
Jasad Prince tiba di rumah duka satu jam yang lalu. Di mandikan dan di urus untuk segera di makamkan
Semuanya masih tidak bisa di terima oleh Trisyel, ini bagaikan mimpi untuknya. Baru beberapa waktu yang lalu kakaknya itu mengatakan akan pulang. Iya dia benar benar pulang, tapi hanya jasadnya saja tidak dengan jiwanya. Jiwa kakaknya itu malah pulang pada sang pencipta meninggalkannya sendiri di dunia ini
"Bukannya kakak bilang gak bakal bikin syel sedih? bukannya kakak bilang gak bakal ninggalin syel? tapi kenapa sekarang malah pergi? Kakak kan tau kalau syel ini gadis rapuh yang gak bisa hidup sendiri. Kakak jahat hiks.. kakak pembohong" Batin Trisyel menangis
Untuk terakhir kalinya ia bisa melihat wajah sang kakak yang sudah berapa lama ini ia rindukan. Saat jasad itu tiba Trisyel langsung memeluknya erat seolah tak rela untuk kakaknya pergi
Sepanjang proses itu berlangsung hingga jasad Kenzo yang sudah tertutup tanah Trisyel hanya bisa menangis dalam pelukkan Prince, cowo itu tidak pernah meninggalkan Trisyel barang sedetik saja.
Gadis itu manap nisan yang bertuliskan nama kakaknya. Makam kakakanya itu berada sebelahan dengan kedua orang tuanya "Kakak pasti seneng kan sekarang udah bisa ketemu sama mama papa? Hiks.. kakak jahat ninggalin syel sendiri!" Trisyel memeluk nisan itu seraya menangis. Tatapannya beralih pada makam kedua orang tuanya
"Kalian semua jahat sama syel! Kalian gak sayang kan sama syel makanya kalian ninggalin syel!"
"Trisyel, gak boleh bicara kayak gitu!" Tegur Fanyya sambil mengelus lembut punggung sahabatnya. Ia sudah mengenal Trisyel sejak kecil, ia tau betapa terlukanya Trisyel sekarang
"Udah ya, kita pulang dulu. Lo harus tenangin diri, lain kali kita datang lagi" Ucap Prince lembur
Cowo itu mengangkat tubuh Trisyel dan membawanya menjauh. Tidak ada penolakkan dari gadis itu
sepanjang jalan hingga tiba di rumah gadis itu hanya diam saja, pandangannya kosong dan air mata yang tanpa henti mengalir
"Syel lo mau makan apa?" Tanya Aurin
"Gue capek, pengen tidur" Trisyel langsung berdiri dan masuk ke dalam kamarnya
"Kalian tunggu di sini dulu ya, gue mau nemenin Trisyel ke kamar" kata Fanyya
πππ
Tiga hari berlalu, Trisyel terus saja mengurung diri di kamar. Fanyya dan Aurin juga ikut izin tidak sekolah untuk menemani sahabatnya itu
Tidak ada yang keluar dari mulut gadis itu, sepanjang hari hanya bisa menatap kosong dengan mata yang sembab. Ia juga tidak mau makan membuat tubuhnya semakin lemas
"Gimana Trisyel? Dia udah makan?" Tanya Prince, cowo itu baru saja pulang sekolah dan langsung datang ke rumah Trisyel
ya beberapa hari ini keempat cowo itu juga selalu menginap di sana, kebetulan ada kamar tamu yang bisa mereka gunakan
Fannya dan Aurin kompak menggeleng. Prince mengambil alih makanan dari tangan Fanyya dan langsung membawanya ke kamar Trisyel
Cklek..
Cowo itu membuka pintu kamar, dapat di lihat Trisyel yang sedang termenung di atas ranjangnya
"Syel!" Tak ada sahutan, gadis itu hanya menatap Prince tanpa ekspresi
Prince menaruh napan itu di atas nakas. Tangannya bergerak untuk menyentuh kening Trisyel. Ia sedikit kaget karena suhu tubuh gadis itu semakin panas
Ya memang semalam gadis itu demam dan sudah di panggilkan dokter, namun tak di sangka sekarang suhu tubuhnya semakin tinggi
"Kita ke rumah sakit aja ya!" Bujuk Prince. Lagi lagi Trisyel menggeleng
Prince menghembuskan nafas kasar. Ia tidak tau harus bagaimana sekarang, bentar benar tidak bisa melihat orang yang ia sayangi terpuruk seperti ini
"Lo udah minum obat?" Trisyel kambali menggeleng tanpa menatap Trisyel
"Prince gue gak mau!" Akhirnya Trisyel membuka suara
Suara itu terdengar prau dan lirih. Bininya bergetar menandakan gadis itu berusaha menahan tangisnya
Prince mengerti, ia langsung membawa Trisyel dalam pelukkannya "Menangis lah semau lo, berteriak lah sepuas lo! Luahkan semua yang lo rasakan! Jangan memendamnya karena itu akan bikin lo semakin terluka"
Akhirnya isakan yang beberapa hari ini ia tahan meledak keluar. Tangisnya pecah, suara lirih isakan itu memenuhi ruang kamarnya
"Sakit Prince! Gue gak kuat hiks hiks!" Lirihnya. Prince mengangguk sambil mengelus lembut rambut Trisyel "Iya gue tau, gue juga pernah merasakan hal yang sama" Ucapnya
Trisyel memeluk erat tubuh Prince untuk meluahkam semuanya, setengah jam Prince membiarkan gadis itu menangis dalam pelukkannya hingga tangis itu mereda "Sudah? Udah tenang, hm?" Prince menatap wajag acak acakkan Trisyel
Gadis itu mengangguk "Jangan natap gue kayak gitu! Gue malu!" Kata Trisyel sambil menunduk
Prince mengernyit bingung "Kenapa malu?"
"Muka gue pasti jelek banget, rambut gue juga acak acakkan kayak singa" Prince terkekeh mendengar jawaban gadis itu "Gak kok, lo selalu cantik di mata gue"
"Gombal lo!"
"Tapi lo seneng kan? Tar di katain jelek beneran malah marah"
"Nyebelin!" Ucap Trisyel. Kemudian mereka berdua tertawa, kesedihannya sedikit berkurang sekarang
"Makan dulu ya, abis itu minum obat. Kasian cacing dalam perut lo gak di umpanin"
"Gue gak cacingan ya!" Sinis Trisyel. Sepertinya mode jutek gadis itu mulai kembali membuat Prince sedikit bisa bernafas lega
"Masa iya?" Trisyel mengangguk "Ya udah cepetan makan, lo udah kayak triplek saking kurusnya"
Trisyel memukul dada bidang Prince "Huh dasar! body shaming lo!" Prince terkekeh
Cowo itu mengambil makanan dari atas nakas dan menyuapi Trisyel. Gadis itu memakannya meskipun selera makannya belum ada. Ia juga kasihan pada sahabatnya yang beberapa hari ini mengurus dan menemaninya. Pasti mereka semua khawatir padanya
Trisyel menghabiskan makanan dan susunya kemudian meminum obatnya
"Istirahat dulu ya! Kalau ada apa apa panggil aja!" kata Prince
Trisyel menahan tangan cowo itu agar tidak pergi "Bisa gak lo_ temenin gue d-disini?" Kata Trisyel ragu
"Prince tersenyum. Gue selalu ada di sini syel, gue gak kemana mana. Bahkan gue juga nginap di rumah lo beberapa hari ini" kata Prince jujur
"Emang iya? kok gue gak tau" Prince terkekeh "Iya lh lo gak tau, orang lo di kamar mulu"
Trisyel mendengus "Gue ke bawah bentar naroh ini, abis itu gue temenin lo lagi" Kata Prince sambil menunjuk bekas piring dan gelas Trisyel makan
"Lo istirahat dulu sana!" Trisyel mengangguk dan langsung membaringkan tubuhnya, berusaha untuk menutup mata dan tidak terlalu larut dalam kesedihannya
ia tau bukan hanya dirinya yang terluka dan bersedih, tapi sahabatnya juga ikut bersedih melihat keadaanya yang seperti ini
'Syel akan berusaha ikhlas dan menjalani hidup lebih baik kalau ini emang takdir tuhan. Syel cuman berharap semoga kakak, mama, dan papa bahagia di sana! Tunggu syel ya, sampai kita bisa berkumpul kembali. Syel sayang kalian' Gadis itu menutup matanya
πππ