
Pagi ini Trisyel bangun lebih awal dan bersiap lebih awal dari biasanya. Karena Trisyel ingin menjenguk Prince lebih dulu sebelum berangkat ke sekolah
Trisyel di antar oleh drivernya, karena Kayzo mendadak ada meeting di kantornya. Jadi tidak bisa mengantar Trisyel sesuai ucapannya semalam
Rumah sakit
Cklek..
Trisyel pun dengan langkah pelan masuk ke dalam ruangan Prince, Trisyel sempat kaget karena ternyata cowo itu sudah bangun
"Prince" Trisyel duduk di kursi samping brankar Prince
"Hemm" jawab Prince sambil menatap wajah cantik Trisyel
"Lo apa kabar? Ada yang sakit gak? mau gue panggilin dokter?" Prince menggeleng sambil tersenyum
"Siniin deh tangan lo!" Pinta Prince
Trisyel pun menurut saja, gadis itu meletakkan tangannya pada dada kiri Prince "Udah sembuh" Kekeh Prince membuat Trisyel merona
"His apaan sih!" Dengan cepat Trisyel menarik kembali tangannya membuat Prince terkekeh lagi
"Kenapa muka lo merah kayak kepiting rebus gitu?"
"Mana ada? Mata lo tu kayaknya udah rusak" Jawab Trisyel sewot
"Masa iya, coba deket sini. Biar gue lebih jelas liatnya" Goda Prince
Gadis itu meletakkan sebuah plastik di atas meja "Lo mau makan gak?" Kata Trisyel berusaha mengalihkan pembicaraan
Prince tersenyum kemudian mengangguk "Tapi lo yang suapin" Ucapnya dengan wajah memelas
"Manja banget" Ketus Trisyel
"Gapapa manja sama ayang sendiri" jawab Prince dengan senyuman
Gleg..
Trisyel menelan salivanya dengan susah payah. Lagi lagi Prince membuat jantungnya tidak aman
"Kenapa diam?"
Trisyel menggeleng. Tangannya dengan cepat meraih plastik yang berisi kotak makanan.
"Gue bikinin lo bubur ayam. Makan ya" Prince pun mengangguk cepat
cowo itu mengubah posisinya duduk dan bersandar di sandaran brankar
Tangan Trisyel pun terulur untuk menyuapi Prince, dan dengan senang hati Prince menyuapinya
"Emmm ini masakkan lo?" Tanya Prince sambil memakan buburnya
"Iya lah"
"Enak banget. Apa lagi lo suapin" Prince terkekeh
sedangkan Trisyel, gadis itu memutar bola matanya malas "Bisa gak sih sehari aja lo gak gombal kalau ketemu gue, enek tau gak!"
"Gue serius sayang!" jawab Prince
Trisyel terdiam. Jika di jawab maka akan berlanjut dengan debat yang tidak akan ada penyelesaiannya
Dengan telaten Trisyel menyuapi Prince hingga bubur itu habis tanpa sisa
"Nih minum dulu" Trisyel menyodorkan sebotol minuman pada Prince. Cowo itu menerimanya dan meminumnya
"Temen temen lo mana?" Tanya Trisyel yang baru menyadari bahwa Prince hanya sendirian
"Udah pulang. Sekitar 20 menit sebelum lo sampe" Trisyel mengangguk
"Setengah jam lagi jam masuk sekolah, lo mau bolos?"
"Ya enggak lah!" Jawab Trisyel ngegas "Bisa di marahin sama kak Kayzo gue"
Prince tertawa "Kirain lo mau bolos buat nemenin gue"
"Iya nanti, pulang sekolah gue kesini lagi"
Prince tersenyum "Makasih" ucapnya tulus
Trisyel pun ikut tersenyum "Gue pamit duluan ya, kalau ada apa apa kabarin aja. Hp lo ada kan?"
"Iya ada"
"Ya udah gue ke sekolah dulu" Trisyel meraih tasnya dan beranjak untuk pergi
"Ada apa?" Trisyel kembali berbalik saat tangan kekar Prince menahan tangannya
"Lo khawatir sama gue?" tanya Prince dan Trisyel pun mengangguk
"Lo takut gue kenapa napa?" Trisyel kembali mengangguk
"Lo sayang sama gue?" Trisyel terdiam
Prince menarik tangan Trisyel membuat jarak di antar mereka semakin menipis "Apa lo udah bisa balas perasaan gue sekarang?"
Percayalah, sekarang Trisyel ingin sekali merosot. Tubuhnya terasa lemas dengan jantung yang serasa ingin copot
"Syel.." Panggil Prince lembut
"Iya?" Jawab Trisyel yang seolah tersugesti dengan ucapan lembut Prince
"Apa lo sayang sama gue?"
"Gue..." Trisyel ingin menjawab, tapi ia ragu
"Gue gak maksa lo, tapi gue harap lo jujur saja diri lo sendiri" Pinta Prince
"Gue gak yakin sama perasaan gue sendiri. Karena ini pertama kalinya gue rasain, gue juga gak tau gimana cara jelasinnya_" Trisyel menjeda ucapanya membuat Prince terdiam menunggu kelanjutan kalimat itu
"Tapi akhir akhir ini gue selalu merasa kangen sama lo, dan jantung gue pun selalu berdegup kencang setiap kali ngeliat lo. Satu hal yang gue bingung, saat liat lo terluka penuh darah di situ gue nangis kejar banget, gue merasa sangat takut lo kenapa napa. Gue takut lo ninggalin gue"
"Lo nangis kejar dan takut gue kenapa napa mungkin karena lo merasa bersalah atau merasa berhutang budi karena gue udah nyelametin lo?" Pancing Prince
Trisyel menggeleng, tiba tiba air matanya mengalir deras membuat Prince terkejut
"Eh.. kok malah nangis?" Prince gelagapan "hey jangan nangis"
hap..
"Syuttt jangan nangis, nanti cantiknya ilang"
"Gak! Gue masih cantik walaupun nangis" Jawabnya di sela sela tangisnya membuat Prince terkekeh gemas
"Iya, lo emang cantik" jawabnya kemudian mengecup pelan puncak kepala Trisyel
Trisyel melepaskan pelukkannya, gadis itu berdiri tegak sambil mengusap air matanya "Ya udah gue mau ke sekolah. Jaga diri lo baik baik, inget kalau ada apa apa kasih tau gue!" Ucapnya
dan lagi lagi Prince menahan tangan Trisyel "Apa lagi?"
"Lo belum jawab pertanyaan gue" Prince menaik turunkan alisnya
"IYA GUE SAYANG SAMA LO" Jawab Trisyel dengan cepat sambil menepis tangan Prince. Dengan buru buru gadis itu berlari keluar ruangan
Wajah Trisyel memerah karena malu dengan kalimat yang ia ucapkan sendiri. Apa ini berarti ia baru saja menjilat ludahnya sendiri?
"Ya tuhan, malu banget" gumamnya sambil terus berjalan cepat. Soal jantungnya? jangan tanyakan lagi, sudah jelas jedag jedug di dalam sana
Sedangkan Prince. Cowo itu mematung, ia kaget dan ngelag karena Trisyel mengucapkan itu dengan nyaring dan sangat cepat
Kemudian sudut bibirnya terangkat "Akhirnya berhasil juga buat macan betina itu luluh" Gumamnya sambil terkekeh
Sekarang perasaan Prince seolah berbunga bunya. Bahagia yang ia rasakan sangat sulit untuk ia jelaskan
Inilah cinta pertama Prince, jatuh pada seorang gadis yang memiliki sifat berbeda dari kebanyakan gadis lainnya. Dan itu lah hal yang membuat Prince terpikat padanya
πππ
Trisyel datang ke sekolah dengan keadaan mood yang sangat baik, gadis itu terus saja tersenyum membuat beberapa orang yang ia lewati menatap heran ke arahnya
"Eh, itu si Trisyel kenapa?" Tanya Aurin saat melihat Trisyel memasuki kelas
"Gue juga gak tau. Abis dapet kupon berhadiah kali" Jawab Fanyya asal
"Masa iya? Gue takut dia kesambet tau" ucapnya sambil memperhatikan Trisyel yang semakin mendekat dan akhirnya duduk di kursi
"Syel, lo kesambet apa dah?" Tanya Fanyya
"Hah? gaada" jawab Trisyel yang langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar "Emang gue kenapa?" Tanyanya membuat Fanyya dan Aurin menatapnya jengah
"Lo kenapa sih senyam senyum gitu? gue jadi merinding liatnya" Ucap Aurin
"Gapapa, lagi pengen senyum aja"
"Tapi gak cengar cengir juga kali. Tar di kira orang gila baru tau rasa lo!" kata Fanyya
"Syuttt jangan ganggu! Intinya gue lagi bahagia" jawab Trisyel
Aurin sontak menatap Fanyya, sedangkan orang yang di tatap hanya mengedikkan bahunya
Tanpa mereka sadari seseorang sedang manatap benci ke arah Trisyel dengan tangan yang mengepal kuat
"Seharusnya lo udah mati tertabrak Trisyel! Gue benci liat lo, apalagi senyum lo itu. Bikin gue pengen banget bunuh lo sekarang juga!" gumam seseorang, geram
________
Bell istirahat berbunyi beberapa murid sudah meninggalkan kelas mereka untuk menuju ke kantin, begitu juga dengan Trisyel dan 2 sahabatnya yang berniat untuk ke kantin
"Syel lo mau ke kantin?" Kata Geral yang tiba tiba sudah masuk ke kelas Trisyel dengan membawa kotak bekal di tangannya
"His, lo lagi lo lagi" Ucap Fanyya dengan sinis
"Berisik lo, anjing!" umpat Geral sambil menatap tajam ke arah Fanyya
"Lo tu yang anjing, ganggu aja" jawab Fanyya tak mau kalah
"Diem lo bedua!" Ucap Trisyel jengah "Lo bedua kalau ketemu selalu aja berantem. Lama lama gue jodohin juga lo" Kesal Trisyel membuat Aurin terkekeh
"Jodohin aja jodohin!" Sahut Aurin sambil bertepuk tangan. Sontak ia terdiri saat di mendapatkan tatapan tajam dari Fanyya dan juga Geral
"Ups, sorry" Dengan cepat Aurin menutup mulutnya
Fanyya berlarih menatap Geral dengan sinis "Idih, gak level gue sama playboy katak kayak dia. Mending juga sama Felix" Sinis Fanyya
"Felix gaada apa apanya sama gue" Geral tersenyum smirk
"Pede banget lo! Modal tampang doang belagu lo. Gue sumpahin lo gak bakal bisa dapetin cewe yang bener bener lo sayang!"
"Anjing lo" Geral benar benar kesal. Jika saja yang ada di hadapannya ini cowo sudah di pastikan Geral akan memberikan bogeman padanya
"Lo yang anjing"
Trisyel dan Aurin hanya menutup kuping, lama lama juga ikutan kesal melihat dua makhluk itu terus bertengkar
"Rin, lo bawa Fanyya ke kantin duluan. Gue mau urus katak satu ini" Bisik Trisyel pada Aurin
Aurin mengangguk dan langsung menarik tangan Fanyya untuk menjauh "Kita ke kantin duluan, gue udah laper"
Fanyya membrontak "Gue belum selesai sama playboy katak itu" Ucap Fanyya kesal namun Aurin terus saja menarik tangannya untuk menjauh
Sedangkan Trisyel terdiam sambil menatap sinis ke arah Geral "Lo mau apa lagi sih?" Tanya Trisyel dengan nada ketus
Geral tersenyum "Gue cuman mau ngasih lo makanan. Ini makanan rumah, di jamin sehat"
"Ngapain lo repot repot bawain gue makanan? Lo masak sendiri?" Trisyel mengangkat alisnya
"Gak, ini masakan mama gue. Dia nitip buat gue kasih makanan ini sama lo"
Trisyel terdiam beberapa detik "Kenapa nyokap lo bisa nitip makanan buat gue? Lo gak cerita aneh aneh kan? Kita gak ada hubungan loh" Ucap Trisyel memperingati
Geral tersenyum hambar "Gue gak bilang kalau lo cewe gue kok, gue cuma cerita kalau lo temen yang spesial dan gue sayang"
Gleg..
rasanya Trisyel sedang tertimpuk batu sekarang. Matanya menatap kotak bekal yang Gerak bawa
Geral menyodorkan kotak bekal itu "Tenang aja, gaada racun atau peletnya kok" ucapnya sembari terkekeh
karena tidak enak akhirnya Trisyel pun menerimanya "Bilang sama mama lo, thanks ya. Dan juga, gak usah repot repot bikinin gue makanan lagi, gue bisa bawa dari rumah sendiri atau gak beli di kantin"
"Hemm"
"Sekali lagi, thanks" Geral mengangguk
"Jangan lupa di makan ya. Kalau gitu gue duluan" Pamit geral
πππ