
Tak terasa waktu berlalu, kini Trisyel sudah 6 hari bersekolah di SMA Galaxy. Hari ini, tepat hari sabtu para anak muda sudah mempersiapkan rencana untuk menyambut malam minggu
"Nanti malam minggu bestiee" Ucap Fanyya
"Alah, malam minggu gaada bedanya sama malam malam lain buat gue" Ucap Trisyel
karena dari dulu ia memang jarang keluar, ia lebih senang menghabiskan waktu di kamar sambil membaca novel. Karena kakaknya yang super positif itu juga menjadi salah satu alasan mengapa ia jarang keluar
"Emang biasanya kalau malming lo ngapain?" tanya Aurin
"Mageran di kamar" jawab Trisyel
"Kalau nanti malam kita hangout aja gimana?" Tawar Fanyya
sebenarnya Fanyya dan Aurin sudah janjian untuk jalan jalan dan berkumpul bersama Felix, Bara, Jeje, dan Prince. Karena itu sudah menjadi rutinitas mereka setiap malam minggu, terkadang Fanyya dan Aurin ikut ke sirkuit untuk melihat 4 cowo itu balapan, dan banyak lagi kegiatan yang biasa mereka habiskan bersama
"Lo tau kakak gue gimana?" Kata Trisyel dengan wajah datar
Fanyya meringis, karena ia sangat mengenal sosok Kayzo "Si wartawan dengan seribu pertanyaan" ucapnya terdengar lirih. Meminta izin pada Kayzo untuk Trisyel keluar itu bukan hal yang mudah, bisa memakan waktu 1 jam hanya sekedar untuk meminta izin saja
"Emang kakak lo wartawan? Bukannya dia CEO ya?" Tanya Aurin bingung
Seketika Trisyel tertawa mendengar ucapan Aurin yang terdengar begitu polos "Gak gitu Aurin" Ucapnya di sela sela tawa "Kakak gue bakalan cosplay jadi wartawan kalau gue minta izin buat keluar. Karena kakak gue itu super duper posesif"
Seketika Aurin mengangguk faham "Emang kalau bareng kita juga susah di izinin ya?"
"Gak tau sih. Tapi selama gue di Bali gue jarang di izinin keluar"
πππ
"Prince.." Panggil Felix. Karena sedari tadi Prince terus mengotak atik ponselnya tanpa memperdulikan sahabatnya yang sedang berkumpul di apartemen miliknya sejak pulang sekolah tadi
"hemm" Prince hanya berdehem tanpa mengalihkan pandangannya
"Lo main hp mulu?"
"Lagi stalking ig nya Trisyel" jawab Prince yang seketika membuat Felix tertawa
"Wah beneran udah jatuh cinta kayaknya"
Seketika Prince menghentikan kegiatannya matanya menatap Felix dengan raut wajah yang terlihat sedang berfikir
"Kayaknya gue emang suka deh sama dia"
Jeje dan Bara yang tadi sedang asik bermain game kini juga menghentikan aktivitasnya. Mereka langsung menatap Prince bingung
"Kok bisa?" Tanya Jeje
"Gue juga gak ngerti. Yang jelas gue suka kalau liat dia"
"Tapi dia nya yang gak suka liat lo" sahut Bara sambil terkekeh
Karena memang setelah kejadian di Cafe saat Geral dan Prince bertengkar Trisyel mulai menghindari 2 cowo itu. Saat istirahat pun Trisyel lebih memilih untuk satu meja bersama Wenda dari pada harus berkumpul bersama sahabatnya, namun di situ ada Prince. Menurut Trisyel cowo itu sangat menyebalkan
Prince ikut terkekeh mendengar ucapan Bara "Dia emang beda dari cewe cewe lain yang pernah gue temuin. Dan karena itu gue jadi suka sama dia"
"Kayaknya dia cinta pertama gue. Dia berhasil bikin gue merubah pandangan gue tentang cewe yang semuanya itu sama. Karena jelas gue liat, dia beda"
"Bukannya waktu itu lo bilang cuma pengen jahilin dia doang ya? biar dia baper sama lo?" tanya Felix
"Awalnya gitu. Gue juga pengen buktiin kalau dia itu ulat bulu, tapi kayaknya gue salah besar. Sekarang malah gue yang baper sama dia, padahal dia gak ngapa ngapain" ucap Prince
"Cinta itu datang emang dengan berbagai cara ya. Dia benci sama lo aja lo bisa cinta sama dia"
Prince tersenyum membayangkan bagaimana raut wajah jutek Trisyel setiap kali bertemu Prince, menurutnya itu sangat menggemaskan
πππ
Jakarta, 18:20
"Kak" Trisyel mengalungkan tangannya pada leher Kayzo, saat ini Kayzo sedang duduk di meja makan, ia baru selesai makan, karena tadi di kantor cowo itu tidak sempat makan siang, dan kini sedang menikmati kopi sambil membaca email
"Gak boleh!" Kata Kayzo sambil menurup laptopnya. Kayzo seakan sudah tau apa yang akan di katakan oleh Trisyel
Seketika Trisyel mendengus, ia tau itu akan terjadi "Please" Bujuknya lagi
"Mau kemana? Sama siapa?_"
"Semalam berbuat apa..." Sahut Trisyel dengan bernyanyi
"Salah lirik" Sahut Kayzo dingin. Dua kakak beradik itu saling tatap, detik berikutnya mereka tertawa bersamaan
Setelah puas tertawa kini Kayzo menarik lembut tangan Trisyel untuk duduk dikursi sampingnya. Trisyel menurut saja
"Emang Syel mau kemana, hem?" Tanya Kayzo lembut sambil tangannya terulur untuk menepikan rambut yang menghalangi wajah cantik adiknya
"Syel mau jalan jalan sama Fanyya, terus ada temen baru Trisyel juga, namanya Aurin. Dia baik loh kak" ucap Trisyel dengan nada manja
Kayzo terdiam beberapa menit. Tatapannya terpaku pada manik mata Trisyel, seulas senyum terbit pada wajah cowo itu, namun berbeda dengan manik matanya yang malah mengeluarkan buliran bening
"Kok kakak nangis sih? Syel cuma izin keluar bentar, bukan mau minggat dari rumah" Celetuk Trisyel membuat Kayzo terkekeh
Tangan cowo itu beralih mengusap lembut rambut adiknya dengan penuh sayang "Adik kakak emang udah gede sekarang"
Trisyel terkekeh, ia bersedekap dada dengan satu alis naik turun "Kan udah mau 18+"
"Heh!" Kayzo dengan reflek memukul pelan lengan Trisyel membuat sang empu tertawa
"Apaan 18+ 18+? Gaada ya, kamu masih kecil"
Trisyel tertawa "Katanya tadi udah gede, berarti boleh dong" kalimat itu langsung mendapatkan plototan dari Kayzo "Minimal mulai dari nonton lah ya" Ucapnya sambil tertawa
Kayzo menyentil bibir adiknya "Siapa yang ngajarin hah?"
"Ampun pak ampun, becanda doang" Trisyel menyengir sambil mengangkat tangannya membentuk huruf 'V'
Kayzo hanya berdiam masih dengan tatapan tajamnya
"Ya udah gimana? Syel boleh keluar gak?"
"Gak!"
"His" Trisyel berdecak, gadis itu berdiri dan hendak pergi, namun dengan cpat Kayzo menariknya dan membawa gadis itu dalam pelukkannya
"Kamu tau kanapa kakak begitu mengekang kamu?" Trisyel mendongak menatap Kayzo yang jauh lebih tinggi darinya, gadis itu menggeleng masih dalam pelukkan Kayzo
"Kakak melakukan itu bukan karena kakak gak pengen liat kamu bahagia, tapi kakak pengen jaga kamu. Kakak takut kamu kenapa napa syel, dunia ini sulit untuk di tebak, tidak semua orang itu baik"
"Ya udah syel gak jadi keluar. Nanti Syel bilang sama Fanyya" Ucap Trisyel tersenyum
Ia tak begitu keberatan, walaupun sebenarnya ia juga ingin hangout bersama sahabatnya. Namun ia juga mengerti kakaknya begitu menyayanginya
"Gapapa, kamu boleh pergi" Ucap Kayzo. Trisyel langsung menatap Kayzo dengan tatapan tak percaya
"Serius?" Kayzo mengangguk sambil tersenyum
"Tapi pulangnya gak boleh lewat dari waktu yang kakak tentukan. Paling lambat jam 11 malam udah harus sampe di rumah!"
"Hah?" Trisyel semakin di buat terkejut. Gadis itu menempelkan tangannya pada kening Kayzo
"Gak panas tuh"
"kakak gak demam!"
"Terus kenapa jadi aneh gini? Biasanya kalau izin sama kakak pasti susah banget, banyak pertanyaan, posesif banget deh pokoknya. Terus kalau pun boleh keluar, waktunya gak bisa lewat dari jam 10. Bahkan sebelum jam 10 udah harus di rumah" Cerocos Trisyel membuat Kayzo terkekeh
Cowo itu mengacak gemas rambut adiknya "Selama ini kamu selalu nurut sama kakak. Kamu juga jarang bahkan hampir gak pernah keluar malam untuk have fun sama temen temen kamu. Jadi sekarang kakak izinin, karena kakak tau kamu gak bakal ngerusak kepercayaan kakak, iya kan?"
Trisyel mengangguk "Kamu sekarang udah gede. Gak seharusnya kakak kurung kamu di rumah terus"
"Makasih ya kak" Trisyel langsung memeluk erat Kayzo
"Tapi kamu gak boleh bawa mobil sendiri. Paling enggak kakak yang anter, biar kakak tau kamu perginya kemana, terus sama siapa aja"
Trisyel mendengus, ternyata kakaknya itu masih saja posesif "Gak usah, Fanyya bilang mau jemput" ucapnya datar
"Ya udah kalau gitu sesudah sampai dan sebelum pulang harus kabarin kakak!"
"Hemm" Trisyel berdehem sebagai jawaban
"Anggap kakak ini suami kamu, jadi apapun kegiatan kamu harus bilang dulu sama kakak, dan kakak harus tau dimana dan apa yang kamu lakukan"
"Kenapa gak jadi suami beneran aja" Celetuk Trisyel
"Idih, siapa juga yang mau sama kamu. Mana manja gitu, nyusahin yang ada" Canda Kayzo sambil terkekeh
"Eh jangan salah, banyak yang ngantri pengen sama Syel tau" Trisyel mendengus kesal
πππ
Trisyel sudah siap untuk pergi hangout bersama sahabatnya. ia menggunakan atasan kaos putih dan bawahan rok jins, simpel namun sangat terlihat cantik saat Trisyel menggunakannya
Begini lah kira kira outfit yang Trisyel gunakan
Dan benar saja, Fanyya dan Aurin datang untuk menjemput Trisyel. Sebelum pergi mereka berpamitan pada Kayzo
"Kok kakak lo gak kayak wartawan yang lo bilang tadi sih?" ucap Aurin
"Iya syel, kok dia gak banyak nanya?" Sahut Fanyya
kini ketiga gadis itu sudah berada di dalam mobil dengan Fanyya yang menyetir
"Gue juga gak tau. Tiba tiba aneh gitu"
"Tapi bagus sih, kan gue jadi gak takut bawa lo keluar" Kata Fanyya sambil terkekeh
Tak butuh waktu lama kini mereka tiba di sebuah taman yang di penuhi banyak manusia di sana. Taman yang begitu indah menurut Trisyel, banyak sekali lampu lampu berwarna warni yang menghiasi tempat itu
"Mereka di sana?" Ucap Aurin setelah melihat layar ponselnya
Alis Trisyel menurut "Mereka siapa?" Tanyanya bingung
tanpa menjawab Fanyya langsung menarik tangan Trisyel untuk mengikutinya, dan seketika netra Trisyel bertemu dengan seseorang yang sudah ia hindari beberapa hari ini
"Kok ada mereka?" Trisyel meringis
"Udah ayok" Fanyya menarik tangan Trisyel dengan di bantu Aurin yang mendorong punggung Trisyel, mau tidak mau gadis yang di tarik itu berjalan mengikuti
Dapat Prince lihat dari jauh saja raut wajah Trisyel menunjukkan ketidak sukaan padanya, namun itu lah yang membuat Prince semakin tertarik pada Trisyel
"Gak selama yang gue kira" Ucap Bara
pasalnya tadi Aurin bilang padanya kemungkinan butuh waktu lama untuk menjemput Trisyel
"Karena gak ada halangan" jawab Aurin sambil tersenyum
"Duduk weh, berdiri bae gak capek apa" Ujar Jeje
Fanyya dan Aurin ikut bergabung dengan 4 cowo itu. Mereka duduk di kursi dengan meja bulat besar yang ada di taman
beda halnya dengan Trisyel, gadis itu enggan untuk duduk. Ia kesal karena Fanyya dan Aurin tidak bilang jika ada 4 cowo itu di sini, di tambah lagi kursi yang tersisa hanya ada di tengah tengah antara Fanyya dan Prince
Prince? cowo yang ia hindari. Tentu saja Trisyel enggan untuk duduk. Gadis itu berdiri dengan bersedekap dada
"Kenapa berdiri gitu? mau jadi model? atau mau jadi patung?" Ucap Prince sambil terkekeh
"Gue baru aja sampe di sini, lo udah bikin gue kesel aja" Mau tidak mau Trisyel akhirnya duduk, namun ia menarik kursi begitu mepet dengan Fanyya, membuat semua yang ada di meja itu terkekeh
mereka semua seakan sengaja membiarkan Trisyel dekat dengan Prince, seolah mereka semua sudah bekerja sama membuat Trisyel semakin kesal
"Jangan marah mulu syel, tar lo jatuh cinta sama gue. Abis itu nyesel karena pernah marah marah sama gue"
Trisyel seketika melotot "Maksud lo?" Trisyel berdecak kesal "Gak usah mimpi deh lo!"
Prince mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada Trisyel "Lo marah aja cantik banget syel" ucapnya sambil menatap Trisyel
gadis itu langsung mendorong kuat dada bidang Prince, saat ini ia sangat malu, karena di sini bukan hanya ada mereka. Dan jujur saja jantungnya sekarang sedang tidak aman, seakan sedang maraton di dalam sana
"Caik elah... piwwit.." Teriak Jeje sambil tertawa
"Diem gak lo!" Sentak Trisyel. Bukannya diam Jeje malah tertawa semakin keras dan di ikuti oleh yang lainnya
"Cie salting ya?" ucap Fanyya di sela sela tawanya
"His, enggak ya!" jawab Trisyel sambil memukul lengan Fanyya
"Udah lh jujur aja kenapa sih. Muka lo udah kayak kepiting rebus tuh" Ujar Prince semakin membuat Trisyel kesal
πππ
Mohon maaf jika masih banyak typo, soalnya masih tahan belajar π jadi harap maklum ya temen temen