
Entah kapan di mulai kini Trisyel sudah berada di dalam dekapan Prince, cowo itu memeluknya erat sambil mengusap lembut surai gadis itu. Ia tau gadis itu sedang menahan rasa takut, terbukti dari tubuhnya yang bergetar
"Tenang, gue gak bakal biarin dia sentuh lo seujung kukupun" Ucap Prince lembut
Trisyel melepaskan pelukkannya "Jangan bawa bawa gue dalam masalah lo!" Ucapnya tegas "Dan jangan deket deket lagi sama gue" Trisyel melangkah pergi meninggalkan Prince yang masih diam di tempat
πππ
2 hari berlalu terasa begitu cepat, kini sekolah mulai di buka kembali seperti biasanya
Entah lh, pagi ini perasaan Trisyel benar benar tidak enak, seperti ada yang mengganjal. Kepalanya juga terasa sangat berat mungkin karena 2 hari ini ia kurang tidur
"Non yakin mau sekolah? Sepertinya nona Trisyel sedang sakit" ucap driver Trisyel sambil setelah membuka pintu mobil untuk Trisyel
Gadis itu tersenyum tipis "Gapapa, nanti kalau udah gak tahan syel akan izin pulang" Ucapnya
Driver itu mengangguk "Kabari saya jika ingin pulang"
Trisyel masuk ke kelasnya dengan langkah cepat dan sedikit sempoyongan karena sebentar lagi akan masuk jam sekolah
langkahnya terhenti saat di koridor sekolah yang tak jauh dari perpustakaan. Perpustakaan berada di lantai pertama sedangkan kelasnya berada di lantai dua
Otaknya kembali mengingat kejadian 2 hari yang lalu. Suara itu, tatapan itu, senyum itu, sungguh Trisyel masih mengingatnya dengan jelas
"Syel lo gapapa?" Ucap seseorang sambil menepuk pelan punggung Trisyel. Gadis itu menoleh
"Gue gapapa"
"Ya udah cepetan masuk kelas sana, bentar lagi bell" peringat orang itu
Trisyel mengangguk dan langsung berjalan menuju kelasnya
Tokk
tokk
tokk
Trisyel membuka pintu
"Maaf bu, saya telat" Ucap Trisyel sopan
Awalnya guru itu ingin marah dan menghukum Trisyel karena ia lebih dulu masuk ketimbang anak muridnya. Tapi melihat wajah pucat Trisyel membuatnya iba
"Ya sudah duduk sana!" Ucapnya
Pelajaran di mulai, entah lh sedang berkelana kemana fikiran Trisyel, gadis itu hanya menatap kosong ke arah papan tulis
"Syel!"
"Syel!!"
"Aa?" Gadis yang di panggil itu langsung menoleh saat Fanyya menyenggol kursinya
"Apa yang sedang kamu fikirkan? Sepertinya kamu tidak menyimak apa yang saya jelaskan?" Tanya Guru Bahasa Indonesia itu sambil menatap Trisyel
Gadis itu gelagapan, bahkan ia sendiri tidak tau apa yang sedang ia fikirkan
"Kalau kamu sakit bilang, saya akan meminta guru piket untuk memberikan izin kamu pulang!"
"Enggak kok bu, saya masih bisa mengikuti pelajaran" tolak Trisyel
"Kalau begitu simak dengan benar!" Trisyel mengangguk
Pelajaran kembali di lanjutkan sampai jam istirahat
"Saya akhiri materi pada hari ini, jangan lupa untuk kembali di pelajari di rumah"
"Iya bu" jawab semua murid
Satu persatu murid mulai keluar dari kelas. Saat Trisyel Fanyya dan Aurin ingin ke kantin langkah mereka terhenti oleh Geral yang berada di depan kelas mereka
"Syel lo baik baik aja kan?" Ucapnya sambil memegang bahu Trisyel
Gadis itu menepisnya "Apaan sih lo" kata Trisyel dengan nada datar
"Gue khawatir sama lo syel, lo gak bisa di hubungin"
"Khawatir atau modus? pake pegang pegang segala" Sindir Fanyya
Geral tak memperdulikan itu, ia hanya menatap Trisyel "Kemarin gue dateng ke rumah lo, tapi gue gak bisa masuk karena banyak orang yang jaga di depan sana"
"Itu orang suruhan kakak gue" jawab Trisyel datar
"Lo beneran gapapa kan? Kenapa rumah lo banyak penjaganya gitu? padahal waktu itu enggak"
"Tau lo, ganggu aja" Aurin menimpali
Ketiga gadis itu langsung berjalan menuju kantin
****Klingg****
Suara pesan masuk ke dalam ponsel Trisyel
Kak Ken
_Kakak akan pulang
_Tunggu kakak ya
_Jangan sedih lagi
_Kakak akan jaga kamu
^^^Me^^^
^^^Kakak gak bohong kan?_^^^
Kak Ken
_Ya enggak lh, masa kakak bohong sama kamu π
^^^Me^^^
^^^Yeee, syel tunggu ya!_^^^
^^^Cepet pulang!_^^^
"Lo kenapa syel? senyam senyum kayak orang gila gitu?" Ucap Fanyya
"Matamu! Orang gue lagi bahagia, kakak gue mau pulang" Ucapnya senang
Senyum Trisyel tak bertahan lama, karena senyum itu langsung luntur saat melihat Prince dan teman temannya datang
"Hay syel? Apa kabar? lo baik baik aja kan?" Tanya Jeje
Trisyel mendengus, Entah orang keberapa yang menanyakan hal itu padanya "Gak ada pertanyaan lain apa"
"Waduh sinis amat neng. Ntar cantiknya ilang loh"
"Bodoamat gue gak peduli" Ucapnya lagi "Kita pindah aja yuk, males gue satu meja sama brandalan yang punya banyak musuh" Sindir Trisyel
Prince, Felix, Bara, dan Jeje langsung diam memandang Trisyel dengan raut wajah yang sedikit kaget. Setidak suka itukah Trisyel pada anak geng motor?
Tentu tidak! Bukan masalah anak geng motornya, tapi Trisyel tidak suka saat tau bahwa mereka memiliki musuh yang sampai nekat menyerang seperti ini
Prince mencekal tangan Trisyel saat gadis itu hendak pergi "Sampai kapan lo akan kayak gini? Sampai kapan lo akan ngehindar kayak gini?"
"Sampai gue puas. Selamanya kalau perlu!" Jawab Trisyel. Gadis itu menarik tangannya dengan kasar
"Gue gak peduli siapapun kalian, gue juga gak peduli apa yang kalian lakuin di luar sana. Tapi satu hal yang gue benci, masalah kalian kebawa sampe ke orang lain! Bahkan gue pun di jadikan target untuk menjadi korban karena permusuhan kalian. Fikir!!" Ucap Trisyel menggebu
"Gak gitu syel!" Kata Felix
"Gue udah bilang kalau gue gak bakal biarin mereka nyentuh lo! Lo percaya gue kan?" Kata Prince
Trisyel terkekeh "Percaya, sama lo? Hahaha gak dulu deh, soalnya orang kayak lo gak bisa di percaya"
Trisyel melangkah pergi "Udah Prince, biarin dulu! Mungkin dia masih syok sama kejadian waktu itu!" Kata Fanyya sambil menahan Prince untuk mengejar Trisyel
"Jangan bikin dia gak jadi makan hari ini. Kasian dia lagi gak enak badan" timpal Aurin
Prince terdiam tidak tau harus bertindak bagaimana. Sangat pusing, hubungan yang sudah retak kini semakin hancur
"Kita akan bantu untuk bicara sama dia pelan pelan. Lo gak usah terlalu maksa dia dulu" Fanyya menepuk pelan pundak Prince
Fanyya dan Aurin pun menyusul Trisyel untuk pindah meja
"Lo udah bicara sama Trisyel dan jelasin tentang diri lo?" Tanya Felix. Prince mengangguk
"Dia gak nerima lo?" Tanya Jeje lagi
Mendengar itu spontan Bara melayangkan pukulan pada pundak Jeje "Goblok bener punya temen. Lo gak liat reaksinya tadi? masih aja nanya" Kesal Bara
"Sakit bego" Jeje mendengus "Lagian gue cuman nanya doang"
"Pertanyaan lo gak bermutu" Sinis Prince tajam
πππ