
Trisyel meletakkan tasnya di atas ranjang kemudian ikut menjatuhkan tubuhnya di sana, rasanya cukup melelahkan duduk di depan laptop sambil membaca berkas berkas
Saat sedang asik menutup mata tiba tiba ia ingat sesuatu "PRINCE" ucapnya sambil melotot
Saking sibuknya bekerja ia sampai lupa mengabari kekasihnya itu, bahkan ia lupa di mana ponselnya berada. Dengan cepat ia membuka tasnya mencari benda pintar berbentuk pipih itu di dalam sana
Setelah mendapatkannya Trisyel langsung membuka ponselnya dan ternyata ada puluhan panggilan tak terjawab dan ribuan pesan tak terbaca dari Prince. Sudah dapat Trisyel tebak bahwa cowo itu pasti marah sekarang
Trisyel mencoba menelfon Prince beberapa kali namun tidak ada yang di jawab oleh cowo itu "Dih ngambek.. Paling bentar lagi juga nyariin" ucap Trisyel
Gadis itu memilih untuk membersihkan diri, setelah menyelesaikan rutualnya di dalam kamar mandi ia langsung turun berniat untuk makan malam
"Hah kok kamu ada di sini?" Langkah Trisyel terhenti saat melihat sosok laki laki sudah duduk sambil bersedekap dada di sofa ruang tamunya
"Lupa kalau punya pacar?" Ucap suara itu dengan dingin
Trisyel memutar bola matanya malas saat melihat raut wajah kesal laki laki berjas hitam itu
"Maaf, aku tadi sibuk_"
"Aku juga sibuk, tapi aku masih sempet buat ngabarin kamu, buat nyariin kamu. Tapi kamu? Ckh.." Prince berdecak dengan bibir manyun
"Ya maaf..."
"Gak!" Prince memutar tubuhnya ke samping tidak ingin melihat ke arah Trisyel. Laki laki itu sedang merajuk sekarang
Trisyel terkekeh melihat tingkah Prince yang seperti anak kecil, ia berjalan mendekat lalu duduk di samping Prince
"Ututuuu bayi gede nya Trisyel lagi ngambek nih critanya" Dengan jahil tangan Trisyel mencubit gemas pipi Prince
Prince kembali mengalihkan pandangannya dari Trisyel namun dengan cepat Trisyel menarik tubuh Prince lalu memeluknya dengan hangat, meletakkan kepala Prince pada celuk relernya
Cowo itu yang tadinya merajuk langsung luluh seketika, ia membalas pelukkan Trisyel dengan begitu erat dan semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Trisyel
"Aku kangen..." Ucap Prince manja
Trisyel mengangguk sambil mengelus rambut dan punggung Prince dengan sayang "Aku capek seharian di kantor.. aku juga badmood karena gak ada kabar dari kamu.. aku betek tau gak, gak semangat buat kerja" Adunya pada Trisyel
"Iya, maafin aku ya.."
Prince mendongak menatap Trisyel "Panggil sayang, abis itu cium!" Pintanya dengan suara yang begitu manja
Trisyel tersenyum "Iya sayang" Gadis itu langsung mencium kedua pipi Prince
"Sini!" Pintanya sambil menunjuk bibirnya sendiri
"Gak akh, males!" Jawab Trisyel iseng
Prince langsung mengerucutkan bibirnya dengan mata tajam menatap ke arah Trisyel, namun Trisyel hanya membalas dengan senyum smirk
Dengan cepat Prince menarik tubuh Trisyel menempelkan bibirnya pada bibir pink alami milik Trisyel, menarik tengkuk Trisyel untuk memperdalam ciuman mereka
"Aku laper" Ucapnya setelah puas mencium Trisyel
"Ya udah kita makan bareng, bibi pasti udah masak" Ucap Trisyel dan di angguki Prince
Dengan manja Prince meminta Trisyel untuk menyuapinya dengan alasan tangannya sakit karena banyak menandatangani dokumen di kantor. Sungguh alasan yang tidak masuk akal, meskipun begitu Trisyel tetap dengan telaten menyuapi Prince dan sesekali menyuapkan makanan pada mulutnya sendiri
*****
"Loh udah mau berangkat Prince?" Kata Ken saat melihat putranya yang sudah rapi
"Mau jemput calon istri" jawab Prince sambil merapikan dasinya
Ken terkekeh mendengar jawaban anaknya "Udah gak sabar pengen nikah nih ceritanya?"
"Iya lah. Oh iya kemarin Prince udah ngelamar dia, dan dia setuju"
"Kok kamu gak bilang sama papa?"
"Tentu saja, papa senang jika Trisyel menjadi menantu papa"
"Good, bulan depan jadi nikah" Ucapnya dengan antusias membuat Ken geleng geleng kepala
_____
"Morning Princess" Sapa Prince saat mobilnya terparkir di halaman rumah Trisyel. Kebetulan Trisyel juga baru keluar dari rumahnya
"Morning Prince" Ucap Trisyel sambil tersenyum
Gadis itu langsung masuk ke dalam mobil saat Prince membukakan pintu untuknya
"Sayang" Prince menggenggam tangan Trisyel dengan tangan kirinya dan tangan kanan memegang stir mobil
Trisyel menolah "Siap kan nikah sama aku?" Tanya Prince sambil melirik Trisyel sekilas
"Aku udah bilang sama papa buat nikahin kamu bulan depan, dan papa setuju, bahkan dia bilang mau bantu mempersiapkan pernikahan kita"
Trisyel terdiam beberapa detik, memiringkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Prince "Kamu yakin, udah mikir mateng buat semua ini. Ini bukan soal enteng Prince, ini soal pernikahan..."
"Emang kamu fikir aku bercanda? Ya aku serius lh, aku udah fikirin ini semuanya dengan mateng, aku gak mau kehilangan kamu sayang, aku pengen jaga kamu, bina keluarga sama kamu, dan aku pengen kamu jadi ibu untuk anak anakku nanti" Prince mengecup tangan Trisyel lama
Hati Trisyel menghangat saat mendengar ucapan tulus dari Prince, terkadang laki laki yang terlihat dingin ini justru seringkali menghangatkan untuk Trisyel
"Aku belum kasih tau kak Sam sama kak Monic"
***
Prince menarik pinggang ramping Trisyel lalu mencium kening Trisyel cukup lama, tidak perduli kalau mereka sedang berada di depan kantor dan di lihat banyak orang. Prince benar benar acuh
"Nanti makan siang aku jemput, kita makan siang bareng. Jangan sampai aku telfon kamu gak aktif lagi, bakal aku bakar kantor kamu" Ancam Prince
Trisyel mendengus sebal, ancaman macam apa itu "Aku serius, kalau kamu gak kasih kabar aku bakal bakar perusahaan ini"
"Bakar aja, biar kita gak jadi nikah" jawab Trisyel sinis
"Lah apa hubungannya?"
"Kalau kamu bakar perusahaan otomatis aku juga kebakar, kan aku ada di dalam" Trisyel tersenyum smirk
"Bakarnya kalau udah sepi lh"
"Serah! Kamu emang gak pernah mau ngalah"
Prince terkekeh "Aku pergi dulu ya, semangat kerjanya sayang. Jangan lupa nanti aku jemput" Lagi Prince mencium kening Trisyel lama kemudian mengecup tangan Trisyel lalu pamit untuk pergi
"Wah beruntung banget ya dapet pasangan se romantis itu" Ucap Richa yang tiba tiba datang dari belakang
"Biasa aja tuh"
"Kalau biasa aja kenapa senyum senyum gitu?" Ledek Richa sambil tertawa.
"Dia itu kulkas berjalan kak!"
"Emang iya? saya lihat gak gitu kok"
"Beneran, kakak aja yang belum kenal sama Prince. Dia itu definisi setengah manusia setengah lagi es batu, kalau sama orang dinginnya minta ampun"
"Sama orang doang kan, kalau sama kamu pasti bikin hangat"
"Kadang kadang. Tapi lebih sering nyebelin sih, kayak tadi contohnya, masa iya dia mau bakar perusahaan cuman gara gara telfonnya gak di angkat, kan gila ya" Adunya pada Richa membuat Richa tidak bisa menahan tawanya
"Justru itu lah yang bikin hubungan kalian semakin terasa indah"
🌹🌹🌹