
Seminggu berlalu kini hari hari Trisyel berjalan seperti biasa, terasa tenang dan damai. Tidak ada yang mengganggunya lagi termasuk Carline. Gadis itu sudah masuk kembali ke sekolah beberapa hari yang lalu. Carline bersikap seolah tak mengenal Trisyel, mungkin karena sudah sadar dengan apa yang ia lakukan?
begitu juga dengan Prince, cowo itu sudah beberapa hari ini tidak mengganggu Trisyel karena memang sudah lebih dari 3 hari Prince tidak masuk sekolah, dan tidak ada kabar sama sekali. Seolah di telan bumi
"Fan, lo dateng sama siapa?" Tanya Trisyel saat melihat Fanyya dan Aurin yang baru tiba
"Sama Felix, emang kenapa?"
"Kalian datang barengan kan?" Trisyel menatap Fanyya dan Aurin bergantian "Sama siapa aja?"
"Emang kenapa?" bukannya Menjawab Fanyya malah balik bertanya
"Ya pengen tau aja. Tinggal jawab apa susahnya deh" ucap Trisyel yang terdengar kesal
Fanyya menatap Aurin yang tersenyum "Gaada Prince" Ucap Aurin yang seolah tau isi pikiran Trisyel
Mata Trisyel membulat sempurna. Temannya sudah seperti cenayang saja
"Dia kemana sih? Kok udah lama gak keliatan? Dia gak sekolah ya?" Pertanyaan beruntun dari Trisyel
"Lo kangen sama dia?" lagi lagi bukannya menjawab Fanyya malah balik bertanya
Trisyel terdiam merutuki dirinya sendiri "Ya enggak lah!" Jawabnya cepat
Aurin dan Fanyya seketika tertawa "Kalau enggak, ya gak mungkin lo nyariin dia" kata Fanyya di sela sela tawanya
"Kan gue cuman nanya doang" Sewot Trisyel
"Ngaku aja, lo kangen kan sama dia" Ledek Aurin
Trisyel terdiam "Apa gue benaran kangen ya sama dia?" Gumamnya pelan
"Tapi kenapa gue bisa kangen sama dia?" Tanya Trisyel entah pada siapa
"Mungkin karena lo udah mulai suka sama dia" jawab Aurin
Trisyel memutar bola matanya malas "Mana mungkin gue suka sama cowo nyebelin itu" sarkasnya
Fanyya dan Aurin duduk di dekat Trisyel. Fanyya menepuk pelan bahu Trisyel "Lo gak usah bohongin diri lo sendiri kalau lo itu sebenarnya emang suka sama dia"
"Denger ya syel, masih belum terlambat untuk lo akui perasaan lo sendiri" Sayut Aurin
"Gue cuma_" Trisyel terdiam beberapa detik "Gue gak tau dan gue gak ngerti sama diri gue sendiri, intinya waktu dia ada gue kesel banget dan pengen itu orang jauh jauh dari gue. Tapi sekarang dia gak ada kok gue malah nyariin dia, gue merasa kayak yang hilang gitu ya?"
Fanyya terkekeh "Fiks lo kangen sama dia"
"Tapi kok bisa? Padahal dia itu nyebelin banget loh?" Tanya Trisyel dengan raut wajah serius
"Karena perasaan kita gaada yang tau syel. Dulu gue sama Bara juga berawal dari orang yang gak suka sama gak suka. Dulu kita juga sering berantem. Eh sekarang malah saling cinta dan takut kehilangan" ucap Aurin
"Mending lo tanya sama Prince langsung tentang keberadaan dia sekarang"
Trisyel mengerutkan keningnya "Gimana caranya coba?"
"Ya lo ngechet kek, telfon kek!" usul Fanyya
"Gue gak punya kontaknya"
"Nih gue kasih" Aurin menyodorkan ponselnya pada Trisyel
Trisyel menggeleng pelan "Gak mau gue! Buat apa coba"
"Yah.. malah nanya lagi" Aurin menepuk jidatnya
"Kalau lo pengen tau ya udah salin tu nomernya. Tanya samaa orangnya langsung!" Titah Fanyya
Setelah berfikir beberapa menit akhirnya Trisyel memberanikan diri untuk meminta kontak Prince terlebih dahulu kepada Aurin. Awalnya ia ragu, tapi kedua sahabatnya itu tidak mau memberi tau dimana Prince sekarang, malah menyuruh Trisyel untuk bertanya langsung pada Prince
"Gue malu anjir, masa gue ngechet duluan sih"
Aurin terkekeh "Ya gapapa lah, sekali sekali"
"Tapi gue gengsi lah"
"Ya itu sih terserah lh lo. Kalau lo penasaran ya chet aja. Kalau enggak ya udah gak usah" jawab Fanyya
Trisyel mendengus "Cih, ngeselin lo bedua" Ucapnya
"Penasaran gak?"
"Ah udah lah, males gue. Ntar aja kalau udah mood" Gadis itu malah menaruh kembali ponselnya di dalam tas.
Ya begitulah wanita, mana mau dia ngechet duluan. Rasa gengsi lebih tinggi epribadeh... π
πππ
Jam pulang sekolah
"Syel lo pulang sendiri?" Tiba tiba saja Geral menghalangi Trisyel saat gadis itu berjalan di koridor sekolah
Fanyya dan Aurin yang berada di samping Trisyel langsung menghalangi Geral "Ngapain lagi lo! Gak capek apa kejar kejar Trisyel terus?" Kata Aurin
"Bener tuh. Mending lo ikut lomba maraton deh sana, yakin gue pasti lo pemenangnya" ketus Fanyya
"Gue gak ngomong sama lo!" Bentak Geral yang sudah kehabisan kesabaran karena Fanyya dan Aurin selalu saja menghalanginya
"Stop!" Ucap Trisyel dengan lantang sambil mengangkat tangannya "Biarin dia ngobrol sama gue sebentar. Lo bedua pulang duluan aja" kata Trisyel pada Fanyya dan Aurin
"Tapi syel_"
"Ikut gue" Trisyel berlalu begitu saja dan diikuti oleh Geral, cowo itu tersenyum smirk kepada Fanyya dan Aurin
____
"Mau ngomong apa?" Tanya Trisyel to the poin
"Gimana keadaan lo?"
hening hingga beberapa menit, Trisyel yang sedang asik memainkan kuku kukunya, sedangkan Geral yang menatap wajah cantik Trisyel
"Ada yang mau lo omongin lagi? Kalau enggak gue mau pulang"
Tanpa menunggu jawaban gadis itu langsung melangkahkan kakinya namun dengan cepat Geral menahan tanganya "Syel tunggu"
Trisyel kembali menoleh "Apa lagi?" Ketusnya
"Gue kangen sama lo" Trisyel terdiam dengan ekspresi yang sulit di tebak
"Gimana dengan pertanyaan gue waktu itu?" Tanya Geral tiba tiba membuat Trisyel dengan susah payah menelan salivanya
"Pertanyaan yang mana ya?" Tanya Trisyel pura pura lupa. Ini lah alasan mengapa Trisyel menghindari Geral. Karena ia sangat malas jika Geral membahas soal itu lagi
"Tentang perasaan gue" Trisyel terdiam, gadis itu gelagapan tidak tau harus menjawab apa.
Tiba tiba Geral meraih tangan Trisyel dan menggenggamnya erat "Gue tulus sayang sama lo syel"
"Tapi lo itu playboy. Semua orang tau itu" Kata Trisyel tegas
"Itu dulu, sekarang gue udah gak kayak gitu. Gaada cewe yang gue deketin selain lo, karena cuman lo yang gue sayang dan yang berhasil bikin gue jatuh cinta" ucap Geral
gini nih omongan para buaya Batin Trisyel
"Tapi sorry, gue gak bisa nerima cinta lo" Jawab Trisyel
Geral mengerutkan keningnya "Kenapa?"
"Ya karena gue gak punya perasaan apapun sama lo. Dan asal lo tau ya, perasaan itu gak bisa di paksa"
Geral terdiam dengan kepala yang tertunduk, ada kecewa di dalam hatinya. Ketika ia berusaha untuk berubah tapi ia malah di tolak begitu saja oleh gadis yang ia inginkan
"Gue akan tetap berusaha buat bikin lo jatuh cinta sama gue" Tekat Geral "Gue akan tunggu lo sampai kapan pun itu"
"Ya ya ya terserah lo" Ucap Trisyel bodoamat "Sekarang lepasin tangan gue, gue pengen pulang!"
Akhirnya dengan terpaksa Geral pun melepas tangan Trisyel dan membiarkan gadis itu pergi
πππ
Kini Trisyel sedang berada di dalam mobilnya, ia berniat untuk mendatangi pantai yang sewaktu kecil sering ia datangi bersama orang tuanya. Itu adalah cara Trisyel untuk menenangkan diri
Gadis itu menatap ke arah luar dengan tatapan kosong. otaknya sekarang begitu berserabut, banyak hal yang mengganggu pikirannya akhir akhir ini
Tiba tiba Mata Trisyel melihat seorang anak kecil yang sedang bermain dengan kucing di tengah jalan. Memang jalan itu cukup sepi, tapi tetap saja bermain di tengah jalan itu berbahaya, di tambah lagi anak itu hanya sendirian tidak terlihat orang dewasa di sekitar sana
"Pak berhenti" Ucap Trisyel. Seketika driver Trisyel langsung mengerem dan menepikan mobil tersebut
Tanpa kata Trisyel langsung turun dari mobil dan berlari menghampiri anak kecil itu
"Dek" Panggil Trisyel. Anak itu langsung menoleh
Anak itu memundurkan tubuhnya saat melihat Trisyel yang berjongkok di depanya
"Ngapain disini sendirian?" Tanya Trisyel lembut saat melihat raut wajah takut anak kecil itu
"Emm" Anak kecil itu menatap takut, terlihat dari tubuhnya yang menegang
"Tenang aja, kakak bukan orang jahat kok" Kata Trisyel sambil tersenyum "Adek namanya siapa?"
"Rival" jawab anak kecil berusia 8 tahun itu dengan pelan
"ooh Rival, namanya keren banget"
Rival tersenyum kecil "Nama kakak siapa?" Rival balik bertanya
"Nama kakak Trisyel. Panggil aja kak Syel" Rival mengangguk
"Oke sekarang kak syel boleh tau gak, kenapa Rival ada di sini?"
"Tadi Ival lagi main sepeda sepedaan, tapi Ival kesasar. Ival baru pindah jadi gak hafal sama jalan di daerah sini" Ucapnya sambil menangis
Trisyel mengusap lembut kepala Rival "Nanti kakak antar kamu pulang ya, tapi jangan nangis" bujuknya
Rival lagi lagi mengangguk sambil tersenyum "Kakak boleh nanya lagi? Kenapa Rival main di tengah jalan, kan bahaya kalau misal ada kendaraan lewat?"
"Ival kasian sama kucing ini" Ucap anak itu sambil memperlihatkan kucing yang berada di gendongannya "Ival kasian liat dia sendirian di tengah jalan, mana kurus terus gak bisa jalan lagi, jadi Ival samperin karena pengen bantu" jawab Rival dengan polosnya
Trisyel tersenyum manis "Kamu baik banget deh" Puji Trisyel
"NON MINGGIR ADA MOTOR" Tiba tiba driver Trisyel berteriak. Ia langsung turun dari mobil saat melihat ada motor yang sedang menuju ke arah Trisyel dari kaca spion
Trisyel yang mendengar teriakan itu langsung menoleh dan menarik tangan Rival untuk menepi. Tapi saat itu juga kucing yang tadi berada di dalam gendongan Rival tiba tiba terjatuh
"KAK KUCINGNYA" Teriak Rival
Trisyel berbalik melihat kucing itu yang seperti tidak bisa bergerak.
"Meong..." Kucing itu bersuara pelan seolah meminta tolong untuk di selamatkan. Akhirnya Trisyel kembali berlari untuk menangkap kucing itu
"TRISYELLLL!!!!"
Brak....
Darah segar mengalir deras membasahi aspal. Sedangkan motor yang menabrak itu berhanti dan menoleh sebentar, setelah itu kembali melajukan motornya pergi dari sana
"KAK SYEL" Teriak Rival yang lansung berlari ke arah Trisyel
Driver Trisyel yang panik pun langsung ikut berlari dengan ekspresi wajah yang sangat cemas
"NON TRISYEL!!!"
πππ