PRINCE & TRISYEL

PRINCE & TRISYEL
KEDATANGAN KEN




"Prince"


"Hemm?"


"Bagaimana keadaanmu nak?"


"Cih, tenyata masih ingat kalau punya anak?"


Tidak ada jawaban, hal itu sukses membuat satu sudut bibir Prince terangkat membentuk senyum smirk


"Papa sedang di perjalanan. Papa akan pulang"


"Terserah"


Tut..


dengan seenaknya Prince mematikan sambungan telfonnya


"Akhhhh" Teriaknya sambil menarik kuat rambutnya


"Prince lo kenapa? Sakit? Mau gue panggil_"


"Diem! Mending lo pulang sekarang" Jeje terdiam


Sorot mata Prince menunjukkan amarah membuat Jeje sedikit merasa takut. Jeje sangat menengal bagaimana seorang Prince, ia tau jika sudah begini berarti Prince sedang tidak ingin di ganggu


"Oke, gue pulang dulu. Kalau ada apa apa kabarin kita. Ingat, kita sahabat lo" Setelah mengucapkan itu Jeje langsung keluar dari ruangan Prince sedangkan cowo itu, memejamkan mata dengan tangan yang mengepal


🍁🍁🍁


Jakarta, 02:04


cklek..


pintu ruangan Prince terbuka, dapat di lihat bahwa cowo itu sedang tertidur tanpa ada siapapun yang menemaninya


"Kalian kembali saja! Aku akan menginap di sini" kata orang itu pada anak buahnya


setelah mengatakan itu, ia langsung masuk dan menutup pintu. Dengan langkah pelan ia berjalan mendekat ke brankar Prince, tanpa ia sadari air matanya sudah mengalir


Tangannya terulur untuk menyentuh kepala Prince, dengan pelan ia mengusap lembut rebut Prince, tak lupa mengecup pelan dahi cowo itu


"Maafin papa Prince, papa telah egois" gumam Ken sangat pelan. Ia tidak mau jika harus membangunkan putranya itu


Ken menatap wajah damai putranya, hatinya terasa sangat sakit saat melihat keadaan putranya yang seperti ini, di tambah lagi ada bekas air dari sudut mata Prince


Ken duduk di kursi samping brankar. Tangannya terus mengelus lembut rambut sang putra "Maafkan aku Greta, aku terlalu larut dalam kesedihanku sendiri hingga aku melupakan putra kita. Bertahun tahun aku biarkan dia tumbuh sendiri, aku telah gagal menjadi sosok ayah untuknya" Air mata Ken sudah tidak bisa ia tahan lagi


"Mas, boleh aku meminta tolong padamu?" Ucap Greta dengan suara yang sangat pelan bahkan hampir tak terdengar


"Katakata sayang. Apapun akan aku lakukan untukmu" kata Ken sambil menggenggam erat tangan istrinya


"Tolong jaga Prince, rawat dan didik putra kita hingga tumbuh menjadi laki laki yang hebat dan bertanggung jawab sepertimu. Karena aku tidak akan bisa_"


"Syuttt diam lah! Jangan mengatakan omongan kosong seperti itu, aku tidak suka! Kita akan merawatnya bersama!"


Greta menggeleng lemah, nafasnya semakin memburu "Ma-maafkan a-ku mas. Waktu ku... su-dah.. ti dak banyak la-gi.." Air mata Greta mengalir deras


"Mama" Tangis Prince histeris


"Ku mohon bertahan untuk kami, kami tidak bisa hidup tanpamu" Ken semakin menggenggam erat tangan Greta seolah enggan untuk melepaskan barang sedetik saja


"Ma-mas.. a aku mohon... berjanjilah pada-ku! huhhhh huhhhh huhhh" Udara semakin sulit untuk Greta hidup, ia tau ini adalah akhir dari hidupnya


Karena melihat keadaan istrinya seperti itu dengan reflek Ken mengangguk "Ya aku berjanji! Tapi tolong bertahan untuk kami" Pintanya lagi


Greta tersenyum kemudian menatap Prince "Sa-yang.. ma-ma mohon... ja-di lah.. a anak.. yang ba-ik... he-bat.. dan ber-tanggung ja-wab... Ka-mu.. harus men-jadi laki - laki yang man-diri" Kalimat itu menjadi kalimat terakhir yang Greta ucapan, setelah itu matanya tertutup dengan satu tetes air mata yang jatuh bersamaan dengan terpisahnya jiwa dan raga


"MAMAAAAAAAA" teriak Prince dengan tangis sesegukan. Ia mengguncang guncang tubuh tak bernyawa Greta, dan begitu juga dengan Ken


"Greta... bangun Greta! KU BILANG BANGUN!!!!"


Moment menyakitkan itu kembali teringat membuat Ken semakin reisak


"Maafkan aku Greta. Maafkan papa Prince. Maaf maaf maaf..." Lirihnya


🍁🍁🍁


Jakarta, 05:36


Prince terbangun karena merasa haus, tiba tiba ia merasa tangannya sedang di genggam oleh seseorang. Mata Prince menoleh ke sebelah kanan


"Papa" Ucapnya pelan


Dengan pelan Prince merubah posisinya menjadi duduk. Matanya menatap lekat sang papa


"Dih, pake jas mulu, gak bosen apa?" Gumamnya


"Kapan papa datang? kok gue gak sadar ya?"


engh...


Ken tersadar saat Prince menarik tangannya


"Prince, kamu sudah bangun?" tanya Ken sambil duduk tegap


"Anda bisa lihat sendiri kan" jawab Prince datar


Sakit. Itu lah yang Ken rasakan. Ia tau Sifat Prince dingin kepadanya seperti ini juga karena salahnya sendiri


"Mau apa? biar papa ambilin" Kata Ken saat melihat Prince mengulurkan tangannya


"Pengen minum"


Ken dengan cepat mengambil botol minum di atas nakas kemudian ia berikan pada Prince. Dengan wajah datar cowo itu menerimanya


"Kenapa pulang? kerjaannya udah selesai?" Sindir Prince


"Papa sudah serahkan pada anak buah kepercayaan papa untuk menghandle pekerjaan di luar negeri. Mulai sekarang papa akan menetap disini. Papa ingin menjaga kamu"


Prince tersenyum smirk "Yakin? gak nyesel? Nanti perusahaannya bangkrut loh gegara jagain saya" Ucapnya sambik terkekeh sumbang


"Prince papa minta maaf" Lirih Ken


"Untuk?" Prince menaikkan satu alisnya


"Maaf karena papa selama ini tidak pernah ada untuk kamu. Papa selalu sibuk dengan pekerjaan papa. Papa janji, mulai sekarang papa akan banyak meluangkan waktu untuk kamu"


"Hahaha" Prince tertawa sumbang "kenapa baru sekarang tuan Melvin yang terhormat? Ini sudah tidak ada artinya lagi untuk saya"


"Prince_"


"Denger tuan Melvin. Dimana anda saat saya membutuhkan sosok papa? sudah bertahun tahun saya hidup sendiri, bahkan saya sudah terbiasa hidup tanpa anda"


Air mata Ken mengalir deras. Inikah perasaan yang Prince rasakan selama 6 tahun ini? Mengapa begitu menyakitkan saat ucapan itu keluar dari mulut putranya


Dan jangan kira bahwa Prince senang mengatakan hal itu, karena sejujurnya ia juga merasa sangat sakit. Dengan susah payah ia menahan air matanya agar tidak menglir


anak mana yang tidak senang saat orang tuanya ada untuknya, apalagi di saat dirinya sakit seperti ini? tapi Prince sudah begitu kecewa pada Ken


percayalah, hati dan ucapan Prince benar benar bertolak belakang


Drrttt... drrtt... drttt...


"Hah.. Kembali lah tuan Melvin. Pekerjaan anda sudah menunggu"


Ken menggeleng "Papa sudah meminta orang untuk mengurusnya"


Prince dapat mendengar suara Ken yang bergetar 'Sakit pa.. sangat sakit' Batinnya


"Terserah, saya tidak peduli. Saya ingin istirahat!" Cowo itu kembali membaringkan tubuhnya dan menutup matanya


sedangkan Ken, pria itu hanya bisa menangis tanpa suara sambil menatap Prince yang seolah tak melihat keberadaannya


Anak buah Ken datang dan membawakan baju ganti untuk Ken. Pria itu memutuskan untuk tidak pulang dan memilih untuk membersihkan diri di kamar mandi rumah sakit


saat Ken berada di dalam, saat itu lah Prince meneteskan air matanya. Bukan ini yang ia harapkan, tapi...


Prince meraih ponselnya dan mencari kontak Trisyel di sana. Setelah itu ia langsung menelfon


setelah beberapa deringan akhir terdengar jawaban dari sebrang sana


"Halo? siapa ya?"


"Syel.. Sakit hiks.." ucap Prince dengan suara bergetar


"Prince? ini lo?"


Tak ada jawaban dari Prince, cowo itu hanya mengeluarkan suara isakan


"Prince lo kenapa? Sakit lo kambuh? jangan bikin gue panik!"


"Hiks.. hiks.. gue butuh lo syel.."


"Oke gue kesana. Tunggu gue!"


Tut..


Trisyel langsung mematikan panggilan itu. Setelah itu Prince kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Tangisnya benar benar tidak bisa ia kendalikan lagi


_____


"Prince kamu kenapa?" Tanya Ken saat melihat Prince yang sedang mengelap wajahnya dengan tisu


"Gak!" jawab Prince cepat.


Ken dapat melihat mata Prince yang memerah dengan kelompok mata yang seperti habis menangis


"Bilang sama papa kamu kenapa? mau papa panggilkan dokter?" Tanya Ken


Cklek...


mata Prince dan Ken sontak menatap ke arah pintu


Di sana ada Trisyel, Jeje, dan Felix. Jangan lupakan dokter di belakang mereka


"Biar saya periksa dulu" Kata dokter itu yang sontak membuat Ken mundur


Ketiga orang yang baru tiba itu membeku


"Om Ken?" kata Felix yang terkejut melihat Ken tiba tiba ada di ruangan Prince


"Dia siapa?" Bisik Trisyel pada Jeje


"Papanya Prince!"


Deg..


Trisyel terdiam. Seketika jantungnya berdegup kencang apalagi saat Ken menatapnya


wajah datar dengan mata elang sangat mirip dengan wajah Prince, membuat Trisyel bergidik


"Keadaan Prince sudah jauh lebih baik. Mungkin sore ini sudah bisa pulang" kata Dokter


Ken yang tadinya menatap ke arah Trisyel kerena baru bertama kali melihat, kini beralih mentap dokter kepercayaan keluarganya bernama Dony yang umurnya tak beda jauh dari Ken


"kamu yakin?" tanya Ken "Kalau masih belum pulih sepenuhnya sebaiknya menginap saja lagi, berikan pengobatan terbaik untuknya"


"Tidak perlu. Saya rasa Prince juga bosan" ucapnya sambil menatap Prince


Ken pun ikut menatap wajah datar putranya "Baik lh. Kamu boleh pergi"


Dony mengangguk kemudian meninggalkan ruangan Prince


Felix dan Jeje menarik tangan Trisyel untuk mendekat, tapi Trisyel menggeleng lemah tapi tetap saja ia ditarik


"Om, apa kabar?" Tanya Jeje basa basi


"Baik" jawab Ken


Jeje dan Felix sontak menyalami tangan Ken, melihat itu Trisyel pun menyalami tangan Ken meski ragu


"Siapa dia, kok om baru liat?" tanya Ken yang sontak membuat Trisyel menegang


"Trisyel om" jawab Felix "Dia temen kita juga" Ken mengangguk


"Bisa kalian tinggalkan kami?" ucap Prince yang seketika membuat semua orang menatapnya


"kami, siapa?" tanya Jeje


"Gue dan Trisyel" jawab Prince tegas


Trisyel menatap Ken yang sedang menatap Prince


"Baik lah" kata Ken yang kemudian berlalu begitu saja


Felix dan Jeje pun ikut melangkahkan kakinya menyusul Ken. Kini hanya tersisa Trisyel dan Prince


"Syel.." Lirih Prince. Trisyel menatap wajah Prince. Dapat Tristel lihat mata Prince yang memerah dan berair, ia tau cowo itu sedang tidak baik baik saja


Trisyel mendekat dan duduk di brankar. Tiba tiba saja Prince memeluknya sangat erat membuat Tristel sedikit terkejut


Tubuh Prince bergetar, dan isakan mulai keluar dari bibir cowo itu. Dapat Trisyel rasakan bahunya yang basah oleh air mata Prince


"Prince, lo kenapa?" tanya Trisyel khawatir


Prince hanya menggeleng dan semakin mempererat pelukannya


"Lo kenapa bilang sama gue!" Dengan paksa Trisyel melepaskan pelukkan Prince. Tangannya memegang rahang tegas milik Cowo itu dan menatap wajah sendunya


"Gue gak mau lo liat kerapuhan gue, tapi gue gak tahan untuk terus pura pura kuat. Gue butuh lo syel... " lirih Prince


Tiba tiba Trisyel merasa hatinya bergetar dan mata yang mulai berkaca kaca, ia seolah merasa sakit saat melihat cowo itu menangis


"hiks hiks Gue butuh lo untuk menjadi penyemangat gue. Hiks Gue butuh lo untuk bersandar, gue hiks_"


Dengan cepat Trisyel memeluk erat tubuh Prince kembali saat ia mendengar isakan Prince yang semakin terdengar lirih. Cowo itu menenggelamkan wajahnya pada celuk leher Trisyel, mencari ketenangan dari gadis itu


Trisyel memeluk Prince sambil mengusap lembut rambut cowo itu "Lo gak perlu untuk selalu pura pura kuat. Lo boleh nangis dan rapuh di depan gue. Gue akan selalu berusaha untuk tenangin lo kayak gini, dan gue akan berusaha untuk selalu ada buat lo"


"Janji" Ucap Prince. Trisyel mengangguk dan tersenyum meskipun Prince tak bisa melihatnya


🍁🍁🍁