
"Syel..." Prince masih terpaku di tempat
Orang yang baru saja menabraknya membuat jantungnya seperti ingin meledak. Orang itu, perempuan itu sangat mirip dengan Trisyel, meskipun wajahnya tertutup oleh masker, namun Prince merasa bahwa perempuan itu tidak asing baginya, mengingat body dan mata Trisyel yang sangat mirip
Air mata Prince tanpa permisi luruh begitu saja, kakinya hendak melangkah untuk menghampiri orang itu lagi, namun sialnya sekertarisnya datang dan memintanya untuk cepat ke lobby hotel
"Maaf tuan, tapi semua orang sudah menunggu anda" Prince masih membeku di tempat hingga beberapa detik
"Ayo tuan!"
π€π€π€
"Richard, aku lelah" Adu seorang perempuan. Sudah hampir lebih dari 3 jam mereka menghabiskan waktu di pantai untuk bersenang senang
Orang yang di panggil Richard itu terkekeh melihat perempuan yang kini sudah berjongkok di depannya
"are you hungry, Ara?" Tanya Richard
"A little" Jawab Ara sambil menyengir
Richard mendekat sambil ikut berjongkok di depan Ara, ia mengusap lembut rambut wanita di depannya itu "Apa mau makan sekarang? atau membersihkan diri terlebih dahulu?"
"Kayaknya aku ingin membersihkan diri dulu. This feels very uncomfortable"
"Oke, come on" Richard berdiri lalu mengulurkan tangannya yang langsung di sambut oleh Ara
Mereka pun memilih untuk kembali ke hotel untuk membersihkan diri dengan Richard yang menggenggam erat tangan Ara penuh rasa sayang
"I love you" Bisik Richard sambil berjalan
"what?" Ara melotot ke arah laki laki di sampingnya
"Apa? Memangnya aku bilang apa?" Ucap laki laki itu lagi sambil terkekeh
"Terserah" Ara melepaskan tautan tangan mereka lalu berjalan cepat di depan Richard
Laki laki itu terkekeh lalu mengejar Ara, ia merangkul pundak Ara dengan sangat erat membuat Ara mendengus sebal
'I really love you, but I don't know how you feel about me' Batin Richard
π€π€π€
Ara yang baru tiba di kamar hotelnya memilih untuk langsung membersihkan diri. Sekitar hampir 1 jam akhirnya Ara menyelesaikan ritual mandinya. Maklum lah ya wanita memang seperti itu:)
"Gelangku?" Mata Ara membulat sempurna. Saat selesai berganti pakaian dan ingat menghubungkan body lotion tiba tiba matanya tertuju pada pergelangan tangan kirinya yang terlihat ada yang kurang, hanya ada arloji di sana, lalu di mana gelangnya?
"Hah, dimana gelangku? Aduh bagaimana ini" Ucap Ara panik Ia berdiri lalu mencari cari gelangnya di setiap sudut kamar itu namun naas ia tidak menemukannya
"Bagaimana jika Richard marah" Ara sangat takut karena itu adalah gelang pemberian dari Richard. Dulu Ara pernah menghilangkan gelang itu tanpa sengaja, dan ia ingat bagaimana Richard yang sangat marah saat mengetahui hal itu
Ya Ara tau memang harga gelang itu tidak lah murah, mungkin hal itu lah yang membuat Richard sangat marah. Untung saja dapat di temukan kembali di kolam renang
"Jaga ini baik baik. Jika sampai hilang lagi aku akan sangat marah!" Ucap Richard sambil memakaikan kembali gelang itu pada Ara
Pantai, ya tempat itu. Mungkin saja terjatuh di sana saat mereka sedang asik bermain. Tapi bagaimana cara Ara untuk mencarinya, pantai bukan lah tempat yang kecil, lagipula di sana banyak sekali orang mungkin saja gelangnya sudah di ambil
tiba tiba ponselnya berdering dan tertera nama Richard di sana
"Hey ara, what are you doing, why is it taking so long?" Terdengar suara Richard
"Maaf, aku baru selesai mandi"
"Ck, tidak bisa kah wanita bersiap dalam waktu cepat. Kenapa selalu saja lama"
"Maaf, aku akan cepat"
Ara mematikan sambungan telfonnya, menghela nafas panjang lalu berdiri di depan cermin untuk kembali bersiap, jika tidak Richard akan kembali mengomel
π€π€π€
Sedangkan di tempain lain Prince duduk di ujung ranjang sambil menatap lurus ke depan. Selesai meeting laki laki itu langsung memutuskan untuk kembali ke kamarnya
Prince terdiam beberapa menit kemudian melirik sesuatu yang sejak tadi ia genggam. Gelang, ya itu adalah sebuah gelang milik Ara yang entah bagaimana ceritanya bisa sangkut pada saku jas milik Prince
Sejak menyadari hal itu fikiran Prince tak tentu arah, hatinya terus menjerit ingin bertemu perempuan itu lagi, tapi bagaimana caranya? Ia takut dikecewakan oleh harapannya sendiri. Prince merasa kepalanya ingin meledak memikirkan gadis itu, apa ia harus meminta orang untuk menyelidiki perempuan itu?
Kini Prince memilih untuk keluar dari hotel, mencari tempat nyaman untuk ia menghilangkan lelah. Laki laki itu memilih untuk datang ke suatu bar yang ada di Bali
Entah sudah berapa botol ia meminum minuman haram itu, namun ia seolah tak pernah puas. Matanya merahnya kini menatap sayu ke arah gelang di genggaman tangannya
"Sayang... itu tadi kamu kan?_ kenapa tidak datang padaku, hemm? aku rinduu" laki laki itu berbicara dengan suara serak, seketika terkekeh membayangkan wajah cantik Trisyel yang sedang tersenyum padanya
Tiba tiba 2 orang wanita datang mendekat dengan pakaian yang sangat kekurangan bahan, bahkan hampir telanjang. Mendekat dan berusaha menggoda Prince
"Tuan.. apa anda hanya sendiri?" bisik salah satu wanita dengan sensual tepat di telinga Prince sambil mengelus lengan kekar Prince
"Biarkan kami menemanimu tuan" Ucap yang lain. Dengan berani kedua gadis itu menyentuh tubuh Prince, bahkan mengelus rahang tegas milik laki laki itu tanpa sadar bahwa sang empu sedang menahan diri untuk tidak membunuh kedua wanita itu di tempat
Brakk...
Dengan sekali gerakkan Prince langsung mendorong meja di depannya membuat apa saja yang ada di atasnya terjatuh dan botol kaca yang pecah kini berserakan
Dengan kuat Prince mendorong wanita di sebelah kanannya hingga wanita itu terjatuh dan mengenai pecahan kaca. Sedangkan wanita di sebelah kirinya kini sudah terbatuk batuk akibat Prince yang mencekiknya kuat
Banyak pasang mata yang kini menatap takut ke arah Prince. Sepertinya kedua orang itu tidak tau siapa Prince hingga berani mengganggu ketenangan laki laki itu
"Ck, ****** sialan!" Desisnya marah sambil mendorong wanita itu hingga ikut terjatuh dan mengenai kaca
Dengan jangan gontai Prince keluar dari bar itu. Kepalanya terasa sangat berat, namun ia sudah jijik untuk berada di dalam sana lebih lama lagi
Prince membuka pintu mobil berniat untuk kembali ke kamar hotel, tidak peduli dalam keadaan mabuk bisa berbahaya untuk keselamatannya. Ia hanya ingin cepat pergi
namun tiba tiba ia mematung saat melihat dua orang yang keluar dari restoran tak jauh dari tempatnya sekarang. Itu adalah orang yang tadi siang ia temui, seorang gadis bernama Ara dan laki laki yang tadi memanggil gadis itu, ia ingin melihat wajah perempuan itu dengan jelas, namun sialnya perempuan itu menganggap ke samping hingga wajahnya tertutup oleh rambut, ia hanya bisa melihat dengan jelas wajah sang laki laki yang tadi ia lihat
π€π€π€