pulang sendiri" Ujar Fanyya "Ayok!" Gadis itu langsung menarik tangan Felix agar ikut pergi
begitu juga dengan Aurin, ia menarik tangan Bara dan Jeje bersamaan
Trisyel mendengus kesal. Ia sadar teman temannya sedang berusaha mendekatkan dirinya dengan Prince
"Lo gak ada pilihan lain! Ayo ikut gue" Prince menarik lembut tangan Trisyel agar ikut dengannya
Prince POV
Gue gak tau kenapa tapi jantung gue selalu maraton kalau liat dia. Semua berawal dari gadis itu yang membela ulat bulu yang menggoda gue dengan pura pura tidak sengaja menabrak dan numpahin minumannya ke baju gue. Modus kayak gitu udah biasa buat gue
gue inget banget muka judesnya saat itu. Beneran bikin gue syok, karena baru dia yang berani marah marah dan ngebentak gue kayak gitu
Awalnya gue bodoamat, gak peduli dengan kehadirannya. Gue juga sempet mikir kalau dia itu sama kayak ulat bulu lain. Gatel banget sumpah, bikin gue jijik
sebelum ketemu dia gue mikir kalau semua cewe zaman sekarang itu pada muarahan, karena itu yang gue alami sebelumnya. Gue selalu ketemu cewe murahan yang dengan tidak tau malunya menggoda gue, bahkan gak sedikit dari mereka yang dengan suka rela memberikan tubuhnya untuk gue jamah, hanya karena ingin bersama gue. Murahan bukan? Untung gue gak sebejat laki laki hidung belang
Malam ini Trisyel berhasil naik ke motor gue, lebih tepatnya gue berhasil bonceng dia dan anterin dia pulang. Gue seneng, entah sadar atau enggak tapi tangan mungilnya melingkar di pinggang gue, bikin jantung gue gak aman tapi gue seneng banget
7 menit sebelum jam 11 malam gue udah sampe di depan rumahnya, di sana gue lihat ada kakaknya yang udah berdiri di depan pintu menunggu kedatangan Trisyel
dapat gue lihat raut wajah takut Trisyel saat melihat sorot tajam yang kakaknya tujukan padanya. Wajah Trisyel menunduk dengan tangan yang bertaubat dan meremas satu sama lain
Sebelum Trisyel naik ke motor gue tadi, cewe itu sempat mengirim pesan ke kakaknya, bilang akan pulang dan di antar sama gue
Gue menarik pelan tangannya sambil tersenyum dan mengangguk, tapi dia malah menggeleng dengan wajah memelas bikin gue gemes dan akhirnya terkekeh pelan
"Gapapa" Gue manik tangannya untuk mendekat ke arah kakaknya
"Selamat malam" Sapa gue dan di balas dengan anggukkan singkat olehnya
"Saya tidak telat kan ngantar adik anda?"
"Trisyel masuk!" Bukannya menjawab laki laki itu malah memerintah Trisyel untuk masuk
"Kak tapi_"
"MASUK!" Ujarnya tak terbantahkan
Gue mengangguk dan melepaskan tangan Trisyel dari genggaman tangan gue "Masuk sana!" Gue tersenyum
"Lo gimana?" Ucapnya terdengar khawatir membuat gue semakin gemas dan ingin mencubit pipinya
"Masuk, gue gapapa"
Dengan terpaksa Trisyel masuk tapi matanya masih menatap ke arah gue. Setelah gue dia benar benar tidak terlihat akhirnya gue menatap ke arah laki laki di depan gue
gue kenal laki laki ini, dia adalah salah satu rekan bisnis papa. Gue pernah liat dia di salah satu acara dulu
"Hallo tuan Kayzo" Sapa gue sambil tersenyum
"Kenapa kamu yang anterin adik saya pulang?"
"Maaf sebelumnya. Tapi Fanyya ada urusan, mamanya tiba tiba menyuruh Fanyya untuk pulang, maka dari itu saya yang mengantar Trisyel. Tidak mungkin saya biarkan dia pulang sendiri, bukan"
laki laki itu diam beberapa saat, sambil menatap gue dari atas sampai bawah
"Sepertinya saya pernah melihat kamu. Siapa namamu?"
"Prince Melvin"
"Hah, MEL-VIN?" ulangnya dan gue hanya mengangguk sambil tersenyum
"Kamu anaknya tuan Ken Melvin?" Lagi lagi gue mengangguk
dia diam beberapa saat sampai
"Maafkan saya" Ujarnya tiba tiba
"Untuk apa tuan?" Tanyaku
"Maaf karena sikap tidak ramah saya tadi. Saya tidak bermaksud seperti itu, hanya saja_"
"Anda ingin melindungi adik anda bukan? Saya faham jika anda sangat menyayanginya" potong Gue
"Iya" Jawabnya. Kini nada suaranya terdengar lebih ramah, gak seperti saat gue baru tiba tadi
dia mengajak gue masuk, mengajak gue ngobrol dan minum terlebih dahulu. gue tidak begitu tau tentang bisnis papa, tapi dari yang gue liat laki laki ini sangat dekat dengan papa
"Panggil kakak saja, aku tidak suka mendengar kamu memanggilku tuan" Ucapnya sambil terkekeh
"Akh iya, kak"
"Bagaimana kamu bisa berteman dengan Trisyel? apa kalian kenal lama?"
"Gak, aku baru mengenalnya saat dia pindah ke sekolahku" Jawab gue
"Ooh begitu. Terimakasih karena telah mengantar adikku dengan selamat"
gue hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Aku begitu menyayanginya. Dia adalah satu satunya wanita yang aku miliki sekarang. Aku tidak ingin terjadi hal buruk padanya, maka dari itu lah aku bersikap posesif seperti ini"
"Aku tidak pernah mengizinkan dia untuk jalan dengan seorang laki laki, karena aku takut_"
"Tapi untuk kamu, sepertinya aku bisa mempercayaimu"
kalimat itu mampu bikin gue menatap ke arahnya. Seolah lampu hijau untuk gue
"Aku mengizinkan kamu untuk berteman dengannya. Bukan karena kamu berasal dari keluarga kaya raya, tapi aku mengenal sosok ayahmu, dia laki laki yang sangat baik dan tulus pada pasangannya. Aku yakin kamu pun laki laki yang sama seperti ayahmu"
"Kalau aku mendekatinya, boleh?" Entah keberanian dari mana kalimat itu terucap dari bibir gue
sedangkan kak Kayzo, laki laki itu terkekeh sambil memukul pelan pundakku "Itu tergantung pada Trisyel, jika dia mau ya aku tidak akan melarang"
gue tersenyum, seolah mendapatkan persetujuan bikin gue semakin bertekad untuk mendekati Trisyel
"Aku menyenal baik bagaimana adikku. Dia bukan gadis yang mudah di taklukan, apalagi dengan sikapnya yang keras kepala dan moodyian, bikin kita harus ekstra sabar"
"Apa dia memang galak?" Seketika kak Kayzo tertawa mendengar pertanyaanku
"Dia itu hanya Singa betina kecil yang berusaha melindungi dirinya. Sebenarnya dia itu sangat manja" Ujarnya di sela sela tawanya
mendengar itu aku pun terkekeh
"Dia memang beda, berhasil bikin aku jatuh cinta untuk pertama kalinya"
"Wah, pertama kalinya?" Aku mengangguk
"Aku senang mendengarnya. Coba lh luluhkan hatinya, aku tidak akan melarang dan aku juga tidak akan membantu, biar lah semua berjalan sesuai alurnya. Tapi aku mohon, jangan memaksanya dan jangan menyakitinya"
πππ