
Mobil yang di bawa Prince terus melaju ke sebuah jalan yang terlihat seperti hutan karena begitu sepi, hanya ada pepohonan di kiri dan kanan jalanan
"Prince kita mau kemana? gue takut" Lirih Trisyel
Prince terdiam, cowo itu masih fokus memperhatikan motor yang berada di depannya itu tanpa memperdulikan ucapan Trisyel. Bukan ia tidak peduli pada gadis itu, hanya saja ia tidak bisa kehilangan jejak sekarang
Ini adalah kesempatan Prince untuk menangkap TC, jika TC tertangkap maka Trisyel akan aman
Trisyel merasa sangat lemas, seluruh tubuhnya bergetar karena takut. Ia hanya bisa menutup mata dengan tangan memegang sabuk pengaman dengan sangat erat
Boomm
"AAKHHH" Terdengar dentuman yang begitu keras bersamaan dengan Teriakkan Trisyel.
Wajah Trisyel dan Prince berubah panik, tiba tiba mobil terlihat tidak tentu arah karena ban mobil yang meledak. Dengan susah payah Prince berusaha untuk mengambil kendali mobil itu agar bisa berhenti
"PRINCE!"
"TENANG SYEL!" bentak Prince. Ia juga panik sekarang, ia tidak takut jika terjadi sesuatu padanya. Tapi Trisyel, ia takut gadis itu celaka
Srrrtttt
Suara besi dan aspal yang saling bergesekkan. 3 menit akhirnya Prince bisa mengendalikan mobil itu hingga berhenti tepat di tengah tengah jalan aspal
Tidak, semuanya belum berakhir. Ketakutan Trisyel belum berakhir sampai di situ, ia merasa semakin takut saat banyak motor yang datang mengelilingi mobil mereka
Ia menatap Prince, berusaha untuk meminta penjelasan pada cowo itu karena ia sudah tidak tau untuk berbicara apa lagi. Bibirnya kelu karena takut
"Kita di kepung! Ini jebakan!" Ucap Prince
Ia melihat banyak motor yang sedang mengelilingi mobilnya, matanya memerah dengan urat urat yang bertimbulan menandakan kemarahan
"Telfon Felix atau anak Avanger yang lain!" Titah Prince
cowo itu membuka sabuk pengamannya, menghitung setiap orang yang ada di sana memperkirakan berapa waktu yang ia perlukan untuk memperlambat pergerakan mereka agar tidak sampai menyentuh Trisyel hingga Felix dan anak Avanger yang lain tiba
"Gak ada sinyal!" Ucap Trisyel. Mata gadis itu sudah memerah menahan tangis, ia sangat takut
Seumur hidup Trisyel tidak pernah berada di situasi seperti ini
Prince menarik tangan Trisyel yang bergetar dan menggenggamnya erat, dan perlahan air mata Trisyel jatuh membasahi pipinya tanpa mampu ia bendung lagi
"36" Ucap Prince. Ia berusaha berfikir bagaimana cara agar Trisyel aman dan tidak tersentuh hingga bantuan tiba. Ia yakin teman temannya pasti akan tiba
"KELUAR LO PENGECUT!" Teriak orang dari luar
"HAHAHA KAYAKNYA DIA TAKUT DEH. DASAR PECUNDANG" sambung yang lain
"Prince gimana ini? Gue takut banget hiks" lagi lagi terdengar lirihan dari bibir Trisyel
"Gue pernah janji sama lo kalau gue gak bakal biarin lo terluka. Lo percaya sama gue kan?" Prince menatap Trisyel dan gadis itu pun mengangguk
"Sekarang lo dengerin gue!" Prince memegang pipi Trisyel dengan satu tangannya, menatap dalam mata merah gadis itu
"Gue akan keluar_"
"Gak! Lo gila ya, lo gak bakal bisa lawan mereka semua!" Bantah Trisyel bahkan Prince belum menyelesaikan ucapannya "Gue gak mau, gue gak mau lo kenapa napa hiks.."
"No no no, it's oke" Bujuk Prince namun Trisyel terus saja menggeleng
"TRISYEL!" Bentak Prince akhirnya
"DENGERIN GUE! Gue akan keluar untuk mengulur waktu. Lo tetap berada di dalam mobil dan kunci pintunya, jangan buka walaupun mereka gedor gedor maksa lo untuk buka. Janji sama gue jangan pernah keluar ataupun buka pintu sampai bantuan tiba! Ngeri?!"
Trisyel menggeleng "Gak ada bantuan Prince, disini gak ada sinyal, kita gak bisa minta bantuan hiks.."
"CEPETAN!" bentaknya lagi
"Gue yakin temen temen gue pasti akan dateng, gue percaya sama mereka. Jadi gue berharap lo juga percaya sama gue!" Prince menggenggam erat tangan Trisyel dengan tangan kirinya dan tangan kanan yang memegang pipi Trisyel "Janji sama gue sekarang! Kita gak punya banyak waktu atau lo mau kita mati terbakar di dalam mobil ini?"
Trisyel kembali menggeleng dengan air mata yang semakin mengalir deras, isakkannya semakin terdengar pilu di telinga Prince. Namun cowo itu tidak punya pilihan lain selain keluar karena ia tidak mau jika TC nekat melempar bensin pada mobilnya, ia takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada Trisyel
"Janji sama gue, SEKARANG!"
"IYA GUE JANJI" akhirnya dengan terpaksa Trisyel mengucapkan janji yang sebenarnya tidak ingin ia ucapkan. Sungguh ia terpaksa
Prince tersenyum, ia menarik tangan Trisyel lalu mengecupnya lama. Tanpa berkata apapun lagi ia langsung keluar dari mobil meninggalkan Trisyel sendiri di dalam sana
Trisyel yang telah berjanji pun mau tidak mau mengunci mobil itu, dengan ketakutan ia memegang ponsel Prince sambil berdoa dan berharap akan ada bantuan tiba secepatnya
"Mau apa lo?" ucap Prince dengan mata merah menatap Dedric
orang yang di tatap hanya tertawa "Udah dalam keadaan genting juga lo masih bisa berlagak sombong ya"
Perlahan Dedric berjalan mendekat ke arah Prince "Ngapain lo lama di dalam? Pacaran dulu? atau lo lagi mengucapkan kata kata perpisahan sebelum maut lo tiba" Seketika tawa langsung terdengar dari semua anggota TC
"Bacot lo sialan! Beraninya cuman keroyokan" Prince terkekeh sambil menatap remeh ke arah Dedric
"Gue gak peduli" jawab Dedric cepat "Yang penting lo udah terjebak dan masuk perangkap gue" Lagi lagi ia tertawa
"Prince prince.. dasar bodoh! Gampang banget lo di jebak" Ucap salah satu anggota inti TC
Prince terdiam dengan mata yang terus menyorot tajam ke arah Dalam Dedric
"Gara gara lo pergerakan TC jadi gak bebas, kita jadi buronan polisi gara gara lo sialan!" Geram Dedric, detik berikutnya ia kembali tertawa seperti orang gila "Dan sekarang liatlah, lo udah terkepung dan gak bisa apa apa lagi. Ajal lo udah dekat, gue pastikan hari ini lo akan mati"
"SERANG!" teriak Dedric sambil berlari ke arah Prince
Prince menatap ke semua arah, dan...
Bugh
bugh
bugh
bugh
bugh
Prince tidak bisa berkutik apalagi untuk membalas pukulan Dedric. Prince kalah telak, ia benar benar tidak bisa melawan karena mendapatkan serangan dari segala sisi dalam waktu yang bersama, dengan kedua tangannya yang di tahan membuat pergerakkannya terkunci
Prince benar benar di keroyok dan terkepung tanpa bisa melakukan apapun, darah sudah mengalir dari bibir hidung bahkan kepalanya pun mulai mengeluarkan darah. Ia sudah berusaha melawan, namun apalah daya ia hanya sendiri
"Semoga Avanger cepet sampai, gue hanya berharap lo baik baik aja syel" Batin Prince
"PRINCEEEEEEE NO PRINCE... PLEASE STOP!" teriak Trisyel dari dalam mobil saat melihat Prince yang di keroyok puluhan orang sekaligus
Ia memukul mukul kaca depan mobil sambil menangis histeris "FELIX CEPAT DATENG SIALAN! TOLONG PRINCE..."
"PRINCE GUE MOHON PRINCE BERTAHAN! LO BILANG TEMEN TEMEN LO BAKAL DATANG KAN, GUE MOHON BERTAHAN!"
Trisyel menangis histeris dengan suara isakkan yang semakin nyaring bersamaan dengan suara kaca yang di pukul dengan telapak tangannya. Ia hancur, benar benar hancur dan sakit saat melihat orang yang ia sayangi terluka
Prince tersenyum. Persekian detik ia sempat melihat Prince tersenyum ke arahnya. Ia dapat melihat wajah Prince yang merah penuh luka dan darah yang mulai membasahi seragam sekolah cowo cowo itu
"Prince..."
πππ