PRINCE & TRISYEL

PRINCE & TRISYEL
BRENGSEK



Prince bangun dengan kepala yang terasa sangat sakit, samar samar ia mendengar suara percikkan air serta isakkan seorang perempuan dari arah kamar mandi


Seketika mata laki laki itu membulat sempurna saat melihat tubuhnya yang polos, bukan hanya itu ia juga melihat bercak merah di atas ranjang membuat tubuhnya bergetar


"Apa yang udah gue lakuin?"


Tiba tiba ingatannya kembali pada kejadian dimana ia membawa Ara ke dalam sebuah kamar, mengungkung gadis itu dan memaksanya mengakui bahwa gadis itu adalah Trisyel. Namun Ara tetap saja membrontak dan berkata bahwa dia bukan Trisyel


Ia berkali kali membentak Prince, mencengkram menampar, menendang juga menggigit tubuh Prince berusaha untuk melepaskan diri. Prince yang sudah gelap mata dengan kemarahan itu pun akhirnya mengunci tubuh Ara, membuka seluruh kain yang melekat pada gadis itu tidak peduli gadis itu membrontak, beteriak, dan menangis terisak, ia hanya ingin gadis itu menjadi miliknya


Hingga terjadi lah sesuatu yang tak pernah terfikir olehnya, mengambil paksa sebuah mahkota yang dijaga oleh seorang gadis yang kini berubah menjadi wanita. Tidak ada kelembutan di setiap sentuhan Prince, dengan marah serta nafsu yang tersirat membuatnya berlaku kasar, hanya ia sendiri yang menikmati permainan itu sedangkan Ara hanya bisa menangis dengan isakkan yang tak pernah di perdulikan oleh Prince, wanita itu benar benar terluka


Saat menyadari apa yang terjadi, Prince langsung mengambil handuk dan melilitkan di pinggangnya, dengan langkah lebar ia berjalan mendekat ke arah kamar mandi yang tidak di tutup pintunya, dapat ia lihat Ara yang terduduk lemah di bawah guyuran shower. Wanita itu menangis dan terisak sambil memeluk lututnya


"Trisyel..." Lirih Prince saat melihat keadaan wanita di depannya


Ara menoleh, lagi lagi nama itu keluar dari bibir Prince. Bahkan sekarang ia merasa benci pada pemilik nama itu yang ia sendiri tidak tau siapa


"PERGI!" teriak Ara


"Trisyel..." Prince dengan langkah pelan mendekat ke arah Ara, namun gadis itu berdiri dengan tubuh bergetar juga wajah yang terlihat sangat pucat


"KU BILANG PERGI BRENGSEK!" teriak Ara lagi "AKU BUKAN TRISYEL!! KARENA TRISYEL YANG KAU MAKSUD ITU SUDAH MATI!" Murka Ara


Wanita itu kembali terisak sakit, mengapa nasipnya harus menjadi seperti ini. Dari Singapura datang ke Bali dengan tujuan ingin berlibur, menghabiskan waktu bersama Richard namun berujung mengenaskan. Apa salahnya hingga ia mendapatkan semua perlakuan ini? Kenapa dunia begitu kejam padanya?


Niatnya hanya ingin mencari gelang agar Richard tidak marah padanya. Lalu sekarang? Bukan hanya amarah tapi amukkan bahkan kebencian mungkin akan ia dapatkan dari laki laki itu. Laki laki yang ia sayangi


Prince menatap nanar ke arah Ara, benar kah apa yang wanita itu katakan? Apa Trisyel benar benar sudah pergi? Lalu mengapa wajah wanita itu sangat mirip dengannya, bahkan suaranya pun terdengar sama


"Ara..." Untuk pertama kalinya Prince menyebutkan nama wanita yang sedang menatapnya dengan penuh kebencian itu. Hati Prince terasa sangat sakit bagai di tusuk ribuan pedang


"Pergi... aku tidak ingin melihatmu lagi" Ara berujar lirih, ia menunduk dengan mata sembab dan bibir begetarnya "aku benci padamu. AKU BENCI!"


Bugh...


Ara memukul kuat kaca yang berada tak jauh darinya hingga kaca itu pecah berkeping keping. Kini darah segar mengalir deras dari tangan gadis itu


"ARA!" Prince memkik saat melihat apa yang wanita itu lakukan, ia ingin berjalan mendekat namun langkahnya terhenti saat melihat Ara yang menggenggam satu pecahan kaca dan mengarahkan kaca itu tepat di depan lehernya sendiri


"ARA BERHENTI!_ Jangan lakukan ini ku mohon" Prince menggeleng dengan air mata yang entah sejak kapan sudah membasahi wajahnya


Ara tertawa seperti orang kesetanan


"Ini semua karena kamu, kamu telah menghancurkan aku! Merenggut hal yang paling berharga dariku! I HATE YOU!"


Prince menggeleng saat tantan Ara semakin mendekat ke arah lehernya "Maafkan aku... maaf" Hanya itu yang mampu keluar dari bibir Prince


"Kamu adalah laki laki yang paling brengsek yang pernah aku temui! Sekarang hidupku telah hancur, HANCUR!"


Srekkk


Darah segar kini mengalir dari tangan Prince, laki laki itu dengan gerakkan cepat menarik tangan Ara dan mengambil alih pecahan kaca itu membuat tangannya dan tangan Ara terluka


Tiba tiba tubuh Ara merosot, dengan cepat Prince menahan tubuh melah itu, dapat ia rasakan tubuh Ara yang begitu dingin juga wajahnya yang sangat pucat. Mata wanita itu kini tertutup sempurna


"Trisyel..." Prince berujar lemah saat kepala gadis itu berada di dada bidangnya, ia menepuk pelan pipi Ara berusaha membuat wanita itu sadar


"Ara..." Tidak ada jawaban


"ARALIYA!" Lagi, tidak ada jawaban dari wanita itu. Ia kehilangan kesadarannya


"Tidak. Ku mohon buka matamu, maafkan aku!" Prince menangis sambil membawa tubuh lemah wanita itu dalam dekapannya, ia mencium puncak kepala Ara dengan sayang


"Maafkan aku, maaf"


🀍🀍🀍


Prince menelfon sekertarisnya, meminta bantuan untuk membawa waktu itu ke rumah sakit


Tidak butuh waktu lama, sekertaris Prince datang bersama beberapa orang bodyguard Prince


Mereka tertegun saat melihat seorang wanita yang terbaring lemah di atas ranjang, wanita itu_ sangat mirip dengan Trisyel


"Tuan, apa ini nona_"


"CEPAT SIAPKAN MOBIL SIALAN! JIKA TERJADI SESUATU PADA WANITAKU AKAN KU BUNUH KALIAN SEMUA" teriak Prince menggelegar


Ia sudah menggunakan kembali celana serta kemeja yang semalam ia gunakan, sedangkan Trisyel, ia menutup tubuh gadis itu dengan jas miliknya karena pakaian wanita itu basah


"Kau carikan pakain ganti untuk kami!" Ucapnya pada sang sekertaris


Orang yang di perintahkan hanya mengangguk. Sedangkan Prince langsung membawa tubuh Ara ala bridal style keluar menuju mobil


Saat di dalam mobil Prince terus memeluk tubuh Ara sambil mencium tangan ara yang terluka sama sepertinya


🀍🀍🀍


Sedangkan di tempat lain seorang laki laki yang sudah terbangun sejak 1 jam yang lalu terlihat gusar. Orang itu adalah Richard


Tadi ia sempat mengetuk pintu kamar hotel milik Ara hingga beberapa kali namun tidak ada jawaban. Ia juga sudah menghubungi wanita itu berkali kali namun nomor wanita itu tidak aktif, ada sedikit rasa khawatir di hatinya


"Where are you baby?" ucap Richard khawatir


awalnya ia ingin mengajak Ara untuk sarapan bersama. Ia mengetuk pintu kamar Ara hingga lebih dari 5 kali namun tidak ada jawaban sama sekali. Rasanya aneh saja, mengingat wanita itu bukan lah wanita yang sulit untuk di bangunkan


Kini perasaannya benar benar tidak enak. Ia berjalan menuju resepsionis meminta kunci cadangan kamar milik Ara


Awalnya sang resepsionis tidak mengizinkan, namun setelah mendengar penjelasan Richard akhirnya ia berikan kunci cadangan dan datang ke kamar Ara dengan di temani oleh 2 orang pekerja hotel


Brakk...


🀍🀍🀍