PRINCE & TRISYEL

PRINCE & TRISYEL
FIRSH KISS




"Prince mana?" Tanya Trisyel dengan nafas ngos ngosan


Felix, Bara, dan Jeje saling tatap kemudian serampak mengangkat bahunya


"Beneran gak tau?"


"Kan tadi Prince lari, sedangkan kita masih sama sama stay di lapangan" jawab Jeje


Tanpa mengatakan apapun Trisyel langsung berlari ke parkiran, di sana ia masih melihat adanya motor Prince yang berarti cowo itu belum pulang


Trisyel kembali berlari mencari Prince ke kelasnya, ke toilet, ke kantin namun tidak menemukan cowo itu.


Trisyel sempat pusing dan kelelahan karena mencari Prince bahkan sekarang sudah masuk jam pelajaran. Trisyel mencoba menelfon cowo itu namun ponselnya tidak aktif. Terakhir tempat yang ada di pikiran Trisyel adalah rooftop. Trisyel berlari ke rooftop sekolah dan benar saja ada Prince di sana


Bugh..


bugh..


Bugh...


Dengan membabi buta Prince melayangkan tinjuan pada tembok yang tidak tau apa salahnya


Trisyel yang melihat itu seketika menegang, jujur saja ia takut sekarang. Namun dia juga merasa tidak bisa hanya diam dan memperhatikan saja, jika seperti ini Prince akan semakin menyakitkan dirinya


dengan langkah besar Trisyel mendekati Prince


"Prince" Ucapnya pelan namun tak mendapatkan respon apapun


"Akhhhhh"


Bugh..


bugh..


bugh..


Prince masih asik dengan kegiatannya sendiri, tangannya sudah di penuhi luka


Tangan Trisyel terulur untuk menahan tubuh Prince namun tak ada gunanya, cowo itu jauh lebih kuat


"Prince stop!" Ucap Trisyel


"BERHENTI KAYAK KINI PRINCE" teriak Trisyel


hap..


Trisyel memeluk erat tubuh Prince dari belakang membuat cowo itu diam menegang


"Hiks.. aku mohon berhenti! Aku gak mau kamu nyakitin diri kamu sendiri. Aku takut hiks.." Untuk pertama kalinya Trisyel mengubah kalimatnya menjadi aku kamu


Hal itu sontak membuat hati Prince bergetar hebat. Prince dapat merasakan tubuh Trisyel yang juga bergetar di belakangnya dengan suara isakkan yang terdengar jelas di telinga


"Ngapain lo disini?" Ucap Prince dingin


"Aku nyariin kamu dari tadi"


Seketika Prince tertawa sumbang "Gak usah bohong deh! Lo fikir gue gak tau kalau lo abis nemenin cowo sialan itu di UKS?"


Trisyel terdiam dan perlahan melepaskan pelukannya, ia menatap punggung Prince


"PERGI LO DARI SINI! MENDING LO BALIK AJA KE COWO ITU LAGI!"


Bugh...


Sontak Trisyel menutup matanya "Prince hiks.." Trisyel menggeleng lemah dengan air mata yang mengalir deras


"PERGI!!!" bentak Prince


"SIALAN AKHHHHH" teriak Prince


bugh..


bugh..


bugh..


bugh..


bugh..


Trisyel benar benar tidak sanggup melihat itu, ia hanya menutup mata dengan tubuh bergetar karena takut


Trisyel menarik kuat tangan Prince agar berbalik padanya. Dan,


Hap..


Trisyel kini memeluk erat tubuh Prince dari arah depan, gadis itu menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Prince


"I am so sorry hiks.." Ucapnya lirih


Prince mematung. Hatinya terasa semakin sakit saat mendengar isakan yang keluar dari bibir Trisyel


seketika ia ingat ucapan Kayzo untuk tidak menyakiti atau membuat adiknya menangis


"Aku mohon jangan kayak gini... aku takut" Trisyel mendongak menatap mata merah Prince


cowo itu pun menatapnya "Kenapa lo masih disini kalau lo takut?" Ucapnya pelan


"Aku mau kamu berhenti hiks.. hiks.." tangisnya semakin pecah "Maaf"


ia kembali menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Prince. Prince pun tiba tiba membalas pelukkan Trisyel tak kalah erat, tangan kirinya memeluk erat pinggang Trisyel, sedangkan tangan kanannya berada pada kepala Trisyel


"Maaf" Lagi lagi itu yang keluar dari bibir Trisyel


Prince mengusap lembut rambut Trisyel dengan tangan penuh luka "Gue gak suka lo deket sama cowo lain, apalagi lo bela cowo lain jelas di depan gue. Cowo lo itu gue bukan dia, ngerti?"


Trisyel mendongak lalu mengangguk. Tangan kanan Prince kini beralih mengusap lembut pipi Trisyel dan menghapus air mata gadis itu dengan jarinya "Dan satu hal yang harus lo ingat, apapun yang sudah menjadi milik gue, gak bakal gue biarin di ganggu apalagi di sentuh orang lain" ucap Prince tegas


Prince mendekatkan wajahnya sangat dekat, dan dengan pelan ia menempelkan bibirnya pada bibir tipis milik Trisyel


Prince mulai menggerakkan bibirnya mengigit kecil bibir Trisyel agar gadis itu membuka mulutnya. Setelah itu Prince langsung melum*tnya dengan lembut


Tubuh Trisyel menegang dengan mata tertutup, ini pertama kalinya bagi Trisyel dan sebenarnya pertama kalinya juga untuk Prince


Prince terus melanjutkan aktivitasnya tanpa balasan dari Trisyel hingga beberapa menit akhirnya Trisyel mendorong dada bidang Prince karena pasokkan udara di paru parunya menipis


"huh.. huh.. huh.." Trisyel terengah engah sedangkan Prince hanya tersenyum


"Kamu mau bunuh aku hah!" Ucap gadis itu kesal


"Oooh udah berani marah sekarang?" Trisyel sepontan menggeleng dengan wajah memelas membuat Prince gemas dan kembali mengecup bibir Trisyel


"Kenapa gak balas ciuman gue?"


"Aku gak tau caranya! Ini pertama kalinya buat ak_" Trisyel terdiam sebentar "Huwaaaaa ciuman pertama gue..." Teriaknya kemudian


Trisyel memukul mukul dada bidang Prince namun tak berasa apapun untuk cowo itu, ia hanya terkekeh "Gue bangga karena menjadi orang pertama yang ngerasain manisnya bibir lo"


_______


Jakarta 01:25


Kini dua anak manusia itu sedang bolos di rooftop sekolah, sejak tadi Prince tak membiarkan Trisyel untuk kembali ke kelas.


"Prince tangan lo luka luka. Mau ke UKS gak?"


Prince menaikkan alisnya "Lo, Gue?" tanyanya


"Kenapa?"


"Tadi lo ngomong pake aku kamu, kenapa sekarang pake lo gue lagi?"


Trisyel cengengesan "Ralat" ucapnya sambil terkekeh


"Lah, lo sendiri?"


"Gue cowo, gak masalah. Pokoknya lo gak boleh, kalau gak nurut gue cium di tempat umum" ancam Prince


Trisyel berdecak "Ngancem ya sekarang" Prince tertawa


"Terus gimana tangan kamu? mau ke UKS gak?" Tanya Trisyel lagi


"Gak! Ogah gue. Ada bekas cowo sialan itu"


Trisyel menghela nafasnya "Tapi tangan kamu luka luka"


"Gara gara lo" Trisyel terdiam


"kenapa tadi lo lebih belain dia dibanding gue? Lo gak amnesia kan, cowo lo itu gue!"


Trisyel menatap Prince "Aku belain dia bukan karena dia cowo aku. Tapi kamu itu salah karena udah gebukin orang, kalau dia mati gimana?"


"Tinggal buang ke got" jawab Prince


"Heh!" Dengan spontan Trisyel memukul lengan Prince "Ngomongnya!"


Prince hanya mengangkat bahunya acuh


"Aku punya beberapa alasan Prince"


"Jelasin!"


Trisyel kembali menghela nafasnya


"Pertama, aku gak bisa biarin kamu gebukin orang kayak gitu, kalau terjadi apa apa sama dia gimana, pasti ada resikonya?


terus kedua, aku takut kamu di skors dari sekolah"


Seketika Prince tertawa "Skors? lo gak salah?" Tanyanya di sela sela tawa "gue anak pemilik sekolah ini syel" lanjutnya


"Ch, iya emang. Tapi tetap aja keadilan harus tetap di tegakkan!"


🍁🍁🍁


Setelah beberapa jam berada di rooftop sekolah akhirnya kini mereka memilih untuk pulang. Tentu saja ketika sekolah sudah sepi


Kini mereka sudah ada di depan rumah Trisyel, karena Prince mengantarnya pulang


"Masuk bentar yuk, aku obatin dulu luka kamu. Tenang, gaada kak Kayzo kok" ajak Trisyel lalu Prince mengangguk


cowo itu turun dari motornya tak lupa melepas helem dan kemudian menyusul Trisyel masuk


"Kamu duduk dulu, aku ambilin obatnya" ucap Trisyel


gadis itu meletakkan tasnya di sofa kemudian berjalan mengambil kotak p3k


Prince duduk sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Aroma dari lilin pengharum ruangan ini mampu membuat fikiran Prince sedikit rileks sekarang


"Jangan tidur disini!" Tegur Trisyel saat melihat Prince menutup matanya


"Akh ganggu" kata Prince ketus


Trisyel tak memperdulikan, gadis itu membuka kotak P3K itu dan mengambil obat untuk luka di tangan Prince


"Siniin tangannya!"


"Nih nih nih makan nih tangan!" Prince menyodorkan tangannya yang penuh luka ke binir Trisyel membuat gadis itu menepisnya dengan wajah kesal


"Gak gitu juga!" Kesalnya sedangkan Prince hanya tertawa


Trisyel mengambil tangan kanan Prince dan dengan telaten mengobati luka di tangan Prince


"Kamu liat kan, darahnya aja ampe udah beku kayak gini gara gara telat di obatin. kalau infeksi gimana? Kamu sih ngeyel di bilangin, coba aja tadi langsung di obatin di UKS gak bakal gini jadinya!" Omel Trisyel


Prince mengernyit "Kenapa lo malah cosplay jadi emak emak? Gue berasa jadi anak kecil yang di omelin emaknya gara gara nakal" keluh Prince


"Ya emang kamu nakal" kata Trisyel


"Tapi ganteng" sahut Prince dengan pedenya


Trisyel tak lagi menyahuti, gadis itu dengan sangat telaten membersihkan dan mengobati luka luka Prince, setelah di tangan kanan kemudian beralih ke tangan kiri


Prince menatap wajah Trisyel yang nampak srius mengobati lukanya. Tiba tiba ia teringat pada mamanya


Ma, sekarang aku udah ketemu sama wanita cantik dan perhatian kayak mama. Dia beneran cantik loh mah, bilangin sama tuhan ya jangan pisahkan aku dari wanita baik seperti mama lagi. Izinkan aku menjadi lelaki beruntung yang bisa mendapatkan kasih sayang tulus dari wanita seperti ini Batin Prince tanpa sadar sudut matanya mengeluarkan tetesan yang mengenai tangan Trisyel


Trisyel mendongak "Kamu kenapa nangis? Sakit ya?" Tanya Trisyel


Prince menggeleng kemudian tangannya terulur untuk memeluk erat tubuh Trisyel "Terimakasih karena telah hadir. Tolong jangan tinggalkan aku, apapun keadaannya"


**🍁🍁🍁


Apartemen Prince


"Prince" ucap Jeje antusias saat melihat Prince masuk


Cowo itu sudah menghilang sejak jam istirahat pertama dan baru kembali pukul setengah 3 sore. Semua sahabatnya cemas karena Prince juga tidak bisa di hubungi


Jeje memutari tubuh Prince "Lo gapapa kan" katanya. Prince hanya menggeleng singkat


"Dari mana aja sih lo?" Tanya Felix dengan nada tak bersahabat


"Ke mars buat manas manasin kaum jomblo" jawab Prince asal. Cowo itu berjalan menuju sofa


"MENTANG MENTANG LO PUNYA PACAR!" Teriak Jeje


Prince menghentikan langkahnya saat melihat Ken yang baru keluar dari area dapur


"Ngapain papa kesini?" Tanya Prince


Ken mendekat dan menyodorkan segelas kopi pada Prince "Papa hanya ingin memastikan anak papa baik baik saja" jawabnya


Prince terdiam. Cowo itu memilih untuk menghempaskan tubuhnya di sofa


"Kenapa kamu gak pulang ke mansion?"


"Gak mintat. Percuma rumah gede, toh juga sama aja kayak kuburan gak berpenghuni" jawabnya. Cowo itu merebahkan dirinya dan menutup mata


Ken melirik sahabat sahabat Prince kemudian menghela nafas "Sekarang papa sudah stay disini. Papa harap kamu pulang ke mansion, di sana banyak maid yang akan mengurus semua keperluan kamu"


"AKU GAK MAU, NGERTI GAK SIH! kalau mau pulang pulang aja sana! Itu rumah papa bukan rumah Prince" Dengan kesal cowo itu melangkahkan kakinya menuju kamarnya kemudian menutup pintu dengan kasar


"Prince!" Panggil Ken. Pria paruh baya itu berdiri sambil memegang dadanya saat mendengar suara pintu yang di tutup kasar


Felix Bara dan Jeje mendekati Ken


"Om sabar dulu ya, emang gak mudah buat dapetin hatinya Prince" Ucap Bara


"Mending om duduk dulu" Sahut Jeje


Ken pun duduk dan di keliling oleh sahabat sahabat Prince yang berusaha menenangkannya


"Kenapa Prince bersikap begitu? Apakah sebenci itu Prince pada om?" Lirih Ken


"Gak kok om, Prince cuman butuh waktu. Dia udah terlanjur sakit hati, udah lama dia mendam ini semua. Dan sekarang dia cuma butuh sedikit waktu untuk menerima dan memaafkan om" Kata Bara


"Prince itu emang susah buat di luluhin om" Sahut Jeje sambil mengelus punggung Ken


"Om mohon sama kalian. Bantu om buat luluhin hati Prince. Om pengen Prince maafin om dan nerima om sebagai papanya! Om pengen hubungan om dan Prince membaik layaknya ayah dan anak"


ketiga cowo itu mengangguk bersama "Om tentang aja, nanti kita bantu buat ngomong sama Prince" Kata Felix


"Kayaknya kalau minta bantuan sama Trisyel enak nih. Kan Trisyel satu satunya orang yang mudah meluluhkan hati es nya si Prince" Ujar Jeje membuat Felix dan Bara sontak menatap ke arahnya


🍁🍁🍁