PRINCE & TRISYEL

PRINCE & TRISYEL
GARA GARA COKLAT




Jakarta, 06:00


Prince turun dari kamarnya, dengan menggunakan seragam lengkap. Ia bersemangat hari ini karena tidak sabar untuk bertemu Trisyel


"Hay Prince, good morning" Sapa Ken di meja makan


"Morning"


"Ayo duduk sini, papa udah bikin sarapan buat kamu" Prince mengangguk lalu duduk di hadapan Ken


Ya hubungan Prince dan Ken perlahan lahan membaik sekarang, walaupun Prince masih terkesan cuek tapi tidak sedingin dulu. Mungkin itu memang sifat alami Prince yang menurun darinya, dulu sebelum kenal Greta Ken juga seperti itu


"Oh ya Prince, bagaimana dengan Trisyel? Papa sudah lama tidak melihat kekasihmu itu" Ucap Ken di sela sela makannya


"Dia baik"


Ken tersenyum "Sekali sekali bawa dia ke sini, biar papa bisa lebih mengenalnya"


Prince terdiam, ia tiba tiba ingat awal masalahnya dengan Trisyel sampai gadis itu akhirnya memutuskan hubungan dengannya. Itu karena Ken, Trisyel berusaha memberikan pengertian pada Prince tentang Ken, tapi Prince malah marah


Prince menyesali perbuatatannya sekarang. Mungkin ia terlalu kasar pada gadis itu "Iya, nanti Prince ajak kesini"


Setelah menyelesaikan sarapannya Prince langsung bergegas ke sekolah dengan menggunakan motor kesayangannya, dan Ken yang langsung berangkat ke kantor untuk bekerja


_____


Sekolah


Prince baru saja tiba dan melihat pemandangan yang membuatnya terganggu. Ia melihat Geral memberikan bungkusan coklat pada Trisyel dan gadis itu menerimanya. Prince tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan karena jarak yang lumayan jauh, saat ingin mendekat tiba tiba teman temannya datang


"Bos tunggu" Teriak Jeje


Menoleh sebentar pada Jeje kemudian beralih lagi menatap Trisyel, ternyata gadis itu sudah berjalan pergi. Prince menghembuskan nafas kasar


Ia cemburu. Prince akui ia benar benar cemburu sekarang, niatnya ingin memanas manasi Trisyel malah dia yang kepanasan


"Kenapa sih lo, masih pagi muka udah rusak aja" Ujar Bara


"Gue tau, pasti gara gara Trisyel kan? Dia mengabaikan lo lagi" Kekeh Aurin yang duduk di jok motor Bara


"Diem lo" Ucap Prince dengan raut wajah kesalnya


Aurin semakin terkekeh, gadis itu turun dari motor Bara "aku duluan ya sayang, babay" Ucap Aurin pada Bara kemudian berlalu pergi


"Lo tumben sendirian, Fanyya mana?" Tanya Prince saat melihat jok motor Felix kosong, biasanya kan Fanyya selalu datang bersama cowo itu


"Hari ini gue nemenin Jeje, kasian dia selalu sendirian gak ada yang di boncengin" Jawab Felix dengan santainya


"Sialan" Geram Jeje


____


"Hello, i am coming" Teriak Aurin saat memasuki kelas


"Berisik lo" Ucap Fanyya sambil menutup kupingnya


"Heh lo gak kangen apa sama gue"


"Enggak tuh" jawab Fanyya enteng


Aurin langsung mengerucutkan bibirnya sambil bersedekap dada


"Kangen sih, tapi gak usah teriak juga kali. Lo kira ini hutan" Ujar Trisyel


Aurin menyengir dan langsung memeluk erat Trisyel "Lo emang sahabat gue, gak kayak yang itu tuh, jahat" Sindir Aurin pada Fanyya


"Kayak bocah lo" Sinis Fanyya


Pelajaran di mulai semua murid kembali fokus pada pelajaran. Dan saat istirahat tiba Trisyel tidak ikut ke kantin bersama sahabatnya, ia lebih memilih ke perpustakaan untuk membaca novel


"Hey Trisyel mana?" Tanya Jeje saat melihat Aurin dan Fanyya datang tanpa Trisyel


dua gadis itu pun duduk di meja yang sama "Perpustakaan" jawab Fanyya


"Kenapa gak ikut makan ke kantin?" Tanya Prince


Fanyya dan Aurin kompak mengakat bahu


"Sayang pesenin seblak sama jus alpukat dong" Pinta Aurin


"Nitip sekalian" Sahut Fanyya


Sedangkan Prince, cowo itu langsung beranjak pergi padahal belum sempat makan, bahkan pesanannya pun belum datang


"Mau kemana lo" Teriak Felix namun tak mendapatkan jawaban


Prince langsung berjalan menuju perpustakaan, di sana ada 2 murid yang sedang membaca. Matanya menyapu seluruh ruangan untuk mencari Trisyel, ternyata gadis itu duduk di pojokkan belakang


matanya menangkap gadis itu yang sedang membaca buku sambil memakan coklat yang tadi Geral berikan, tanpa ragu Prince langsung menghampiri Trisyel


"Coklat murah gitu aja di makan" Sinis Prince


Trisyel langsung menoleh saat mendengar suara yang familiar di telinganya "Ngapain lo di sini" Ucap Trisyel tak kalah sinis


"Ya buat nemuin pacar gue lah" Trisyel memutar bola matanya malas


"Siniin coklat gue" Trisyel berusaha meraih coklat itu namun Prince mengangkat tangannya. Karena tubuh Trisyel yang lebih pendek dari Prince membuat gadis itu kesulitan meraih coklat di tangan Prince


"Lo kenapa sih seneng banget bikin gue kesel. Bisa gak sehari aja lo gak ganggu gue" Ucap Trisyel kesal


Prince menggeleng sambil tersenyum tipis "Lo kenapa gak makan ke kantin?"


"Bukan urusan lo. Balikin coklat gue"


Dengan entengnya Prince malah membuang coklat itu ke tong sampah yang jaraknya tidak begitu jauh dari Trisyel. Mata Trisyel melotot padahal ia baru sekali menggigit coklat itu


"Prince sialan!"


"Lagian coklat murah gitu doang lo permasalahin. Apa coklat yang selama ini gue kasih gak cukup buat lo? Mau gue kasih lebih banyak lagi? bilang" Ucap Prince, terdengar nada kesal di sana


"Apaan, lo gak pernah kasih gue coklat"


"Coklat, bunga, boneka, dan barang barang yang selama ini ada di depan rumah lo itu dari gue. Gue yang kasih"


Trisyel mengerutkan keningnya "Bukannya itu dari Geral ya?" Gumamnya bingung


Prince dapat mendengar itu "Apa lo bilang? Geral? Woy itu gue yang beliin" Ucap Prince tak terima


"Tapi Geral bilang itu dari dia" Jawab Trisyel jujur


"Sialan! Gue yang susah payah nyari ide buat cairin keadaan malah dia dengan enaknya ngambil kesempatan. Pengen mati tu orang" Ucap Prince menggeram marah


"Ya mana gue tau itu dari lo. Salah dia lah kenapa malah ngaku ngaku"


Prince mengepalkan tangannya "Seharusnya lo juga cari tau dulu kebenarannya, gak langsung percaya sama katak kayak dia" Ucap Prince dengan nada tinggi


"Lo kenapa nyalahin gue sih. Lo yang ngasih barang secara misterius mana gue tau! gue bukan cenayang" jawab Trisyel balik dengan nada tinggi


Prince menggeram marah, namun tiba tiba ucapan Greta kembali terngiang di fikirannya. Tidak, ia tidak boleh marah dan berakhir melukai hati gadis itu lagi. Prince menarik nafas dalam guna menetralkan emosinya


"Sekarang lo tau itu dari gue. Jadi lo gak usah terima barang dari cowo manapun lagi, apalagi itu Geral!"


"Lo gak punya hak buat ngatur gue! Lo bukan siapa siapa lagi buat gue" Ucap Trisyel tegas


Prince memejamkan matanya. Ayo lah ia sedang berusaha menahan emosinya sekarang. Kenapa Trisyel malah semakin memancing emosinya. Tidak mengerti kah Trisyel bahwa Prince sangat menyayanginya


"Gue udah bilang kalau gue gak bakal lepasin lo gitu_"


"Eh itu kenapa pada treak treak?" Kata Trisyel saat mendengar suara riuh dari arah luar


PRANKKKK


PRANKKKK


"Akhhh" Trisyel memekik saat mendengar suara salah satu kaca yang pecah dari dalam ruangan itu


PRANKKK


PRANKKK


PRANKKK


suara kaca yang pecah makin terdengar nyaring, bahkan sekarang kaca yang pecah dekat dengan posisi mereka


Trisyel teflek memeluk lengan Prince sambil menundukkan kepalanya dengan mulut yang terus mengeluarkan pekikkan. Mata Prince menajam, satu tangannya memegang kepala Trisyel


"Gue takut" Lirih Trisyel sambil memperkuat dekapannya pada lengan Prince


"Lo tenang, ada gue disini. Gue gak bakal biarin lo terluka" Ucap Prince


🍁🍁🍁