
Sebelum waktu pulang sekolah, Trisyel izin pada sahabatnya untuk ke toilet terlebih dahulu. Namun tak di duga saat keluar dari toilet ternyata ia bertemu orang yang sangat ia benci
Trisyel tak ingin berdebat, ia cukup lelah sekarang. Gadis itu memilih untuk berlalu begitu saja, namun tangannya di cekal kuat hingga langkahnya terhenti
"Mau kemana lo? Buru buru amat" Ucap sang ulat bulu yang tak lain adalah Carline
Trisyel mendengus, bisa bisanya di saat seperti ini ia bertemu dengan ulat bulu seperti ini "Bukan urusan lo!" Sinis Trisyel
"Gak nyangka ya, udah bisa masuk sekolah aja lo. Gue kira masih nangis dan berteriak teriak di kolong meja" Sindir Disti
"Kasian ya, udah gak punya orang tua. Eh sekarang malah di tinggal sama kakak satu satunya. Malang banget nasipnya" Kekeh Carline
"Itu sih bukan malang, tapi dianya aja yang pembawa sial, makanya keluarganya satu persatu ninggalin dia. Dan sekarang dia sendirian gak punya siapa siapa" jawab Disti
Trisyel mengepalkan tangannya dengan sorot mata tajam menatap kedua orang yang sedang mengolok oloknya. Tidak bisa kah mereka bersimpati sedikit saja padanya? Sepertinya kedua orang di depannya ini memang tidak punya hati
Trisyel menarik kasar tangannya dari genggaman tangan Carline, ia menatap wajah itu seolah ingin mencakarnya hingga kulit kulit itu lepas
"Gue gak ngerasa punya urusan sama lo bedua, jadi gak usah urusin hidup gue!" Dengan kasar Trisyel mendorong tubuh Carline hingga menubruk tembok
Carline meringis "DASAR SIALAN! GAK GUNA LO HIDUP. MENDING NYUSUL KAKAK LO AJA SANA!" Teriak Carline menggelegar
Mata Trisyel memerah "KALAU BISA GUE JUGA GAK PENGEN HIDUP!" jawab Trisyel
Gadis itu langsung berlari pergi dari toilet, tanpa sengaja ia menabrak punggung seseorang
"Syel lo kenapa?" Tanya orang yang ia tabrak
Trisyel mendongak dengan mata yang sudah berair itu. Dapat ia lihat Geral di depannya "Minggir!" Ucapnya sambil mendorong Geral untuk menepi kemudian lanjut berlari dengan air mata yang berjatuhan
Ia tidak bisa menepati ucapannya untuk tidak lagi menangis. Luka itu masih tercetak jelas di hati dan fikirannya
"Dia kenapa sih?" Tanya teman Geral yang bernama Nino
Geral mengangkat bahunya "Mungkin dia masih sedih soal kakaknya yang meninggal" jawab Geral
"Lo gak coba buat dateng ke rumahnya dan hibur dia gitu? Kayaknya dia butuh sandaran deh" Ucap Nino
"Gue cuman dateng pas pemakaman doang. Abis itu udah gak bisa dateng lagi gegara banyak penjaga di rumahnya"
"Emang gak ngasih izin masuk?"
Geral menggeleng "Gue juga liat ada motor Prince dan temen temennya di sana. Mungkin mereka yang nemenin Trisyel" Ucapnya dengan raut wajah kesal
Nino sedikit tertawa "Kayaknya Playboy lagi patah hati nih" Sindir Nino
"Sialan lo!" Geral yang kesal langsung menoyor kepala Nino dengan tasnya
"Udah deh mending lo nyerah aja, saingan lo berat soalnya!" Cowo itu lagi lagi menertawakan Geral
Karena kesal Geral langsung berjalan meninggalkan temannya itu, tidak ingin mendengar ucapan Nino yang membuatnya patah semangat untuk mendekati Trisyel. Selagi najur kuning belum melengkung, masih ada jalan untuknya berjuang
____
Di sisi lain Trisyel baru tiba di parkiran
"Lo ke toilet apa bikin toilet? Kok lama amat" Tanya Fanyya
"Gak kok ngaco banget sih. Orang abis cuci muka" Alibi Trisyel
"Yakin cuci muka? Tapi itu matanya merah udah kayak vampir aja" Celetuk Jeje
"Sialan lo! Cantik cantik gini di katain vampir" Trisyel mengerucutkan bibirnya "Gue doain lo gak dapet pacar" Tambahnya lagi membuat semua terkekeh kecuali Jeje
Cowo itu menatap kesal ke arah Trisyel "Alah sok sok-an doain gue gak dapat pacar. Lo sendiri aja jomblo" Sindir Jeje
Seketika Trisyel terdiam, sedangkan Prince yang tadinya terkekeh melirik Trisyel sekilas dan menatap Jeje tajam. Cari mati nih orang
"Dekat elit, balikkan sulit" Tambah Bara sambil tertawa keras
"Diem gak lo pada!" Kesal Trisyel
"Eh bener lo kata mereka, gimana kalau kalian balik_"
"Gak ya!" Jawab Trisyel cepat memotong ucapan Aurin. Gadis itu langsung berlalu masuk ke dalam mobil dengan wajah memerah karena malu
πππ
Trisyel mengernyit bingung saat melihat mobil yang agak asing di penglihatannya. Dengan cepat ia masuk untuk memastikan siapa pemilik mobil tersebut
"Kak Sam?" Tubuh Trisyel membeku melihat sosok laki laki bertubuh kekar sedang berdiri dan menatapnya
"Come here baby" ucap laki laki sambil merentangkan tangannya. Tanpa ragu gadis itu langsung berhambur meneluk laki laki itu erat. Dapat Trisyel rasakan aroma maskulin dan parfum yang sangat mirip dengan yang di gunakan oleh kakaknya
Sam yang memiliki nama asli Samuel Pradipta merupakan sahabat kakaknya sejak kecil. Banyak kesamaan antara Sam dan juga Ken, bahkan wajah mereka pun juga terlihat mirip. Trisyel mengenal baik bagaimana Sam, bahkan ia juga menganggap Sam sebagai kakak kandungnya
Sam tak hanya sahabat bagi Ken, tetapi juga tangan kanan Ken. Beberapa tahun ini memang Trisyel tidak pernah bertemu dengan Sam karena laki laki itu di tugaskan untuk mengurus perusahaan Ken yang ada di luar Negri
Mengapa Sam bentah di sana? Alasannya adalah karena laki laki itu memiliki istri di negara tersebut, namun sayang ia belum di berikan keturunan
"Are you okay baby girl?" Ucap Sam dengan suara beratnya. Trisyel hanya menggeleng dalam pelukkan Sam
Di sisi lain ada seseorang yang sedang menatap tajam ke arah dua orang yang sedang berpelukan itu. Matanya memerah dengan tangan yang mengepal kuat. Siapa lagi jika bukan Prince, cowo itu sedang di bakar api cemburu sekarang
"Dia siapa?" Tanya Aurin pelan
"Dia kak Sam, sahabatnya kak Ken" Jawab Fanyya. Jelas Fanyya tau itu karena Fanyya juga menganggap Sam adalah kakaknya. Waktu kecil mereka sering bermain bersama
Fanyya berjalan mendekat ke arah Sam dan juga Trisyel, matanya berkaca kaca. Tentu saja gadis itu juga merindukan Sam. Jika Ken adalah kakak yang positif dan protektif, maka Sam adalah kakak yang baik dan selalu memanjakan mereka
"Fanyya?" Tanya Sam. Fanyya mengangguk
Sam merentangkan tangan kanannya "Come here!" Pintanya. Fanyya pun ikut berlari dan memeluk sam
"Sialan! Siapa sih tu orang!" Geram Felix yang juga ikut cemburu saat Fanyya memeluk erat orang asing di depannya
Bara dan Jeje hanya mengangkat bahunya "Gak usah berfikir negatif dulu" Ucap Aurin
Ya meskipun begitu tetap saja Prince dan Felix tidak suka. Mereka tidak rela orang yang mereka cintai di peluk oleh orang lain. Apalagi gadis gadis itu terlihat sangat nyaman berada dalam pelukkan laki laki bernama Sam itu
πππ
SAMUEL PRADIPTA