PRINCE & TRISYEL

PRINCE & TRISYEL
SALAH ORANG?



"Masuk duluan" Ucap Ara pada Richard karena kebetulan kamar mereka bersebelahan


Richard mengangguk, namun sebelum itu ia mengecup singkat kening Ara "Good Night my princess" Katanya lembut


Ara hanya membalas dengan senyuman. Setelah yakin laki laki itu masuk ke dalam kamar hotel, bukannya ikut masuk ke kamarnya Ara malah berjalan keluar hotel. Tujuannya sekarang adalah pantai


Ia masih berniat untuk mencari gelang itu, ia harus mendapatkannya jika tidak ingin Richard marah padanya


Perempuan itu berjalan menyusuri pantai yang tadi ia kunjungi, sambil menunduk dengan ponsel sebagai alat pencahayaan. Kepalanya serasa sakit sekarang, ia sesungguhnya mengantuk hanya saja ia harus mendapatkan gelang itu


Di pantai terlihat sangat sepi, hanya ada beberapa pengunjung itu pun jarak mereka cukup jauh, mungkin karena cuaca yang terlihat tidak begitu bagus, terbukti dengan angin kencang dan langit gelap tidak menunjukkan bintang


Sudah 1 jam Ara berjalan kesana kemari seperti orang gila "Dimana sih gelangnya" Ucapnya lirih. Ia sudah sangat lelah


"Here"


Degg


Tubuh Ara langsung menegang saat mendengar suara yang begitu lembut di telinganya, bahkan deru nafas orang itu menyentuh kulit leher Ara


Belum selesai dengan keterkejutan itu tubuh Ara sudah balik menghadap orang yang tadi berbisik padanya, tangan orang itu kini melingkar di pigang rampingnya


"TRISYELIS"


Mata Ara memicing saat melihat siapa yang sedang berada di depannya dengan jarak yang hanya beberapa senti itu. Laki laki itu adalah laki laki yang tidak sengaja ia tabrak tadi, Prince


"Kamu cari ini kan" Laki laki itu menatap Ara dengan mata tajamnya, dan bibir laki laki itu membentuk senyuman saat mengangkat benda yang sedari tadi Ara cari


"Gelangku, bagaimana bisa gelang itu ada pada anda?" Tanya Ara sambil menatap gelangnya yang di pegang tangan kiri Prince


"Karna takdir sayang" Jawab Prince. Kini ia semakin mempererat rengkuhannya pada pinggang ramping Ara semakin mengikis jarah di antara mereka sehingga kini hidung mereka saling bersentuhan


"I MISS YOU SO MUCH BABY" Lirih Prince


Cup


Mata Ara membulat sempurna saat merasakan benda lembut dan kenyal kini menempal pada bibirnya. Bukan hanya menempal, bahkan kini laki laki itu mencium dan ******* bibirnya dengan sangat kasar


Ara berusaha memberontak sambil memukul dada bidang Prince. Air matanya jatuh saat merasa bahwa ia sedang di lecehkan oleh orang yang bahkan tidak ia kenali


Plakkk


Tamparan keras mendarat tepat di pipi Prince membuat laki laki itu reflek melepaskan rengkuhannya


"Kurang ajar! Berani sekali anda mencium saya!" Marah Ara dengan mata menatap nyalang ke arah Prince yang kini malah tersenyum remeh


"Karena kau milikku Trisyel, tentu aku berani menciummu, bahkan aku juga bisa melakukan lebih dari itu"


Plakk


Satu tamparan lagi mendarat di pipi Prince hingga membuat sudut bibir laki laki itu mengeluarkan darah


"Dengarkan saya tuan, saya bukan Trisyel yang anda sebutkan tadi. Bahkan saya sama sekali tidak mengenal anda, jadi tolong jangan bersikap kurang ajar pada saya"


Seketika Prince tertawa dengan tangan kirinya yang mengepal kuat menggenggam gelang milik Ara tadi


Prince menarik tangan Ara dan mencekalnya dengan kuat, tanpa sadar membuat Ara meringis merasakan sakit


"SUDAH KU KATAKAN AKU BUKAN TRISYEL! ANDA SALAH ORANG" teriak Ara


"KAU BOHONG!" maki Prince dengan mata merahnya. Karena pengaruh alkohol membuatnya tidak bisa mengendalikan diri, ia telah melukai Ara dengan membuat tangan perempuan itu memerah akibat ulahnya


"Kamu adalah Trisyel, gadisku, pengentinku" Prince mengelus lembut wajah Trisyel dan menjatuhkan gelang itu di pasir pantai


"Aku tau ini kamu, wajahmu, senyumanmu, suaramu, semuanya sangat lah mirip. Tolong sayang, jangan berpura pura di depanku"


Ara merasa ada gelenyar aneh di dalam dirinya saat suara dan usapan lebut yang Prince berikan padanya


Ara menggeleng lemah "Saya Araliya, bukan Trisyel..." Isak Ara. Jujur ia takut sekarang


"Tuan saya mohon lepaskan saya" Ara berusaha mendorong tubuh Prince agar menjauh, namun sial tenaga laki laki itu jauh lebih kuat darinya


"BERHENTI MEMBUAL TRISYEL!" Bentak Prince tepat di depan wajah Ara membuat perempuan itu menutup matanya karena takut, air mata sudah membasahi pipinya, suara isakkan kecil pun mulai terdengar dari bibirnya


"Katakan bahwa selama ini kamu hanya berbohong. Kamu tidak benar benar mati dan meninggalkanku kan? Kamu hanya pergi, iya kan sayang" Kini suara Prince berubah lembut


"Kenapa kamu membohongi kami semua, kamu gak tau betapa sakitnya kami saat mendengar kamu telah menyusul orang tuamu ke alam baka? Sakit... rasanya benar benar sakit. Aku gila saat kamu tidak ada sayang, aku sangat mencintaimu" Suara isakkan Prince mulai terdengar di telinga Ara membuat hati Ara berdesir entah karena takut atau kasihan pada laki laki itu


Prince menarik tubuh Ara, kemudian memeluknya erat. Ia menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Ara berusaha mencari kenyamanan dari perempuan itu


Ara hanya diam dengan tubuh yang menegang "Ayo sayang ikut aku pulang, kita kembali bertemu keluarga kita dan melanjutkan acara pernikahan kita"


Ara menggeleng lalu dengan gerakkan cepat ia mendorong lagi tubuh Trisyel "Tidak! Saya tidak mau, saya sudah punya kekasih" Kata Ara tegas


Mendengar ucapan Ara membuat emosi Prince semakin memuncak "KAU MILIKKU!! HANYA MILIKKU TRISYEL!"


"SUDAH KU KATAKAN AKU ARALIYA, BUKAN TRISYEL!" Teriak Ara, perempuan itu ingin berlari pergi namun tangannya sudah lebih dulu du cekal oleh Prince


Kini tangan Prince sudah berada di leher Ara mencekik perempuan itu hingga terbatuk karena kesulitan bernafas


"JANGAN MEMAKSAKU BERBUAT KASAR PADAMU TRISYEL! JANGAN PANCING JIWA IBLISKU KELUAR DI DEPANMU"


Ara masih menggeleng dengan terbatuk batuk saat Prince melepaskan cengkraman pada lehernya. Tubuhnya kini tiba tiba di angkat ala bridal style. entah kemana laki laki itu ingin membawa Ara yang jelas tujuannya bukan hotel yang sebelumnya mereka tempati


Prince berjalan membawa Ara ke sebuah hotel yang berbeda, selama perjalanan gadis itu terus saja memberontak sambil memukul dada bidang Prince, namun sia sia


"CEPAT BERIKAN AKU KAMAR!" Titah Prince pada sang resepsionis


"T-tapi tuan" Orang itu menatap ke arah Ara yang membrontak sambil menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mengalir degas, perempuan itu seperti sulit mengeluarkan suaranya


"CEPAT KU BILANG!! ATAU KAU MAU HIDUPMU MENDERITA" bentak Prince


orang itu tentu saja sangat mengenal sosok Prince yang kejam dan dingin itu, karena takut terkena amukkan laki laki itu, sang resepsionis pun memberikan kunci kamar pada Prince


"No, please" Ucap Ara lirih dengan suara yang hampir tak terdengar


🤍🤍🤍