PRINCE & TRISYEL

PRINCE & TRISYEL
DI CULIK



Trisyel Aqasyila, gadis yang sebentar lagi akan menyandang setatus sebagai Istri dari Prince Melvin itu sedang berdiri dengan menggunakan handuk kimono di depan gaun pengantin yang akan ia kenakan nanti. Matanya menatap lekat gaun berwarna putih itu dengan perasaan haru


"hay nyonya Melvin" Seketika ia tertawa mendengar ucapannya sendiri yang terdengar begitu konyol


Tok tok tok


Trisyel mendengar suara pintu, karena pintu kamarnya itu memang tidak di kunci membuat orang di luar masuk dengan mudah


"Maaf nona, saya di panggil untuk membawa MUA untuk anda" kata orang yang Trisyel yakin adalah orang suruhan Prince, atau mungkin kakaknya


"Akh iya, silahkan masuk"


Orang yang tadi berbicara pada Trisyel kini keluar dan di ganti oleh orang yang menggunakan masker serta jubah berwarna hitam. Trisyel sedikit aneh melihat orang itu, namun ia tidak ingin berburuk sangka


"Nona ayo ikut saya" Ucap orang di balik masker itu


Suara itu? Entah lah Trisyel merasa tidak asing


"Mau kemana?" Trisyel menautkan alisnya


"Saya akan merias anda, tapi tidak disini. Mari ikut saya" Orang itu meraih tangan Trisyel


"Eh tunggu, bukannya make upnya di sini ya? Lagian ini gaun saya juga ada di sini?"


"Begini nona, saya di perintahkan tuan Prince untuk merias anda di tempat lain, karena ruangan ini akan di rias untuk malam pengantin anda nandi. Soal gaun, biar orang lain yang membawanya"


Orang itu langsung menarik Trisyel untuk keluar dari kamar tanpa menunggu jawaban Trisyel, orang itu terkesan buru buru saat berjalan sambil menarik tangannya


"Tunggu, biarkan aku mengambil hpku terlebih dahulu" Trisyel berusaha menghentikan langka orang itu namun orang itu semakin erat mencekal tangannya


"Cepatlah! Kau akan membuat semua orang melihatmu!"


Trisyel meringis merasakan sakit pada pergelangan tangannya, perasaannya mulai tidak enak saat melihat kemana arah orang itu membawanya. Ia membawa Trisyel ke tangga darurat menuju lantai utama, dengan dengan telagat yang sangat mencurigakan


Ia sempat melihat beberapa laki laki yang juga berpakaian serba hitam seperti orang yang sedang menarik tangannya itu, orang orang itu seperti mengamankan jalan untuknya


"AKH LEPAS! KALIAN PASTI ORANG JAHAT KAN!" Saat sadar dengan keadaan Trisyel langsung berteriak agar ada orang yang mendengarnya


"TOLONGG!!!" Teriak Trisyel dengan kencang


"Sialan! Tutup mulutnya dengan kain dan cepat bawa dia ke mobil!" Perintah salah satu laki laki


🀍🀍🀍


Sedangkan di tempat resepsi atau lebih tepat di venue wedding terlihat banyak orang berkumpul saat melihat api berkobar dengan asap yang memenuhi ruangan


Tidak ada yang tau apa yang terjadi di sana dan bagaimana biasa ada api sedangkan di tempat itu tidak ada yang bisa memancing kebakaran kecuali memang ada yang sengaja melakukan hal itu. Semua orang yang ada di tempat itu panik, para staf hotel sibuk memadamkan api


"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Prince dengan nada terdengar marah


"Gue juga gak tau Prince, kita baru turun dan melihat api udah berkobar" jawab Bara


Prince melihat semua orang yang terlihat ada di sana, namun ia tidak melihat adanya Trisyel. Prince langsung berlari ke arah Monic, di sana juga ada sahabat sahabat Trisyel


"Dimana Trisyel?"


"Trisyel? Sepertinya dia masih ada di kamar. Tadi MUA bilang mau_" Monic menghentikan ucapannya saat melihat MUA yang ia maksud berdiri tidak jauh darinya


Tanpa berkata ia langsung berjalan mendekati MUA itu "Trisyel nya mana?" tanya Monic


"Maaf saya tidak tau nyonya, saat saya datang pintu kamarnya tidak tertutup dan saat saya periksa di dalam tidak ada pengantinnya" jawab sang MUA


Mata Monic langsung melotot begitu pun dengan Prince dan beberapa orang yang mendengar perkataan MUA itu. Tanpa berfikir Prince lansung berlari menuju kamar Trisyel dengan diikuti beberapa orang terdekatnya


"TRISYEL!" panggil Prince Ia masuk dan melihat Trisyel tidak ada di sana, ia juga mengecek ke kamar mandi namun nihil


"SAYANG! KAMU DIMANA?"


"Prince, gelangnya Trisyel" Ucap Aurin saat melihat gelang Trisyel berada tak jauh dari pintu


Perasaan Prince mulai tidak enak saat melihat gelang pemberian darinya terjatuh di lantai, kenapa gadisnya sekarang


"Prince, Trisyel di culik!" Felix yang baru tiba membuat semua orang terkejut


"Apa maksudmu?" Tanya Sam dengan wajah cemasnya


"Saya sudah mengecek CCTV, dan_"


Brakkk


Kebakaran itu memang sengaja di buat untuk mengalihkan perhatian semua orang agar tidak ada yang sadar bahwa Trisyel di culik


Drtt Drttt Drtt


"Hay Prince. Bagaimana kabarmu? Akh ku rasa sekarang kau sedang cemas mencari pengantinmu, benar kan?"


Mata Prince memerah saat mendengar suara seseorang di ponselnya itu.


"SIAPA LO HAH! BERANI BERANINYA LO CULIK CALON ISTRI GUE" Bentak Prince


"Hahaha, gue harap lo gak lupa sama suara gue. Gue adalah orang yang hampir mati gara gara lo"


Deg


Prince terdiam beberapa saat


"Dedric"


Terdengar kekehan dari sebrang sana


"Calon istri lo cakep juga ternyata, gimana kalau gue cicipin dulu. Abis itu gue poles mukanya pake pisau dan darah"


"SIALAN! JANGAN BERANI BERANI SENTUH TRISYEL! GUE AKAN PASTIKAN LO BENAR BENAR MATI SETELAH INI"


"Terserah padamu, lihat saja nanti jasad siapa yang akan kau lihat lebih dulu"


Tut


Orang di sebrang sana dengan seenaknya mematikan panggilan itu sepihak, orang yang sangat Prince kenali, orang itu adalah Dedric musuh lama Prince yang sudah di kira mati oleh semua orang


"Bagaimana? Apa yang terjadi sama Trisyel?" Tanya Fanyya, kini air matanya sudah mengalir deras


"Trisyel di culik oleh Dedric!"


Semua orang kaget mendengar nama itu, terutama anggota Avanger yang sangat mengenal siapa itu Dedric. Semua orang bingung bagaimana orang itu bisa tiba tiba muncul setelah bertahun tahun di nyatakan meninggal


"Gue akan lacak lokasinya, kasih hp lo ke gue!" Pinta Felix


🀍🀍🀍


Trisyel baru sadar saat beberapa waktu pingsan akibat obat yang ada di sapu tangan yang di gunakan untuk menutup mulutnya beberapa waktu yang lalu


"Hay Trisyel" Sapa seseorang yang sangat Trisyel kenali


Mata Trisyel membulat sempurna menatap orang yang kini berdiri di depannya "Carline?"


Satu nama itu kini terukir jelas di otaknya membuatnya menatap tak percaya. Apakah orang itu yang telah menjebak dan menculiknya?


Keterkejutan itu semakin menjadi saat melihat siapa yang duduk di belakang Carline sambil menyilangkan kaki. Laki laki itu? Laki laki yang dulu pernah membuat dirinya dan Prince celaka. Orang yang ia anggap sudah mati kini berada di hadapannya


"Bagaimana? Apakah suprise yang aku berikan membuatmu senang? apa kau terkejut sekarang?" Ucap Carline sambil mengangkat dagu Trisyel dengan satu jarinya


"Sepertinya dia sangat senang, saking senangnya hingga tubuhnya bergetar hebat" Kekeh Dedric


"Emmm emmkkhhh" Trisyel berusaha membrontak, tidak sudi kala wajahnya di sentuh oleh Carline


Plakk


Satu tamparan keras mendarat pada mulus pada pipinya yang seketika terasa panas


"DIAM DAN JANGAN MEMBERONTAK! KAU HANYA MEMBUATKU SEMAKIN INGIN MEMBUNUHMU SIALAN!" Teriak Carline tepat di depan wajahnya


Trisyel menutup mata menahan rasa sakit pada pipinya, ia tidak bisa melakukan apapun karena kini kaki dan tangannya di ikat dengan rantai sedangkan mulutmu di tutup dengan kain. Trisyel hanya bisa menangis, bahkan ia tidak tau dimana ia berada sekarang, tempat yang terlihat kotor dan gelap membuatnya merasa takut


"Jangan bikin si cantik itu ketakutan Carline, dia tidak bisa bernafas" Kekeh Dedric yang terlihat santay menikmati pemandangan di depannya sambil mengisap rokok di tangannya


"Benar, lo emang cantik. Saking cantiknya gue pengen ukir wajah lo dengan pisau ini. Gimana lo mau gak? biar muka lo tambah cantik"


Trisyel menggeleng cepat saat pisau itu Carline dekatkan pada wajahnya


Srekkk


"Emmm" Trisyel berteriak dalam bekapannya. Belum hilang rasa sakit pada pipinya kini Carline menambahkan lagi rasa sakit itu dengan memberikan goresan pada pipinya. Darah sehar seketika mengalir deras bersamaan dengan derasnya aliran air mata Trisyel


"Apakah ini akhir dari ceritaku? apakah ini jalan yang akan aku lewati untuk bertemu keluargaku. Jika iya, maka cepatkan lah proses ini, Aku berserah diri padamu ya tuhan" Perlahan Trisyel menutup matanya